Adalah Kadir, salah seorang santri di salah satu pesantren salaf yang terkenal di pesisir laut Jawa. Dia bukan tipe santri yang cerdas, namun pikirannya selalu jalan dan tak segan-segan untuk bertanya. Bahkan, salah seorang santri salaf lainnya ---yang tentunya lebih salaf dibanding Kadir--- sering kelabakan karena pertanyaan Kadir yang ---kadang--- tak masuk di nalar.
Seperti pagi-pagi yang biasanya, tepatnya sekarang minggu pagi, selalu diadakan ngaji weton yang langsung dipimpin oleh Kiai Kandar. Beliau adalah salah seorang Kiai yang memang tidak dikenal oleh masyarakat banyak, apalagi urban, beliau hanya kiai desa, namun keilmuannya tidak pernah diremehkan oleh kiai-kiai lainnya yang lebih dikenal masyarakat lain daripada beliau.
Meskipun dengan keilmuan yang sebegitu menakjubkannya, tapi beliau jarang bahkan hampir tidak pernah mengajarkan kepada santri-santrinya kitab-kitab kuning yang tebal dan masyhur dikalangan pesantren salaf lainnya, beliau selalu mengajarkan kitab-kitab dasar.
Tapi, beliau selalu punya alasan tersendiri untuk melakukan itu, diantaranya, beliau memandang bahwa kemanfaatan ilmu bukan dari apa dan siapa pengarang kitab itu dan seberapa tebal halamannya, menurut pandangan beliau, ilmu yang benar-benar manfaat adalah ilmunya orang yang sedikit tahu namun pengamalannya lebih dari apa yang mereka tahu. Sia-sia juga ilmu seseorang yang berpengetahuan besar, namun hanya mengamalkan kurang dari setengah apa yang mereka tahu. Seperti itulah Kiai Kandar, sampai-sampai banyak kiai dan para ulama’ masyhur yang jauh-jauh datang ke pesantrennya hanya untuk mengaji kitab-kitab kecil.
Minggu pagi ini, setelah Kiai Kandar menerangkan tentang bab sedekah, seperti biasa, beliau selalu membuka beberapa termin untuk mempersilahkan santri-santrinya bertanya.
Dan begitulah suasananya, para santri pasti menunduk takzim. Entah itu memang tidak ada yang perlu ditanyakan atau bagaimana, macam-macam alasan yang membuat mereka hanya menunduk takzim tak berani menatap mata Kiai Kandar.
Kiai Kandar pun masih menunggu. Sembari mengusap-usap kaca mata yang sudah usang itu dengan kain sorban yang dikalungi beliau.
Ketika Kiai Kandar ingin menyudahi pengajian di pagi buta itu, tiba-tiba di bagian pojok pintu, ada salah seorang santri yang mengacungkan tangannya. Kiai Kandar pun mempersilahkan seorang santri tersebut, tapi santri tersebut tidak langsung bertanya, malah clingak-clinguk tidak jelas. Ini membuat Kiai Kandar berucap,
“siapa tadi yang mengangkat tangan? Monggo, Nak, kalau mau bertanya.”
Adalah Kadir, seorang santri yang memang terkenal dengan ke-nyeleneh-annya tersebut.
“Anu, Yi. Terose Njenengan, orang yang sering memberi atau bersedekah itu rejekinya akan dilapangkan oleh Gusti Allah, lah kalau orangnya tidak punya apa-apa bahkan senyum pun sulit, lantas apa yang harus disedekahkan, Yi? Sedangkan kulo, nggeh, tidak mau kalah dengan filantropi-filantropi yang kebetulan diberi rejeki berlebih dari Gusti Allah.” Ujar Kadir dengan nada yang naik – turun, tentunya Kadir ingin menjaga kesopanannya agar tidak bertanya, dan mungkin menunggu barokah Kiai Kandar agar pertanyaannya tersebut bisa terjawab dengan sendirinya, namun Kadir sudah terlanjur ngacung, yang aslinya itu akibat kejailan teman santrinya, katanya baju di ketiak Kadir bolong, sehingga Kadir mau tak mau harus memeriksanya, dan tangan pun terangkat.
