Selaksa Kasih

Selaksa Kasih ~ Nur Kholilatul Fahmi on WPAP
Aku ingin seperti embun yang menyapa pagi
Aku ingin seperti kumbang yang mencium kembang
Aku ingin seperti benalu yang memeluk pohon
Pun dengan doamu yang selalu menggiring Tuhan
­­
Aku ingin seperti Tuhanmu yang pengertian
Aku ingin seperti Tuhanmu yang menebar kebaikan
Aku ingin seperti Tuhanmu yang dewasa
Pun dengan Tuhanmu yang selalu bercanda

Aku ingin menjelajah seperti Hanum dan Rangga
Aku ingin seperti Burno dengan kau seperti Mei
Aku ingin menjagamu seperti Gabriel bersama Bianca
Pun dengan tokoh-tokoh novel favorit yang begitumenyejukkan

Aku ingin seperti Adam yang selalu memikirkan Hawa
Aku ingin seperti Ibrahim yang bahagia bersama Zainab
Aku ingin seperti Muhammad yang selalu menyanjung Aisyah
Tapi apalah aku? Bersyukur pun aku tak mampu

Aku ingin seperti Soekarno yang abadi bersama Fatmawati
Aku ingin seperti Soeharto yang selalu tersenyum bersamaTitiek
Aku ingin seperti Habibie yang kekal dengan cinta Ainun
Aku ingin seperti Gus Dur yang tak pernah gusar bersamaSinta Nuria
Aku ingin seperti Pak Beye yang tak pernah tersungkurkarena Ani
Tapi apalah aku? Karisma pun aku tak ada

Siapa yang tak iri dengan ketegaran cinta Romeo danJuliet
Siapa yang tak ingin dengan berkorban seperti Jack untukRose
Siapa yang tak cemburu melihat keteguhan Qais dan Laila
Tapi apalah aku? Memandangmu pun aku sengsara

Aku selalu terpecundangi oleh puisiku sendiri
Menatap cermin tempampang ke-melankolisan-ku
Menyercap termin dengan segala ke-asaan-ku
Tapi tak pernah kaki ini sedikit saja menjangkau untuk mendekatimu

Aku selalu terbodohkan oleh syairku sendiri
Merangkai kata-kata menyambung sajak
Merangkul makna-makna meninggal jejak
Tapi tak pernah bisa sekata pun yang bisa menjembatanikakiku dengan kakimu

Aku selalu dipermalukan laguku sendiri
Kutipan-kutipan kata dari penyair tembang
Dan aku lagukan dengan nada sumbang
Tanpa bisa aku mengisyaratkan betapa sarat isikerinduannya terhadapmu

Ketahuilah, Kasih
Betapa aku harus menuangkan rinduku ke sekian cangkirkopi
Memikirkan perasaanmu dalam balutan puisi
Mencubit mesra pipimu lewat khayalan basi
Itu sakit dari sang empunya sakit

Ketahuilah, Kasih
Bagaimana aku menghitung volume rindu ini
Sampai hatiku karam tanpa sekat
Membuncah lewat tangan yang membentuk sajak
Itu seperti menambahkan derita dengan luka
Mencampur duka dengan duka
Menghirup siksa dengan siksa
Menabur paku dalam sembilu
Memasak pedih sampai mendidih
Mencampur nanah dalam bencana
Meminum darah dengan cuka

Amat sayang jika luka ini tanpa kapas
Mengharuskan lukaku terdesir oleh beberapa kalimat wanitalain
Aku masih merabai senyawa itu dalam wajahmu
Tapi kau malah membisu
Entah dari mana lagi aku harus merogoh benda itu
Menutupi sesuatu yang semakin melebar karena rindu

Satu tahun sangat singkat jika semuanya nikmat
Satu tahun sangat lama jika semuanya sengsara
Entah harus aku tutupi dengan apa wajahku ini
Yang selalu tega menggoreskan kaca tepat di engkau punyamata
Sembilu kurasakan saat semua terjadi
Pahit terciptakan saat semua ku sesali

Aku masih sibuk membangun bahteraku sendiri
Hanya untuk merancang wadah yang tepat untuk buncahanrindu yang kian membesar
Meringkas sembilu menjadi ramu
Mencipta ramu tanpa batas semu
Meminum itu untuk jarak yang berwaktu
Dan menahan itu sampai waktu tak berlaku

Satu tahun tak pernah mudah untuk tetap bahagia
Bahkan harus ada neraka jika ingin kekal di surga
Bahkan harus ada garam untuk menikmati sesuap sup
Bahkan harus ada pahit untuk mencicip nikmatnya kopi

Yogyakarta, 5 November 2014.

Misbahul Munir

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah mampir. Perlu penegasan, bahwa apapun yang tertulis di sini adalah pengolahan kata dan pengembangan pemikiran dari saya pribadi.

Jangan lupa sandalnya dibawa.