Selamat ulang tahun, Kisah. Ke-21, kan? Dasar tua!


Selamat ulang tahun, Kisah.

Selamat ulang tahun, Kisah.

Selamat ulang tahun, Kisah.

Menyebut namamu sudah tak luput dalam ritual doaku. Entah pagi menunggu siang, sore menjelang malam, namamu selalu menjadi sebuah keharusan yang memang perlu dan sakral untuk dilaksanakan. Entah kapan pembiasaan baik ini termulai, mungkin pertama kali mengenangmu? Bukan, bukan mengenalmu yang menjadi awal dari aku harus mengenangmu. Jauh dari aku mengenalmu, wajahmu sudah tak asing dalam pandangan. Entah itu dari mana arahnya, dari mana datangnya, jangan tanya aku.

Mengenalmu, berarti ada dua tangan berjabat dan saling mengikrarkan satu – dua kata yang kemudian disusul oleh nama yang satu sama lain saling menyahut. Tepatnya, aku tak ingat itu. Bahkan dulu, silam beberapa saat yang lalu, kita bukannya tak pernah saling bersentuh tangan? Bahkan bagimu, memandangku pun sudah menjadi sangsi yang harus ditahan sungkan dalam beberapa malam.

Aku tak mau membahas tentang bagaimana kita saling mengenal. Dalam hal ini, pengenangan sudah menjadi pencapaian yang tak terbatas daripada untuk saling mengenal. Mengenang, tak perlu menunggu saling mengenal.

Dulu, satu – dua kali aku ingat tentang bagaimana aku sering mengenang. Entah itu apa atau siapa, segala macam tanya sudah kukhatamkan untuk hanya sekedar mengenang. Entah itu perihal mata yang terlampau indah atau wajah yang teramat aneh. Aneh? Haha . . . iya, semua aku menganggapmu aneh. Setelah sekian aku mendapatkan pandangan perspektif tentang ukuran badan, aku tak yakin bahwa dirimu benar-benar lebih tua dariku. Tapi jangan marah, bukannya itu malah lebih bagus dan membuatmu senang?

Dua tahun yang lalu, kau melihat dan mendengar beberapa temanmu, temanku juga, melangitkan doa yang tak main-main. Doa tak pernah ada yang main-main, mereka selalu diterima di sayap-sayap Jibril, yang tak kumenahu kapan ia akan menurunkannya lagi dengan yang setimpal satu-per-satu. Dalam dua tahun pula, aku sedikit punya hak menentukan hidupmu, menanyakan kabarmu, memilihkan makananmu, atau pun menuangkan air ke dalam cangkir kecilmu.

Setahun yang lalu, kau melihat sembilan kolase yang terpampang di akun media sosialku. Sembilan yang tak kutahu makna sesungguhnya dalam tumpukan foto itu. Aku mengalah, yang sampai sekarang pun aku masih keukuh bahwa itu hanya bilangan biasa, tak ada yang istimewa. Setahun yang lalu, aku tak punya hak untuk memberimu beberapa kolase dengan desain potret warna-warni itu kecuali aku memang benar-benar saudara ‘kandung’mu yang tak pernah benar-benar berlari saat engkau mencoba terpejam.

Namun dalam tahun ini, aku kembali tak punya hak untuk menentukan hidupmu, menanyakan kabarmu, memilihkan makananmu, atau pun bahkan hanya untuk menuangkan air ke dalam cangkir kecilmu. Namun itu tak masalah. Jangan ambil masalah-masalah yang seharusnya kecil namun engkau besar-besarkan. Anggap saja itu tetap masalah kecil yang tak perlu untuk diperdebatkan. Semuanya tak butuh perdebatan, kecuali nanti saat pandangan kita terhadap presiden selanjutnya tak sama. Haha . . .

Mulai dari sekarang hingga setahun yang lalu, kamu benar-benar bebas untuk mendeskripsikan hidupmu. Hidupku juga, aku tak masalah jika memang perlu untuk kau deskripsikan.

Mulai dari sekarang hingga setahun yang lalu, kau punya beberapa hal yang saat ini bisa kau sebut memori.

Hai, masih ingat-kah memori-memori itu? Aku anggap kau mengangguk.

