Pages

  • Home
  • Tentang Saya
  • Privacy Policy
Facebook Intagram Twitter
Misbahul Munir
  • Balai
  • #Nyerat
    • #Nyerpen
    • #Ngopini
    • #Muisi
  • #Maiyah
  • #Buku
  • #EmbuhWis
  • Temukan saya di YouTube
Selamat wisuda, Kisah.

Tak ada apa pun yang dapat kuberikan, di hari spesialmu itu, kecuali hanya kedatanganku. Terbukti, bukan? Aku tak bawa apa-apa, aku tak punya apa-apa, tak seperti teman-temanmu yang lain, dengan bunga dan kebahagiaan, mereka memujimu dan menyanjungmu dengan tanpa henti. Hari itu, sepertinya kau memang benar-benar bahagia. Sedikit bisa bernapas dari tugas-tugas yang sedari kemarin kau bisingkan ke telingaku, suka sedikit mengeluh pas ada dosen yang panggilannya kalah sama panggilan Tuhan saking dadakannya, kemudian aku masih mendengarkan, dengan hikmat dan tanpa solusi. Kau bisa cari solusi sendiri. Tanpa perlu aku untuk mencarikannya. Kau sudah terlebih matang daripadaku, yang bahkan kanak-kanak saja masih belum khatam.

Hingar bingar keindahan, kebahagiaan, dan ketenteraman pasti kau nikmati dengan sebegitu takzimnya. Ada banyak sekali doa kala itu dilangitkan. Mulai dari keluarga, teman, sahabat, sampai mantan. Yah, aku juga ikut mendoakanmu. Yang terbaik tentunya.

Kau mau minta apa dariku? Bilang saja.

Weits. Wkwk . . . iya, bilang saja. Nanti pasti kudengarkan. Menyoal kukabulkan, itu beda lagi. Wkwk . . . silah, minta saja. Dan akan kumintakan lagi Yang-Maha-Berhak. Urusan dikasih atau tidak, itu sudah biasa. Dia pasti lebih tahu tentang keterbaikanmu. Dan kalau dilihat-lihat, Tuhan itu feminis, nggak, sih? Maha-Repot, Maha-Embuh. Persis dikau. Wkwk . . .

Wisuda, apalagi di tingkatanmu, adalah harus mematangkan apapun. Dari segi mana pun. Mulai horizontal – vertikal, spiritual – emosional, dan al – al yang lain. Termasuk telingamu nanti, juga harus lebih tebal daripada sebelum kau diwisuda.

Tentang apa? Apapun.


Pasti nanti ada banyak suara-suara sumbang, pertanyaan-pertanyaan menjengkelkan yang belum mampu kau jawab. Dan bahkan belum sempat kau pikirkan.

Aku tahu, pribadimu sangat sibuk. Kau begitu rajin dan tekun, kau terlalu baik dalam segala hal, tak ada cela di mana aku harus mencacimu. Semuanya begitu sempurna.

Tapi tak masalah jika kata-kata itu tak mau kau dengar. Kau cukup mengetik namaku di ponselmu, dan kerahkan seluruh keluh – kesahmu. Dan seperti biasa, aku akan mendengarkan.

Cuma mendengarkan? Ya, iyalah. Wkwk . . . mau apa lagi? Aku bukan seseorang yang bisa kau andalkan. Aku bahkan bukan seorang pemandu kebathinanmu. Aku bukan siapa-siapa.

Dan lagi jika suatu waktu kau merasa sedikit letih, capek, atau apalah itu namanya, kau masih tetap boleh mengetik namaku di ponselmu. Dan aku akan tetap berada dalam gapaimu, menghiburmu kalau membantu, dan mungkin malah menjengkelkanmu? Haha . . . ya, maafkan saja. Toh, sudah sering banget, kan, memaafkanku? Entah itu kesengajaanku, atau bahkan kekurang-ajaranku.

Aku hanya adik dari rahim yang lainnya, aku adalah seseorang dari sisi yang lainnya, aku hanya manusia dari pandang yang lainnya. Yang selalu salah dan penuh ketidak-pastian.

Kalau mendengar tentang kepasti – tidak-pastian, kenapa selalu Sujiwo Tejo yang mengisi kepalaku, yah? Kau tahu, kan, kata-kata jancuknya itu? Apalagi tepat sekali, kau sangat menyukai cokelat dan bunga. Tapi aku yakin setiap orang, pasti lebih suka kepastian.

Kepastian hanya milik Dzat-Yang-Maha-Pasti, Kisah. Tidak ada selain-Nya. Dulu sempat ada yang pura-pura punya kepastian, eh, berakhir di laut merah beserta pasukannya. Tidak ada yang lebih agung selain yang memilik takdir. Tidak ada yang lebih mesra dari pada Yang-Maha-Cinta.

Aku? Tak ada yang perlu diharapkan. Sama sekali tidak ada. Aku hanya makhluk yang selalu berusaha. Kalau memang usahaku dilihat dan doaku didengar, maka itu tetap urusan-Nya. Se-matematis apapun yang agama dapat sajikan, tetap Ia adalah Dzat-Yang-Maha Sekarepe Dewe. Tidak ada yang bisa merayu-Nya, meskipun kau membawa dunia dan seisinya, amal-amal, dan segala kebaikanmu kepada-Nya.

Duh, yah. Kok tambah ngawur tulisan ini. Malah membahas ke hal yang sangat jauh di bawah penggapaianku.

Tapi, intinya, yah, itu. Kau sekarang sudah sarjana, dan aku belum. Kau sekarang sudah matang, dan aku? Apalagi, kanak-kanak saja belum khatam.

Tentang sebuah perjalanan, perjalanan cinta ---terhadap apapun---, tak akan pernah sampai, Kisah. Akan selalu berjalan, meskipun tanpa punya kaki. Dan aku, akan mengantarmu, ke Dzat-Yang-Maha Cinta andai kau mau. Seperti biasa, kau hanya cukup duduk di belakangku, urusan sampai atau tidak itu urusan belakang. Yang penting kita berjalan, kalau bisa, sih, nanti naik mobil, biar sampai ke sesuatu yang tak jelas ada di mana. Haha . . .

Wisuda adalah tentang awal sebuah langkah. Haha . . . lihat, klise sekali, bukan? Ya, tak masalah. Banyak hal klise di dunia yang malah membuat sesuatu menjadi lebih indah.

Tapi memang benar, wisuda memang tentang awal dari sebuah langkah. Dan kau sudah melangkah, Kisah. Sedangkan aku? Berdiri saja masih butuh bantuan. Bangun saja masih butuh kau bangunkan. Shubuh-ku akan tanggal jika kau tak lakukan.

Kau tak perlu ku-petuah-kan, kau sudah pandai merangkainya sendiri. Sedangkan aku, mung opo, mung remekane keripik tempe. Hiks hiks. Wkwk . . .

Sedangkan kau harus terus menatap ke depan, jangan terlalu sering menolehku ke belakang. Aku masih belajar di sini, dengan entah kapan berakhirnya. Do’akan saja dengan do’a yang terbaik. Tak perlu khawatir, Tuhan sudah menyiapkan hal yang paling indah untukku. Dengan dibalut takdir-Nya yang paling rahasia. Dan andai, suatu saat aku harus jatuh, tak masalah kau harus tetap jalan. Aku laki-laki, yang hanya menangis karena kelilipan. Selain itu, yah, paling hanya gegara ngiris bawang. Wkwk . . . tenang, tangisku tidak untuk sesuatu yang murahan.

