Sebenarnya, aku ingin sekali berpindah agama.
Entah apa motivasiku, aku hanya ingin berpindah saja, atau mungkin tak beragama.
Tapi aku takut.
Perkenalkan. Namaku Komar. Atau di desaku,
eksis dengan sebutan Kiai Komar. Dengan jenggot tebal dan sorban yang melingkar
di kepala ini, aku sangat hits dengan sebutan pendakwah hebat. Dengan pula,
bakat pidatoku yang tiap hari sering dilatih, ini membuat semua orang jarang
sekali yang protes dengan ceramahku. Pula, pemuliaanku ini sebenarnya tidak
sengaja. Lah siapa yang menyangka, hanya bermodal jenggot tebal saja aku bisa
menjadi seorang yang dimuliakan di kampungku. Beruntung kah aku? Beruntung
sekali. Sebab, dengan bermodalkan ini, pendakwah menjadi bagian dari mata
pencaharianku.
Kembali ke permasalahanku tadi. Sebenarnya,
aku ingin sekali berpindah agama, atau mungkin tak beragama sekalian. Tapi aku
takut.
Entah, apa yang mendorongku untuk keras sekali
berpendirian.
Di suatu forum, tepatnya di tempat Kang
Samiun, sembari meminum secangkir kopi, melahap hidangan yang memang sudah
dihidangkan, mengobrol seputar apa saja memang sudah menjadi tradisi.
Bersama teman-teman karibku, forum itu menjadi
hangat. Apalagi sekarang, mana ada istri yang benar-benar patuh kepada
suaminya. Maksudku, di forum itu, istri Kang Samiun benar-benar menggoda.
Mungkin tidak hanya aku yang curi-curi pandang ke wajahnya. Sedikit
pendeskripsian, istrinya benar-benar molek. Tubuhnya berisi cenderung seksi.
Apalagi bibirnya yang memang menjadi daya tarik tersendiri bagi laki-laki
normal sepertiku.
Kang Samiun dalam kesempatannya pernah
berbicara. Begini. Pada masa mudanya dulu, sebelum menikah dengan Mbak
Wartinah, dia adalah seorang pemuda yang gemar berjalan-jalan. Tak sedikit pula
negara-negara yang pernah beliau kunjungi. Indonesia dengan Amerika mungkin
sudah menjadi tempat wisata tersendiri bagi Kang Miun (nama kecil Kang Samiun).
Bukannya sombong, tapi profesi sebagai wartawan lah yang membuatnya seperti
itu. Memang benar, pekerjaan yang baik adalah hobi yang dibayar.
Tentu tak sedikit pula pengalaman yang
didapatkannya.
Singkat cerita, Kang Miun pernah ditugaskan
untuk meliput ke salah satu negara yang
mayoritasnya adalah Islam. Di sana, agama seperti diperjual – belikan. Banyak
sekali wanita-wanita muslimah yang menjajakan dirinya dengan seenaknya,
pemudanya pun demikian, sama sekali tidak malu untuk berbuat maskiat di tengah
jalan. Ciuman lawan jenis pun marak. Bahkan, ciuman sesama jenis pun sudah
menjadi bagian yang kian merekat. Entah siapa yang salah, kita yang mencari
kiblat atau kiblatnya yang berpenghuni salah.
Aku kawatir, jika di negara kita saja, aku
tergoda oleh istri tetanggaku sendiri, apalagi jika aku menjadi Kang Miun?
Dan di sinilah letak kebimbanganku untuk
berpindah agama. Aku merasakan, agama di sana lebih mudah untuk melakukan
segala nafsuku. Aku bisa saja menjadi pelanggan setia salah satu pelacur di
sana. Dan itu tanpa harus mencopot segala aksesorisku seperti jenggot dan
sorban. Sedangkan di sana, jenggot adalah trend baru masyarakat kota, dan
sorban sewaktu-waktu bisa kugunakan sebagai alas untuk berzina di tempat umum.
Aku di sana akan makmur.
Sepulangnya dari sana dan sampai di tanah air
lagi, aku bisa saja berbicara ke orang-orang, ke seluruh jama’ahku bahwa aku baru
saja memperdalam ilmu agama. Di sini aku bisa mendulang rupiah lagi dengan
menjual tiket-tikel surga. Kemudian berangkat lagi ke sana untuk menggapai
surga yang berbeda.
