Masih sama seperti pepagi yang lalu
Di dalam gubuk ibadah ini
Di atas bumi istimewa ini
Di bawah langit cerah ini
Aku menyendiri bak ilalang tertiup angin
Yang terhempas jauh dari sang kawanan
Dan jatuh di rerumputan liar
Suying,
Entah kapan terakhir aku membunyikan lidah ini
Serasa kelu saat mengeja bait-bait manis yang tersingkap di setiap goresan wajahmu
Entah kapan terakhir aku membuka mata ini
Serasa perih saat mencoba menerawang sepotong potret yang tak kututupi itu memang wajahmu
Entah kapan terakhir kali telingaku memekak
Serasa sontak saat namamu terdengar padahal hanya bisikan angin
Entah kapan terakhir kali hidungku mengendus
Serasa kasar sekali padahal hanya wangi semalammu yang melekat hebat di jaketku
Aku lupa bagaimana hati ini tentram dengan pasangannya yang bersanding
Saat tangan ini tak mau melepas saat pasangannya menggenggam
Pun badan ini yang tak mau menjauh saat pasangannya menempel
Dan kaki ini yang sulit melangkah saat pasangannya menapak
Seperti halnya burung yang menyericit di pagi hari
Bak deburan ombak yang menggema setiap kali menabrak
Selaksa tetesan berkah yang menurun membasahi bumi di setiap mendung
Bagai decitan sepatu mobil yang langsung berkontak dengan aspal kejam
Sama sepertiku
Yang mendambakan darahku mengalir deras melewati serambi-serambi jantung yang mengatup
Suying,
Maaf aku telah mendurjanakanmu dengan sikap-sikapku yang tak pernah terpuji
Maaf juga telah membiarkanmu hidup dalam kesakitan saat mengingat aku
Maaf lagi telah membiadabkanmu saat kau menyapa bayangku
Aku punya beberapa pernyataan tentang maaf yang semuanya tentang kesalahan
Aku punya beberapa peraduan tentang ampun yang semuanya tentang kekhianatan
Aku punya beberapa permintaan tentang khilaf yang semuanya tentang keburukan
Dan mirisnya aku tak punya satu pun alasan tentang kebahagiaan untuk kau impikan
Pertama,
Maafkan aku yang sama sekali tak pernah mengerti tentang hatimu yang misteri
Kau selalu menanyakan kemana arah hatiku saat hatimu sedang ke kanan
Kau selalu menyalahkan kemana arah hatiku saat hatimu sedang ke kiri
Kedua,
Maafkan aku yang sama sekali tak pernah membuatmu tersenyum tulus
Aku tak bermaksud menukar senyummu dengan senyum wanita lain
Aku tak bermaksud mengganti senyumku dengan senyum lelaki lain
Ketiga,
Maafkan aku yang sama sekali tak pernah berada untuk mendekapmu
Aku tak bermaksud meninggalkanmu dalam tangan orang lain
Aku tak bermaksud menyediakan tanganku untuk mendekap orang lain
Keempat,
Maafkan aku yang sama sekali tak pernah membesarkan hatimu
Aku tak bermaksud mempunyai hati lain
Aku tak bermaksud menggembangkan senyum di hati orang lain
Kelima,
Maafkan aku yang tak pernah menyanjung dan meninggikanmu seperti dulu
Bukan karena aku punya junjungan lain
Bukan karena aku punya peninggi lain
Keenam,
Maaf,
Maaf karena mungkin puisi ini terlalu panjang
Tak seperti puisi pepagi lainnya yang hanya menampang di ambang jendela kamar
Tak seperti puisi pepagi lainnya yang meninggalkan bekas hitam di tiap sudut cangkir
Tak seperti puisi pepagi lainnya yang menggoyangkan penanya untuk bercumbu dengan kertas
Tak seperti puisi pepagi lainnya yang bercericit berisik burung gereja yang singgah di atas awan