Tentang wisudamu yang baru saja usai, selamat sekali lagi. Tetap hidup dengan kebahagiaan yang tiada tara, dan pantang menangis untuk hal yang biasa-biasa saja. Karena aku tak akan ke mana-mana, selagi Tuhan memintaku untuk tak ke mana-mana. Yah, paling kalau pipis baru ke kamar mandi. Wkwk . . .
0
Share
Entah mengapa, sewaktu saya mau menulis ini, yang saya ingat adalah salah satu guyonan K. H. Abdurrahman Wahid ---Gus Dur--- tentang masyarakat Indonesia. Jika orang barat seperti Amerika dan Inggris sana yang banyak bicara banyak kerja, jika orang Jepang sana sedikit bicara banyak kerja, jika orang-orang di kebanyakan negara berkembang sana banyak bicara sedikit kerja, namun Indonesia ini sangat istimewa. Gus Dur menyebutnya dengan bangsa multi-tasking. Yah, karena apa yang mereka bicarakan dengan apa yang mereka kerjakan adalah suatu hal yang lain.

Namun, saya tidak menitik-beratkan tulisan ini ke budaya Indonesia yang multi-tasking itu. Tapi lebih ke Indonesia yang dengan senangnya mereka berbicara sampai berbusa-busa, yang ternyata kebiasaan seperti ini sungguh dapat menimbulkan hal-hal yang tidak baik.

Generasi milenial sekarang, dan generasi lawas tentu sudah tumbuh familiar dengan budaya Indonesia yang terlalu suka bicara. Kalau toh banyak bicara sedikit kerja itu sudah mending, lumayan lah. Lah ini, pembicaraan dan pekerjaan itu sudah melenceng jauh.

Hal yang sekarang ini, yang paling enak dibicarakan adalah mengenai konteks mengutarakan pendapat. Ternyata ada perbedaan mengenai hal ini. Perbedaan tersebut hadir dalam cara masyarakat mengutarakan pendapatnya. Masyarakat yang cerdas, mereka akan mengutarakan pendapat dengan nada sopan dan bukti-bukti yang memang sudah bisa dibuktikan, dan masyarakat yang agak kurang cerdas ---saya tidak menyebut mereka bodoh---, adalah mereka yang dengan semangatnya berbicara sampai berbusa-busa, tapi isi dalam pembicaraannya hanya omong-omong kosong dan semakin menunjukkan akan kebodohan dirinya sendiri. Sebetulnya ada satu golongan lagi, namun masyarakat seperti ini akan lebih baik jika saya memasukkannya ke golongan masyarakat yang kedua namun juga klas dua. Dalam artian mereka masih dalam golongan masyarakat yang agak kurang cerdas namun di klas dua. Ialah mereka yang terlalu bersemangat berbicara, mengutarakan pendapat, namun mereka hanya bermodal membagikan tautan-tautan dan tulisan yang tidak jelas arah dan sumber beritanya. Atau dalam bahasa modern-nya, mereka ini masyarakat yang terlalu banyak mengonsumsi berita hoax. Sepertinya saya tidak termasuk dalam golongan yang kedua.

Ternyata, golongan yang kedua ini-lah yang harus diwaspadai. Kenapa? Kita mengaca kepada seorang pesilat. Seorang pesilat yang paling berpotensi untuk memenangkan pertarungan adalah mereka yang tidak cukup hanya kuat saja. Namun mereka juga harus mengetahui seberapa kekuatan musuhnya, mana titik kelemahannya, dan sekiranya di saat apa yang akan membuat sang musuh itu sangat mudah diserang dan kalah. Ini adalah salah satu trik yang sudah menjadi rahasia umum. Dan menurut saya, dalam hal berargumen pun juga harus seperti itu. Minimal jika meng-kritik seseorang, kita harus tahu lebih dulu latar belakang singkat mengenai orang yang akan kita kritik. Seorang dewasa tidak akan mudah kalah jika yang dilawannya adalah anak kecil, malah seorang dewasa tersebut tentunya akan lebih ke berkesan meremehkan. Namun seorang dewasa tersebut akan kewalahan jika anak kecil itu mampu memperhatikan detil-detil dari seorang dewasa tersebut. Intinya, anak kecil harus lebih mempelajari musuhnya. Atau dengan cara yang kedua, anak kecil tersebut harus tumbuh menjadi seorang yang sama-sama dewasa, sama-sama matang, dan sama-sama siap untuk bertarung.

Dulu, yang berani mengkritik H. O. S. Tjokroaminoto adalah orang-orang sekaliber Ir. Soekarno, H. M. Misbach, dan seorang lain yang ilmunya mumpuni. Dulu, yang berani mengkritik K. H. Abdurrahman Wahid adalah seorang M. Amien Rais dan orang-orang sekaliber beliau. Yang berani mendebat K. H. Wahab Chasbullah sampai gebrak-gebrak meja hanya K. H. Bisri Syansuri, kemudian kedua beliau saling berpelukan selepasnya. Di dunia pemikiran Islam-pun demikian, yang berani mendebat Imam Al-Ghazali adalah seorang Ibnu Rusyd.  Dan itu akan banyak sekali contoh jika kita menarik garis ke belakang. Para ulama’-ulama’ salaf saling kritik mengkritik, dan seorang santri hanya bertugas sami’na wa atho’na.

Namun, jika kita melihat kondisi sekarang, entah mengapa kondisi itu sangat bertolak belakang? Sekarang, semua orang berani bicara apa saja terhadap siapa saja. Tanpa harus mengaca ke dalam dan berpikir, “apa saya pantas untuk bicara seperti ini?”, sekarang tidak. Sama sekali tidak memperdulikan hal-hal seperti itu.

Semenjak kebebasan berpendapat mulai tumbuh di Indonesia, semua orang berani menyampaikan argumennya terhadap siapa pun. Bahkan, orang dulunya berprofesi sebagai tukang obat herbal sudah berani mengkritik bahkan menghina seorang ulama’, yang dulu bahkan dia mengerti Islam melalui moyang dari ulama’ tersebut.

Semenjak Gus Dur membubarkan departemen penerangan, semua orang sudah berani berkacak pinggang di hadapan gurunya sendiri, budaya luhur dan moralitas yang tinggi perlahan luntur seiring perkembangan jaman. Tentu saya tidak mempermasalahkan tentang langkah Gus Dur membubarkan departemen tersebut, bahkan saya sangat bersyukur, karena jasa beliau-lah saya dan teman-teman bisa menulis sebebas ini. Namun jika saya boleh untuk berpikir sedikit nakal saja, pembungkaman-pembungkaman yang terjadi di orde baru sepertinya harus diberlakukan lagi. Bukan untuk membungkam mulut-mulut agar tidak bisa berbicara, namun lebih ke ‘agar mereka tahu, bahwa berbicara juga ada etikanya’.

K. H. Ahmad Musthofa Bisri, ---Gus Mus--- pernah mengumpamakan kondisi seperti ini, bahwa, andai kata sebuah negara miskin yang hanya mampu membeli 50 buah pesawat, maka berapa pilot yang harus dipekerjakan? 100 beserta co-pilot-nya. Namun jika tiba-tiba sebuah negara tersebut mendapat rejeki tiban, kemudian ia beli lagi 50 pesawat sehingga ada 100 pesawat, kemana sebuah negara tersebut akan mencari pilot tambahan? Mungkin, sopir-sopir angkot, tukang ojek, bahkan penjahit-pun akan dipekerjakannya. Sama halnya seperti tradisi jurnalis kita. Jika sewaktu orde baru kita dibungkam habis-habisan dalam berpendapat, dan kemudian pembungkaman itu dilepas tiba-tiba, biro berita akan mencari jurnalis kemana, sedangkan jurnalis adalah sebuah profesi yang tidak menguntungkan di orde baru? Bisa jadi sopir angkot, tukang ojek, penjahit, bahkan tukang obat herbal-pun akan mereka pekerjakan.