Atau jika tidak pulang ke tanah air, toh masih
banyak pekerjaan menjadi gigolo di sana. Toh katanya, di sana bukan hanya
laki-laki saja yang berhidung belang. Ternyata perempuannya juga tidak ada
bedanya, bahkan sering mengenakan kaus belang-belang sembari membuka segala
auratnya. Memang, katanya di sana mayoritas perempuan mengenakan jubah dan
cadar. Namun itu kan yang tampak luarnya saja, lantas siapa yang tahu di
dalamnya ada apa? Ini kesempatan yang amat bagus.
Urusan Tuhan, sepertinya bisa dikesampingkan.
Toh, Tuhan itu Maha Pengampun. Tidak mungkinlah seorang agen surga-Nya ini akan
dimasukkan ke neraka. Itu berarti Tuhan mengingkari janji-Nya sendiri. Dan itu
tidak mungkin.
Tapi yang sebenarnya aku takutkan, adalah
manusianya. Termasuk manusia Indonesia yang sering menghakimi satu sama lain
tanpa harus kuliah hukum. Aku takut kepada manusia Indonesia yang selalu ikut
dalam urusan orang lain. Apalagi orang-orang terpelajar yang hanya buka suara
di dunia maya saja. Sama seperti pejabatnya yang terlalu munafik untuk
dimasukkan ke surga.
Apalah jika mereka tahu bahwa aku di sana
sedang asyik berzina tanpa menimba ilmu agama. Mungkin sewaktu aku memasuki
batas teritorial tanah air, sudah banyak orang yang berdemo meminta aku untuk
disalip-lah, dibakar-lah, dirajam-lah, dan mungkin di arak mengelilingi
Indonesia dengan telanjang bulat.
Di sini, rakyatnya lebih kejam dibanding
Tuhannya. Rakyatnya pula yang lebih ikut andil dalam urusan manusia lain
dibanding Tuhannya sendiri.
Aku bisa saja pindah agama kapan-kapan. Tapi,
bukan Tuhan pula yang aku takutkan. Melainkan manusianya lagi.
Pasti nanti di berbagai koran serta media
lainnya ada potretku terpampang layaknya model majalah terkenal dengan tulisan,
“Kiai Kafir”. Aku takut.
Aku takut, jika mereka menggunjingku di sosial
media, dinas sosial, sosial budaya, atau sosial-sosial yang lainnya.
Aku takut, jika suatu saat, penisku tiba-tiba
dipotong oleh jama’ah pengajianku sendiri untuk dijadikan sup dan dimakan
ramai-ramai.
Apalagi dengan mahasiswi sekarang, yang baru
kenal saja sudah berani melahap penis temannya sendiri.
Aku takut, jika aku terbangun nanti, rumahku
dibakar oleh saudara seimanku sendiri. Lantas sorban dan air wudhuku tak cukup
banyak untuk menghentikan kebakaran tersebut. Apalagi sekarang, tidak hanya
Kiai saja yang punya sorban, orang yang berlagak Kiai sepertiku pun marak
berjualan sorban.
Bisa saja aku murtad mulai sekarang, kemudian
berjudi dan menjalangkan diri di luar negeri tanpa ketahuan. Namun, bagaimana
pemasukanku di masa depan? Sudah tidak ada lagi yang mau untuk mendengar
ceramahku. Mau pindah agama ke yang lain, sudah jelas Tuhannya tidak menerima
berandal sepertiku. Mau atheis, di sini sudah pasti dituduh PKI warisan Bung
Karno dan sudah pasti dibunuh.
Rakyat Indonesia ini buas-buas. Tidak hanya
teman makan teman, pagar makan tanaman, bahkan Kiai-kiai-an yang memakan dana
umat pun tersebar luas di belantara gedung-gedung mewah. Tikus makan manusia
juga banyak. Tokoh agama menjual ayat-ayat Tuhan juga tidak sedikit.
Entah, aku juga bingung dengan keadaanku
sekarang. Melihat Mbak Wartinah saja akalku sudah separuh hilang, padahal itu
hanya bibirnya dan badannya yang masih terbalut kain. Apalagi di sana nanti
yang telanjang sudah menjadi kebutuhan setiap individu? Lantas kemana aku harus
pulang? Orang tak berakal tak punya rumah.
Entahlah, mungkin sebaiknya aku menikah saja.
Sedangkan akalku harus nyantri lagi, agar jenggot tak berbanding lurus dengan
panjangnya nafsuku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terima kasih sudah mampir. Perlu penegasan, bahwa apapun yang tertulis di sini adalah pengolahan kata dan pengembangan pemikiran dari saya pribadi.
Jangan lupa sandalnya dibawa.