Kupikir kau temaram #1 SEMULA ITU

Pernahkah kau, seketika sudah menduga bahwa ia benar-benar mawar, namun terkecewakan sesaat kau tahu bahwa ia ialah bunga sepatu yang menyamar? Atau, ia memang bukan benar-benar mawar, namun hanya sepetak gersang yang membuat fatamorganamu tentang ia; mawar?

Haha . . . absurd? Sengaja.

Kali ini, memang hanya ke-abrusd-an yang meraja dalam bilik tiap bilik hati ini. Entah bagaimana bisa. Namun, bisa.

Sejujurnya, ini bukan kisah yang terjadi ketika kutulis dan engkau baca. Namun mundur ke beberapa garis waktu yang lampau. Tepatnya lupa, namun kumenemui ingat pada harinya. Ya; jum’at di beberapa jum’at yang lalu.

Semula, aku menerka dan sudah berniat pula, bahwa bahtera yang kudayung bersama selama beberapa tahun terganjil bulan itu hanyut. Atau dalam bahasa kasarnya, benar-benar karam. Perjalinan kasih menemu sayang sudah kuputuskan untuk benar-benar kuhentikan dalam rentang yang cukup lama. Walau aku dan kalian ketahui bersama, bahwa hidup sesungguhnya tidak cukup untuk dua tahun bertemu saling mengenal dan dua tahun saling menyayang. Jadi, kuputuskan bahwa terbilang tahun keempat itu adalah tahun yang belum sebegitu lama untuk sebuah bahtera yang kukayuh bersama-sama. Melalui beberapa karang yang hampir menimbulkan perpecahan, angin yang sebegitu kencangnya sampai menghampiri kekeliru-pahaman, dan masih banyak lagi masalah yang membuatku untuk benar-benar berlabuh, entah itu pilihan karena bahteraku benar-benar rusak, atau kuarung laut dengan bahtera lain yang benar-benar sempurna ---menurutku---.

Terlepas dari segala alasan yang tak mungkin kujelaskan melalui tiap kata dan rumpunan kalimat, bahtera itu benar-benar sudah karam. Dan aku mengimaninya.

Namun iman itu hanya terlampau sampai ke jum’at tersebut, sebelum kunyatakan bahwa imanku benar-benar goyah karena suatu alasan.

Sebelum jum’at, yang tak kumenahu hari beserta tanggalnya, sebut saja adik kelasku yang bernama Elsa, yang kemudian kututurkan namanya menjadi Cimol itu bersenda denganku. Di hari bahagianya, yang notabene ialah hari mula kesedihan ---yang semoga lekas tercukupi--- karena baru tamat SMA itu, dia menemui tanya oleh kedua orang tuanya, yang bisa kusebut bahwa hanya ibu yang mempertemukan tanya tersebut.

Cimol kemudian mengadu dan lebih tepatnya bertutur menyuarakan sekaligus menyambung kalimat ibunya tersebut. “Lik ---sapaannya untukku---, ibuku tadi tanya, mas-mas yang biasanya sama Sekar itu kok tidak ikut meraya hari bahagiaku?”

Haha . . .

Sebuah pertanyaan yang cukup membuatku menutup tawa dengan serapat-rapatnya. Masih tak percaya, aku mencoba meyakinkan Cimol tentang, apakah benar suatu tanya itu nyata?

Sendaku menjadi pilu dan bingung untuk menentukan sikapku sendiri. Aku tak sanggup lagi puitis, apalagi memuitis-i hidupku sendiri yang sungguh tak kumengerti temu dalam kebahagiaan.

Aku menjawabnya, “Lah terus kamu jawab apa?”

“Aku tak menjawab apa-apa, Sekar yang menjawab, katanya: ‘masih kuliah, Bu’.”

Syukurlah, hembusku dalam nada syukur yang mendalam namun dangkal.

Kedangkalanku berpenghujung, imanku goyah untuk segera dan benar-benar melupakan seseorang yang usai ia sebut.

Kukorek perlahan info dan kabar darinya, sedikit demi perlahan menanya kabar tentang seseorang itu. “Bagaimana kabarnya? Baik?”

Ia menjawab dengan senyum, pertanda bahwa seseorang itu benar-benar baik.

Lantas cakap-percakap menemui titik dimana ia menanyakan sebuah rasa yang benar-benar tengah dan belum telah kubuang.

“Nggak mau kembali ke dia, Lik?”

Haha . . . aku menjawab dengan tanya, kemudian kususul dengan jawaban tidak terakhiri senyum.

“Aku sudah mencoba untuk melupakannya, Mol. Ada beberapa alasan yang membuat aku tak bisa lagi mendekatinya,” jawabku, kemudian Cimol tersenyum, semoga menemu paham.

“Apakah menyoal umur lagi, Lik?”

Aku diam, sejenak, tak kubalas obrolan itu selang beberapa detik menghampir menit.

“Bukan, bukan itu.”

“Lantas?”

“Kau tak akan pernah mengerti, seperti dia.”

Aku benar-benar tersenyum, walau ada beberapa rasa yang tak pernah bisa tergambarkan melalui nada dan kata sekalipun.

“Setahuku, Lik. Dia masih mengharapmu.”

“Haha . . . bohong! Kontakku saja sudah tidak ada.”

“Terserah juga, aku juga tak sebegitu menahu.”

“Ngomong-ngomong, aku ijin menitip salam.”

“Ke?”

“Kedua orang tuamu yang sudah mencariku.”

“Haha . . . sudah? Itu saja? Tidak ke yang lain?”

“Haha . . . ke ---yang lain--- itu siapa? Sudah, itu saja. Sekalian salam buatmu.”

“Tidak ke Sekar?”

Cukup sulit, yang kuputuskan untuk mengambil satu – dua hela napas untuk menjawab.

“Baik, titip salam. Hati-hati di jalan.”

“Hah? Dia mau kemana, Lik?”

“Haha . . . belum sempat tanya, yang penting hati-hati di jalan saja.”

Dan hanya sekelebat itulah tanya demi jawab yang kulakukan bersama Cimol. Dan kau tahu? Obrolan sesingkat itu, mampu membuatku menemui kata “Baper”. Haha . . .

Iya, benar. Imanku goyah akan itu, dan entah harus kemenemu siapa untuk segera melenyapkannya lagi.

Hari berganti, kemudian aku memutuskan untuk melenyapkan segala rasa dan perasaan itu. Aku mencoba, sedikit demi sedikit mencoba untuk mengatur perasaan, terlebih perasaanku mengenai seseorang itu. Sampai akhirnya, perasaan itu secara perlahan hilang beserta raut wajahnya.

Aku mensyukuri itu, dan mencoba lagi mengatur tujuan untuk benar-benar lurus, sebuah alasan mengapa aku harus melupakannya.

Misbahul Munir

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah mampir. Perlu penegasan, bahwa apapun yang tertulis di sini adalah pengolahan kata dan pengembangan pemikiran dari saya pribadi.

Jangan lupa sandalnya dibawa.