Mungkin sekarang seperti itu, kapasitas dalam berbicara sudah tidak diperdulikan lagi. Kita tidak lagi pernah berpikir mengenai seseorang yang akan kita kritik sebelum kita mengkritik. Kita sudah tidak punya sopan santun lagi dalam berbicara. Kita sudah berani berdiri gagah di depan guru. Kita sudah seperti lalat yang tak punya sopan santun, yang tadi singgah di kotoran, sekarang hinggap di makanan.

Contoh kongkretnya, sangat sering saya temui, baik di dunia maya maupun di dunia nyata, beberapa orang yang menurutku keilmuannya jauh dibanding seorang yang dikritiknya, ketika ada anak kemarin sore yang baru belajar ilmu agama berani mengkritik ulama’-ulama’ yang sudah diakui keilmuannya, bahkan tak sedikit di antara mereka yang berani mengkategorikan ulama’ tersebut masuk ke ulama’ suu’ ---buruk---. Padahal Imam Al-Ghazali saja, yang mencetuskan kategori antara ulama’ baik dan ulama’ buruk, tak berani terburu-buru menentukan seorang itu termasuk ulama’ baik atau buruk.

Kita sudah hidup dalam generasi nranyak wal kakehan cangkem.
0
Share
Satrio Mataram? Wani! - Sinau bareng sejarah Kadipaten Pakualaman bersama Cak Nun dan Kiai Kanjeng : Maiyah 04 Maret 2017.
Entah mengapa, selalu sabtu malam. Wkwk.

Tapi tak masalah. Kurang lebih, intro yang akan saya sajikan seperti artikel saya sebelumnya. Yah, tentang sabtu malam, sebagai kamuflase bagi para jomblo yang tidak jelas arah hidupnya mau kemana. Haha.

Ya sudah, daripada meratapi ketidak-jelasan itu, maka saya putuskan untuk Maiyahan. Berkumpul bersama sedulur, menikmati keindahan musik dari Kiai Kanjeng, dan tentunya menyercap berbagai ilmu yang keluar dari tubuh Mbah Nun.

Dari awal saya melihat poster Maiyahan kali ini, dari hati saya yang paling dalam, saya sangat senang sekali. Karena pada Maiyahan kali ini, bertempat di Lapangan Sewandanan Puro Pakualaman yang tidak lain tidak bukan adalah lapangan yang berada di depan Puro Pakualaman sendiri.

Dari awal saya datang, saya cukup kagum dengan pengamanan yang diberikan oleh kepolisian setempat. Karena jarang-jarang, acara Maiyahan harus menurunkan tim keamanan. Tapi, karena ini acara di tempat yang sakral, jadi mungkin pihak Puro Pakualaman meminta kepolisian untuk mengamankan tempat acara. Walaupun bahkan, saya yakin, meskipun tidak ada pengamanan sekali pun, acara akan tetap berjalan dengan damai dan khidmat. Itu karena dalam Maiyahan, pencuri pun ikut mendengarkan kata-kata hikmah Mbah Nun, dan nggak jadi nyuri, deh. Wkwk.

Sebenarnya sudah lama juga saya tidak menuliskan hasil dari Maiyahan. Entah mengapa, ada saja alasannya untuk tidak menuliskan poin-poin dari Maiyahan. Sudah beberapa bulan ini. Bahkan tulisan ini adalah masih tulisan ke dua saya dengan tajuk Maiyah. Dan yang pertama sewaktu itu Maiyahan di gedung PKKH UGM yang dilakukan oleh fakultas pertanian setempat.

Banyak sekali seharusnya cerita-cerita di antara Maiyahan di PKKH UGM dengan yang sekarang ini saya tuliskan. Terutama sewaktu saya ikut Maiyahan di Malang, tepatnya di lapangan kampus Polinema bersama sedulur Maiyah Relegi Malang. Banyak sekali cerita dari Maiyah Malang, namun saya tidak menuliskannya di sini, karena saya dulu juga lupa nulis poin-poinnya :D

Banyak poin yang sempat saya 'artikel'-kan :D
Kembali lagi ke Maiyah di Puro Pakualaman. Dalam Maiyah tersebut, Cak Nun dan Kiai Kanjeng beserta tamu-tamu yang lain diundang dalam rangka peringatan Hadeging Kadipaten Pakualaman ke-211 (Jawa) / 205 (Masehi). Nah, ini yang membuat saya senang saat melihat poster Maiyahan. Bukan karena apa-apa, tapi ini tentang salah satu kerajaan di Indonesia yang masih eksis, dan tentunya banyak sekali hal yang belum saya ketahui tentang kerajaan ini. Satu lagi, karena saya menempatkan di tempat khusus semua hal yang ada hubungannya dengan ke-Nusantara-an, atau embrio terbentuknya Indonesia. Saya percaya, bahwa hal-hal semacam kebudayaan atau apapun itu yang bersifat ethnic selalu menarik untuk ditelusuri. Atau bahasa simpelnya, uri-uri kabudhayan.

Dalam Maiyahan kali ini, tentu banyak sekali ilmu yang didapatkan. Terutama tentang pembentukan pertama kali Kadipaten Pakualaman ini. Saya akan menceritakan beberapa hal saja, sesuai dengan yang narasumber paparkan di acara itu.

Pakualaman sendiri didirikan oleh seorang putera raja bernama Pangeran Notokusumo, putera dari Sri Sultan Hamengkubuwono I dari isteri bernama Senggorowati. Namun Pangeran Notokusumo bukan putera mahkota, putera mahkotanya adalah seseorang yang akan menggantikan Sri Sultan Hamengkubuwono I menjadi Sri Sultan Hamengkubuwono II. Dalam kerajaan, selalu ada yang namanya dinamika dan polemik, dan yang paling umum adalah “siapa yang akan menjadi raja selanjutnya?”. Dan tentunya dengan sikap Sri Sultan Hamengkubuwono yang bijak, maka beliau mewanti-wanti puteranya, bahwa apapun yang terjadi, keraton harus tetap satu.

Sampai pada akhirnya, Sri Sultan Hamengkubuwono I mangkat. Belanda pun datang, dan prahara-pun dimulai. Mulai dari pengasingan Pangeran Notokusumo, sampai pada akhirnya Inggris datang. Nah, saat Inggris datang inilah, semua hal tentang Pakualaman bermula. Seketika itu, Inggris mendekati Pangeran Notokusumo dengan iming-iming akan menjadikan beliau raja menggantikan raja sebelumnya. Namun bukan Pangeran Notokusumo kalau tidak cerdas. Karena beliau jago politik dan diplomasi, beliau menerima tawaran dari Inggris. Sampai pada suatu saat, pasukan Inggris yang dibawahi Pangeran Notokusumo pun menyerang keraton. Tapi dengan keteguhan hati yang dimiliki oleh Pangeran Notokusumo, beliau menyerang dengan melalui jalan lain keraton. Sampai pada akhirnya, Pangeran Notokusumo bisa berdialog dengan saudaranya yang saat itu menjadi Sri Sultan Hamengkubuwono II. Saat itu, di keraton sendiri pun ada beberapa polemik antara Sri Sultan Hamengkubuwono II dengan Sri Sultan Hamengkubuwono III. Dan salah satu hasil dari dialog antara Pangeran Notokusumo dengan Sri Sultan Hamengkubuwono II adalah menaikkan lagi Sri Sultan Hamengkubuwono III ke tahta tertinggi kerajaan. Kalaupun Pangeran Notokusumo gelap akan kekuasaan dan dialog antara beliau dengan Sri Sultan Hamengkubuwono II tidak terjadi, maka keraton tentunya akan hancur dan Pangeran Notokusumo bisa menjadi raja. Namun beliau tidak demikian, beliau dengan keteguhan hati masih memegang teguh amanat yang diberikan oleh ayahandanya bahwa apapun yang terjadi, keraton harus tetap satu. Dan setelah itu, sebelum Pangeran Notokusumo diberi wilayah kekuasaan di daerah Kulonprogo – D. I. Yogyakarta, beliau dianugerahi gelar sebagai Ratu Mardiko. Kurang lebih seperti itulah sejarah singkat yang disampaikan oleh salah seorang narasumber dari Kadipaten Pakualaman.

