Entah mengapa, sewaktu saya mau menulis ini, yang saya ingat adalah salah satu guyonan K. H. Abdurrahman Wahid ---Gus Dur--- tentang masyarakat Indonesia. Jika orang barat seperti Amerika dan Inggris sana yang banyak bicara banyak kerja, jika orang Jepang sana sedikit bicara banyak kerja, jika orang-orang di kebanyakan negara berkembang sana banyak bicara sedikit kerja, namun Indonesia ini sangat istimewa. Gus Dur menyebutnya dengan bangsa multi-tasking. Yah, karena apa yang mereka bicarakan dengan apa yang mereka kerjakan adalah suatu hal yang lain.
Namun, saya tidak menitik-beratkan tulisan ini ke budaya Indonesia yang multi-tasking itu. Tapi lebih ke Indonesia yang dengan senangnya mereka berbicara sampai berbusa-busa, yang ternyata kebiasaan seperti ini sungguh dapat menimbulkan hal-hal yang tidak baik.
Generasi milenial sekarang, dan generasi lawas tentu sudah tumbuh familiar dengan budaya Indonesia yang terlalu suka bicara. Kalau toh banyak bicara sedikit kerja itu sudah mending, lumayan lah. Lah ini, pembicaraan dan pekerjaan itu sudah melenceng jauh.
Hal yang sekarang ini, yang paling enak dibicarakan adalah mengenai konteks mengutarakan pendapat. Ternyata ada perbedaan mengenai hal ini. Perbedaan tersebut hadir dalam cara masyarakat mengutarakan pendapatnya. Masyarakat yang cerdas, mereka akan mengutarakan pendapat dengan nada sopan dan bukti-bukti yang memang sudah bisa dibuktikan, dan masyarakat yang agak kurang cerdas ---saya tidak menyebut mereka bodoh---, adalah mereka yang dengan semangatnya berbicara sampai berbusa-busa, tapi isi dalam pembicaraannya hanya omong-omong kosong dan semakin menunjukkan akan kebodohan dirinya sendiri. Sebetulnya ada satu golongan lagi, namun masyarakat seperti ini akan lebih baik jika saya memasukkannya ke golongan masyarakat yang kedua namun juga klas dua. Dalam artian mereka masih dalam golongan masyarakat yang agak kurang cerdas namun di klas dua. Ialah mereka yang terlalu bersemangat berbicara, mengutarakan pendapat, namun mereka hanya bermodal membagikan tautan-tautan dan tulisan yang tidak jelas arah dan sumber beritanya. Atau dalam bahasa modern-nya, mereka ini masyarakat yang terlalu banyak mengonsumsi berita hoax. Sepertinya saya tidak termasuk dalam golongan yang kedua.
Ternyata, golongan yang kedua ini-lah yang harus diwaspadai. Kenapa? Kita mengaca kepada seorang pesilat. Seorang pesilat yang paling berpotensi untuk memenangkan pertarungan adalah mereka yang tidak cukup hanya kuat saja. Namun mereka juga harus mengetahui seberapa kekuatan musuhnya, mana titik kelemahannya, dan sekiranya di saat apa yang akan membuat sang musuh itu sangat mudah diserang dan kalah. Ini adalah salah satu trik yang sudah menjadi rahasia umum. Dan menurut saya, dalam hal berargumen pun juga harus seperti itu. Minimal jika meng-kritik seseorang, kita harus tahu lebih dulu latar belakang singkat mengenai orang yang akan kita kritik. Seorang dewasa tidak akan mudah kalah jika yang dilawannya adalah anak kecil, malah seorang dewasa tersebut tentunya akan lebih ke berkesan meremehkan. Namun seorang dewasa tersebut akan kewalahan jika anak kecil itu mampu memperhatikan detil-detil dari seorang dewasa tersebut. Intinya, anak kecil harus lebih mempelajari musuhnya. Atau dengan cara yang kedua, anak kecil tersebut harus tumbuh menjadi seorang yang sama-sama dewasa, sama-sama matang, dan sama-sama siap untuk bertarung.
