Satrio Mataram? Wani! - Sinau bareng sejarah Kadipaten Pakualaman bersama Cak Nun dan Kiai Kanjeng (Maiyah 04 Maret 2017)

Satrio Mataram? Wani! - Sinau bareng sejarah Kadipaten Pakualaman bersama Cak Nun dan Kiai Kanjeng : Maiyah 04 Maret 2017.
Entah mengapa, selalu sabtu malam. Wkwk.

Tapi tak masalah. Kurang lebih, intro yang akan saya sajikan seperti artikel saya sebelumnya. Yah, tentang sabtu malam, sebagai kamuflase bagi para jomblo yang tidak jelas arah hidupnya mau kemana. Haha.

Ya sudah, daripada meratapi ketidak-jelasan itu, maka saya putuskan untuk Maiyahan. Berkumpul bersama sedulur, menikmati keindahan musik dari Kiai Kanjeng, dan tentunya menyercap berbagai ilmu yang keluar dari tubuh Mbah Nun.

Dari awal saya melihat poster Maiyahan kali ini, dari hati saya yang paling dalam, saya sangat senang sekali. Karena pada Maiyahan kali ini, bertempat di Lapangan Sewandanan Puro Pakualaman yang tidak lain tidak bukan adalah lapangan yang berada di depan Puro Pakualaman sendiri.

Dari awal saya datang, saya cukup kagum dengan pengamanan yang diberikan oleh kepolisian setempat. Karena jarang-jarang, acara Maiyahan harus menurunkan tim keamanan. Tapi, karena ini acara di tempat yang sakral, jadi mungkin pihak Puro Pakualaman meminta kepolisian untuk mengamankan tempat acara. Walaupun bahkan, saya yakin, meskipun tidak ada pengamanan sekali pun, acara akan tetap berjalan dengan damai dan khidmat. Itu karena dalam Maiyahan, pencuri pun ikut mendengarkan kata-kata hikmah Mbah Nun, dan nggak jadi nyuri, deh. Wkwk.

Sebenarnya sudah lama juga saya tidak menuliskan hasil dari Maiyahan. Entah mengapa, ada saja alasannya untuk tidak menuliskan poin-poin dari Maiyahan. Sudah beberapa bulan ini. Bahkan tulisan ini adalah masih tulisan ke dua saya dengan tajuk Maiyah. Dan yang pertama sewaktu itu Maiyahan di gedung PKKH UGM yang dilakukan oleh fakultas pertanian setempat.

Banyak sekali seharusnya cerita-cerita di antara Maiyahan di PKKH UGM dengan yang sekarang ini saya tuliskan. Terutama sewaktu saya ikut Maiyahan di Malang, tepatnya di lapangan kampus Polinema bersama sedulur Maiyah Relegi Malang. Banyak sekali cerita dari Maiyah Malang, namun saya tidak menuliskannya di sini, karena saya dulu juga lupa nulis poin-poinnya :D

Banyak poin yang sempat saya 'artikel'-kan :D
Kembali lagi ke Maiyah di Puro Pakualaman. Dalam Maiyah tersebut, Cak Nun dan Kiai Kanjeng beserta tamu-tamu yang lain diundang dalam rangka peringatan Hadeging Kadipaten Pakualaman ke-211 (Jawa) / 205 (Masehi). Nah, ini yang membuat saya senang saat melihat poster Maiyahan. Bukan karena apa-apa, tapi ini tentang salah satu kerajaan di Indonesia yang masih eksis, dan tentunya banyak sekali hal yang belum saya ketahui tentang kerajaan ini. Satu lagi, karena saya menempatkan di tempat khusus semua hal yang ada hubungannya dengan ke-Nusantara-an, atau embrio terbentuknya Indonesia. Saya percaya, bahwa hal-hal semacam kebudayaan atau apapun itu yang bersifat ethnic selalu menarik untuk ditelusuri. Atau bahasa simpelnya, uri-uri kabudhayan.