Beliau juga menambahkan beberapa makna Pakualaman jika ditinjau dari segi filosofis. Adalah sebagai paku alam, dan dimana-mana, sebuah paku, antara kepala dan tubuhnya yang kelihatan hanyalah kepalanya, itupun hanya sedikit. Badannya akan tetap tersembunyi demi merekatkan bangunan misalnya. Sama halnya dengan Pakualaman, sekarang, bahkan sampai nanti. Pakualaman akan tetap menjadi perekat keraton, gerakan under-ground, yang tidak harus terlihat orangnya, namun dalam segi peranan, Pakualaman akan selalu terdepan menjaga tradisi dan budhaya keraton dan sangat berpengaruh dalam kelangsungan hidup, baik itu di intern maupun ekstern untuk keraton dalam khususnya, dan alam untuk umumnya.

Salah satu dari sekian banyak yang dihasilkan oleh Pakualaman adalah sandi. Terbukti, bahwa sandi-sandi yang familiar di Jogjakarta itu lahir dari Pakualaman. Sandi-sandi semacam bahasa balikan, seperti Jape methe, Dagadu, dan lainnya. Saya juga kurang mengerti tentang ini, namun teman saya yang asli Jogja, mengerti betul tentang ini, dulu dia sempat mau mengajari saya tentang ini, namun sampai sekarang, kok nggak jadi-jadi. Wkwk.

Mbah Nun mengedukasi jamaah Maiyah.
Selepas narasumber mengutarakan sejarah singkat tentang Pakualaman, Mbah Nun menggiring ke beberapa narasumber lainnya. Di antara narasumber tersebut, ada yang dari pimpinan Pondok Pesantren Nurul Ummah Kotagede – Yogyakarta, yakni KH. Abdul Muhaimin. Ada juga yang dari penganut Sundha Wiwitan, dan yang terakhir dari penganut Budha. Semuanya melebur jadi satu, tertawa, dan bergurau satu sama lain tanpa ada perasaan yang aneh dan sakat yang mengesampingkan kepercayaan antar satu sama lainnya.

Ki Demang, penganut Sundha Wiwitan mengedukasi masyarakat yang hadir dalam Maiyahan itu dengan menceriterakan asal-mula Sundha Wiwitan sendiri. Beliau mengatakan, Sundha sendiri mulanya bukan sebuah suku seperti sekarang ini. Melainkan Sundha adalah sebuah suatu nilai ajaran dan/atau pegangan hidup. Keberadaan ajaran Sundha sendiri ternyata sudah ada jauh sebelum Islam tumbuh di Arab Saudi. Yang bahkan, gunung Padang, salah satu situs Sundha Wiwitan sudah hadir jauh sekali sebelum piramida di Mesir. Fakta-fakta tersebut merupakan fakta yang ilmiah dan tidak bisa dibantah. Beliau juga menyampaikan tentang lima inti ajaran Sundha, yakni ; Tuhan, diri sendiri, sesama, pemimpin, dan alam semesta. Dari kelimanya kita harus bersingkronasi untuk membentuk sebuah harmoni yang indah dan selaras.

Selepas itu, Mbah Nun kembali berbicara panjang lebar, memancarkan cahaya keilmuan untuk setiap yang hadir dalam acara itu. Di antara berbagai ilmu yang diberikan Mbah Nun sewaktu itu adalah tentang kondisi kita yang sangat beruntung karena terlahir sebagai manusia Jawa. Keberuntungan tersebut meliputi hal-hal yang ditinggalkan nenek moyang kita seperti ilmu-ilmu, kepercayaan, serta bentukan nilai yang paripurna di masanya. Tapi setelah mengungkapkan keberuntungan tersebut, Mbah Nun juga menyayangkan sekali terjadi kebuntungan. Beliau sangat menyayangkan, karena generasi sekarang sudah tidak lagi mengenal nenek moyangnya. Untuk membentuk suatu negara saja harus meniru Barat dengan konseptualisasinya, sedangkan sudah sejak dulu kita diajarkan nenek moyang tentang bagaimana membangun Praja yang baik. Untuk beragama saja kita harus meniru Arab dengan kebudayaan dan tatanan hidupnya, padahal jauh sebelum itu kita dikenalkan oleh nenek-nenek moyang kita bagaimana hidup selaras dengan apa yang kita miliki. Beliau tidak menutup kemungkinan bahwa semuanya itu dilarang. Tentu saja tidak. Karena beliau selalu memegang kuat prinsip Muslim yang berada di kaki gunung Merapi. Jowo digowo, Arab digarap, Barat diruat. Arti mudahnya, meskipun adalah orang Jawa, tapi kita tidak boleh menutup kemungkinan atas segala hal yang masuk. Entah itu dari mana saja asalnya. Asal, sesuatu tersebut harus nurut dengan tatanan kehidupan bermasyarakat kita. Mereka yang harus tunduk dengan ketentuan kita, bukan kita yang tunduk dengan ketentuan-ketentuan dan prinsip-prinsip mereka. Atas segala ironi tersebut, Mbah Nun sampai usianya yang tak lagi muda tetap berupaya menyadarkan anak bangsa agar selalu mengingat peran-peran dan keilmuan nenek moyang. Bagaimana mungkin, Nusantara dengan sebegitu gagahnya malah jadi Indonesia yang tak lagi ada suaranya seperti ini?

Suasana takzim jamaah menikmati musik dari Kiai Kanjeng.
Mbah Nun juga mengingatkan tentang bagaimana kita harus bertindak di kedepannya. Beliau mengedukasi dan menyarankan untuk kemajuan kehidupan di Indonesia. Menurut Mbah Nun, ada dua cara sebuah negara bisa maju dengan ditinjau dari sejarahnya. Pertama adalah adopsi, yang sudah dipastikan bahwa sebuah negara yang menerapkan sistem adopsi untuk sebuah pemerintaham pasti akan hancur. Karena yang paling mudah dipahami, sistem adopsi belum tentu cocok dengan kondisi yang dialami sebuah negara. Masyarakat sebuah negara tidak-lah sama dengan sistem pemerintahan yang akan kita adopsi. Bisa jadi sebuah sistem tersebut adalah sebuah proyek untuk menopang kepentingan beberapa gelintir orang saja. Bisa saja kita ditipu, atau bahkan dijadikan budak oleh sang pemilik sistem dan/atau beberapa gelintir orang yang berkepentingan tersebut. Tentu kita tidak ada yang tahu.

