Hai, Wanitaku yang tercinta
Maaf jika priamu ini sedikit kurang ajar
Memutar-mutarkan hatimu padahal bukan gasing
Membolak-balikkan ragamu padahal bukan tempe
Maaf jika priamu ini sedikit kurang ajar
Memutar-mutarkan hatimu padahal bukan gasing
Membolak-balikkan ragamu padahal bukan tempe
Menarik-ulurkan perasaanmu padahal bukan lelayangan
Menarik-ulurkan jiwamu padahal bukan pedal
Hai, Wanitaku yang teramat kusayang
Mau sekencang apa kau harus menamparku
Perlukah gadha untuk membuatku kapok?
Aku sediakan semua untukmu
Teruntuk kau puas menghukumku
Hai, Wanitaku yang teramat istimewa
Seistimewa apakah Yogya untuk banyak orang?
Semanis apakah gudeg untuk takaran gula?
Mungkin mereka tak pernah mengenalmu
Sehingga hanya sebatas Yogya keistimewaannya
Mungkin mereka tak pernah sejenak lebih lama memandangmu
Sehingga gula-lah yang termanis bagi mereka
Kau, Sayangku . . .
Harusnya kau yang teristimewa di dunia ini
Sama seperti di duniaku
Dunia kita
Yogyakarta, 22 Agustus 2014.
Menarik-ulurkan jiwamu padahal bukan pedal
Hai, Wanitaku yang teramat kusayang
Mau sekencang apa kau harus menamparku
Perlukah gadha untuk membuatku kapok?
Aku sediakan semua untukmu
Teruntuk kau puas menghukumku
Hai, Wanitaku yang teramat istimewa
Seistimewa apakah Yogya untuk banyak orang?
Semanis apakah gudeg untuk takaran gula?
Mungkin mereka tak pernah mengenalmu
Sehingga hanya sebatas Yogya keistimewaannya
Mungkin mereka tak pernah sejenak lebih lama memandangmu
Sehingga gula-lah yang termanis bagi mereka
Kau, Sayangku . . .
Harusnya kau yang teristimewa di dunia ini
Sama seperti di duniaku
Dunia kita
Yogyakarta, 22 Agustus 2014.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terima kasih sudah mampir. Perlu penegasan, bahwa apapun yang tertulis di sini adalah pengolahan kata dan pengembangan pemikiran dari saya pribadi.
Jangan lupa sandalnya dibawa.