Dalam Maiyahan kali ini, tentu banyak sekali ilmu yang didapatkan. Terutama tentang pembentukan pertama kali Kadipaten Pakualaman ini. Saya akan menceritakan beberapa hal saja, sesuai dengan yang narasumber paparkan di acara itu.

Pakualaman sendiri didirikan oleh seorang putera raja bernama Pangeran Notokusumo, putera dari Sri Sultan Hamengkubuwono I dari isteri bernama Senggorowati. Namun Pangeran Notokusumo bukan putera mahkota, putera mahkotanya adalah seseorang yang akan menggantikan Sri Sultan Hamengkubuwono I menjadi Sri Sultan Hamengkubuwono II. Dalam kerajaan, selalu ada yang namanya dinamika dan polemik, dan yang paling umum adalah “siapa yang akan menjadi raja selanjutnya?”. Dan tentunya dengan sikap Sri Sultan Hamengkubuwono yang bijak, maka beliau mewanti-wanti puteranya, bahwa apapun yang terjadi, keraton harus tetap satu.

Sampai pada akhirnya, Sri Sultan Hamengkubuwono I mangkat. Belanda pun datang, dan prahara-pun dimulai. Mulai dari pengasingan Pangeran Notokusumo, sampai pada akhirnya Inggris datang. Nah, saat Inggris datang inilah, semua hal tentang Pakualaman bermula. Seketika itu, Inggris mendekati Pangeran Notokusumo dengan iming-iming akan menjadikan beliau raja menggantikan raja sebelumnya. Namun bukan Pangeran Notokusumo kalau tidak cerdas. Karena beliau jago politik dan diplomasi, beliau menerima tawaran dari Inggris. Sampai pada suatu saat, pasukan Inggris yang dibawahi Pangeran Notokusumo pun menyerang keraton. Tapi dengan keteguhan hati yang dimiliki oleh Pangeran Notokusumo, beliau menyerang dengan melalui jalan lain keraton. Sampai pada akhirnya, Pangeran Notokusumo bisa berdialog dengan saudaranya yang saat itu menjadi Sri Sultan Hamengkubuwono II. Saat itu, di keraton sendiri pun ada beberapa polemik antara Sri Sultan Hamengkubuwono II dengan Sri Sultan Hamengkubuwono III. Dan salah satu hasil dari dialog antara Pangeran Notokusumo dengan Sri Sultan Hamengkubuwono II adalah menaikkan lagi Sri Sultan Hamengkubuwono III ke tahta tertinggi kerajaan. Kalaupun Pangeran Notokusumo gelap akan kekuasaan dan dialog antara beliau dengan Sri Sultan Hamengkubuwono II tidak terjadi, maka keraton tentunya akan hancur dan Pangeran Notokusumo bisa menjadi raja. Namun beliau tidak demikian, beliau dengan keteguhan hati masih memegang teguh amanat yang diberikan oleh ayahandanya bahwa apapun yang terjadi, keraton harus tetap satu. Dan setelah itu, sebelum Pangeran Notokusumo diberi wilayah kekuasaan di daerah Kulonprogo – D. I. Yogyakarta, beliau dianugerahi gelar sebagai Ratu Mardiko. Kurang lebih seperti itulah sejarah singkat yang disampaikan oleh salah seorang narasumber dari Kadipaten Pakualaman.

Beliau juga menambahkan beberapa makna Pakualaman jika ditinjau dari segi filosofis. Adalah sebagai paku alam, dan dimana-mana, sebuah paku, antara kepala dan tubuhnya yang kelihatan hanyalah kepalanya, itupun hanya sedikit. Badannya akan tetap tersembunyi demi merekatkan bangunan misalnya. Sama halnya dengan Pakualaman, sekarang, bahkan sampai nanti. Pakualaman akan tetap menjadi perekat keraton, gerakan under-ground, yang tidak harus terlihat orangnya, namun dalam segi peranan, Pakualaman akan selalu terdepan menjaga tradisi dan budhaya keraton dan sangat berpengaruh dalam kelangsungan hidup, baik itu di intern maupun ekstern untuk keraton dalam khususnya, dan alam untuk umumnya.