Kiai Kandar menarik napas, dengan tatapan yang tajam namun sejuk, beliau merangkai kata-kata yang tepat dan mudah dimengerti untuk menjawab pertanyaan tersebut.
“Kowe, Nak Kadir, insya Allah sudah menjadi bagian dari hal itu, meskipun kamu suatu saat tidak punya apa-apa dan bahkan tersenyum pun sulit.” Jawab Kiai Kandar, “begini,”
“kenyataannya, memang jika tidak punya harta sepeser pun memang sulit untuk memberi, bahkan apalagi jika harus dipaksa untuk tersenyum. Tapi kalian tahu tidak, bahwa kita hidup, itu bukan hanya menjalin hubungan horizontal antar manusia, namun vertikalnya pun tetap tidak boleh kita lupakan.
Rukun Islam sendiri, adalah salah satu desain ibadah dari Gusti Allah yang memang memaksa kita untuk masuk surga. Gusti Allah memang begitu, tidak mau manusia kesayangan-Nya seperti kita ini masuk ke dalam neraka-Nya. Maka dari itu, setelah kita mengenal Islam, tepatnya setelah guru-guru kita di madrasah diniyah mengenalkan kita dengan rukun Islam, itu Gusti Allah sudah menyajikan teken kontrak ke makhluk-Nya ---yang disebut manusia--- ini agar mau tidak mau masuk harus masuk ke surga.
Loh, kok bisa? Begini.
Sebenarnya, rukun Islam tersebut, disamping menjadi bagian dari tubuhnya sendiri, rukun Islam ternyata adalah ibadah pengorbanan yang benar-benar hebat dan dahsyat.
Rukun Islam sudah di desain oleh Allah sebagai ibadah pengorbanan, dimana jika kita eja satu persatu, adalah syahadat, sholat, puasa, zakat, dan yang terakhir adalah haji. Lalu dari mana segi pengorbanannya?
Syahadat, jika untuk orang-orang yang belum mendapat hidayah dari Yang Maha Memberi Hidayah, adalah sesuatu yang sulitnya minta ampun untuk diucapkan. Coba tanya ke seseorang yang ---dalam Islam sekarang--- disebut kafir, beranikah mereka mengucapkan dua kalimat syahadat? Kalau mereka berani, yah, namanya bukan kafir, dong? Inilah bentuk dimana kita harus berkorban mati-matian untuk hanya mengucapkan dua kalimat syahadat. Kita yang sudah muslim sejak dilahirkan mungkin tidak terlalu berkorban untuk mengucapkan sumpah dan ikrar ini, namun bagi mereka yang baru saja mengenal tentang Islam, ini akan menjadi pengorbanan terbesar mereka, mereka akan ---mungkin--- dimusuhi keluarganya, saudaranya, temannya, bahkan Tuhannya sendiri jika mereka berani mengucapkan kalimat sakral ini.
Sholat, ini adalah ibadah pengorbanan kedua yang tidak akan ada artinya jika pengorbanan yang pertama tidak dilakukan. Karena syarat sah sholat adalah harus mengakui dulu, dimana di kedua kalimat syahadat tersebut sudah lengkap, tentang term and conditions-nya untuk melakukan sholat. Sholat sendiri, untuk orang yang sudah melakukan pengorbanan yang pertama akan merasa sangat berat. Bagaimana tidak berat, kita harus membunuh waktu-waktu kita hanya untuk laporan lima kali sehari untuk Allah. Tentu dengan term and conditions yang berbeda. Kita dituntut untuk wajib dan akan dikenakan sanksi jika tidak mengerjakan sholat lima waktu, dan ini, apalagi untuk orang yang non-muslim, bagi muslim sendiri pun ini sebuah pengorbanan yang berat.
Begitu pun dengan puasa, zakat, dan haji.