Dulu, yang berani mengkritik H. O. S. Tjokroaminoto adalah orang-orang sekaliber Ir. Soekarno, H. M. Misbach, dan seorang lain yang ilmunya mumpuni. Dulu, yang berani mengkritik K. H. Abdurrahman Wahid adalah seorang M. Amien Rais dan orang-orang sekaliber beliau. Yang berani mendebat K. H. Wahab Chasbullah sampai gebrak-gebrak meja hanya K. H. Bisri Syansuri, kemudian kedua beliau saling berpelukan selepasnya. Di dunia pemikiran Islam-pun demikian, yang berani mendebat Imam Al-Ghazali adalah seorang Ibnu Rusyd. Dan itu akan banyak sekali contoh jika kita menarik garis ke belakang. Para ulama’-ulama’ salaf saling kritik mengkritik, dan seorang santri hanya bertugas sami’na wa atho’na.
Namun, jika kita melihat kondisi sekarang, entah mengapa kondisi itu sangat bertolak belakang? Sekarang, semua orang berani bicara apa saja terhadap siapa saja. Tanpa harus mengaca ke dalam dan berpikir, “apa saya pantas untuk bicara seperti ini?”, sekarang tidak. Sama sekali tidak memperdulikan hal-hal seperti itu.
Semenjak kebebasan berpendapat mulai tumbuh di Indonesia, semua orang berani menyampaikan argumennya terhadap siapa pun. Bahkan, orang dulunya berprofesi sebagai tukang obat herbal sudah berani mengkritik bahkan menghina seorang ulama’, yang dulu bahkan dia mengerti Islam melalui moyang dari ulama’ tersebut.
Semenjak Gus Dur membubarkan departemen penerangan, semua orang sudah berani berkacak pinggang di hadapan gurunya sendiri, budaya luhur dan moralitas yang tinggi perlahan luntur seiring perkembangan jaman. Tentu saya tidak mempermasalahkan tentang langkah Gus Dur membubarkan departemen tersebut, bahkan saya sangat bersyukur, karena jasa beliau-lah saya dan teman-teman bisa menulis sebebas ini. Namun jika saya boleh untuk berpikir sedikit nakal saja, pembungkaman-pembungkaman yang terjadi di orde baru sepertinya harus diberlakukan lagi. Bukan untuk membungkam mulut-mulut agar tidak bisa berbicara, namun lebih ke ‘agar mereka tahu, bahwa berbicara juga ada etikanya’.
K. H. Ahmad Musthofa Bisri, ---Gus Mus--- pernah mengumpamakan kondisi seperti ini, bahwa, andai kata sebuah negara miskin yang hanya mampu membeli 50 buah pesawat, maka berapa pilot yang harus dipekerjakan? 100 beserta co-pilot-nya. Namun jika tiba-tiba sebuah negara tersebut mendapat rejeki tiban, kemudian ia beli lagi 50 pesawat sehingga ada 100 pesawat, kemana sebuah negara tersebut akan mencari pilot tambahan? Mungkin, sopir-sopir angkot, tukang ojek, bahkan penjahit-pun akan dipekerjakannya. Sama halnya seperti tradisi jurnalis kita. Jika sewaktu orde baru kita dibungkam habis-habisan dalam berpendapat, dan kemudian pembungkaman itu dilepas tiba-tiba, biro berita akan mencari jurnalis kemana, sedangkan jurnalis adalah sebuah profesi yang tidak menguntungkan di orde baru? Bisa jadi sopir angkot, tukang ojek, penjahit, bahkan tukang obat herbal-pun akan mereka pekerjakan.
Mungkin sekarang seperti itu, kapasitas dalam berbicara sudah tidak diperdulikan lagi. Kita tidak lagi pernah berpikir mengenai seseorang yang akan kita kritik sebelum kita mengkritik. Kita sudah tidak punya sopan santun lagi dalam berbicara. Kita sudah berani berdiri gagah di depan guru. Kita sudah seperti lalat yang tak punya sopan santun, yang tadi singgah di kotoran, sekarang hinggap di makanan.
Contoh kongkretnya, sangat sering saya temui, baik di dunia maya maupun di dunia nyata, beberapa orang yang menurutku keilmuannya jauh dibanding seorang yang dikritiknya, ketika ada anak kemarin sore yang baru belajar ilmu agama berani mengkritik ulama’-ulama’ yang sudah diakui keilmuannya, bahkan tak sedikit di antara mereka yang berani mengkategorikan ulama’ tersebut masuk ke ulama’ suu’ ---buruk---. Padahal Imam Al-Ghazali saja, yang mencetuskan kategori antara ulama’ baik dan ulama’ buruk, tak berani terburu-buru menentukan seorang itu termasuk ulama’ baik atau buruk.