Haha . . . oke, baik. Aku memang tak pernah sebegitu paham tentang pikiranmu. Namun, jika aku saja belum bisa melupakan memori itu, apalagi denganmu? Anggap saja aku akan menyimpannya untuk investasi masa depan. Jadi, aku nanti tak perlu untuk mengumpulkan satu – dua memori yang sebegitu berharga itu.

Kisah, apa kabar untuk satu tahunmu yang lalu? Semoga kau benar-benar baik untuk saat ini. Andai pun saja kau pilek atau demam, tak soal, bukan? Itu sudah hobimu sejak beberapa bulan yang lalu. Atau bertahun-tahun yang lalu? Kumohon untuk satu dan beberapa tahun kedepan, ubahlah hobi busukmu itu. Tidurlah untuk tak terlalu larut, istirahatlah untuk tak terlalu lelah, dan berhentilah, karena tiap manusia itu butuh bernapas. Masih ingat caranya bernapas?

Berpengharapan baiklah untuk setahun kedepan. Mengharap itu bebas, tak ada yang melarang. Jadi, berharaplah seharap-harapnya. Entah kau mau membelah gunung? Tak masalah. Mengarungi laut? Tentu tak masalah. Atau merobohkan langit? Itu sama sekali tak masalah, Kisah. Namun, jika kau masih butuh saranku, kumohon jangan. Kasihan aku, yang tak lagi bisa melangitkan doa jika langitnya kau robohkan. Haha . . .

Sekali lagi, berharaplah seharap-harapnya. Menyoal terkabul atau tidak, tentu tak masalah, bukan? Bukannya memang hidup sudah seperti itu? Apa yang kita yakini belum juga Tuhanmu ikut meyakini. Jangan memaksa Tuhan seperti itu, tidak baik. Jadi, berharap itu sah-sah saja, asal Tuhanmu masih kau anggap sebagai Tuhan. Bukan jin yang harus menuruti segala persoalanmu. Kau tentu bukan Aladin, kan? Yang pantas jadi Aladin itu aku, kau jadi Jasmine-nya, dan semua jadi monyetnya, iya, si Abu itu. Haha . . .

Asyik, bukan, jika hidup itu sesuai aturan kita. Apa-apa jadi tunduk dengan kita, semuanya akan bersujud ke kita. Tapi tidak asyik juga. Hidup harus seimbang. Ada baiknya juga tentu juga harus ada buruknya. Kalau semuanya serba kamu, yah, tidak asyik juga, harus ada akunya, atau siapa itu? Temanmu yang suka menghasut dan jadi penjilat itu? Nah, iya, itu. Dia juga harus ada. Yah, setidaknya dia akan tahu, kalau tidak semua wanita itu baik dan benar. Haha . . .

Dalam setahun kedepan, kuharap kau sudah membuat pengharapan yang benar-benar harap. Agar aku bisa selalu meng-aamiin-i pengharapan-pengharapanmu itu. Konyol, looh, tidak apa-apa. Hidup itu juga harus konyol, belajar menertawakan kehidupan orang lain, dan memberi kesempatan orang lain menertawakan hidup kita. Seperti cinta katamu, semua harus butuh balasan, bukan? Haha . . . jangan baper! Repot nanti aku. Kudu menemukan seleramu yang kerap berubah-ubah. Sepertinya, selera juga harus berubah, biar tidak bosan.

Sudah? Belum. Aku masih akan tetap mengetik, walau tulisan ini sudah sampai titik. Tak masalah, bukan? Toh hidup kita selama ini masih koma, semuanya akan berhenti pada waktunya. Begitu pula ketikan tuts-tuts papan ini. Hanya ada satu yang abadi di dunia ini, selama masih ada Tuhan, doaku akan selalu boros. *ini pengharapan, mohon di-aamiin-i, yah? Haha . . .

Sekali lagi, selamat ulang tahun, Kisah.

Kisah saja, jangan Kasih. Atau pun nanti menjadi Kisah Kasih, siapa tahu?

Misbahul Munir

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah mampir. Perlu penegasan, bahwa apapun yang tertulis di sini adalah pengolahan kata dan pengembangan pemikiran dari saya pribadi.

Jangan lupa sandalnya dibawa.