Sesapaan Larut

Sesapaan Larut ~ LiiLa on Vector Pop Art
Pagi
Ia masih tidur
Jangan ganggu dia
Dia masih menyiapkan sinarnya untuk aku dan mereka

Siang
Apalagi dia
Jangan ingatkan aku tentang namanya
Dia selalu menjadi tempat di mana otot-ototku meregang
Aku sebal, kesal, dan pegal karenanya

Senja
Aku selalu membawanya dalam lempitan dompet kulit
Selalu ku selipkan sinar-sinarnya dalam lempitan dompet lainnya
Potretnya menjadi peraga kasihku, Kasih

Malam
Siapa itu?
Bukankah waktu yang aku usir tempo lalu?
Yang menanda gulitanya bumi dengan selimutnya

Lalu apa?
Pertanyaan yang bagus
Aku berada dalam sekat antara malam dan pagi
Fajar masih membumbui dirinya untuk terasa nikmat jika di sanjung insan

Tungg dulu!
Sepertinya ada yang kurang?

Oh, iya! Kekasih!

Kasih?
Apa kau masih hanyut dalam lautan sebal?
Apa kau masih mendenyutkan nadi kesal?
Maaf aku tak mengadu ketika aku akan berangkat
Aku hanya ingin sedikit memanjakan mataku yang semakin penat dengan angka-angka dewa
Aku hanya merenggangkan otot-otot yang, kau tahu sendiri, bukan?

Aku menyambut fajar di ujung purbakala, Kasih
Aku masih menanti, menanti, dan menanti
Kapan aku yang pertama kali menyambut fajarmu terbit dari pelupuk matamu

Gunung Purba, 01:10 12 Oktober 2014.

Misbahul Munir

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah mampir. Perlu penegasan, bahwa apapun yang tertulis di sini adalah pengolahan kata dan pengembangan pemikiran dari saya pribadi.

Jangan lupa sandalnya dibawa.