Kita sudah hidup dalam generasi nranyak wal kakehan cangkem.
Namun, saya tidak menitik-beratkan tulisan ini ke budaya Indonesia yang multi-tasking itu. Tapi lebih ke Indonesia yang dengan senangnya mereka berbicara sampai berbusa-busa, yang ternyata kebiasaan seperti ini sungguh dapat menimbulkan hal-hal yang tidak baik.
Generasi milenial sekarang, dan generasi lawas tentu sudah tumbuh familiar dengan budaya Indonesia yang terlalu suka bicara. Kalau toh banyak bicara sedikit kerja itu sudah mending, lumayan lah. Lah ini, pembicaraan dan pekerjaan itu sudah melenceng jauh.
Hal yang sekarang ini, yang paling enak dibicarakan adalah mengenai konteks mengutarakan pendapat. Ternyata ada perbedaan mengenai hal ini. Perbedaan tersebut hadir dalam cara masyarakat mengutarakan pendapatnya. Masyarakat yang cerdas, mereka akan mengutarakan pendapat dengan nada sopan dan bukti-bukti yang memang sudah bisa dibuktikan, dan masyarakat yang agak kurang cerdas ---saya tidak menyebut mereka bodoh---, adalah mereka yang dengan semangatnya berbicara sampai berbusa-busa, tapi isi dalam pembicaraannya hanya omong-omong kosong dan semakin menunjukkan akan kebodohan dirinya sendiri. Sebetulnya ada satu golongan lagi, namun masyarakat seperti ini akan lebih baik jika saya memasukkannya ke golongan masyarakat yang kedua namun juga klas dua. Dalam artian mereka masih dalam golongan masyarakat yang agak kurang cerdas namun di klas dua. Ialah mereka yang terlalu bersemangat berbicara, mengutarakan pendapat, namun mereka hanya bermodal membagikan tautan-tautan dan tulisan yang tidak jelas arah dan sumber beritanya. Atau dalam bahasa modern-nya, mereka ini masyarakat yang terlalu banyak mengonsumsi berita hoax. Sepertinya saya tidak termasuk dalam golongan yang kedua.
Ternyata, golongan yang kedua ini-lah yang harus diwaspadai. Kenapa? Kita mengaca kepada seorang pesilat. Seorang pesilat yang paling berpotensi untuk memenangkan pertarungan adalah mereka yang tidak cukup hanya kuat saja. Namun mereka juga harus mengetahui seberapa kekuatan musuhnya, mana titik kelemahannya, dan sekiranya di saat apa yang akan membuat sang musuh itu sangat mudah diserang dan kalah. Ini adalah salah satu trik yang sudah menjadi rahasia umum. Dan menurut saya, dalam hal berargumen pun juga harus seperti itu. Minimal jika meng-kritik seseorang, kita harus tahu lebih dulu latar belakang singkat mengenai orang yang akan kita kritik. Seorang dewasa tidak akan mudah kalah jika yang dilawannya adalah anak kecil, malah seorang dewasa tersebut tentunya akan lebih ke berkesan meremehkan. Namun seorang dewasa tersebut akan kewalahan jika anak kecil itu mampu memperhatikan detil-detil dari seorang dewasa tersebut. Intinya, anak kecil harus lebih mempelajari musuhnya. Atau dengan cara yang kedua, anak kecil tersebut harus tumbuh menjadi seorang yang sama-sama dewasa, sama-sama matang, dan sama-sama siap untuk bertarung.
Dulu, yang berani mengkritik H. O. S. Tjokroaminoto adalah orang-orang sekaliber Ir. Soekarno, H. M. Misbach, dan seorang lain yang ilmunya mumpuni. Dulu, yang berani mengkritik K. H. Abdurrahman Wahid adalah seorang M. Amien Rais dan orang-orang sekaliber beliau. Yang berani mendebat K. H. Wahab Chasbullah sampai gebrak-gebrak meja hanya K. H. Bisri Syansuri, kemudian kedua beliau saling berpelukan selepasnya. Di dunia pemikiran Islam-pun demikian, yang berani mendebat Imam Al-Ghazali adalah seorang Ibnu Rusyd. Dan itu akan banyak sekali contoh jika kita menarik garis ke belakang. Para ulama’-ulama’ salaf saling kritik mengkritik, dan seorang santri hanya bertugas sami’na wa atho’na.