Salah satu dari sekian banyak yang dihasilkan oleh Pakualaman adalah sandi. Terbukti, bahwa sandi-sandi yang familiar di Jogjakarta itu lahir dari Pakualaman. Sandi-sandi semacam bahasa balikan, seperti Jape methe, Dagadu, dan lainnya. Saya juga kurang mengerti tentang ini, namun teman saya yang asli Jogja, mengerti betul tentang ini, dulu dia sempat mau mengajari saya tentang ini, namun sampai sekarang, kok nggak jadi-jadi. Wkwk.

Mbah Nun mengedukasi jamaah Maiyah.
Selepas narasumber mengutarakan sejarah singkat tentang Pakualaman, Mbah Nun menggiring ke beberapa narasumber lainnya. Di antara narasumber tersebut, ada yang dari pimpinan Pondok Pesantren Nurul Ummah Kotagede – Yogyakarta, yakni KH. Abdul Muhaimin. Ada juga yang dari penganut Sundha Wiwitan, dan yang terakhir dari penganut Budha. Semuanya melebur jadi satu, tertawa, dan bergurau satu sama lain tanpa ada perasaan yang aneh dan sakat yang mengesampingkan kepercayaan antar satu sama lainnya.

Ki Demang, penganut Sundha Wiwitan mengedukasi masyarakat yang hadir dalam Maiyahan itu dengan menceriterakan asal-mula Sundha Wiwitan sendiri. Beliau mengatakan, Sundha sendiri mulanya bukan sebuah suku seperti sekarang ini. Melainkan Sundha adalah sebuah suatu nilai ajaran dan/atau pegangan hidup. Keberadaan ajaran Sundha sendiri ternyata sudah ada jauh sebelum Islam tumbuh di Arab Saudi. Yang bahkan, gunung Padang, salah satu situs Sundha Wiwitan sudah hadir jauh sekali sebelum piramida di Mesir. Fakta-fakta tersebut merupakan fakta yang ilmiah dan tidak bisa dibantah. Beliau juga menyampaikan tentang lima inti ajaran Sundha, yakni ; Tuhan, diri sendiri, sesama, pemimpin, dan alam semesta. Dari kelimanya kita harus bersingkronasi untuk membentuk sebuah harmoni yang indah dan selaras.

Selepas itu, Mbah Nun kembali berbicara panjang lebar, memancarkan cahaya keilmuan untuk setiap yang hadir dalam acara itu. Di antara berbagai ilmu yang diberikan Mbah Nun sewaktu itu adalah tentang kondisi kita yang sangat beruntung karena terlahir sebagai manusia Jawa. Keberuntungan tersebut meliputi hal-hal yang ditinggalkan nenek moyang kita seperti ilmu-ilmu, kepercayaan, serta bentukan nilai yang paripurna di masanya. Tapi setelah mengungkapkan keberuntungan tersebut, Mbah Nun juga menyayangkan sekali terjadi kebuntungan. Beliau sangat menyayangkan, karena generasi sekarang sudah tidak lagi mengenal nenek moyangnya. Untuk membentuk suatu negara saja harus meniru Barat dengan konseptualisasinya, sedangkan sudah sejak dulu kita diajarkan nenek moyang tentang bagaimana membangun Praja yang baik. Untuk beragama saja kita harus meniru Arab dengan kebudayaan dan tatanan hidupnya, padahal jauh sebelum itu kita dikenalkan oleh nenek-nenek moyang kita bagaimana hidup selaras dengan apa yang kita miliki. Beliau tidak menutup kemungkinan bahwa semuanya itu dilarang. Tentu saja tidak. Karena beliau selalu memegang kuat prinsip Muslim yang berada di kaki gunung Merapi. Jowo digowo, Arab digarap, Barat diruat. Arti mudahnya, meskipun adalah orang Jawa, tapi kita tidak boleh menutup kemungkinan atas segala hal yang masuk. Entah itu dari mana saja asalnya. Asal, sesuatu tersebut harus nurut dengan tatanan kehidupan bermasyarakat kita. Mereka yang harus tunduk dengan ketentuan kita, bukan kita yang tunduk dengan ketentuan-ketentuan dan prinsip-prinsip mereka. Atas segala ironi tersebut, Mbah Nun sampai usianya yang tak lagi muda tetap berupaya menyadarkan anak bangsa agar selalu mengingat peran-peran dan keilmuan nenek moyang. Bagaimana mungkin, Nusantara dengan sebegitu gagahnya malah jadi Indonesia yang tak lagi ada suaranya seperti ini?

