![]() |
| Memahami Indonesia melalui WPAP. |
Indonesia merupakan salah satu negeri yang telah terlimpahkan keberkahan yang tiada pernah habisnya. Tak hanya gugusan pulaunya yang indah, mulai dari sandangnya, pangannya, papannya, sarat akan kebudayaan yang beragam, kesenian yang indah, serta berbagai kekayaan kultural dan intelektual yang tak pernah hilang. Semuanya, pada hakekatnya telah melekat erat di nama Indonesia.
Berbicara mengenai kekayaan kultural dan intelektual, menyinggung budaya, dan menggandeng kesenian, kurang lengkap jika kita tidak melihat salah satu seni ilustrasi asli Indonesia yang tengah mendunia. Ialah WPAP, akronim dari Wedha’s Pop Art Portrait, adalah salah satu hasil dari kreatifitas anak negeri. Aslinya, sih, bukan lagi anak-anak, penemunya bahkan sudah bisa dibilang sudah sepuh. Tapi apalah daya jika umur hanya sebatas angka? Daya kreatifitas beliau tak pernah surut oleh masa yang sedang bergulir.
Singkatnya, WPAP, adalah salah satu jenis ilustrasi potret yang khas. Karena pada ciri-cirinya, jikalau kalian menemukan gambar, terutamanya potret wajah dengan pola kotak-kotak dan berwarna, maka selamat, kalian sudah kenal dengan WPAP. Kalau masih belum puas dengan penjelasan singkat tersebut, silahkan digunakan fitur yang bernama internet, dan carilah di sana. Haha . . . atau bisa kalian lihat instagram saya di bawah, di sebelah catatan kaki, sebagian besar dari karya warna-warni tersebut adalah WPAP. Karena pada tulisan ini, saya tidak menitik-beratkan kepada definisi WPAP saja. Melainkan, pada makna dan filsafat di balik nama WPAP. Apakah ada filosofisnya? Tentunya ada. Mari kita bahas bersama-sama.
Tulisan ini, terlatar-belakangi oleh keadaan masyarakat dan kebangsaan di Indonesia sekarang ini. Segala bentuk perpecahan di mana-mana. Sampai pada akhirnya, masalah ini akan berlabuh dan berakhir pada ketidak mampuan kita memahami Indonesia.
Seperti yang sudah saya bubuhkan di bagian depan tulisan ini, yang pada singkatnya Indonesia adalah negara yang majemuk, semua setuju tentang hal itu, dan yang penting, kita mulanya hidup dalam kerukunan dalam berkehidupan, tapi entah mengapa sekarang suasananya sedikit berbeda, ada banyak kesenjangan di mana-mana yang bahkan bisa berujung kepada perpecahan yang lebih banyak lagi.
Dari dulu, di masanya, Indonesia sudah terbiasa hidup dalam pergesekan akan hal apa pun. Entah itu suku, agama, ras, dan antar golongan lainnya. Dan itu pada dasar dan akhirnya, adalah salah satu bentuk kehidupan yang diidam-idamkan oleh setiap orang.
Namun sekarang, semua definisi tentang Indonesia hanya tinggal definisi kosong. Sama sekali tidak sakti dalam negeri yang kesekian banyak warganya sakit ini.
Tapi apakah kita, terkhususnya saya, akan membiarkan keadaan seperti ini akan terus menerus terjadi? Tentunya tidak.
Berbagai filsafat tentang kebangsaan dan kehidupan sudah hafal bahkan jemu untuk menghadapi masalah seperti ini. Ketidak rukunan antar golongan sudah sulit diselamatkan jika kita hanya berfilsafat. Maka, filsafat kebangsaan sudah hangus dalam hal ini.
Lalu mengapa kita tidak mencoba menggunakan filsafat dasar WPAP? Karena pada dasarnya, seni adalah bahasa universal. Tidak ada masalah yang tidak bisa diselesaikan dengan jalur seni. Semua masalah teratasi, dan semuanya akan kembali normal dan damai.
Dalam WPAP, hasil dari sebuah pekerjaan seni akan dirasa berbeda jika beda tangan yang mengolahnya. Contohnya, potret Ir. Soekarno, dalam WPAP, meskipun sumber gambarnya sama, namun output atau karya yang dihasilkan dari tangan berbeda, akan menimbulkan hasil yang berbeda pula. Karena di WPAP, yang bekerja adalah rasa seni dari setiap pekerja seninya.
