Rindu, Mungkin Pantas

Rindu, Mungkin Pantas ~ LiiLa on WPAP

Masih sama seperti pepagi yang lalu

Di dalam gubuk ibadah ini
Di atas bumi istimewa ini
Di bawah langit cerah ini

Aku menyendiri bak ilalang tertiup angin
Yang terhempas jauh dari sang kawanan
Dan jatuh di rerumputan liar

Kasih,
Lelah memang jika rindu selalu meradang
Dan mata pun tak sanggup saling pandang
Pun hati yang selalu menangkap sinyal-sinyal semu dari Tuhan

Kasih,
Aku masih betah dengan potret wajahmu di tampilan utama visualisasiku
Bahkan beberapa yang ada layarnya selalu terisi senyum manismu
Aku tahu potretmu hanya diam tak akan bergerak
Atau pun hanya sekedar memendarkan suara yang membuatku kagum
Atau, ah, aku tahu jika potretmu hanya diam
Bahkan aku melaksa-laksa agar matamu bisa membalas pandanganku
Bibirmu bisa membalas sapaanku

Konyol, bukan?
Aku tahu juga itu konyol
Namun, ah, aku rindu, Kasih
Rindu sekali
Ah, bukan
Aku rindu berkali-kali sampai kali pun tak sanggup menampungnya
Kau tahu sungai-sungai yang mengalir panjang ke selatan?
Itu aku yang mengalirkannya dengan menyumbang rindu yang tak tersekat
Bahkan air pun kalah debit saat rinduku menyeruak keluar dan tumpah

Andai kau seperti Fathin yang selalu menggantikan suntikan energimu saat pagi
Seperti dulu, kau ingat, bukan?
Haha
Jangan terlalu berburuk sangka dulu
Fatin hanya sebuah potret besar yang mengisi tempat promosi Robbani di depan pertigaan sebelum aku belok ke kampus
Namun suntikannya pun tak sepertimu, Kasih
Kau ingat bukan saat wajah konyolmu yang memaksa aku untuk tersenyum saat lampau itu?
Iya, setiap pagi itu?
Ingat, bukan?
Kau harusnya selalu mengisi tugas itu
Setiap pagi dan sepagi mungkin saat kau bisa
Kau harusnya seperti tragedi minggu malam tepat di bawah atap rumahmu
Sepagi dan sesegera mungkin mengoyak kesadaranku
Kau harusnya, ah,
Atau mungkin aku yang seharusnya selalu berada dalam atap, lantai, tembok, dan bangunan yang sama?
Kau sudah tahu-menahu persoalan itu, Kasih
Aku tentunya tak perlu membahas sesuatu yang membuat waktu kita sia-sia
Padahal, sungguh waktu itu sangat tepat jika kita bersua
Bercanda dalam balutan kasih dan naungan cinta Tuhan
Tuhan kita, Tuhanmu dan aku yang selalu sama-sama kita sembah setiap waktunya

Kasih,
Tidak ada, aku hanya lebih hobi saja memanggil-manggilmu seperti itu
Seperti,
Tidak ada laksaan-laksaan yang cukup untuk melaksa itu saat ini
Hari ini minggu, Kasih
Dimana seharusnya kita berria-ria dan memesrakan suasana
Dimana seharusnya kita bertukar kabar di setiap waktunya

Yogyakarta, 07:13 19 Oktober 2014.

Misbahul Munir

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah mampir. Perlu penegasan, bahwa apapun yang tertulis di sini adalah pengolahan kata dan pengembangan pemikiran dari saya pribadi.

Jangan lupa sandalnya dibawa.