Suasana takzim jamaah menikmati musik dari Kiai Kanjeng.
Mbah Nun juga mengingatkan tentang bagaimana kita harus bertindak di kedepannya. Beliau mengedukasi dan menyarankan untuk kemajuan kehidupan di Indonesia. Menurut Mbah Nun, ada dua cara sebuah negara bisa maju dengan ditinjau dari sejarahnya. Pertama adalah adopsi, yang sudah dipastikan bahwa sebuah negara yang menerapkan sistem adopsi untuk sebuah pemerintaham pasti akan hancur. Karena yang paling mudah dipahami, sistem adopsi belum tentu cocok dengan kondisi yang dialami sebuah negara. Masyarakat sebuah negara tidak-lah sama dengan sistem pemerintahan yang akan kita adopsi. Bisa jadi sebuah sistem tersebut adalah sebuah proyek untuk menopang kepentingan beberapa gelintir orang saja. Bisa saja kita ditipu, atau bahkan dijadikan budak oleh sang pemilik sistem dan/atau beberapa gelintir orang yang berkepentingan tersebut. Tentu kita tidak ada yang tahu.

Dan yang kedua adalah kontinyuasi, meneruskan apa yang sudah dimulai oleh nenek moyang kita dulu. Tentu ini tidak harus mengganti sistem pemerintahan kita yang mulanya demokrasi menjadi kerajaan. Masih banyak cara untuk menerapkan sebuah nilai tanpa harus mengganti wadahnya. Dan tentu, dengan sistem kontinyuasi tidak akan ada pihak yang dirugikan akibat kekagetan peralihan sebuah sistem. Embrio Indonesia adalah kerajaan, dan sekarang mengapa bisa menjadi demokrasi? Sekali lagi, kita tidak harus mengubah sistem pemerintahan ini menjadi sebuah kerajaan seperti dulu lagi. Baik apapun sistemnya, sesuatu yang terbuat oleh tangan manusia tidaklah pernah sempurna. Namun setidaknya, dengan mengubah atau memodifikasi beberapa hal di sistem pemerintahan kita yang sekarang, itu bisa dijadikan alternatif terbaik untuk kita. Contohnya, seperti yang sering Mbah Nun utarakan, kita harus membedakan mana kepala negara dengan kepala pemerintahan. Semua harus ada bedanya, tugasnya masing-masing, dan kesadaran. Seperti hubungan antara Gajah Mada dan Hayam Wuruk. Keduanya sama-sama pemimpin, namun dalam medan yang berbeda. Dan jika suatu saat bisa seperti ini, tentu presiden tidak bisa semena-mena, karena presiden juga ada yang mengawasi. Sekarang? tidak ada, kan? Untuk lebih lengkapnya mengenai keterangan ini, sangat bisa dicari di berbagai diskusi kebangsaan yang di mana di sana Mbah Nun sebagai pematerinya.

