Semenjak rodaku bergulir, suasana semakin tak terkendali
Rerintik di tiap senja
Angin di tiap hela
Engkau manja, di setiap namamu kueja
Puisiku kali ini bukan tentang kehilangan
Namun akan lebih perih daripada hal-hal yang ditinggalkan
Puisiku kali ini bukan tentang kerinduan
Namun akan lebih pedih daripada hal-hal yang ditimbulkan
Puisiku kali ini, tentang rasa yang tak kunjung terbiasa
Kabut mengais tumbuh di pelipis peradaban
Hal-hal yang semestinya asri kemudian hilang ditelan keadaan
Aku yang hidup dari pelepah kebingungan, akan selalu hilang dilahap ganasnya api masa kini
Bertahun lalu, wajahmu masih selalu bersinar di kala pagi
Selalu indah sewaktu senja
Dan sejahtera ketika petang
Singkat kata, wajahmu selalu purnama di tiap rima
Rambutmu yang asri dari lahir
Kulitmu yang bening dari batin
Tak pernah lelah untuk menimang bahagia di balik kerasnya kehidupan
Mengenang batik yang kau kenakan, serasa aku rindu dibuatnya
Kain kafan pun sewaktu nanti, akan tetap indah sewaktu terakhir kau mengabdi
Singkat kata, aku ingin mati di atas peluk mesramu
...
Kemudian aku mampir ke rahim yang berbeda
Dia juga cantik dan berbudaya
Telinganya indah seperti mawar
Dan rambutnya hitam seperti malam
Tapi semakin ke sini, telinganya tak lagi mawar, dan rambutnya tak lagi malam
Semuanya hilang ketika dia diperkosa
Dan didandani seperti Noni Belanda
Aku tak berkata, mulutku habis dibungkamnya
Budaya masih ada, namun minim sekali di dalamnya
Pakaiannya masih berbatik, namun celananya tak lebih tinggi daripada mata hati
Hanya satu sewaktu aku bersamanya, ingin benar-benar pulang ke pelukmu
Seperti senja kala, aku mengharapmu sesejuk sewaktu lalu
...
Aku pulang, menemuimu dengan apa adanya
Aku pulang, dengan jiwa yang kangen dengan kasih sayang
Mesra, hangat, intim, seperti itulah bayangku dalam jalan
Masa-masaku akan kuhabiskan dengan pelana kuda dari kulit pilihan
Namun apa yang kudapati?
Sial!
Kulihat semula kau masih seperti biasa
Rambutmu masih hitam, dan matamu masih berbinar
Namun aku terdiam sejenak
Menghela napas
Mengatur perasaan
Ketika kueja namamu, dan kau tak lagi manja
Namun entah bagaimana, aku masih tak percaya, ketika kau juga perlahan diperkosa olehnya
Dan mengapa? Mengapa itu bisa terjadi?
Aku tak tahu, dan aku berhenti untuk menahu
Apa kata orang tuamu seketika tahu bahwa ada tato di pangkal pahamu?
Apa kata orang tuamu seketika rambutmu tak lagi kelam?
Lantas bagaimana perasaan mereka yang merindukan kasih sayang seorang gadis desa?
Oh, tidak
Aku tak percaya dengan ini
Bukan,
Bukan pada hal yang tak mudah dipercaya
Namun, semenjak apa engkau menjadi sebinal ini?
Apa kau tahu nasib beberapa orang yang pernah memuja kesederhanaanmu?
Kalau tidak, coba tanya aku
Aku tak suka gaya barumu
Aku tak suka modernitas!
Aku tak suka kau berdandan seperti itu
Aku marah kalau modernitas yang kau maksud itu seperti ini
Menjual harga dirimu untuk kau jadikan teman hedon yang tak beretika sama sekali
Mengapa kau jadi berani membantah orang tuamu?
Mengapa di petang kau selalu keluar sewaktu ibumu sedang berwudhu?
Mengapa di pagi kau selalu tenggelam sewaktu bapakmu sedang memanggul palu?
Apa kurang merdu, tahlil bergema mesra di surau-surau sehingga kau cari suara yang tak jelas kalimat surganya?
Apa kurang indah, lampu putih di selasar masjid sehingga kau cari lampu yang warna-warni di setiap nyalanya?
Bahkan kopimu sudah tidak lagi seperti dulu
Kopimu tak lagi mengandung inspirasi, namun lebih ke gengsi dan pembunuhan karakter pribadi
Kopimu tak lagi tentang kenangan, namun hanya kapitalisme dan kekayaan
Untuk disebut modern, kenapa kau buang identitas asri?
Orang tuamu, tak melahirkanmu hanya untuk menjadi modernitas versimu
Menyesallah mereka jika semasih hidup
Entah seberapa mengerikan rautnya
Atau seberapa sedih ekspresinya
Aku tak tahu
Aku hanya menyesal denganmu
...
Gadisku, jika ini pilihan yang tidak bisa kau rubah, cukup seperti ini saja
Jangan macam-macam dengan masa depanmu
Cukup menjadi yang lebih alami, kehidupanmu akan tetap indah dan abadi
Lamongan, 21 Januari 2017.