Dan yang kedua adalah kontinyuasi, meneruskan apa yang sudah dimulai oleh nenek moyang kita dulu. Tentu ini tidak harus mengganti sistem pemerintahan kita yang mulanya demokrasi menjadi kerajaan. Masih banyak cara untuk menerapkan sebuah nilai tanpa harus mengganti wadahnya. Dan tentu, dengan sistem kontinyuasi tidak akan ada pihak yang dirugikan akibat kekagetan peralihan sebuah sistem. Embrio Indonesia adalah kerajaan, dan sekarang mengapa bisa menjadi demokrasi? Sekali lagi, kita tidak harus mengubah sistem pemerintahan ini menjadi sebuah kerajaan seperti dulu lagi. Baik apapun sistemnya, sesuatu yang terbuat oleh tangan manusia tidaklah pernah sempurna. Namun setidaknya, dengan mengubah atau memodifikasi beberapa hal di sistem pemerintahan kita yang sekarang, itu bisa dijadikan alternatif terbaik untuk kita. Contohnya, seperti yang sering Mbah Nun utarakan, kita harus membedakan mana kepala negara dengan kepala pemerintahan. Semua harus ada bedanya, tugasnya masing-masing, dan kesadaran. Seperti hubungan antara Gajah Mada dan Hayam Wuruk. Keduanya sama-sama pemimpin, namun dalam medan yang berbeda. Dan jika suatu saat bisa seperti ini, tentu presiden tidak bisa semena-mena, karena presiden juga ada yang mengawasi. Sekarang? tidak ada, kan? Untuk lebih lengkapnya mengenai keterangan ini, sangat bisa dicari di berbagai diskusi kebangsaan yang di mana di sana Mbah Nun sebagai pematerinya.

Mbah Nun juga menawarkan lima konsep pilar NKRI supaya tidak bisa digoyahkan oleh apapun. Pertama, rakyatnya. Sudah bisa dipahami, bahwa kekuatan utama dari Indonesia adalah rakyatnya. Sudah terbukti juga, apapun yang rakyat rasakan akibat pimpinan-pimpinannya di atas sana yang dzolim, rakyat Indonesia tidak pernah sakit apalagi mati. Karena rakyat Indonesia tidak mati, namun berkembang-biak. Harus berapa lagi menderitanya rakyat Indonesia demi membuktikan ini? Sudah jelas-jelas ngerampok uang rakyat milyaran bahkan triliunan rupiah, toh pas ditangkap, rakyat tak pernah sampai hati untuk mengutuk mereka. Lihat, bagaimana koruptor-koruptor itu beraksi.

Kedua, pengaman negara, entah itu Polri maupun TNI harus solid dan kuat. Bersatu padu menjaga kestabilan negara dan tidak hanya ribut sendiri. Jadikan mereka sebagai benar-benar saudara rakyat. Maka NKRI tak akan pernah disentuh oleh tangan-tangan jail siapa pun.

Ketiga, kaum intelektual yang asli. Kaum intelektual yang tidak ditunggangi oleh kepentingan-kepentingan khusus, apalagi sekarang semakin banyak kaum intelektual atau cendekiawan yang sengaja pendidikannya dibayari oleh asing padahal tujuan utamanya adalah menggembosi negara dari tangan-tangan mereka. Dan yang dibutuhkan negara untuk tetap bertahan dan menjadi kuat, adalah kaum intelektual dan cendekiawan yang cinta kepada tanah airnya, yang tidak bisa ditumpangi oleh kepentingan individu maupun golongan.

Keempat, kekuatan permusyawatan. Yang dibutuhkan NKRI adalah sebuah dewan yang dimana, di dalamnya dipercaya oleh berbagai elemen masyarakat sebagai orang-orang terpilih dan mempunyai wibawa dan tanggung jawab tinggi di bidangnya. Seseorang yang bisa diajak diskusi, bertukar pendapat, dan penggagas bagi NKRI yang kuat dan tetap stabil.

Dan yang terakhir, kelima, adalah kekuatan agama dan spiritual. Sudah kentara sekali, di jaman yang tengah bergulir ke kehancuran ini, nama Tuhan semakin dikesampingkan. Tuhan tidak pernah diajak dalam keadaan senang, dan bahkan ironinya, Tuhan hanya dipakai untuk merebut kepentingan-kepentingan seperti kekuasaan dan lain-lain. Seorang pejabat akan ingat Tuhan jika dia ingin maju untuk meraih ke kasta yang lebih tinggi lagi, dan ketika dia sudah berada di jurang kehancurannya. Untuk membentuk NKRI yang hebat, Tuhan harus disertakan dan diimplementasikan nilai-nilainya di segala elemen.

Mbah Nun mengingatkan lagi, bahwa investasi adalah tak selamanya menguntungkan kedua pihak. Beliau mengingatkan, bahwa akibat Indonesia dijajah berratus tahun lamanya adalah karena sebuah perusahaan Belanda bernama VOC itu berinvestasi ke Indonesia. Namun dengan keangkuhan perusahaan tersebut, toh hasilnya jadi beda, kan? Penjajahan yang kita dapat. Namun sekarang, gaya baru dari sistem investasi tersebut tidak dengan amarah, namun bisa juga dengan keramahan yang berlebihan. Kita harus banyak-banyak meminta pertolongan kepada Tuhan agar selalu diberikan kejernihan berpikir dan bertindak. Hanya Dia-lah saat ini pengupayaan yang memang benar-benar harus diupayakan.

Untuk tidak lagi terjebak oleh VOC-VOC lainnya, kita harus segera berubah, setidaknya belajar kepada beberapa guru bangsa yang selalu tidak terlalu mementingkan identitasnya, namun dengan memperhatikan substansial. Kita semakin hari semakin tidak karuan. Semakin hari semakin terjebak oleh bungkus namun melupakan sesuatu yang lebih penting, yakni substansial itu sendiri.

Kita harus benar-benar berubah. Setidaknya, gunakanlah pitutu Jawa “Mikul duwur mendhem jero”. Maafkan segala kesalahan nenek moyang kita, namun dukung dan kembangkan hal-hal baik mereka. Atau dalam istilah Nahdlatul ‘Ulama ialah “Al-Muhafadhotu ‘alaa qodiimish Sholih, wal akhdu min jadiidil ashlah” yang kurang lebih maknanya sama. Bagaimana mungkin kita bisa maju jika selalu memikirkan dan menganggap penting kesalahan yang dilakukan oleh nenek moyang kita? Tahukah kamu, bahwa Yazid bin Muawwiyah, seorang yang menciptakan laknatan bagi Sahabat Ali bin Abi Thalib di tiap khotbah sholat Jum’at, ternyata dilawan oleh cucunya sendiri dan dihapuskanlah kalimat laknatan itu.

Tahukah kamu siapa yang menghancurkan peradaban Islam di Baghdad? Jengis Khan. Dan di beberapa tahun kemudian, cucu dari Jengis Khan sendiri-lah yang membangun kembali peradaban itu, yakni Kubilai Khan. Dan banyak sekali contoh-contoh di mana kita memang harus memaafkan kesalahan nenek moyang kita dan kembali membangun hal-hal yang memang semestinya dibangun. Dalam Jawa, istilahnya ; Ojo ndumeh!

Kemudian setelah itu, masuklah ke beberapa termin pertanyaan. Sesi pertanyaan pun dimulai. Di sini, Mbah Nun memberi komentar sedikit terhadap beberapa penanya sebelum beliau menjawabnya. Beliau merasa sangat optimis terhadap kemajuan Indonesia di masa depan karena pemudanya pun sangat berpikir kritis dan berimbang. Beliau mengapresiasi setiap penanya, yang kemudian menjawabnya beserta narasumber yang lain.

Ada bermacam-macam pertanyaan yang dilontarkan dalam forum Maiyahan tersebut. Dan jawaban bermacam pun hadir untuk mengedukasi jamaah.