Mbah Nun juga menawarkan lima konsep pilar NKRI supaya tidak bisa digoyahkan oleh apapun. Pertama, rakyatnya. Sudah bisa dipahami, bahwa kekuatan utama dari Indonesia adalah rakyatnya. Sudah terbukti juga, apapun yang rakyat rasakan akibat pimpinan-pimpinannya di atas sana yang dzolim, rakyat Indonesia tidak pernah sakit apalagi mati. Karena rakyat Indonesia tidak mati, namun berkembang-biak. Harus berapa lagi menderitanya rakyat Indonesia demi membuktikan ini? Sudah jelas-jelas ngerampok uang rakyat milyaran bahkan triliunan rupiah, toh pas ditangkap, rakyat tak pernah sampai hati untuk mengutuk mereka. Lihat, bagaimana koruptor-koruptor itu beraksi.

Kedua, pengaman negara, entah itu Polri maupun TNI harus solid dan kuat. Bersatu padu menjaga kestabilan negara dan tidak hanya ribut sendiri. Jadikan mereka sebagai benar-benar saudara rakyat. Maka NKRI tak akan pernah disentuh oleh tangan-tangan jail siapa pun.

Ketiga, kaum intelektual yang asli. Kaum intelektual yang tidak ditunggangi oleh kepentingan-kepentingan khusus, apalagi sekarang semakin banyak kaum intelektual atau cendekiawan yang sengaja pendidikannya dibayari oleh asing padahal tujuan utamanya adalah menggembosi negara dari tangan-tangan mereka. Dan yang dibutuhkan negara untuk tetap bertahan dan menjadi kuat, adalah kaum intelektual dan cendekiawan yang cinta kepada tanah airnya, yang tidak bisa ditumpangi oleh kepentingan individu maupun golongan.

Keempat, kekuatan permusyawatan. Yang dibutuhkan NKRI adalah sebuah dewan yang dimana, di dalamnya dipercaya oleh berbagai elemen masyarakat sebagai orang-orang terpilih dan mempunyai wibawa dan tanggung jawab tinggi di bidangnya. Seseorang yang bisa diajak diskusi, bertukar pendapat, dan penggagas bagi NKRI yang kuat dan tetap stabil.

Dan yang terakhir, kelima, adalah kekuatan agama dan spiritual. Sudah kentara sekali, di jaman yang tengah bergulir ke kehancuran ini, nama Tuhan semakin dikesampingkan. Tuhan tidak pernah diajak dalam keadaan senang, dan bahkan ironinya, Tuhan hanya dipakai untuk merebut kepentingan-kepentingan seperti kekuasaan dan lain-lain. Seorang pejabat akan ingat Tuhan jika dia ingin maju untuk meraih ke kasta yang lebih tinggi lagi, dan ketika dia sudah berada di jurang kehancurannya. Untuk membentuk NKRI yang hebat, Tuhan harus disertakan dan diimplementasikan nilai-nilainya di segala elemen.

Mbah Nun mengingatkan lagi, bahwa investasi adalah tak selamanya menguntungkan kedua pihak. Beliau mengingatkan, bahwa akibat Indonesia dijajah berratus tahun lamanya adalah karena sebuah perusahaan Belanda bernama VOC itu berinvestasi ke Indonesia. Namun dengan keangkuhan perusahaan tersebut, toh hasilnya jadi beda, kan? Penjajahan yang kita dapat. Namun sekarang, gaya baru dari sistem investasi tersebut tidak dengan amarah, namun bisa juga dengan keramahan yang berlebihan. Kita harus banyak-banyak meminta pertolongan kepada Tuhan agar selalu diberikan kejernihan berpikir dan bertindak. Hanya Dia-lah saat ini pengupayaan yang memang benar-benar harus diupayakan.

Untuk tidak lagi terjebak oleh VOC-VOC lainnya, kita harus segera berubah, setidaknya belajar kepada beberapa guru bangsa yang selalu tidak terlalu mementingkan identitasnya, namun dengan memperhatikan substansial. Kita semakin hari semakin tidak karuan. Semakin hari semakin terjebak oleh bungkus namun melupakan sesuatu yang lebih penting, yakni substansial itu sendiri.