Rukun Islam adalah sebuah tatanan ibadah yang sudah didesain khusus oleh Gusti Allah seperti kita naik tangga. Kita akan jatuh jika langsung melangkah ke anak tangga yang kedua tanpa naik dulu ke anak tangga yang pertama. Jika menemukan rukun Islam adalah lebih besar lagi dari tangga, jawabannya adalah gedung. Bagaimana kita naik ke gedung kedua jika tidak melewati gedung yang pertama?
Memang kita tidak akan capek jika naik eskalator atau lift, tapi itu hanya membuat kita menjadi hamba yang amatiran, yang akan mudah sakit. Analoginya, anak tangga tersebut adalah sebuah sarana dimana kita harus berkeringat, jika hidup ini tanpa mengeluarkan keringat, lalu bagaimana kita akan sehat?
Rukun Islam pun demikian. Kita tidak bisa naik lift untuk menuju tingkatan puasa tanpa harus menjalani syahadat dan sholat, kita akan lebih sakit lagi jika kita sudah berada di tingkatan haji tapi tidak pernah melakukan syahadat, sholat, puasa, dan zakat. Itulah mengapa, kita seperti sudah dipaksa oleh Allah untuk menghuni surga-Nya.
Tapi, seperti olahraga tadi, jika kita menjalaninya dengan hati yang tulus, kita tidak akan merasakan apa itu yang namanya capek.
Nah, itulah, Nak Kadir, jadi kalau kamu tidak punya apa-apa sekalipun, kamu akan tetap dimuliakan oleh Gusti Allah dan dimasukkan surga jika sudah menjalaninya dengan niat yang benar-benar tulus. Toh, berangkat ke tanah suci Mekkah itu hanya sebuah formalitas sendiri dari Gusti Allah, selain juga itu memang sebagai rukun Islam, di sana juga ada puncak dari segala rukun Islam, yakni langsung berhubungan langsung dengan Gusti Allah, dan itu bukan sebuah tingkatan yang main-main, tanpa ditunjang pengorbanan dengan rukun Islam yang lainnya, itu akan membuat kita hanya menjadi seorang yang sakit, hamba yang amatiran. Namun, jika kita tidak punya kekuatan untuk ke sana, toh masih ada opsi lain untuk menebusnya. Toh, sebenarnya muslim sendiri itu adalah gudangnya filantropi, tapi muslim sendiri lah yang kurang tahu akan itu. Tuhan itu Maha Memudahkan, sedangkan manusianya sendirilah yang menyulitkan.”
Suasana di ruang pengajian tersebut lengang. Semua santri takzim mendengarkan apa yang baru saja diterangkan oleh Kiai Kandar. Kadir pun mengangguk, tanda dirinya sudah mafhum.
“Lantas, Yi, nopo Njenengan, nggeh, sampun ikhlas untuk menjalankan semua rukun Islam itu?” tanya Kadir lancang, dan ini benar-benar lancang.
Seisi ruangan, mata para santri tajam menyelidik Kadir yang duduknya di pojokan sendiri. Kiai Kandar pun demikian, beliau memandangnya tajam ---namun menyejukkan---.
“Ngapunten, Yi, kulo mboten niat lancang, kulo hanya ingin tahu sebagai manusia yang kapasitasnya masih belum tahu cenderung bodoh. Ampun, Yi,” Kadir langsung meralat pertanyaannya tersebut. Tapi santri-santri lainnya masih menyelidik dia, Kadir pun menjadi salah tingkah, matanya nanar, seperti ingin menumpahkan segala kelancangan dan dosa yang baru saja dia perbuat.
Kiai Kandar diam.
“Ndak apa-apa, Nak Kadir. Memang benar pertanyaanmu, tidak ada yang salah. Saya sendiri masih belajar menjadi orang yang ikhlas, makanya dengan adanya Nak Kadir, itu berarti Allah juga sedang menguji seberapa ikhlasnya diriku menyampaikan ilmu-Nya,” jawab Kiai Kandar, menyejukkan sekali.
Semua santri redup, semuanya seperti terhipnotis perkataan Kiai Kandar tersebut.