KH. Ahmad Muhaimin menerangkan, ketika seorang remaja perempuan menyayangkan sikap sebuah kementerian yang menghapus gelar Sarjana Hukum Islam dan diganti hanya dengan Sarjana Hukum saja. Menurut seorang remaja perempuan tersebut, itu sama halnya dengan menghilangkan jejak-jejak dan nilai ke-Islam-an yang sudah mengakar kuat di Indonesia. Hanya dengan merubah nama, itu sama halnya dengan merubah cara berpikir.
Mbah Nun mengapresiasi pertanyaan seorang remaja perempuan ini, dan dengan guyonan khas Mbah Nun, beliau berkata : “Lah, di Indonesia ini, apa, sih, yang benar? Bahkan hampir semua fakultas di IAIN atau UIN di seluruh Indonesia ini juga salah kaprah penempatannya. Syariah kok dijadikan fakultas, harusnya, yah, kampusnya itu yang bersyariah. Sudahlah, jangan khawatir.” Sontak semua jamaah pun tertawa.

Menyambut gelak tawa jamaah, Mbah Nun mengoper pengeras suara ke KH. Ahmad Muhaimin. Dan beliau memaparkan beberapa pemikiran yang memang sangat bagus. Yakni kritik tentang isi dari materi Sejarah Kebudayaan Islam. Coba saja ditelisik. Mulai dari Madrasah Ibtida’iyah, Tsanawiyah, Aliyah, bahkan sampai perguruan tinggi sekalipun, yang dikaji dalam pelajaran tersebut adalah tentang peperangan mulai dari jaman nabi, sahabat, Bani Muawwiyah, Bani Abbasiyah, era Turki Utsmani, hingga perang-perang lain. Secara kata lain, yang mereka suguhkan sebagai pembahasan pokok dalam Sejarah Kebudayaan Islam adalah budaya Islam yang radikal berupa perang atau ekspansi wilayah dan kekuasaan melalui jalur amarah. Jarang bahkan hampir tidak pernah materi yang menyinggung tentang penyebaran Islam melalui jalur ramah. Dan jika ada, seharusnya Indonesia-lah yang dijadikan sebagai acuan dalam pembahasan materi tersebut. Kita sadar sendiri, bahwa penyebaran Islam di Indonesia melalui cara dakwah Wali Songo sangatlah tidak di masuk akal seharusnya. Tentang ini, sudah dijelaskan oleh salah seorang Kyai sekaligus budhayawan dari LESBUMI, yakni KH. Agus Sunyoto secara ilmiah dan bukti otentik yang tidak terbantahkan melalui bukunya, Atlas Wali Songo.

Nah, jika ingin mewujudkan kultur Islam yang ramah, mengapa tidak ada pembahasan mengenai ini? Mengapa yang selalu ditonjolkan adalah ekspansi Islam dengan jalur kekerasan? Tidak. Saya sendiri tidak terlalu mempermasalahkan. Toh Kanjeng Nabi Muhammad SAW juga melakukan itu, dan penyebaran Islam hingga sampai sebesar ini juga tidak luput dari peranan tokoh yang hidup di era Bani Muawwiyah hingga sampai Turki Utsmani. Tapi, keberagaman serta keunikan Islam di Indonesia juga merupakan hal yang penting untuk dikaji. Agar pemikiran seseorang tentang dunia Islam tidak hanya diisi dengan ekspansi jalur darah saja.

Sebetulnya ada banyak sekali poin yang saya tulis. Namun, ada perasaan ragu untuk menuliskannya karena terlalu sakral dan sentral. Seperti halnya tentang keadaan Kraton saat ini dan di masa depan. Muncul juga istilah lama dari Raden Ngabehi Ranggawarsita, seorang penyair yang berjaya di jamannya, yang juga terkenal dengan beberapa karya tulis yang mengagumkan. Istilah tersebut adalah ; Sinisihan Wahyu, yang malam itu diedukasikan kembali oleh Cak Nun dengan bahasa yang kurang – lebih bisa lebih mudah dimengerti. Intinya, bahwa seorang pemimpin harus mempunyai kecakapan yang mumpuni, antara lain adalah Satrio Pinandhito Sinisihan Wahyu, tiga karakteristik khusus yang diciptakan oleh Raden Ngabehi Ranggawarsito yang sekarang sudah hampir terlupakan oleh generasi muda sekarang. Untuk lebih jelasnya, mungkin bisa dinanti siaran ulangnya acara Maiyah yang bertanggal dan bertempat pada 4 Maret 2017 di Lapangan Sewandanan Puro Pakualaman.

Ada sebuah jargon yang lahir dari Maiyahan tersebut. Yakni ketika Mbah Nun bersorak “Satrio Mataram?!”, maka seluruh jamaah dengan kompak menjawab “Nyawiji!!!”. Arti dan maknanya kurang lebih adalah untuk menyatukan semangat jamaah untuk menjaga dan me-uri-uri kabudhayan dengan kompak dan satu jiwa. Kurang lebih seperti itu.

Semua elemen masyarakat beserta narasumber kemarin hanyut dalam suasana takzim dan keilmuan yang tinggi. Sampai pada akhirnya, acara pun ditutup kurang lebih pukul 02.30 WIB. Sampai pada akhirnya pula saya hampir tidak bisa berdiri karena kandung kemih penuh dengan sesuatu yang segera dibuang. Haha.

Cak Nun dan Kiai Kanjeng dan narasumber beserta para jama'ah Maiyah menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Syukur.

Set lokasi sebelum acara dimulai.
0
Share
Semenjak rodaku bergulir, suasana semakin tak terkendali

Rerintik di tiap senja
Angin di tiap hela
Engkau manja, di setiap namamu kueja

Puisiku kali ini bukan tentang kehilangan
Namun akan lebih perih daripada hal-hal yang ditinggalkan
Puisiku kali ini bukan tentang kerinduan
Namun akan lebih pedih daripada hal-hal yang ditimbulkan

Puisiku kali ini, tentang rasa yang tak kunjung terbiasa

Kabut mengais tumbuh di pelipis peradaban
Hal-hal yang semestinya asri kemudian hilang ditelan keadaan
Aku yang hidup dari pelepah kebingungan, akan selalu hilang dilahap ganasnya api masa kini

Bertahun lalu, wajahmu masih selalu bersinar di kala pagi
Selalu indah sewaktu senja
Dan sejahtera ketika petang
Singkat kata, wajahmu selalu purnama di tiap rima

Rambutmu yang asri dari lahir
Kulitmu yang bening dari batin
Tak pernah lelah untuk menimang bahagia di balik kerasnya kehidupan

Mengenang batik yang kau kenakan, serasa aku rindu dibuatnya
Kain kafan pun sewaktu nanti, akan tetap indah sewaktu terakhir kau mengabdi
Singkat kata, aku ingin mati di atas peluk mesramu

...

Kemudian aku mampir ke rahim yang berbeda
Dia juga cantik dan berbudaya
Telinganya indah seperti mawar
Dan rambutnya hitam seperti malam

Tapi semakin ke sini, telinganya tak lagi mawar, dan rambutnya tak lagi malam
Semuanya hilang ketika dia diperkosa
Dan didandani seperti Noni Belanda
Aku tak berkata, mulutku habis dibungkamnya

Budaya masih ada, namun minim sekali di dalamnya
Pakaiannya masih berbatik, namun celananya tak lebih tinggi daripada mata hati

Hanya satu sewaktu aku bersamanya, ingin benar-benar pulang ke pelukmu
Seperti senja kala, aku mengharapmu sesejuk sewaktu lalu

...

Aku pulang, menemuimu dengan apa adanya
Aku pulang, dengan jiwa yang kangen dengan kasih sayang
Mesra, hangat, intim, seperti itulah bayangku dalam jalan
Masa-masaku akan kuhabiskan dengan pelana kuda dari kulit pilihan

Namun apa yang kudapati?
Sial!