Kita harus benar-benar berubah. Setidaknya, gunakanlah pitutu Jawa “Mikul duwur mendhem jero”. Maafkan segala kesalahan nenek moyang kita, namun dukung dan kembangkan hal-hal baik mereka. Atau dalam istilah Nahdlatul ‘Ulama ialah “Al-Muhafadhotu ‘alaa qodiimish Sholih, wal akhdu min jadiidil ashlah” yang kurang lebih maknanya sama. Bagaimana mungkin kita bisa maju jika selalu memikirkan dan menganggap penting kesalahan yang dilakukan oleh nenek moyang kita? Tahukah kamu, bahwa Yazid bin Muawwiyah, seorang yang menciptakan laknatan bagi Sahabat Ali bin Abi Thalib di tiap khotbah sholat Jum’at, ternyata dilawan oleh cucunya sendiri dan dihapuskanlah kalimat laknatan itu.

Tahukah kamu siapa yang menghancurkan peradaban Islam di Baghdad? Jengis Khan. Dan di beberapa tahun kemudian, cucu dari Jengis Khan sendiri-lah yang membangun kembali peradaban itu, yakni Kubilai Khan. Dan banyak sekali contoh-contoh di mana kita memang harus memaafkan kesalahan nenek moyang kita dan kembali membangun hal-hal yang memang semestinya dibangun. Dalam Jawa, istilahnya ; Ojo ndumeh!

Kemudian setelah itu, masuklah ke beberapa termin pertanyaan. Sesi pertanyaan pun dimulai. Di sini, Mbah Nun memberi komentar sedikit terhadap beberapa penanya sebelum beliau menjawabnya. Beliau merasa sangat optimis terhadap kemajuan Indonesia di masa depan karena pemudanya pun sangat berpikir kritis dan berimbang. Beliau mengapresiasi setiap penanya, yang kemudian menjawabnya beserta narasumber yang lain.

Ada bermacam-macam pertanyaan yang dilontarkan dalam forum Maiyahan tersebut. Dan jawaban bermacam pun hadir untuk mengedukasi jamaah.

KH. Ahmad Muhaimin menerangkan, ketika seorang remaja perempuan menyayangkan sikap sebuah kementerian yang menghapus gelar Sarjana Hukum Islam dan diganti hanya dengan Sarjana Hukum saja. Menurut seorang remaja perempuan tersebut, itu sama halnya dengan menghilangkan jejak-jejak dan nilai ke-Islam-an yang sudah mengakar kuat di Indonesia. Hanya dengan merubah nama, itu sama halnya dengan merubah cara berpikir.
Mbah Nun mengapresiasi pertanyaan seorang remaja perempuan ini, dan dengan guyonan khas Mbah Nun, beliau berkata : “Lah, di Indonesia ini, apa, sih, yang benar? Bahkan hampir semua fakultas di IAIN atau UIN di seluruh Indonesia ini juga salah kaprah penempatannya. Syariah kok dijadikan fakultas, harusnya, yah, kampusnya itu yang bersyariah. Sudahlah, jangan khawatir.” Sontak semua jamaah pun tertawa.

Menyambut gelak tawa jamaah, Mbah Nun mengoper pengeras suara ke KH. Ahmad Muhaimin. Dan beliau memaparkan beberapa pemikiran yang memang sangat bagus. Yakni kritik tentang isi dari materi Sejarah Kebudayaan Islam. Coba saja ditelisik. Mulai dari Madrasah Ibtida’iyah, Tsanawiyah, Aliyah, bahkan sampai perguruan tinggi sekalipun, yang dikaji dalam pelajaran tersebut adalah tentang peperangan mulai dari jaman nabi, sahabat, Bani Muawwiyah, Bani Abbasiyah, era Turki Utsmani, hingga perang-perang lain. Secara kata lain, yang mereka suguhkan sebagai pembahasan pokok dalam Sejarah Kebudayaan Islam adalah budaya Islam yang radikal berupa perang atau ekspansi wilayah dan kekuasaan melalui jalur amarah. Jarang bahkan hampir tidak pernah materi yang menyinggung tentang penyebaran Islam melalui jalur ramah. Dan jika ada, seharusnya Indonesia-lah yang dijadikan sebagai acuan dalam pembahasan materi tersebut. Kita sadar sendiri, bahwa penyebaran Islam di Indonesia melalui cara dakwah Wali Songo sangatlah tidak di masuk akal seharusnya. Tentang ini, sudah dijelaskan oleh salah seorang Kyai sekaligus budhayawan dari LESBUMI, yakni KH. Agus Sunyoto secara ilmiah dan bukti otentik yang tidak terbantahkan melalui bukunya, Atlas Wali Songo.