Kiai Kandar pun menutup pengajian tersebut, “Wassalamu’alaikum Wr. Wb.”
Seperti pagi-pagi yang biasanya, tepatnya sekarang minggu pagi, selalu diadakan ngaji weton yang langsung dipimpin oleh Kiai Kandar. Beliau adalah salah seorang Kiai yang memang tidak dikenal oleh masyarakat banyak, apalagi urban, beliau hanya kiai desa, namun keilmuannya tidak pernah diremehkan oleh kiai-kiai lainnya yang lebih dikenal masyarakat lain daripada beliau.
Meskipun dengan keilmuan yang sebegitu menakjubkannya, tapi beliau jarang bahkan hampir tidak pernah mengajarkan kepada santri-santrinya kitab-kitab kuning yang tebal dan masyhur dikalangan pesantren salaf lainnya, beliau selalu mengajarkan kitab-kitab dasar.
Tapi, beliau selalu punya alasan tersendiri untuk melakukan itu, diantaranya, beliau memandang bahwa kemanfaatan ilmu bukan dari apa dan siapa pengarang kitab itu dan seberapa tebal halamannya, menurut pandangan beliau, ilmu yang benar-benar manfaat adalah ilmunya orang yang sedikit tahu namun pengamalannya lebih dari apa yang mereka tahu. Sia-sia juga ilmu seseorang yang berpengetahuan besar, namun hanya mengamalkan kurang dari setengah apa yang mereka tahu. Seperti itulah Kiai Kandar, sampai-sampai banyak kiai dan para ulama’ masyhur yang jauh-jauh datang ke pesantrennya hanya untuk mengaji kitab-kitab kecil.
Minggu pagi ini, setelah Kiai Kandar menerangkan tentang bab sedekah, seperti biasa, beliau selalu membuka beberapa termin untuk mempersilahkan santri-santrinya bertanya.
Dan begitulah suasananya, para santri pasti menunduk takzim. Entah itu memang tidak ada yang perlu ditanyakan atau bagaimana, macam-macam alasan yang membuat mereka hanya menunduk takzim tak berani menatap mata Kiai Kandar.
Kiai Kandar pun masih menunggu. Sembari mengusap-usap kaca mata yang sudah usang itu dengan kain sorban yang dikalungi beliau.
Ketika Kiai Kandar ingin menyudahi pengajian di pagi buta itu, tiba-tiba di bagian pojok pintu, ada salah seorang santri yang mengacungkan tangannya. Kiai Kandar pun mempersilahkan seorang santri tersebut, tapi santri tersebut tidak langsung bertanya, malah clingak-clinguk tidak jelas. Ini membuat Kiai Kandar berucap,
“siapa tadi yang mengangkat tangan? Monggo, Nak, kalau mau bertanya.”
Adalah Kadir, seorang santri yang memang terkenal dengan ke-nyeleneh-annya tersebut.
“Anu, Yi. Terose Njenengan, orang yang sering memberi atau bersedekah itu rejekinya akan dilapangkan oleh Gusti Allah, lah kalau orangnya tidak punya apa-apa bahkan senyum pun sulit, lantas apa yang harus disedekahkan, Yi? Sedangkan kulo, nggeh, tidak mau kalah dengan filantropi-filantropi yang kebetulan diberi rejeki berlebih dari Gusti Allah.” Ujar Kadir dengan nada yang naik – turun, tentunya Kadir ingin menjaga kesopanannya agar tidak bertanya, dan mungkin menunggu barokah Kiai Kandar agar pertanyaannya tersebut bisa terjawab dengan sendirinya, namun Kadir sudah terlanjur ngacung, yang aslinya itu akibat kejailan teman santrinya, katanya baju di ketiak Kadir bolong, sehingga Kadir mau tak mau harus memeriksanya, dan tangan pun terangkat.
Kiai Kandar menarik napas, dengan tatapan yang tajam namun sejuk, beliau merangkai kata-kata yang tepat dan mudah dimengerti untuk menjawab pertanyaan tersebut.
