Semalam di Malang

Malam memang indah
Dengan awan yang hitam memutih
Dengan bintang yang bergelantungan
Dan bulan hanya melihat tingkah mereka dengan tersenyum, riang

Perawan-perawan desa sudah masuk kamar dan mengunci pintunya
Tak seperti gadis kota yang masih tebal dengan make-upnya

Ah entah kemana para mama saat di kota
Apa mungkin sibuk mencari daun muda?
Ah sama saja dengan para papa yang izin kerja
Tapi belok ke mucikari ternama

Hanya anak desa yang jam ini sudah memeluk guling
Bahkan ada yang sudah tidur sambil nungging
Sementara yang rajin masih sibuk mencuci piring
Dan bunga desa masih bersolek di depan cermin

Malamku yang indah
Cuma di kota aku bisa nikmati paha KW Luna Maya
Yang terpampang indah di tepian jalan kota
Dengan sedikit siul
'Ah, Abang genit', tawa kecil dengan jawabnya

Sementara di desa
Aku lihat anak meriah membunuh waktu
Dengan sibuk mereka tunjuk ini - itu
Dan berteriak sembari melempar gundu

Pelampiasan rindu memang sulit jika semalam ini
Cuma angin yang menari-nari
Burung pun hanya terbang sana - sini
Jangkrik berbunyi nyaring sekali
Dan aku hanya berdiam menatap mereka, iri hati

Ah malam
Entah siapa yang lebih murah
Paha ayam atau wanita kota
Entah siapa yang lebih ramah
Rhoma Irama atau gadis desa
Entahlah

Malang, 16 Juni 2014.

Misbahul Munir

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah mampir. Perlu penegasan, bahwa apapun yang tertulis di sini adalah pengolahan kata dan pengembangan pemikiran dari saya pribadi.

Jangan lupa sandalnya dibawa.