Dan kemudian lelap
Sepasang lampu jalan itu tetiba saja padam
Ada apa?
Semacam pertanyaan kepada gelas kopi yang masih hangat dalam bibirnya
Namung siapa sangka, gelas itu enggan komentar
Sudah barang tentu, bibir itu harus tetap terkunci
Karena dia tak boleh membalas pagutanku
Bibirku ini masih perawan
Lah kalau dia? Sudah berapa napas yang menempel di sana?
Namun bukan itu
Aku menagih jawab terhadap entah siapa
Tentang mengapa lampu-lampu itu tetiba padam?
Cahayanya seakan tak betah, ia pergi entah kemana
Ada yang tahu?
Tentu tak harus cahaya yang itu juga, sih
Kau tahu, kan? Lampu di seberang sana itu bisa dan bebas memancarkan cahaya sesukanya?
Tapi menyoal tadi, mengapa lampu-lampu itu tetiba padam?
Meninggal tanpa jejak
Membisu tanpa sajak
“Mengapa lampu-lampu itu tetiba padam?”
Loh, itu pertanyaanku, dan itu suara siapa?
“Aku,” katanya, “di bawahmu”
Oh, ada apa, kumbang?
“Tidak,” jawabnya, “kamu tahu kenapa lampu-lampu itu tetiba padam?”
Lantas kupikir, mana kutahu? Aku juga punya pertanyaan sama sepertimu
Dia diam, menyanggah kepalanya dengan keempat tangannya, dua lagi sebagai tumpuhan
Lantas kupikir, mengapa kita mencari bersama, kumbang?
Ayo kita cari bersama siapa dalangnya di sebalik ini
Atau, kita hanya perlu mencari cahaya-cahaya yang lain?
Yogyakarta, 19 September 2016.
Sepasang lampu jalan itu tetiba saja padam
Ada apa?
Semacam pertanyaan kepada gelas kopi yang masih hangat dalam bibirnya
Namung siapa sangka, gelas itu enggan komentar
Sudah barang tentu, bibir itu harus tetap terkunci
Karena dia tak boleh membalas pagutanku
Bibirku ini masih perawan
Lah kalau dia? Sudah berapa napas yang menempel di sana?
Namun bukan itu
Aku menagih jawab terhadap entah siapa
Tentang mengapa lampu-lampu itu tetiba padam?
Cahayanya seakan tak betah, ia pergi entah kemana
Ada yang tahu?
Tentu tak harus cahaya yang itu juga, sih
Kau tahu, kan? Lampu di seberang sana itu bisa dan bebas memancarkan cahaya sesukanya?
Tapi menyoal tadi, mengapa lampu-lampu itu tetiba padam?
Meninggal tanpa jejak
Membisu tanpa sajak
“Mengapa lampu-lampu itu tetiba padam?”
Loh, itu pertanyaanku, dan itu suara siapa?
“Aku,” katanya, “di bawahmu”
Oh, ada apa, kumbang?
“Tidak,” jawabnya, “kamu tahu kenapa lampu-lampu itu tetiba padam?”
Lantas kupikir, mana kutahu? Aku juga punya pertanyaan sama sepertimu
Dia diam, menyanggah kepalanya dengan keempat tangannya, dua lagi sebagai tumpuhan
Lantas kupikir, mengapa kita mencari bersama, kumbang?
Ayo kita cari bersama siapa dalangnya di sebalik ini
Atau, kita hanya perlu mencari cahaya-cahaya yang lain?
Yogyakarta, 19 September 2016.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terima kasih sudah mampir. Perlu penegasan, bahwa apapun yang tertulis di sini adalah pengolahan kata dan pengembangan pemikiran dari saya pribadi.
Jangan lupa sandalnya dibawa.