“Kowe, Nak Kadir, insya Allah sudah menjadi bagian dari hal itu, meskipun kamu suatu saat tidak punya apa-apa dan bahkan tersenyum pun sulit.” Jawab Kiai Kandar, “begini,”
“kenyataannya, memang jika tidak punya harta sepeser pun memang sulit untuk memberi, bahkan apalagi jika harus dipaksa untuk tersenyum. Tapi kalian tahu tidak, bahwa kita hidup, itu bukan hanya menjalin hubungan horizontal antar manusia, namun vertikalnya pun tetap tidak boleh kita lupakan.
Rukun Islam sendiri, adalah salah satu desain ibadah dari Gusti Allah yang memang memaksa kita untuk masuk surga. Gusti Allah memang begitu, tidak mau manusia kesayangan-Nya seperti kita ini masuk ke dalam neraka-Nya. Maka dari itu, setelah kita mengenal Islam, tepatnya setelah guru-guru kita di madrasah diniyah mengenalkan kita dengan rukun Islam, itu Gusti Allah sudah menyajikan teken kontrak ke makhluk-Nya ---yang disebut manusia--- ini agar mau tidak mau masuk harus masuk ke surga.
Loh, kok bisa? Begini.
Sebenarnya, rukun Islam tersebut, disamping menjadi bagian dari tubuhnya sendiri, rukun Islam ternyata adalah ibadah pengorbanan yang benar-benar hebat dan dahsyat.
Rukun Islam sudah di desain oleh Allah sebagai ibadah pengorbanan, dimana jika kita eja satu persatu, adalah syahadat, sholat, puasa, zakat, dan yang terakhir adalah haji. Lalu dari mana segi pengorbanannya?
Syahadat, jika untuk orang-orang yang belum mendapat hidayah dari Yang Maha Memberi Hidayah, adalah sesuatu yang sulitnya minta ampun untuk diucapkan. Coba tanya ke seseorang yang ---dalam Islam sekarang--- disebut kafir, beranikah mereka mengucapkan dua kalimat syahadat? Kalau mereka berani, yah, namanya bukan kafir, dong? Inilah bentuk dimana kita harus berkorban mati-matian untuk hanya mengucapkan dua kalimat syahadat. Kita yang sudah muslim sejak dilahirkan mungkin tidak terlalu berkorban untuk mengucapkan sumpah dan ikrar ini, namun bagi mereka yang baru saja mengenal tentang Islam, ini akan menjadi pengorbanan terbesar mereka, mereka akan ---mungkin--- dimusuhi keluarganya, saudaranya, temannya, bahkan Tuhannya sendiri jika mereka berani mengucapkan kalimat sakral ini.
Sholat, ini adalah ibadah pengorbanan kedua yang tidak akan ada artinya jika pengorbanan yang pertama tidak dilakukan. Karena syarat sah sholat adalah harus mengakui dulu, dimana di kedua kalimat syahadat tersebut sudah lengkap, tentang term and conditions-nya untuk melakukan sholat. Sholat sendiri, untuk orang yang sudah melakukan pengorbanan yang pertama akan merasa sangat berat. Bagaimana tidak berat, kita harus membunuh waktu-waktu kita hanya untuk laporan lima kali sehari untuk Allah. Tentu dengan term and conditions yang berbeda. Kita dituntut untuk wajib dan akan dikenakan sanksi jika tidak mengerjakan sholat lima waktu, dan ini, apalagi untuk orang yang non-muslim, bagi muslim sendiri pun ini sebuah pengorbanan yang berat.
Begitu pun dengan puasa, zakat, dan haji.
Rukun Islam adalah sebuah tatanan ibadah yang sudah didesain khusus oleh Gusti Allah seperti kita naik tangga. Kita akan jatuh jika langsung melangkah ke anak tangga yang kedua tanpa naik dulu ke anak tangga yang pertama. Jika menemukan rukun Islam adalah lebih besar lagi dari tangga, jawabannya adalah gedung. Bagaimana kita naik ke gedung kedua jika tidak melewati gedung yang pertama?
