Surti,
Ampun, Surti!
Tak bermaksud aku
mengecewakanmu.
Namun, ini sudah
takdir kita sebagai petani.
Baru dua minggu
saja, aku sudah seperti wong gendeng anyaran.
Sampai akhirnya,
suamimu ini pulang tanpa bekal.
Rambut pun
gondrong tak terpintal.
Apalagi dadaku,
hangus sudah termakan janji dan bualan.
Ampun, Surti,
ampun!
Barangkali memang
aku tak mampu menjadi kerling matamu.
Apalagi rona
wajahmu yang kian memudar.
Dan bahkan rekah
bibirmu pun terlalu wana untuk sekecup kucicipi.
Aku capek luntang
– lantung, pontang – panting, mondar – mandir sampai modar.
Lesu perutku tak
lagi bernutrisi.
Ototku sekarat
melihat tempat yang benar-benar penuh dosa itu.
Tak seperti yang
di film-film itu loh.
Yang terlihat
harmonis, ramah, dan penuh kasih sayang.
Tapi nyatanya? Aku
menangis, Surti!
Mereka kejam,
bengis, dan penuh kebohongan.
Tiap pagi, aku
tak sempat hidup lantaran polusi.
Dan di petangnya,
giliran kelaminku yang tak henti-hentinya ereksi.
Coba, sesekali,
kau tanyalah aku, mengapa suamimu ini balik dari kota keparat itu.
Bagaimana aku
tidak balik kampung?
Mereka itu
busuknya orang busuk, Surti.
Sama sekali
berbeda dengan apa yang di teve-teve itu.
Apalah itu, ojek
online-lah, taksi online-lah, pakaian modis-lah, gadis cantik-lah.
Semua itu tai,
Surti, tai!
Bahkan sehari pun
tak pernah kumerasa benar-benar hidup.
Apalagi urusan
perut yang tak pernah kenyang dengan nasi.
Perutku sudah
mual dengan asap-asap kendaraan itu.
Kencingku pun
tengah berubah warna lantaran air-air kotor yang kuminum
Entahlah darahku,
masih merah atau keruh.
Tak peduli aku,
bisa balik kampung pun aku sudah syukur.
Di sana, Surti,
Banyak orang yang
saling goreng – menggoreng.
Banyak kebohongan-kebohongan
yang diubah menjadi kenyataan.
Yah, tentu tak
sedikit pula yang mengubah kenyataan-kenyataan itu menjadi sebaliknya.
Banyak sekali
tempe-tempe yang sudah kemarin sore diaku baru angkat panci.
Bahkan, lauk yang
berkali-berkali mandi tepung pun masih saja dikira baru.
Apa mereka waras?
Bahkan, Surti,
kita miskin di kampung pun tak seperti itu.
Sudah paginya tak
bisa naik mobil, eh, kita yang kebagian asapnya.
Malamnya? Duh,
malangnya diriku.
Yah, mau
bagaimana lagi? Lah, mau tidur, eh, malah kelaminku yang bangun.
Mau dimasukin,
kemana? Pelacur itu? Takut dosa, ah.
Tak habis pula
aku dengan lacur-lacur di sana.
Sudah wajah
dempulan semua, alis palsu, hidung imitasi, tarif masih mahal juga. Eh, sudah
dibayar, kena dosa lagi.
Kan, lebih baik
aku pulang, Surti.
Aku di sana
sempat kenalan, tetangga kardusku yang sewaktu itu kutanya tentang alamat Tuhan
; kebahagiaan.
Kutanya perlahan
; “Sampeyan mboten kesel, urip kados ngenten?”
Aku, sih,
berharap dia bisa bahasa Jawa.
Eh, dia bilang
seperti ini ; “Duh, Mas. Lah dospundi maleh? Tanah kulo ten kampung niku
sampun kulo sade lan sampun ditumbas kalian tuan tanah mriko. Terose ten tipi,
ten ibukota niku enak, lah kulo nggeh mriki, niat usaha, asal gelem obah. Lahdalah,
kulo pindah mriki, kok malah sengsoro. Nasib, Mas, nasib.”
Ketika kutanya
lagi ; “Kok mboten wangsul?”
Lah, dia kok
malah jawab seperti ini ; “Dunyo niku muter, Mas. Kulo yakin bilih kulo
istiqomah ten mriki, mangke saget sukses kok.”
Waaah, kutinggal –
tanggalkan saja orang gila itu.
MUTER IKU
SEMPAKMU, MAS. SUKSES IKU NDASMU!!!
Lihat, Surti,
lihat!
Kukira pilihanku
balik kampung itu sudah pilihan yang tepat.
Yah, sebelum aku
ketularan gila seperti mereka.
Di sana itu,
meskipun baru terbilang minggu, tapi, duh.
Bagaimana, yah? Sudahlah.
Tak usah dibayangkan yang aneh-aneh.
Ampun, Surti,
ampun!
Ibukota tak
benar-benar ibu.
Seharusnya ibu
tak seperti itu.
Seharusnya kota
juga tak semenakutkan itu.
Lah, katanya
ibukota.
Ibu kok asu.
Kota kok tai.
Ibukota macam apa
itu? Ibukota penderitaan pantasnya.
Sudahlah, Surti.
Orang kampung
seperti kita, tak usahlah pergi ke kota.
Lebih baik kita
nyangkul, panen, nyangkul lagi, panen lagi.
Tani itu bahagia,
Surti. Sungguh.
Lagi pula,
memandangmu pun tengah kebahagiaan menurutku.
Tak usah-lah,
kau, bergincu-lah, kutek-lah, atau apalah.
Apalagi memerah-merahkan
wajahmu itu.
Hapus saja, mari
wudhu, dan kita bertatap sampai fajar.
---jangan lupa
matikan lampu---
Lamongan, 22 Juli
2016.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terima kasih sudah mampir. Perlu penegasan, bahwa apapun yang tertulis di sini adalah pengolahan kata dan pengembangan pemikiran dari saya pribadi.
Jangan lupa sandalnya dibawa.