Berbicara mengenai kekayaan kultural dan intelektual, menyinggung budaya, dan menggandeng kesenian, kurang lengkap jika kita tidak melihat salah satu seni ilustrasi asli Indonesia yang tengah mendunia. Ialah WPAP, akronim dari Wedha’s Pop Art Portrait, adalah salah satu hasil dari kreatifitas anak negeri. Aslinya, sih, bukan lagi anak-anak, penemunya bahkan sudah bisa dibilang sudah sepuh. Tapi apalah daya jika umur hanya sebatas angka? Daya kreatifitas beliau tak pernah surut oleh masa yang sedang bergulir.
Singkatnya, WPAP, adalah salah satu jenis ilustrasi potret yang khas. Karena pada ciri-cirinya, jikalau kalian menemukan gambar, terutamanya potret wajah dengan pola kotak-kotak dan berwarna, maka selamat, kalian sudah kenal dengan WPAP. Kalau masih belum puas dengan penjelasan singkat tersebut, silahkan digunakan fitur yang bernama internet, dan carilah di sana. Haha . . . atau bisa kalian lihat instagram saya di bawah, di sebelah catatan kaki, sebagian besar dari karya warna-warni tersebut adalah WPAP. Karena pada tulisan ini, saya tidak menitik-beratkan kepada definisi WPAP saja. Melainkan, pada makna dan filsafat di balik nama WPAP. Apakah ada filosofisnya? Tentunya ada. Mari kita bahas bersama-sama.
Tulisan ini, terlatar-belakangi oleh keadaan masyarakat dan kebangsaan di Indonesia sekarang ini. Segala bentuk perpecahan di mana-mana. Sampai pada akhirnya, masalah ini akan berlabuh dan berakhir pada ketidak mampuan kita memahami Indonesia.
Seperti yang sudah saya bubuhkan di bagian depan tulisan ini, yang pada singkatnya Indonesia adalah negara yang majemuk, semua setuju tentang hal itu, dan yang penting, kita mulanya hidup dalam kerukunan dalam berkehidupan, tapi entah mengapa sekarang suasananya sedikit berbeda, ada banyak kesenjangan di mana-mana yang bahkan bisa berujung kepada perpecahan yang lebih banyak lagi.
Dari dulu, di masanya, Indonesia sudah terbiasa hidup dalam pergesekan akan hal apa pun. Entah itu suku, agama, ras, dan antar golongan lainnya. Dan itu pada dasar dan akhirnya, adalah salah satu bentuk kehidupan yang diidam-idamkan oleh setiap orang.
Namun sekarang, semua definisi tentang Indonesia hanya tinggal definisi kosong. Sama sekali tidak sakti dalam negeri yang kesekian banyak warganya sakit ini.
Tapi apakah kita, terkhususnya saya, akan membiarkan keadaan seperti ini akan terus menerus terjadi? Tentunya tidak.
Berbagai filsafat tentang kebangsaan dan kehidupan sudah hafal bahkan jemu untuk menghadapi masalah seperti ini. Ketidak rukunan antar golongan sudah sulit diselamatkan jika kita hanya berfilsafat. Maka, filsafat kebangsaan sudah hangus dalam hal ini.
Lalu mengapa kita tidak mencoba menggunakan filsafat dasar WPAP? Karena pada dasarnya, seni adalah bahasa universal. Tidak ada masalah yang tidak bisa diselesaikan dengan jalur seni. Semua masalah teratasi, dan semuanya akan kembali normal dan damai.
Dalam WPAP, hasil dari sebuah pekerjaan seni akan dirasa berbeda jika beda tangan yang mengolahnya. Contohnya, potret Ir. Soekarno, dalam WPAP, meskipun sumber gambarnya sama, namun output atau karya yang dihasilkan dari tangan berbeda, akan menimbulkan hasil yang berbeda pula. Karena di WPAP, yang bekerja adalah rasa seni dari setiap pekerja seninya.
![]() |
| Satu model diolah dengan 105 tangan. Hayo, punyaku yang mana? :D |
Di WPAP sendiri, ada beberapa proses yang mempengaruhi hasil. Untuk dikatakan berhasil, sebuah WPAP harus mirip dengan objek aslinya. Dalam prosesnya, WPAP mengalami beberapa langkah. Singkatnya, harus ada pembuatan bidang, dan yang terakhir mewarnai. Dalam setiap langkah, ada beberapa hal yang harus diperhatikan, yang utama yakni sebisa mungkin hasil harus mirip dengan objek aslinya, seperti yang sudah saya tuliskan di atas tadi.
