Seyogyanya Yogya (2)

Seyogyanya Yogya (2)
Assalamu'alaikum, Yogyakarta

Bagaimana malammu hari ini? Maaf, aku lebih suka menyapamu dengan sebutan 'malam', karena kau tak pernah tidur, bahkan rembulanmu kau gadaikan hanya untuk menyambut para pencintamu membunuh sepi di setiap sudut jarinya. Malam ini aku mau sedikit meminjam riuhnya alun-alun Yogya untuk selembar folioku. Kau tahu kan besok aku sedang apa?

Yogya, di sudut mana aku harus menyendiri? Biar aku lebih leluasa untuk memcumbu pulpen dan bercinta dengan selembar folioku? Aku tak bisa konsentrasi jika riuhmu terus berdendang curang di tepian telingaku. Apa kau tahu? Aku lupa beli cutton bad untuk sepekan ini. Telingaku bersih, cuma aku ingin sedikit memanfaatkan sedikit kapas di anusnya untuk membungkam telingaku. Malam ini hanya untukku, pulpenku, dan folio berrendaku.


Sudahlah kawan, jangan main-main denganku hanya untuk malam ini. Aku lebih sibuk dibanding ayam yang setiap hari bangunkan lewat kokokan merdunya. Tapi sayang, dia selalu telat untuk menuntunku dalam aliran kalbu kehidupan rohaniyah. Aku besok, aku sedikit larut untuk malam ini. Jika cumbuanku dengan kasih semalamku selesai, aku bangunkan dia, air Yogyakarta sedikit dingin untuk ayam yang sedikit telat bangun pagi.


Wassalamu'alaikum, Yogyakarta

Yogyakarta, 1 September 2014.

Misbahul Munir

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah mampir. Perlu penegasan, bahwa apapun yang tertulis di sini adalah pengolahan kata dan pengembangan pemikiran dari saya pribadi.

Jangan lupa sandalnya dibawa.