Sajak Ibukota(i)

Surti,
Ampun, Surti!
Tak bermaksud aku mengecewakanmu.
Namun, ini sudah takdir kita sebagai petani.
Baru dua minggu saja, aku sudah seperti wong gendeng anyaran.
Sampai akhirnya, suamimu ini pulang tanpa bekal.
Rambut pun gondrong tak terpintal.
Apalagi dadaku, hangus sudah termakan janji dan bualan.

Ampun, Surti, ampun!
Barangkali memang aku tak mampu menjadi kerling matamu.
Apalagi rona wajahmu yang kian memudar.
Dan bahkan rekah bibirmu pun terlalu wana untuk sekecup kucicipi.

Aku capek luntang – lantung, pontang – panting, mondar – mandir sampai modar.
Lesu perutku tak lagi bernutrisi.
Ototku sekarat melihat tempat yang benar-benar penuh dosa itu.

Tak seperti yang di film-film itu loh.
Yang terlihat harmonis, ramah, dan penuh kasih sayang.
Tapi nyatanya? Aku menangis, Surti!
Mereka kejam, bengis, dan penuh kebohongan.
Tiap pagi, aku tak sempat hidup lantaran polusi.
Dan di petangnya, giliran kelaminku yang tak henti-hentinya ereksi.

Coba, sesekali, kau tanyalah aku, mengapa suamimu ini balik dari kota keparat itu.

Bagaimana aku tidak balik kampung?
Mereka itu busuknya orang busuk, Surti.
Sama sekali berbeda dengan apa yang di teve-teve itu.
Apalah itu, ojek online-lah, taksi online-lah, pakaian modis-lah, gadis cantik-lah.
Semua itu tai, Surti, tai!
Bahkan sehari pun tak pernah kumerasa benar-benar hidup.
Apalagi urusan perut yang tak pernah kenyang dengan nasi.
Perutku sudah mual dengan asap-asap kendaraan itu.
Kencingku pun tengah berubah warna lantaran air-air kotor yang kuminum
Entahlah darahku, masih merah atau keruh.
Tak peduli aku, bisa balik kampung pun aku sudah syukur.

Di sana, Surti,
Banyak orang yang saling goreng – menggoreng.
Banyak kebohongan-kebohongan yang diubah menjadi kenyataan.
Yah, tentu tak sedikit pula yang mengubah kenyataan-kenyataan itu menjadi sebaliknya.
Banyak sekali tempe-tempe yang sudah kemarin sore diaku baru angkat panci.
Bahkan, lauk yang berkali-berkali mandi tepung pun masih saja dikira baru.
Apa mereka waras?
Bahkan, Surti, kita miskin di kampung pun tak seperti itu.

Sudah paginya tak bisa naik mobil, eh, kita yang kebagian asapnya.
Malamnya? Duh, malangnya diriku.
Yah, mau bagaimana lagi? Lah, mau tidur, eh, malah kelaminku yang bangun.
Mau dimasukin, kemana? Pelacur itu? Takut dosa, ah.
Tak habis pula aku dengan lacur-lacur di sana.
Sudah wajah dempulan semua, alis palsu, hidung imitasi, tarif masih mahal juga. Eh, sudah dibayar, kena dosa lagi.
Kan, lebih baik aku pulang, Surti.

Aku di sana sempat kenalan, tetangga kardusku yang sewaktu itu kutanya tentang alamat Tuhan ;  kebahagiaan.
Kutanya perlahan ; “Sampeyan mboten kesel, urip kados ngenten?”
Aku, sih, berharap dia bisa bahasa Jawa.
Eh, dia bilang seperti ini ; “Duh, Mas. Lah dospundi maleh? Tanah kulo ten kampung niku sampun kulo sade lan sampun ditumbas kalian tuan tanah mriko. Terose ten tipi, ten ibukota niku enak, lah kulo nggeh mriki, niat usaha, asal gelem obah. Lahdalah, kulo pindah mriki, kok malah sengsoro. Nasib, Mas, nasib.”
Ketika kutanya lagi ; “Kok mboten wangsul?”
Lah, dia kok malah jawab seperti ini ; “Dunyo niku muter, Mas. Kulo yakin bilih kulo istiqomah ten mriki, mangke saget sukses kok.”
Waaah, kutinggal – tanggalkan saja orang gila itu.
MUTER IKU SEMPAKMU, MAS. SUKSES IKU NDASMU!!!

Lihat, Surti, lihat!
Kukira pilihanku balik kampung itu sudah pilihan yang tepat.
Yah, sebelum aku ketularan gila seperti mereka.
Di sana itu, meskipun baru terbilang minggu, tapi, duh.
Bagaimana, yah? Sudahlah. Tak usah dibayangkan yang aneh-aneh.

Ampun, Surti, ampun!
Ibukota tak benar-benar ibu.
Seharusnya ibu tak seperti itu.
Seharusnya kota juga tak semenakutkan itu.

Lah, katanya ibukota.
Ibu kok asu.
Kota kok tai.
Ibukota macam apa itu? Ibukota penderitaan pantasnya.

Sudahlah, Surti.
Orang kampung seperti kita, tak usahlah pergi ke kota.
Lebih baik kita nyangkul, panen, nyangkul lagi, panen lagi.
Tani itu bahagia, Surti. Sungguh.

Lagi pula, memandangmu pun tengah kebahagiaan menurutku.
Tak usah-lah, kau, bergincu-lah, kutek-lah, atau apalah.
Apalagi memerah-merahkan wajahmu itu.
Hapus saja, mari wudhu, dan kita bertatap sampai fajar.

---jangan lupa matikan lampu---


Lamongan, 22 Juli 2016.

Misbahul Munir

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah mampir. Perlu penegasan, bahwa apapun yang tertulis di sini adalah pengolahan kata dan pengembangan pemikiran dari saya pribadi.

Jangan lupa sandalnya dibawa.