Nah, jika ingin mewujudkan kultur Islam yang ramah, mengapa tidak ada pembahasan mengenai ini? Mengapa yang selalu ditonjolkan adalah ekspansi Islam dengan jalur kekerasan? Tidak. Saya sendiri tidak terlalu mempermasalahkan. Toh Kanjeng Nabi Muhammad SAW juga melakukan itu, dan penyebaran Islam hingga sampai sebesar ini juga tidak luput dari peranan tokoh yang hidup di era Bani Muawwiyah hingga sampai Turki Utsmani. Tapi, keberagaman serta keunikan Islam di Indonesia juga merupakan hal yang penting untuk dikaji. Agar pemikiran seseorang tentang dunia Islam tidak hanya diisi dengan ekspansi jalur darah saja.

Sebetulnya ada banyak sekali poin yang saya tulis. Namun, ada perasaan ragu untuk menuliskannya karena terlalu sakral dan sentral. Seperti halnya tentang keadaan Kraton saat ini dan di masa depan. Muncul juga istilah lama dari Raden Ngabehi Ranggawarsita, seorang penyair yang berjaya di jamannya, yang juga terkenal dengan beberapa karya tulis yang mengagumkan. Istilah tersebut adalah ; Sinisihan Wahyu, yang malam itu diedukasikan kembali oleh Cak Nun dengan bahasa yang kurang – lebih bisa lebih mudah dimengerti. Intinya, bahwa seorang pemimpin harus mempunyai kecakapan yang mumpuni, antara lain adalah Satrio Pinandhito Sinisihan Wahyu, tiga karakteristik khusus yang diciptakan oleh Raden Ngabehi Ranggawarsito yang sekarang sudah hampir terlupakan oleh generasi muda sekarang. Untuk lebih jelasnya, mungkin bisa dinanti siaran ulangnya acara Maiyah yang bertanggal dan bertempat pada 4 Maret 2017 di Lapangan Sewandanan Puro Pakualaman.

Ada sebuah jargon yang lahir dari Maiyahan tersebut. Yakni ketika Mbah Nun bersorak “Satrio Mataram?!”, maka seluruh jamaah dengan kompak menjawab “Nyawiji!!!”. Arti dan maknanya kurang lebih adalah untuk menyatukan semangat jamaah untuk menjaga dan me-uri-uri kabudhayan dengan kompak dan satu jiwa. Kurang lebih seperti itu.

Semua elemen masyarakat beserta narasumber kemarin hanyut dalam suasana takzim dan keilmuan yang tinggi. Sampai pada akhirnya, acara pun ditutup kurang lebih pukul 02.30 WIB. Sampai pada akhirnya pula saya hampir tidak bisa berdiri karena kandung kemih penuh dengan sesuatu yang segera dibuang. Haha.

Cak Nun dan Kiai Kanjeng dan narasumber beserta para jama'ah Maiyah menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Syukur.

Set lokasi sebelum acara dimulai.

Misbahul Munir

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah mampir. Perlu penegasan, bahwa apapun yang tertulis di sini adalah pengolahan kata dan pengembangan pemikiran dari saya pribadi.

Jangan lupa sandalnya dibawa.