Memang kita tidak akan capek jika naik eskalator atau lift, tapi itu hanya membuat kita menjadi hamba yang amatiran, yang akan mudah sakit. Analoginya, anak tangga tersebut adalah sebuah sarana dimana kita harus berkeringat, jika hidup ini tanpa mengeluarkan keringat, lalu bagaimana kita akan sehat?
Rukun Islam pun demikian. Kita tidak bisa naik lift untuk menuju tingkatan puasa tanpa harus menjalani syahadat dan sholat, kita akan lebih sakit lagi jika kita sudah berada di tingkatan haji tapi tidak pernah melakukan syahadat, sholat, puasa, dan zakat. Itulah mengapa, kita seperti sudah dipaksa oleh Allah untuk menghuni surga-Nya.
Tapi, seperti olahraga tadi, jika kita menjalaninya dengan hati yang tulus, kita tidak akan merasakan apa itu yang namanya capek.
Nah, itulah, Nak Kadir, jadi kalau kamu tidak punya apa-apa sekalipun, kamu akan tetap dimuliakan oleh Gusti Allah dan dimasukkan surga jika sudah menjalaninya dengan niat yang benar-benar tulus. Toh, berangkat ke tanah suci Mekkah itu hanya sebuah formalitas sendiri dari Gusti Allah, selain juga itu memang sebagai rukun Islam, di sana juga ada puncak dari segala rukun Islam, yakni langsung berhubungan langsung dengan Gusti Allah, dan itu bukan sebuah tingkatan yang main-main, tanpa ditunjang pengorbanan dengan rukun Islam yang lainnya, itu akan membuat kita hanya menjadi seorang yang sakit, hamba yang amatiran. Namun, jika kita tidak punya kekuatan untuk ke sana, toh masih ada opsi lain untuk menebusnya. Toh, sebenarnya muslim sendiri itu adalah gudangnya filantropi, tapi muslim sendiri lah yang kurang tahu akan itu. Tuhan itu Maha Memudahkan, sedangkan manusianya sendirilah yang menyulitkan.”
Suasana di ruang pengajian tersebut lengang. Semua santri takzim mendengarkan apa yang baru saja diterangkan oleh Kiai Kandar. Kadir pun mengangguk, tanda dirinya sudah mafhum.
“Lantas, Yi, nopo Njenengan, nggeh, sampun ikhlas untuk menjalankan semua rukun Islam itu?” tanya Kadir lancang, dan ini benar-benar lancang.
Seisi ruangan, mata para santri tajam menyelidik Kadir yang duduknya di pojokan sendiri. Kiai Kandar pun demikian, beliau memandangnya tajam ---namun menyejukkan---.
“Ngapunten, Yi, kulo mboten niat lancang, kulo hanya ingin tahu sebagai manusia yang kapasitasnya masih belum tahu cenderung bodoh. Ampun, Yi,” Kadir langsung meralat pertanyaannya tersebut. Tapi santri-santri lainnya masih menyelidik dia, Kadir pun menjadi salah tingkah, matanya nanar, seperti ingin menumpahkan segala kelancangan dan dosa yang baru saja dia perbuat.
Kiai Kandar diam.
“Ndak apa-apa, Nak Kadir. Memang benar pertanyaanmu, tidak ada yang salah. Saya sendiri masih belajar menjadi orang yang ikhlas, makanya dengan adanya Nak Kadir, itu berarti Allah juga sedang menguji seberapa ikhlasnya diriku menyampaikan ilmu-Nya,” jawab Kiai Kandar, menyejukkan sekali.
Semua santri redup, semuanya seperti terhipnotis perkataan Kiai Kandar tersebut.
Kiai Kandar pun menutup pengajian tersebut, “Wassalamu’alaikum Wr. Wb.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terima kasih sudah mampir. Perlu penegasan, bahwa apapun yang tertulis di sini adalah pengolahan kata dan pengembangan pemikiran dari saya pribadi.
Jangan lupa sandalnya dibawa.