Sajak yang kutulis di secangkir kopi, menafsirkan buihnya menjadi sebuah kalam
Sembari angin bertiup mesra, mengabungkan kesepian yang semakin meradang, aku tak gentar menggeser pena
Sesekali tintanya tumpah, tak masalah
Kopi sudah cukup basah untuk menulis dalam desau sang alam
Hujan masih turun seperti biasa
Tak ada yang harus diperbincangkan
Kecuali kerinduan; terhadap manusia tanpa busana kemaluan
Apa yang terlebih indah selain wanita?
Dengan paras yang manis, bibir merekah bak mentari di pengawal pagi
Rimbun rambut di tempurung kepalamu tergerai, seelok kumbang yang berdansa mencumbui bunga di selasar
Kekasihku, ialah engkau yang kumaksud di tiap pagi
Aku hidup di jaman serba sedikit
Tak menilai apa dan siapa yang berkabung
Tentang otak-otak mereka yang tiba-tiba mati musabab micin
Tanpa sadar, aku menyemai bebunga dalam sukma-sukma mereka
Kasihku, kumohon kau jangan begitu
Tetaplah menjadi wanita yang menutupi dadamu
Entah besar atau kecil, uang kita masih cukup untuk membelikanmu baju yang pas
Entah menggantung atau bulat, harta kita tak akan habis untuk membuat engkau lebih terhormat
Karena dengan itu, banyak petani kapas selamat, benang yang dipintalnya kau buat demi memanusiakan payudara dan pantat
Jangan tiru mereka, yang merekahkan bibir dengan penuh nafsu
Kemudian berteriak karena pilu campur mau
Menggebu-gebu menyalahkan kaumku yang tak pernah mau tahu
Menebar menyemai kebencian tentang kebobrokan jenisku
Tanpa sadar bahwa dua bibir dan dua bulatnya yang diam-diam penuh haru merayu
Sehingga, yang mereka rasakan; kesakitan tak menentu, akibat bibirmu mereka dilumat syahdu
Aku tak mau, ketika dadamu nanti tak lagi kencang
Kemudian kau basuh dengan air dari perasan garam
Dan kau rajam dengan senjata tajam
Kau warnai dengan cat merah dan hitam
Yang kau sebut, itu seni mengumbar kelancangan lelaki berhidung belang
Itu tidak baik, Kasihku
Sesekali, mintalah uang padaku
Kalau hanya untuk beli buku gambar dan tisu
Jangan pikir aku terlampau miskin dan tak mampu
Perihal kain juga demikian
Kalau boleh, aku jual semua perusahaan dan barang dagang
Kan kutanam pohon dan kusiram rindang
Yang penting halal, dan dadamu tetap sehat untuk diterjemahkan
Kasihku, yang tenggelam dalam kemarau peradaban
Kau setidaknya jangan takut basah
Apalagi sampai takut memantau air bah
Kau harus kuat!
Kalau perlu, belajarlah berenang
Arungi sendiri laut-laut tak berfaham
Jangan berhenti, sekali pun nafasmu hanya sepenggalan kelam
Kasihku, yang kusemogakan tak hanya tulang
Untuk memberimu makan, aku tak perlu menjual keperjakaan
Cukup berdoa dalam sujud di sebuah malam
Kau akan hidup dalam damai dan kebahagiaan
Tetaplah menjadi kekasih yang baik hatinya
Jangan macam-macam!
Jika hanya meramu kopi kau bahagia
Tidaklah usah menjual tubuhmu hanya demi gengsi dan membayar tatapan mata
Yogyakarta, 09 Mei 2016.
Pos terpopuler
-
Umbu Landu Paranggi Cintalah yang membuat diri betah untuk sesekali bertahan Karena sajak pun sanggup merangkap duka gelisah kehidup...
-
Siapa yang tidak tahu nama Letto dalam belantika musik nusantara, sebuah grup musik yang pernah berjaya di tahun 2004 yang beranggotakan...
-
“Membaca tentang cinta di buku ini rasanya, J#ncuk”. Itulah salah satu ucapan dari seorang penulis buku Dear You, Moammar Emka. En...
-
Suasana Waduk Gondang begitu alami. Airnya bening. Udaranya sejuk. Pohon-pohon tumbuh rindang di dalamnya. Pesona itu membuat beberapa...
-
Sudah saatnya kita bergerak - Resensi Buku ; Dunia Anna karya Jostein Gaarder. Judul : Dunia Anna, Sebuah Novel Filsafat Semesta Pe...
Diberdayakan oleh Blogger.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terima kasih sudah mampir. Perlu penegasan, bahwa apapun yang tertulis di sini adalah pengolahan kata dan pengembangan pemikiran dari saya pribadi.
Jangan lupa sandalnya dibawa.