Rerintik di tiap senja
Angin di tiap hela
Engkau manja, di setiap namamu kueja
Puisiku kali ini bukan tentang kehilangan
Namun akan lebih perih daripada hal-hal yang ditinggalkan
Puisiku kali ini bukan tentang kerinduan
Namun akan lebih pedih daripada hal-hal yang ditimbulkan
Puisiku kali ini, tentang rasa yang tak kunjung terbiasa
Kabut mengais tumbuh di pelipis peradaban
Hal-hal yang semestinya asri kemudian hilang ditelan keadaan
Aku yang hidup dari pelepah kebingungan, akan selalu hilang dilahap ganasnya api masa kini
Bertahun lalu, wajahmu masih selalu bersinar di kala pagi
Selalu indah sewaktu senja
Dan sejahtera ketika petang
Singkat kata, wajahmu selalu purnama di tiap rima
Rambutmu yang asri dari lahir
Kulitmu yang bening dari batin
Tak pernah lelah untuk menimang bahagia di balik kerasnya kehidupan
Mengenang batik yang kau kenakan, serasa aku rindu dibuatnya
Kain kafan pun sewaktu nanti, akan tetap indah sewaktu terakhir kau mengabdi
Singkat kata, aku ingin mati di atas peluk mesramu
...
Kemudian aku mampir ke rahim yang berbeda
Dia juga cantik dan berbudaya
Telinganya indah seperti mawar
Dan rambutnya hitam seperti malam
Tapi semakin ke sini, telinganya tak lagi mawar, dan rambutnya tak lagi malam
Semuanya hilang ketika dia diperkosa
Dan didandani seperti Noni Belanda
Aku tak berkata, mulutku habis dibungkamnya
Budaya masih ada, namun minim sekali di dalamnya
Pakaiannya masih berbatik, namun celananya tak lebih tinggi daripada mata hati
Hanya satu sewaktu aku bersamanya, ingin benar-benar pulang ke pelukmu
Seperti senja kala, aku mengharapmu sesejuk sewaktu lalu
...
Aku pulang, menemuimu dengan apa adanya
Aku pulang, dengan jiwa yang kangen dengan kasih sayang
Mesra, hangat, intim, seperti itulah bayangku dalam jalan
Masa-masaku akan kuhabiskan dengan pelana kuda dari kulit pilihan
Namun apa yang kudapati?
Sial!
Kulihat semula kau masih seperti biasa
Rambutmu masih hitam, dan matamu masih berbinar
Namun aku terdiam sejenak
Menghela napas
Mengatur perasaan
Ketika kueja namamu, dan kau tak lagi manja
Namun entah bagaimana, aku masih tak percaya, ketika kau juga perlahan diperkosa olehnya
Dan mengapa? Mengapa itu bisa terjadi?
Aku tak tahu, dan aku berhenti untuk menahu
Apa kata orang tuamu seketika tahu bahwa ada tato di pangkal pahamu?
Apa kata orang tuamu seketika rambutmu tak lagi kelam?
Lantas bagaimana perasaan mereka yang merindukan kasih sayang seorang gadis desa?
Oh, tidak
Aku tak percaya dengan ini
Bukan,
Bukan pada hal yang tak mudah dipercaya
Namun, semenjak apa engkau menjadi sebinal ini?
Apa kau tahu nasib beberapa orang yang pernah memuja kesederhanaanmu?
Kalau tidak, coba tanya aku
Aku tak suka gaya barumu
Aku tak suka modernitas!
Aku tak suka kau berdandan seperti itu
Aku marah kalau modernitas yang kau maksud itu seperti ini
Menjual harga dirimu untuk kau jadikan teman hedon yang tak beretika sama sekali
Mengapa kau jadi berani membantah orang tuamu?
Mengapa di petang kau selalu keluar sewaktu ibumu sedang berwudhu?
Mengapa di pagi kau selalu tenggelam sewaktu bapakmu sedang memanggul palu?
Apa kurang merdu, tahlil bergema mesra di surau-surau sehingga kau cari suara yang tak jelas kalimat surganya?
Apa kurang indah, lampu putih di selasar masjid sehingga kau cari lampu yang warna-warni di setiap nyalanya?
Bahkan kopimu sudah tidak lagi seperti dulu
Kopimu tak lagi mengandung inspirasi, namun lebih ke gengsi dan pembunuhan karakter pribadi
Kopimu tak lagi tentang kenangan, namun hanya kapitalisme dan kekayaan
Untuk disebut modern, kenapa kau buang identitas asri?
Orang tuamu, tak melahirkanmu hanya untuk menjadi modernitas versimu
Menyesallah mereka jika semasih hidup
Entah seberapa mengerikan rautnya
Atau seberapa sedih ekspresinya
Aku tak tahu
Aku hanya menyesal denganmu
...
Gadisku, jika ini pilihan yang tidak bisa kau rubah, cukup seperti ini saja
Jangan macam-macam dengan masa depanmu
Cukup menjadi yang lebih alami, kehidupanmu akan tetap indah dan abadi
Lamongan, 21 Januari 2017.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terima kasih sudah mampir. Perlu penegasan, bahwa apapun yang tertulis di sini adalah pengolahan kata dan pengembangan pemikiran dari saya pribadi.
Jangan lupa sandalnya dibawa.