Sajak induk kepada anaknya

Nak,
Nak!
Kau anakku, bukan?!

Lantas, mengapa kau taruh wajahmu di sana?
Lantas mengapa, kau korbankan harkatmu demi kehidupan masa depan?
Lantas mengapa kau, culaskan wajahmu, acuhkan pandangmu, biaskan matamu, demi menginjak tengkuk masa lalumu?

Jawablah kau, Nak
Kau masih anakku, bukan?!

Bertahun-tahun, emakmu ini hidup bersandar nestapa
Tanpa alas porselen atau dinding kaca
Apalagi atap mewah dengan biasan lampu istana

Bertahun-tahun, Nak
Emakmu ini perawan tanpa asuh, janda tanpa tubuh
Bertahun-tahun, aku hidup mengindung, dari perapian ke tungku lainnya
Payudaraku sobek, saat kail bapakmu tiba-tiba nyangkut saat mancing kehidupan
Rambutku sempat kujual, demi perjanjian masa depan

Tungkuku berminggu tak mengebul
Kami pernah makan hanya sebatas asap dari bakaran limbah
Minum dengan keringat yang kami cucurkan sendiri
Dan kemudian, bernapas di bawah ketiak matari

...

Aku, Nak, emakmu, tak pernah merasa kenyang
Setiap sendok yang masuk ke mulutku, keluar lagi dari payudara dan anusku
Setiap gelas yang mengalir di tenggorokan, harus kubagi untuk masa depan dan keturunan
Setiap apapun yang kujalani, hanya untuk satu - demi engkau, Nak

Kami, aku dengan bapakmu, tak pernah makan nasi
Ataupun humberger, pizza, apalagi spaghetti
Tak doyanlah perut kami dengan makanan barat seperti itu
Hanya dengan semangat dan motivasi, kami bisa berpuasa tanpa sahur tanpa buka selama tujuh hari

Tapi, lain dengan kau
Kau harus hidup berjuta kali lebih mewah dariku
Kau harus bernapas berjuta kali lebih sehat dariku
Kau harus bersenang-senang lebih sering dariku
Bahkan, kau harus berjuta kali lebih mulia dariku
Aku tak ada apa-apanya darimu
Bahkan, seketika semua itu ada, kau berani tak menoleh seketika kupanggil?

Kau berani melakukannya, Nak?
Kau hebat!
Semasa kecilku dulu, tak ada orang semerdeka dirimu
Sekali saja aku tak menoleh ketika orang tuaku berdehem,
Sudah, Nak, tak ada lagi kehidupan
Apalagi engkau?

...

Sekarang, sudah sampai mana kau terbang?
Sehingga sangkarmu sendiri kau tak merasa perlu
Sudah berapa lama kau terbang?
Apa kau benar-benar tak merasa perlu?

Kau sudah lupa rautku, Nak!
Atau jangan-jangan, kau juga lupa bahwa kau bisa terbang ini karena siapa?
Atau kupotong saja sayapmu ini?

Tapi tak mungkin, sama sekali tak mungkin
Aku emakmu, Nak

Bahkan,
Kalau seandainya engkau mau berpikir, menengok saja, tak usah belok
Aku benar-benar tak ingin terbang sepertimu
Apalagi sejauh engkau mengepak
Aku bahkan benar-benar tak ingin tahu dunia
Aku bahkan benar-benar tak mau selangkah pun dari sarang
Kalau memang pada lebihnya, terbang hanya membuatku tak bisa pulang

Kau tahu, Nak?
Aku melahirkanmu sebagai burung, hanya untuk kau tahu jalan pulang saat kau bersayap

Yogyakarta, 25 Desember 2016

Misbahul Munir

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah mampir. Perlu penegasan, bahwa apapun yang tertulis di sini adalah pengolahan kata dan pengembangan pemikiran dari saya pribadi.

Jangan lupa sandalnya dibawa.