![]() |
| Resensi Buku ; Wasripin & Satinah karya Kuntowijoyo |
Judul : Wasripin & Satinah
Penulis : Kuntowijoyo
Penerbit : Kompas, 2003
Isi : vi+250 hlm.; 13 cm x 19 cm
ISBN : 978-979-709-744-8
Seperti judulnya, buku ini menceritakan dua buah nama yang memang sudah di-setting menjadi tokoh utamanya. Yakni Wasripin dan Satinah, salah satu pasangan yang bisa dibilang ‘aneh’, namun mempunyai sisi romantis yang berbeda dari pasangan lainnya.
Sebenarnya, novel ini bukan novel cinta. Namun novel ini lebih mengedepankan setting pada tahun sebelum reformasi. Tepatnya saat Indonesia masih dipimpin oleh orang-yang-membuat semua hal menjadi murah (termasuk nyawa).
Novel ini bermula dengan sangat apik, seperti novel biasanya. Yakni bermula dengan pengenalan sosok Wasripin yang juga sebagai nama yang sering disebut dalam novel ini. Ia digambarkan sebagai anak alam, yang tercipta dan tumbuh besar di keluarga tanpa orang tua kandung. Ia hidup dalam dekapan emak angkatnya yang berprofesi sebagai penjual tahu ketoprak. Di kehidupan yang serba sederhana, Wasripin tak gentar untuk bernafas dan makan sesuai kemampuan emak angkatnya. Namun, Wasripin suatu saat pergi dari lingkup emak angkat yang telah dan tengah membesarkannya tersebut. Bukan karena hidup pas-pasan, namun lebih ke memilih jalan manusiawi yang tidak diperoleh Wasripin semasa hidup dengan orang tuanya tersebut. Wasripin di sini diceritakan pergi dari rumah, untuk mencari kampung ibunya. Dan berangkat dari sini lah semua cerita mengagumkan itu dimulai.
Dari sepanjang awal hingga akhir, kalian akan disuguhi pemikiran-pemikiran kritis Kuntowijoyo dengan gaya khasnya yang blak-blakan. Mengambil setting sebelum tahun 1998 membuat novel ini menjelaskan dengan gamblang kehidupan semasa itu. Apalagi di sisi lain, Kuntowijoyo sendiri adalah salah satu penulis yang namanya sempat ---mentereng--- di waktu itu.
Dengan pengalaman dan pengamatan yang mendalam, Kuntowijoyo di sini mampu menghadirkan suasana sebelum 1998 dengan apik, jelas, dan menarik. Novel yang ringan untuk dibaca ini intinya cocok untuk segala kalangan, walau pun si pembaca tak pernah merasakan kegetiran sebelum 1998.
Dalam keunggulannya, novel ini sangat direkomendasikan untuk mereka yang sempat penasaran dengan sebelum 1998. Karena seperti demikian, novel ini mengambil setting di tahun tersebut dan memang menurutku, sangat gamblang dan ringan penuturannya.
Alur ceritanya juga menarik. Seperti judulnya, kalian akan merasakan novel cinta dalam bacaan pertama, namun kalian tak akan sadar jika di bacaan-bacaan selanjutnya, kalian menemukan sejarah dari kaca mata seorang Kuntowijoyo.
Di sisi lain, novel ini juga menggambarkan birokrasi pada masa itu yang bisa dibilang mbulet-isasi. Sudah menjadi kebiasaan yang buruk memang, birokrasi di negara ini memang seperti itu. Tidak ada yang musti disalahkan, karena bagi pelaku dan pengamat birokrasinya sendiri juga sedemikian rupanya.
Novel ini mengambil juga setting latar sebuah perkampungan di pesisir laut Jawa. Kuntowijoyo cukup apik menggambarkan angin-angin yang bermain dengan rambut Satinah, kesejukan di mata Wasripin, dan itu semua akan terasa jika memang kalian membaca novel ini dengan segelas kopi dan sesekali cemilan untuk membenarkan posisi duduk.
Namun, dari segi kekurangannya, novel ini agak kurang pas untuk kalian yang mengaitkannya dengan logika atau nalar. Seperti yang dituturkan di atas, novel ini mengambil setting tempat di pesisir laut Jawa. Dan dalam perkampungan tersebut, rasa kepercayaan terhadap magis masih sangat kental.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terima kasih sudah mampir. Perlu penegasan, bahwa apapun yang tertulis di sini adalah pengolahan kata dan pengembangan pemikiran dari saya pribadi.
Jangan lupa sandalnya dibawa.