Kulihat semula kau masih seperti biasa
Rambutmu masih hitam, dan matamu masih berbinar

Namun aku terdiam sejenak
Menghela napas
Mengatur perasaan
Ketika kueja namamu, dan kau tak lagi manja

Namun entah bagaimana, aku masih tak percaya, ketika kau juga perlahan diperkosa olehnya
Dan mengapa? Mengapa itu bisa terjadi?
Aku tak tahu, dan aku berhenti untuk menahu

Apa kata orang tuamu seketika tahu bahwa ada tato di pangkal pahamu?
Apa kata orang tuamu seketika rambutmu tak lagi kelam?
Lantas bagaimana perasaan mereka yang merindukan kasih sayang seorang gadis desa?

Oh, tidak
Aku tak percaya dengan ini

Bukan,
Bukan pada hal yang tak mudah dipercaya
Namun, semenjak apa engkau menjadi sebinal ini?

Apa kau tahu nasib beberapa orang yang pernah memuja kesederhanaanmu?
Kalau tidak, coba tanya aku

Aku tak suka gaya barumu
Aku tak suka modernitas!
Aku tak suka kau berdandan seperti itu

Aku marah kalau modernitas yang kau maksud itu seperti ini
Menjual harga dirimu untuk kau jadikan teman hedon yang tak beretika sama sekali
Mengapa kau jadi berani membantah orang tuamu?
Mengapa di petang kau selalu keluar sewaktu ibumu sedang berwudhu?
Mengapa di pagi kau selalu tenggelam sewaktu bapakmu sedang memanggul palu?

Apa kurang merdu, tahlil bergema mesra di surau-surau sehingga kau cari suara yang tak jelas kalimat surganya?
Apa kurang indah, lampu putih di selasar masjid sehingga kau cari lampu yang warna-warni di setiap nyalanya?
Bahkan kopimu sudah tidak lagi seperti dulu
Kopimu tak lagi mengandung inspirasi, namun lebih ke gengsi dan pembunuhan karakter pribadi
Kopimu tak lagi tentang kenangan, namun hanya kapitalisme dan kekayaan
Untuk disebut modern, kenapa kau buang identitas asri?

Orang tuamu, tak melahirkanmu hanya untuk menjadi modernitas versimu
Menyesallah mereka jika semasih hidup
Entah seberapa mengerikan rautnya
Atau seberapa sedih ekspresinya
Aku tak tahu
Aku hanya menyesal denganmu

...

Gadisku, jika ini pilihan yang tidak bisa kau rubah, cukup seperti ini saja
Jangan macam-macam dengan masa depanmu
Cukup menjadi yang lebih alami, kehidupanmu akan tetap indah dan abadi

Lamongan, 21 Januari 2017.
0
Share
Memahami Indonesia melalui WPAP.


Indonesia merupakan salah satu negeri yang telah terlimpahkan keberkahan yang tiada pernah habisnya. Tak hanya gugusan pulaunya yang indah, mulai dari sandangnya, pangannya, papannya, sarat akan kebudayaan yang beragam, kesenian yang indah, serta berbagai kekayaan kultural dan intelektual yang tak pernah hilang. Semuanya, pada hakekatnya telah melekat erat di nama Indonesia.

Berbicara mengenai kekayaan kultural dan intelektual, menyinggung budaya, dan menggandeng kesenian, kurang lengkap jika kita tidak melihat salah satu seni ilustrasi asli Indonesia yang tengah mendunia. Ialah WPAP, akronim dari Wedha’s Pop Art Portrait, adalah salah satu hasil dari kreatifitas anak negeri. Aslinya, sih, bukan lagi anak-anak, penemunya bahkan sudah bisa dibilang sudah sepuh. Tapi apalah daya jika umur hanya sebatas angka? Daya kreatifitas beliau tak pernah surut oleh masa yang sedang bergulir.

Singkatnya, WPAP, adalah salah satu jenis ilustrasi potret yang khas. Karena pada ciri-cirinya, jikalau kalian menemukan gambar, terutamanya potret wajah dengan pola kotak-kotak dan berwarna, maka selamat, kalian sudah kenal dengan WPAP. Kalau masih belum puas dengan penjelasan singkat tersebut, silahkan digunakan fitur yang bernama internet, dan carilah di sana. Haha . . . atau bisa kalian lihat instagram saya di bawah, di sebelah catatan kaki, sebagian besar dari karya warna-warni tersebut adalah WPAP. Karena pada tulisan ini, saya tidak menitik-beratkan kepada definisi WPAP saja. Melainkan, pada makna dan filsafat di balik nama WPAP. Apakah ada filosofisnya? Tentunya ada. Mari kita bahas bersama-sama.

Tulisan ini, terlatar-belakangi oleh keadaan masyarakat dan kebangsaan di Indonesia sekarang ini. Segala bentuk perpecahan di mana-mana. Sampai pada akhirnya, masalah ini akan berlabuh dan berakhir pada ketidak mampuan kita memahami Indonesia.

Seperti yang sudah saya bubuhkan di bagian depan tulisan ini, yang pada singkatnya Indonesia adalah negara yang majemuk, semua setuju tentang hal itu, dan yang penting, kita mulanya hidup dalam kerukunan dalam berkehidupan, tapi entah mengapa sekarang suasananya sedikit berbeda, ada banyak kesenjangan di mana-mana yang bahkan bisa berujung kepada perpecahan yang lebih banyak lagi.

Dari dulu, di masanya, Indonesia sudah terbiasa hidup dalam pergesekan akan hal apa pun. Entah itu suku, agama, ras, dan antar golongan lainnya. Dan itu pada dasar dan akhirnya, adalah salah satu bentuk kehidupan yang diidam-idamkan oleh setiap orang.

Namun sekarang, semua definisi tentang Indonesia hanya tinggal definisi kosong. Sama sekali tidak sakti dalam negeri yang kesekian banyak warganya sakit ini.

Tapi apakah kita, terkhususnya saya, akan membiarkan keadaan seperti ini akan terus menerus terjadi? Tentunya tidak.

Berbagai filsafat tentang kebangsaan dan kehidupan sudah hafal bahkan jemu untuk menghadapi masalah seperti ini. Ketidak rukunan antar golongan sudah sulit diselamatkan jika kita hanya berfilsafat. Maka, filsafat kebangsaan sudah hangus dalam hal ini.

Lalu mengapa kita tidak mencoba menggunakan filsafat dasar WPAP? Karena pada dasarnya, seni adalah bahasa universal. Tidak ada masalah yang tidak bisa diselesaikan dengan jalur seni. Semua masalah teratasi, dan semuanya akan kembali normal dan damai.

Dalam WPAP, hasil dari sebuah pekerjaan seni akan dirasa berbeda jika beda tangan yang mengolahnya. Contohnya, potret Ir. Soekarno, dalam WPAP, meskipun sumber gambarnya sama, namun output atau karya yang dihasilkan dari tangan berbeda, akan menimbulkan hasil yang berbeda pula. Karena di WPAP, yang bekerja adalah rasa seni dari setiap pekerja seninya.


Satu model diolah dengan 105 tangan. Hayo, punyaku yang mana? :D

Di WPAP sendiri, ada beberapa proses yang mempengaruhi hasil. Untuk dikatakan berhasil, sebuah WPAP harus mirip dengan objek aslinya. Dalam prosesnya, WPAP mengalami beberapa langkah. Singkatnya, harus ada pembuatan bidang, dan yang terakhir mewarnai. Dalam setiap langkah, ada beberapa hal yang harus diperhatikan, yang utama yakni sebisa mungkin hasil harus mirip dengan objek aslinya, seperti yang sudah saya tuliskan di atas tadi.

