Tumpukan pasir hanya diam tanpa kata
Batu kerikil adakan reuni kecil antara koloninya
Aspal yang mengering hanya diam menyaksikan dan membantu melekatkan mereka
Semuanya serasi
Tak seperti sepasang sejoli yang sedang memadu kasih
Jadwal hari ini sedikit lengang untuk mereka
Hanya ego yang menyibukkan isi kepala
Tangan bergerak kesana kemari mencari kapas yang masih bersih
Sengaja ingin menyumpal satu sama lain telinga mereka dari kedua sisi
Sementara bibir masih menyericit sampai membuat burung beo malu
Sesaat ketika mereka mereda
Hanya diam dan sepi yang berkuasa di negeri para pujangga
Tak setitik tinta yang tertuang di kertas bermodel digital ini
Hanya air yang sepertinya tak malu keluar masuk dari lubang bernama mata
Bahkan semakin deras ketika wajahnya bersarang indah di kelopak matanya
Apalagi saat nama itu berbisik indah di kedua telinganya
Ah
Ah
Kenapa batu kerikil tertimbun semen ini hanya diam tak bernyawa?
Sedangkan sekitar masih bermuara air kesucian seorang bujang yang melepas tangan antara jarak?
Seadilkah Tuhan menakdirkan setiap tetes air mata kesibukan ini?
Mengapa tak Kau ajarkan cara indah untuk berpisah tanpa adanya luka?
Tapi hanya Kau kenalkan sesungging senyum saat semua kembali ada?
Aku yakin takdir-Mu tak akan tertukar
Mungkin Kau tak ingin aku tak terlalu kadaluarsa di nantinya?
Atau
Mungkin Kau selalu memberikan hujan sebelum pelangi muncul di kemudian?
Aku menunggu pelangi itu di tumpukan batu Yogyakarta
Entah apa bentuk pelangi itu
Yang jelas . . .
Dia selalu indah tanpa adanya hujan yang menghapusnya
Lamongan, 10 Agustus 2014.
Batu kerikil adakan reuni kecil antara koloninya
Aspal yang mengering hanya diam menyaksikan dan membantu melekatkan mereka
Semuanya serasi
Tak seperti sepasang sejoli yang sedang memadu kasih
Jadwal hari ini sedikit lengang untuk mereka
Hanya ego yang menyibukkan isi kepala
Tangan bergerak kesana kemari mencari kapas yang masih bersih
Sengaja ingin menyumpal satu sama lain telinga mereka dari kedua sisi
Sementara bibir masih menyericit sampai membuat burung beo malu
Sesaat ketika mereka mereda
Hanya diam dan sepi yang berkuasa di negeri para pujangga
Tak setitik tinta yang tertuang di kertas bermodel digital ini
Hanya air yang sepertinya tak malu keluar masuk dari lubang bernama mata
Bahkan semakin deras ketika wajahnya bersarang indah di kelopak matanya
Apalagi saat nama itu berbisik indah di kedua telinganya
Ah
Ah
Kenapa batu kerikil tertimbun semen ini hanya diam tak bernyawa?
Sedangkan sekitar masih bermuara air kesucian seorang bujang yang melepas tangan antara jarak?
Seadilkah Tuhan menakdirkan setiap tetes air mata kesibukan ini?
Mengapa tak Kau ajarkan cara indah untuk berpisah tanpa adanya luka?
Tapi hanya Kau kenalkan sesungging senyum saat semua kembali ada?
Aku yakin takdir-Mu tak akan tertukar
Mungkin Kau tak ingin aku tak terlalu kadaluarsa di nantinya?
Atau
Mungkin Kau selalu memberikan hujan sebelum pelangi muncul di kemudian?
Aku menunggu pelangi itu di tumpukan batu Yogyakarta
Entah apa bentuk pelangi itu
Yang jelas . . .
Dia selalu indah tanpa adanya hujan yang menghapusnya
Lamongan, 10 Agustus 2014.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terima kasih sudah mampir. Perlu penegasan, bahwa apapun yang tertulis di sini adalah pengolahan kata dan pengembangan pemikiran dari saya pribadi.
Jangan lupa sandalnya dibawa.