Kamu masih boleh ke Jogja.

Kamu masih boleh ke Jogja. Meskipun menurutmu, tentunya ini tak seindah dulu Kamu masih boleh ke Jogja. Meskipun menurutmu, tentunya ini tak senyaman dulu Jogja, malam ini, masih menangis Mengeja namamu yang tak kunjung mengerti Kemudian pasrah dan menjatuhkan perih Ia mengiba, masih selalu berusaha Untuk tetap dan mengeja dengan aksara yang sama sekali tak ia mengerti Aksara yang kian hari, semakin rumit Ia yang mestinya Istimewa, kau patahkan dengan kata acuh dalam doa Kamu masih boleh ke Jogja. Meskipun menurutmu, menurutku juga, aku sependapat yang menjadi pendapatmu Aku mengerti yang menjadi pengertianmu Aku sadar yang menjadi kesadaranmu Kamu masih boleh ke Jogja. Hanya untuk bersua dengan tugu, pun terlebih mengecup Malioboro Kamu masih boleh ke Jogja. Untuk mengukur ejaan hujan, dan seberapa sulit itu menurutmu Kamu masih boleh ke Jogja. Sekedar melepas rindu, oleh angkringan yang dulu kau pesan nasi kucing dan tahu Untuk kunjung ke tempat, yang tiap jengkalnya termaktub rindu Kamu masih dan sangat boleh ke Jogja. Ada atau tanpaku, iya atau tidak untukku, senja atau tidak denganku Yogyakarta, Maret 2016.

Misbahul Munir

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah mampir. Perlu penegasan, bahwa apapun yang tertulis di sini adalah pengolahan kata dan pengembangan pemikiran dari saya pribadi.

Jangan lupa sandalnya dibawa.