Artis (pekerja seni; WPAP-ers dalam hal ini) akan menghasilkan beberapa karya yang akan bisa dikenali secara mudah. Entah itu dari goresan facetnya, warnanya, atau ke-khas-an yang lain. Dan itulah yang disebut jati diri dalam sebuah WPAP.
Di WPAP, seorang artis tidak harus dituntut untuk memberikan sentuhan khas dalam setiap karyanya. Bahkan seorang artis tidak dituntut untuk ber-WPAP secara bagus dan sempurna. Asal mematuhi pakem-pakem WPAP, dan bisa menyelaraskan warna dalam perkumpulan yang indah, semua itu sudah cukup untuk bisa dibilang WPAP. Namun, ke-khas-an itu akan tetap ada dan muncul seiring kematangan mereka dalam berkarya. Dan bukankah terdirinya suatu golongan dalam bermasyarakat di sebuah negara ialah seperti itu? Masyarakat akan menjadi solid, jika di golongannya terdapat beberapa anggota yang mempunyai sebuah visi dan misi yang sama.
Terkadang, seperti bermasyarakat dalam jangkauan lebih luas seperti di sebuah negeri, di WPAP, sering juga terjadi pergesekan antar artis. Yang disebabkan karena perbedaan selera facet, kepekaan terhadap warna, atau gaya ilustrasi yang ragam. Namun, satu artis tidak bisa menyalahkan atau bahkan menjelekkan karya lain jika hanya berdasarkan sudut pandang pribadinya. Saya tidak bisa menganggap jelek karya seseorang yang banyak dominan warna biru hanya karena saya tidak suka warna biru, saya tidak bisa menghujat karya seseorang yang detil karena saya suka yang simpel. Di WPAP kita hidup berselaras di bawah payung desain seni ilustrasi yang sama. Oleh karena itu kita harus mengambil banyak sudut pandang untuk memutuskan bahwa karya tersebut sudah bisa dibilang WPAP belum?
Saya juga sering merasa lebih baik dibanding artis lain. Itu hanya disebabkan bahwa karya saya lebih “enak dipandang mata” dari pada karya mereka. Sering pula di hati saya, ada rasa merendahkan artis yang baru, yang karyanya tidak lebih baik dari saya. Tapi, semua itu, kan, hanya pandangan subjektif dari seorang Misbah, tidak mencakup beberapa pandangan dari teman dan keluarga WPAP lainnya. Atau bahkan penemu WPAP sendiri belum tentu sepaham dengan subjektifitas saya.
Nah, kalau memang pakem-pakemnya sudah terpenuhi, maka mau tidak mau, selera tidak selera, kita harus mengakui bahwa karya tersebut adalah WPAP. Semua itu tak peduli apapun selera warnamu, facetmu, dan gayamu, kalau memang karya tersebut sudah memenuhi pakem, maka karya tersebut tetap WPAP. Karena apa? Tidak ada ego yang bermain di sana. Ketetapan dasar sebagai WPAP sudah terpenuhi, maka selanjutnya adalah tinggal kita menikmatinya. Ada yang tidak satu selera, ya, wajar. Bukankah kita tercipta dengan sesuatu yang unik? Kita memiliki selera seni yang berbeda-beda. Tidak perlu diselaraskan.
Begitu pula dalam bernegara. Bermasyarakat khususnya. Tidak peduli mereka satu golongan atau tidak dengan kita. Kalau pakem-pakem dalam bermasyarakat itu sudah terpenuhi, nilai kesopanan semisal, atau kerukunan, maka mereka adalah sahabat kita, saudara kita, dan bahkan keluarga kita. Karena pada dasarnya kita lahir dalam negara dan nasib yang sama. Dan akan menimbulkan kecintaan yang sama besarnya jika kita memaklumi segala yang berbeda dengan kita, dan memangkas ego yang seberapa pun besarnya.
Garis besarnya, jika hidup ingin selaras, tirulah pola dalam WPAP. Setiap bidangnya berdampingan, warnanya berbeda, namun jika terbentuk dalam sebuah harmoni yang indah, dengan nilai seni yang bagus, akan menjadikan hidup lebih berwarna dan indah untuk dinikmati. WPAP tak akan indah jika hanya satu warna. Bahkan itu tidak bisa dikategorikan dalam WPAP. Hidup juga sedemikian, apalagi bermasyarakat di Indonesia yang semuanya majemuk.
Semua perumpamaan itu semata hanya untuk kita berhidup bahagia dan rukun.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terima kasih sudah mampir. Perlu penegasan, bahwa apapun yang tertulis di sini adalah pengolahan kata dan pengembangan pemikiran dari saya pribadi.
Jangan lupa sandalnya dibawa.