Gumregah calon petani untuk negeri - PRPN 2016 'Petani Menagih Janji' bersama Cak Nun dan Kiai Kanjeng (Maiyah 10 September 2016)

Gumregah calon petani untuk negeri - PRPN 2016 'Petani Menagih Janji' bersama Cak Nun dan Kiai Kanjeng : Maiyah 10 September 2016

Sabtu malam, acara itu digelar. Dan acara tersebut juga bisa dijadikan sebagai ajang kamuflase bagi jomblo-jomblo yang tidak jelas arah hidupnya seperti saya. Hahahaa *apasih.

Acara malam itu berlangsung sangat terkonsep dengan apik. Yah, wajar, kan? UGM gitu, tidak mungkin jika semuanya tidak diperhitungkan secara matang baik dari rundown acara sampai apa saja yang mengenai acara tersebut. Bukannya saya membesarkan nama UGM, namun seperti itu lah keadaannya. Dan tidak juga merendahkan acara Maiyah yang lain, semuanya apik. Namun berhubung di sini ada UGM yang dijadikan alasan, maka saya menuliskan intro ini biar agak panjang sedikit. Hahahaa . . .

Acara yang dipimpin oleh dua MC itu berlangsung takzim. Keduanya sudah tak diragukan lagi untuk masalah olah-mengolah kata. Mereka yang terbaik pada saat itu. *Kalau tidak yang terbaik, yah nggak dijadikan MC.

Mas Imam Fathawi unjuk kebolehan di depan Jama'ah Maiyah.

Disambung dengan pentas teater dari grub Teater Nelongso dari Fakultas Pertanian UGM tampil dengan sempurna. Acara tersebut memang disajikan oleh mahasiswa fakultas pertanian setempat. Dengan mengangkat tema kekejaman Bulog terhadap petani kecil, pementasan tersebut berhasil membuat penonton terkagum-kagum oleh bakat sandiwara mereka. Termasuk yang paling menuai sorak penonton adalah tokoh banci yang dihadirkan secara menonjol dalam pementasan tersebut. Oke, baik. Di sini tidak akan berlebih lanjut membahas tentang pentas teater mereka. Intinya, pementasan tersebut cukup sukses untuk menuai sorak dan tepuk tangan dari penonton. Dan pesannya kurang - lebih sampai di pikiran penonton masing-masing.

Cak Nun sendiri juga memuji pementasan tersebut, beliau juga memberikan tepuk tangan sebagai tanda apresiasi yang mendalam bagi Teater Nelongso. Namun, setelah itu, Cak Nun sedikit meng-kritik pementasan tersebut dengan gaya khas beliau, yang tentu kritik tersebut sama sekali tidak mengurangi pesan yang ingin disampaikan mereka dalam pementasan itu.

Berangkat dari teater tersebut, Cak Nun mengedukasi penonton tentang beberapa hal. Termasuk nilai-nilai pementasan tersebut, juga ada beberapa hal yang baik secara eksplisit maupun implisit beliau tuturkan.

Poin pertama ialah, beliau menambahkan dan sekaligus memberi wejangan terhadap penonton dengan ilmu Kebangkitan Pelok. Apa itu? Pelok dalam masyarakat Jawa dikenal sebagai biji mangga. Berangkat dari terminologi pelok tersebut, beliau menuturkan bahwa kehidupan orang-orang yang berkutat dalam bidang apapun itu, harus berhenti berpikir konsumtif dan segeralah memulai untuk memikirkan hal-hal yang produktif untuk masa depan. Mengingat, pelok adalah salah satu dari sekian banyak yang kehidupannya mencerminkan produktifitas yang hebat. Ia tumbuh, membuahkan mangga, dan memberikan manfaat bagi orang lain yang menikmatinya.

Cak Nun mengedukasi Jama'ah Maiyah.

