Ketika semua telah memelukku dengan ujung belatinya
Aku tak tahu lagi apa yg harus kuperbuat
Tolong bunuh saja aku dengan pisau rindumu
Memori-memori yang bersajak racun kian hari semakin menyatu di antara darah-darah merahku
Bahkan ketergantunganku memandangi potret dirimu tak lagi menjadi tabu untuk diumbar di khalayak ramai
Bahkan setiap hari, aku selalu menyandang cacat cinta yang semua orang tahu, kaulah yang mencacatinya
Kau yang angkuh dengan hatiku
Sekali lagi, Wahai kau yang angkuh dengan hatiku
Jangan sekali-kali kau mainkan hatiku seperti lego
Permainan anak-anak yang setelah selesai mereka menelantarkannya
Tolong rawat hatiku, kau
Jika kau tak pernah punya rencana sedemikian
Lenyapkan saja
Remas sampai semuanya hancur
Robek seperlunya dengan pisau cintamu
Lumuri dengan rindu-rindumu yang kian menjadi racun yang semakin hari semakin meradang
But, if you have this plan
Terserah kau mau apakan
Apakah itu kau membuatnya seperti pangeran
Atau raja yang selalu kau patuhi
Atau hanya budak pesonamu yang tak pernah sekali kau palingkan rautmu ke hadapanku
Sesuka hatimu
Hatiku sudah kau genggam saat ini
Aku tak lagi menjadi pemilik penuh
Bahkan disana lebih banyak terserat namamu dibanding aku, aku yang memilikinya
Wahai kau yang menjadi penakluk hidupku
Cukup aku yang perlu kau taklukkan
Cukup aku yang merasakan seberapa hangat kecup rindumu
Cukup aku yang menahan kasmaran seperti meminum obat
Tak perlu mereka untuk merasakan ini
Aku sudah muak dengan buaian cintamu yang kian lama semakin manis
Aku peringatkan kau!
Wahai kau yang bersenyum manis
Cukuplah kau melukai hidupku dengan senyummu
Senyum yang bahkan hanya bisa terlena dari kejauhan
Jangan sekali-kali memaksaku untuk memakan habis senyummu dengan egoku yang sama sekali telah terjual olehmu
Kau sungguh tega, kau
Tak pernah membiarkan hidupku merdeka dari kecemburuan kala mereka bersamamu
Kau amat tega, sekali lagi amat tega
Bahkan hanya namamu yang sengaja kau dikte dalam setiap potong memoriku
Otak ini jika kau ingin melihatnya sekali lagi?
Penuh dengan namamu yang sebegitu indahnya
Kau selalu menggodaku untuk tak berhenti menuliskan namamu di sini
Kau lihat kaki ini? Tangan? Tubuhku?
Asalkan kau tahu, kau
Ingatkah kau saat kau oleskan sekelumat namamu dan harapan kita agar selalu ku bawa kemana saja?
Semua itu masih tersimpan dalam sum-sum ini
Kecintaan kita indah, kau
Tapi jarak yang merantaikan
Dan hanya rindu yang menyiksa yang menggumpal sekian banyaknya dan tak pernah tersampaikan
Ah entahlah
Kau memang perinduku, kau
Lamongan, 22 Maret 2013.
Aku tak tahu lagi apa yg harus kuperbuat
Tolong bunuh saja aku dengan pisau rindumu
Memori-memori yang bersajak racun kian hari semakin menyatu di antara darah-darah merahku
Bahkan ketergantunganku memandangi potret dirimu tak lagi menjadi tabu untuk diumbar di khalayak ramai
Bahkan setiap hari, aku selalu menyandang cacat cinta yang semua orang tahu, kaulah yang mencacatinya
Kau yang angkuh dengan hatiku
Sekali lagi, Wahai kau yang angkuh dengan hatiku
Jangan sekali-kali kau mainkan hatiku seperti lego
Permainan anak-anak yang setelah selesai mereka menelantarkannya
Tolong rawat hatiku, kau
Jika kau tak pernah punya rencana sedemikian
Lenyapkan saja
Remas sampai semuanya hancur
Robek seperlunya dengan pisau cintamu
Lumuri dengan rindu-rindumu yang kian menjadi racun yang semakin hari semakin meradang
But, if you have this plan
Terserah kau mau apakan
Apakah itu kau membuatnya seperti pangeran
Atau raja yang selalu kau patuhi
Atau hanya budak pesonamu yang tak pernah sekali kau palingkan rautmu ke hadapanku
Sesuka hatimu
Hatiku sudah kau genggam saat ini
Aku tak lagi menjadi pemilik penuh
Bahkan disana lebih banyak terserat namamu dibanding aku, aku yang memilikinya
Wahai kau yang menjadi penakluk hidupku
Cukup aku yang perlu kau taklukkan
Cukup aku yang merasakan seberapa hangat kecup rindumu
Cukup aku yang menahan kasmaran seperti meminum obat
Tak perlu mereka untuk merasakan ini
Aku sudah muak dengan buaian cintamu yang kian lama semakin manis
Aku peringatkan kau!
Wahai kau yang bersenyum manis
Cukuplah kau melukai hidupku dengan senyummu
Senyum yang bahkan hanya bisa terlena dari kejauhan
Jangan sekali-kali memaksaku untuk memakan habis senyummu dengan egoku yang sama sekali telah terjual olehmu
Kau sungguh tega, kau
Tak pernah membiarkan hidupku merdeka dari kecemburuan kala mereka bersamamu
Kau amat tega, sekali lagi amat tega
Bahkan hanya namamu yang sengaja kau dikte dalam setiap potong memoriku
Otak ini jika kau ingin melihatnya sekali lagi?
Penuh dengan namamu yang sebegitu indahnya
Kau selalu menggodaku untuk tak berhenti menuliskan namamu di sini
Kau lihat kaki ini? Tangan? Tubuhku?
Asalkan kau tahu, kau
Ingatkah kau saat kau oleskan sekelumat namamu dan harapan kita agar selalu ku bawa kemana saja?
Semua itu masih tersimpan dalam sum-sum ini
Kecintaan kita indah, kau
Tapi jarak yang merantaikan
Dan hanya rindu yang menyiksa yang menggumpal sekian banyaknya dan tak pernah tersampaikan
Ah entahlah
Kau memang perinduku, kau
Lamongan, 22 Maret 2013.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terima kasih sudah mampir. Perlu penegasan, bahwa apapun yang tertulis di sini adalah pengolahan kata dan pengembangan pemikiran dari saya pribadi.
Jangan lupa sandalnya dibawa.