Artis (pekerja seni; WPAP-ers dalam hal ini) akan menghasilkan beberapa karya yang akan bisa dikenali secara mudah. Entah itu dari goresan facetnya, warnanya, atau ke-khas-an yang lain. Dan itulah yang disebut jati diri dalam sebuah WPAP.

Di WPAP, seorang artis tidak harus dituntut untuk memberikan sentuhan khas dalam setiap karyanya. Bahkan seorang artis tidak dituntut untuk ber-WPAP secara bagus dan sempurna. Asal mematuhi pakem-pakem WPAP, dan bisa menyelaraskan warna dalam perkumpulan yang indah, semua itu sudah cukup untuk bisa dibilang WPAP. Namun, ke-khas-an itu akan tetap ada dan muncul seiring kematangan mereka dalam berkarya. Dan bukankah terdirinya suatu golongan dalam bermasyarakat di sebuah negara ialah seperti itu? Masyarakat akan menjadi solid, jika di golongannya terdapat beberapa anggota yang mempunyai sebuah visi dan misi yang sama.

Terkadang, seperti bermasyarakat dalam jangkauan lebih luas seperti di sebuah negeri, di WPAP, sering juga terjadi pergesekan antar artis. Yang disebabkan karena perbedaan selera facet, kepekaan terhadap warna, atau gaya ilustrasi yang ragam. Namun, satu artis tidak bisa menyalahkan atau bahkan menjelekkan karya lain jika hanya berdasarkan sudut pandang pribadinya. Saya tidak bisa menganggap jelek karya seseorang yang banyak dominan warna biru hanya karena saya tidak suka warna biru, saya tidak bisa menghujat karya seseorang yang detil karena saya suka yang simpel. Di WPAP kita hidup berselaras di bawah payung desain seni ilustrasi yang sama. Oleh karena itu kita harus mengambil banyak sudut pandang untuk memutuskan bahwa karya tersebut sudah bisa dibilang WPAP belum?

Saya juga sering merasa lebih baik dibanding artis lain. Itu hanya disebabkan bahwa karya saya lebih “enak dipandang mata” dari pada karya mereka. Sering pula di hati saya, ada rasa merendahkan artis yang baru, yang karyanya tidak lebih baik dari saya. Tapi, semua itu, kan, hanya pandangan subjektif dari seorang Misbah, tidak mencakup beberapa pandangan dari teman dan keluarga WPAP lainnya. Atau bahkan penemu WPAP sendiri belum tentu sepaham dengan subjektifitas saya.

Nah, kalau memang pakem-pakemnya sudah terpenuhi, maka mau tidak mau, selera tidak selera, kita harus mengakui bahwa karya tersebut adalah WPAP. Semua itu tak peduli apapun selera warnamu, facetmu, dan gayamu, kalau memang karya tersebut sudah memenuhi pakem, maka karya tersebut tetap WPAP. Karena apa? Tidak ada ego yang bermain di sana. Ketetapan dasar sebagai WPAP sudah terpenuhi, maka selanjutnya adalah tinggal kita menikmatinya. Ada yang tidak satu selera, ya, wajar. Bukankah kita tercipta dengan sesuatu yang unik? Kita memiliki selera seni yang berbeda-beda. Tidak perlu diselaraskan.

Begitu pula dalam bernegara. Bermasyarakat khususnya. Tidak peduli mereka satu golongan atau tidak dengan kita. Kalau pakem-pakem dalam bermasyarakat itu sudah terpenuhi, nilai kesopanan semisal, atau kerukunan, maka mereka adalah sahabat kita, saudara kita, dan bahkan keluarga kita. Karena pada dasarnya kita lahir dalam negara dan nasib yang sama. Dan akan menimbulkan kecintaan yang sama besarnya jika kita memaklumi segala yang berbeda dengan kita, dan memangkas ego yang seberapa pun besarnya.

Garis besarnya, jika hidup ingin selaras, tirulah pola dalam WPAP. Setiap bidangnya berdampingan, warnanya berbeda, namun jika terbentuk dalam sebuah harmoni yang indah, dengan nilai seni yang bagus, akan menjadikan hidup lebih berwarna dan indah untuk dinikmati. WPAP tak akan indah jika hanya satu warna. Bahkan itu tidak bisa dikategorikan dalam WPAP. Hidup juga sedemikian, apalagi bermasyarakat di Indonesia yang semuanya majemuk.

Semua perumpamaan itu semata hanya untuk kita berhidup bahagia dan rukun.
0
Share
Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

Tolong diklik juga, ya

utawistudio
Fiverr
Seller
Welcome! I am Professional Illustration Freelancer. I've been experienced more than 5 years. Give a great service & make client satisfy is my priority & commitment dedicated for a great business. Thanks . Best, Utawi Studio.

Pos terpopuler

  • Sedikit Mengulik Karya Sang Maestro "Melodia" Cipt. Umbu Landu Paranggi
    Umbu Landu Paranggi Cintalah yang membuat diri betah untuk sesekali bertahan Karena sajak pun sanggup merangkap duka gelisah kehidup...
  • Mengeja Makna Di Balik Logo dan Tulisan Grup Band “Letto”
    Siapa yang tidak tahu nama Letto dalam belantika musik nusantara, sebuah grup musik yang pernah berjaya di tahun 2004 yang beranggotakan...
  • Menyimak Lebih Dalam Novel "Jiwo J#ncuk"
    “Membaca tentang cinta di buku ini rasanya, J#ncuk”. Itulah salah satu ucapan dari seorang penulis buku Dear You, Moammar Emka. En...
  • Ada Surga di Lamongan Selatan
    Suasana Waduk Gondang begitu alami. Airnya bening. Udaranya sejuk. Pohon-pohon tumbuh rindang di dalamnya. Pesona itu membuat beberapa...
  • Sudah saatnya kita bergerak - Resensi Buku ; Dunia Anna karya Jostein Gaarder
    Sudah saatnya kita bergerak - Resensi Buku ; Dunia Anna karya Jostein Gaarder. Judul : Dunia Anna, Sebuah Novel Filsafat Semesta Pe...
Diberdayakan oleh Blogger.

Teman-teman Saya

Tajuk

Bercerita (9) Cerpen (23) Maiyah (2) Opini (29) Puisi (57) Resensi (2) Wanpis (1)

yeqsiw on Twitter

Tweets by yeqsiw

Pos Terpopuler

  • Sedikit Mengulik Karya Sang Maestro "Melodia" Cipt. Umbu Landu Paranggi
    Umbu Landu Paranggi Cintalah yang membuat diri betah untuk sesekali bertahan Karena sajak pun sanggup merangkap duka gelisah kehidup...
  • Mengeja Makna Di Balik Logo dan Tulisan Grup Band “Letto”
    Siapa yang tidak tahu nama Letto dalam belantika musik nusantara, sebuah grup musik yang pernah berjaya di tahun 2004 yang beranggotakan...
  • Menyimak Lebih Dalam Novel "Jiwo J#ncuk"
    “Membaca tentang cinta di buku ini rasanya, J#ncuk”. Itulah salah satu ucapan dari seorang penulis buku Dear You, Moammar Emka. En...
  • Ada Surga di Lamongan Selatan
    Suasana Waduk Gondang begitu alami. Airnya bening. Udaranya sejuk. Pohon-pohon tumbuh rindang di dalamnya. Pesona itu membuat beberapa...
  • Sudah saatnya kita bergerak - Resensi Buku ; Dunia Anna karya Jostein Gaarder
    Sudah saatnya kita bergerak - Resensi Buku ; Dunia Anna karya Jostein Gaarder. Judul : Dunia Anna, Sebuah Novel Filsafat Semesta Pe...
Copyright © 2015 Misbahul Munir

Created By ThemeXpose