Selain itu, Cak Nun juga mengedukasi penonton dengan cara menjelaskan secara gamblang tentang kehidupan petani yang ada di empat medan. Dan tersebut ialah Sawah, Pasar, Pemerintahan, dan Globalisasi. Dan di tempat tersebut lah seharusnya para petani sudah mati karena dibunuh. Lebih jelasnya, di Sawah, para petani oleh hal-hal yang membuat para petani tersebut gagal panen, entah itu masalah cuaca atau yang lainnya, yang jelas petani selalu mendapati pembunuhan di dalam sawah, dari rekan petani lainnya pun juga bisa menjadi faktor lainnya yang membahayakan. Tempat yang kedua adalah Pasar, di sini, tengkulak lah yang menjadi salah satu pembunuh bagi para petani. Mereka memainkan harga sesukanya, dan dari permainan tersebut, banyak sekali petani yang meminum keringatnya sendiri karena penjualan barang tidak sesuai dengan apa yang mereka upayakan. Para tengkulak tersebut memonopoli harga sesuka perutnya sendiri, tidak pernah mementingkan nasib petani di bawah. Di medan yang ketiga ini, sistem dan birokrasi pemerintah lah yang membuat banyak petani mati di bawah cangkulnya sendiri. Birokrasi yang berbelit-belit dan sama sekali tidak memudahkan petani membuat petani seperti anak ayam yang dipermainkan. Hal tersebut juga digambarkan dalam pementasan teater tersebut. Dimana pegawai Bulog semena-mena membeli hasil panen dengan harga yang sangat murah. Dengan menumpangi birokrasi dan kebijakan yang salah, banyak petani-petani yang mati akibat menolak tawaran dari Bulog. Dan yang terakhir adalah Globalisasi. Yang ini sudah jelas-jelas menjadi pertarungan yang sengit bagi petani kita yang masih menganut sistem tradisional ini. Tapi, yang penting dari keempat medan tersebut, yang terhebat adalah petani-petani di sini tidak pernah mati dan masih hidup. Itulah hebatnya petani, tidak akan pernah mati meskipun banyak sekali ranjau-ranjau yang siap meledak di bawah dipan rumahnya.

Menyambung beberapa ilmu yang sudah diberikan Cak Nun kepada penonton, Cak Nun merangsang beberapa orang yang ada di depan (mahasiswa) dengan pertanyaan; "Setelah ini, kamu mau jadi apa?" dan mengejutkan sekali, berangkat dari rangsangan tersebut, dari beberapa orang menjawab, "Saya ingin jadi petani!", dengan berbagai alasan yang tentunya membuat Cak Nun bangga akan hal itu. Dan saya sendiri, tentunya begitu mengapresiasi jawaban tersebut dengan tepuk tangan yang sekencang-kencangnya.

Sesi bicara Cak Nun sudah selesai, kemudian waktu dilemparkan kepada Kyai Muzammil, beliau disuruh untuk menjelaskan hal-hal yang berbau dengan pertanian yang tentunya dalam perspektif seorang kyai pesantren dan Islam. Kyai Muzammil berangkat dari hadist Nabi Muhammad SAW yang mempunyai inti sebagai berikut; Hanya ada tiga pekerjaan dalam perspektif Islam, yakni Petani, Kreator, dan Pedagang. Beliau menjelaskannya dengan begitu jelas, bahwa ketiga pekerjaan tersebut ialah pekerjaan yang output-nya memberi kemanfaatan bagi orang banyak. Beliau juga menegaskan, bahwa dari ketiga pekerjaan tersebut yang paling utama ialah petani karena dalam hadist itu, petani disebut paling pertama di antara yang lainnya.

Dalam imbuhnya untuk menutup acara maiyah di malam itu, Cak Nun mengungkit terminologi lama tentang empat hubungan percintaan di kehidupan ini. Yang pertama adalah Allah dengan makhluk-Nya, Manusia dengan lingkungannya, Pemerintah dengan rakyatnya, dan Laki-laki dengan perempuannya. Keempat tersebut harus tetap terjalin demi menjaga kelangsungan hidup yang nikmat dan stabil.

Jama'ah Maiyah selalu takzim mendengarkan ulasan dari Cak Nun.
Para elemen penonton tertawa bersama, Maiyah begitu syahdu.

Misbahul Munir

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah mampir. Perlu penegasan, bahwa apapun yang tertulis di sini adalah pengolahan kata dan pengembangan pemikiran dari saya pribadi.

Jangan lupa sandalnya dibawa.