Namun, jika kita melihat kondisi sekarang, entah mengapa kondisi itu sangat bertolak belakang? Sekarang, semua orang berani bicara apa saja terhadap siapa saja. Tanpa harus mengaca ke dalam dan berpikir, “apa saya pantas untuk bicara seperti ini?”, sekarang tidak. Sama sekali tidak memperdulikan hal-hal seperti itu.
Semenjak kebebasan berpendapat mulai tumbuh di Indonesia, semua orang berani menyampaikan argumennya terhadap siapa pun. Bahkan, orang dulunya berprofesi sebagai tukang obat herbal sudah berani mengkritik bahkan menghina seorang ulama’, yang dulu bahkan dia mengerti Islam melalui moyang dari ulama’ tersebut.
Semenjak Gus Dur membubarkan departemen penerangan, semua orang sudah berani berkacak pinggang di hadapan gurunya sendiri, budaya luhur dan moralitas yang tinggi perlahan luntur seiring perkembangan jaman. Tentu saya tidak mempermasalahkan tentang langkah Gus Dur membubarkan departemen tersebut, bahkan saya sangat bersyukur, karena jasa beliau-lah saya dan teman-teman bisa menulis sebebas ini. Namun jika saya boleh untuk berpikir sedikit nakal saja, pembungkaman-pembungkaman yang terjadi di orde baru sepertinya harus diberlakukan lagi. Bukan untuk membungkam mulut-mulut agar tidak bisa berbicara, namun lebih ke ‘agar mereka tahu, bahwa berbicara juga ada etikanya’.
K. H. Ahmad Musthofa Bisri, ---Gus Mus--- pernah mengumpamakan kondisi seperti ini, bahwa, andai kata sebuah negara miskin yang hanya mampu membeli 50 buah pesawat, maka berapa pilot yang harus dipekerjakan? 100 beserta co-pilot-nya. Namun jika tiba-tiba sebuah negara tersebut mendapat rejeki tiban, kemudian ia beli lagi 50 pesawat sehingga ada 100 pesawat, kemana sebuah negara tersebut akan mencari pilot tambahan? Mungkin, sopir-sopir angkot, tukang ojek, bahkan penjahit-pun akan dipekerjakannya. Sama halnya seperti tradisi jurnalis kita. Jika sewaktu orde baru kita dibungkam habis-habisan dalam berpendapat, dan kemudian pembungkaman itu dilepas tiba-tiba, biro berita akan mencari jurnalis kemana, sedangkan jurnalis adalah sebuah profesi yang tidak menguntungkan di orde baru? Bisa jadi sopir angkot, tukang ojek, penjahit, bahkan tukang obat herbal-pun akan mereka pekerjakan.
Mungkin sekarang seperti itu, kapasitas dalam berbicara sudah tidak diperdulikan lagi. Kita tidak lagi pernah berpikir mengenai seseorang yang akan kita kritik sebelum kita mengkritik. Kita sudah tidak punya sopan santun lagi dalam berbicara. Kita sudah berani berdiri gagah di depan guru. Kita sudah seperti lalat yang tak punya sopan santun, yang tadi singgah di kotoran, sekarang hinggap di makanan.
Contoh kongkretnya, sangat sering saya temui, baik di dunia maya maupun di dunia nyata, beberapa orang yang menurutku keilmuannya jauh dibanding seorang yang dikritiknya, ketika ada anak kemarin sore yang baru belajar ilmu agama berani mengkritik ulama’-ulama’ yang sudah diakui keilmuannya, bahkan tak sedikit di antara mereka yang berani mengkategorikan ulama’ tersebut masuk ke ulama’ suu’ ---buruk---. Padahal Imam Al-Ghazali saja, yang mencetuskan kategori antara ulama’ baik dan ulama’ buruk, tak berani terburu-buru menentukan seorang itu termasuk ulama’ baik atau buruk.
Kita sudah hidup dalam generasi nranyak wal kakehan cangkem.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terima kasih sudah mampir. Perlu penegasan, bahwa apapun yang tertulis di sini adalah pengolahan kata dan pengembangan pemikiran dari saya pribadi.
Jangan lupa sandalnya dibawa.