Tak seperti puisi pepagi lainnya yang membentuk deburan air yang mengombak ke selatan
Tak seperti puisi pepagi lainnya yang menggiring anak domba ke lembah kehijauan
Ketujuh,
Aku tak lagi mengawalinya dengan rindu
Karena harusnya kau sudah muak dengan ke-rindu-an yang sedari memang telah meluap
Tentunya kau ingin cepat-cepat bersua dan menyulam ini menjadi temu
Seperti lagu yang kau kirimkan lewat penyentara elektronik tempo lalu
Aku tahu semuanya bisa mengucapkan rindu dengan lidah yang pongah
Tapi aku yakin dan tahu jika mereka hanya memerahkan bibir lawan jenisnya dengan sedikit rayuan
Tanpa ada kemerahan hati yang membuat lawan jenisnya tersipu karena kecupan temu
Ini tak seperti pepagi yang lalu, Suying
Malam sudah gagah di atas sana
Mempecundangi matahari yang terbirit menuju barat
Dengan kotoran merahnya yang masih menyercak di langit yang sama
Aku tahu temaram ini tak mempersulitkanmu untuk mengeja wajahku di jengkal kepekatan
Aku yakin matamu punya lentera tersendiri yang selalu menyala di wajah yang tepat
Aku yakin otakmu punya sensor tersendiri untuk mengingat semua yang perlu diingat
Aku yakin hatimu punya prosesor tersendiri yang selalu menghitung berapa yang kerap melintas
Aku yakin ragamu punya ruang tersendiri untuk memikirkan orang yang selalu memikirkanmu
Aku yakin kamu
Aku yakin kamu punya rasa tersendiri untuk menentukan bahwa semua yang ku yakin adalah aku
Yogyakarta, 24 November 2014.
Di dalam gubuk ibadah ini
Di atas bumi istimewa ini
Di bawah langit cerah ini
Aku menyendiri bak ilalang tertiup angin
Yang terhempas jauh dari sang kawanan
Dan jatuh di rerumputan liar
Suying,
Entah kapan terakhir aku membunyikan lidah ini
Serasa kelu saat mengeja bait-bait manis yang tersingkap di setiap goresan wajahmu
Entah kapan terakhir aku membuka mata ini
Serasa perih saat mencoba menerawang sepotong potret yang tak kututupi itu memang wajahmu
Entah kapan terakhir kali telingaku memekak
Serasa sontak saat namamu terdengar padahal hanya bisikan angin
Entah kapan terakhir kali hidungku mengendus
Serasa kasar sekali padahal hanya wangi semalammu yang melekat hebat di jaketku
Aku lupa bagaimana hati ini tentram dengan pasangannya yang bersanding
Saat tangan ini tak mau melepas saat pasangannya menggenggam
Pun badan ini yang tak mau menjauh saat pasangannya menempel
Dan kaki ini yang sulit melangkah saat pasangannya menapak
Seperti halnya burung yang menyericit di pagi hari
Bak deburan ombak yang menggema setiap kali menabrak
Selaksa tetesan berkah yang menurun membasahi bumi di setiap mendung
Bagai decitan sepatu mobil yang langsung berkontak dengan aspal kejam
Sama sepertiku
Yang mendambakan darahku mengalir deras melewati serambi-serambi jantung yang mengatup
Suying,
Maaf aku telah mendurjanakanmu dengan sikap-sikapku yang tak pernah terpuji
Maaf juga telah membiarkanmu hidup dalam kesakitan saat mengingat aku
Maaf lagi telah membiadabkanmu saat kau menyapa bayangku
Aku punya beberapa pernyataan tentang maaf yang semuanya tentang kesalahan
Aku punya beberapa peraduan tentang ampun yang semuanya tentang kekhianatan
Aku punya beberapa permintaan tentang khilaf yang semuanya tentang keburukan
Dan mirisnya aku tak punya satu pun alasan tentang kebahagiaan untuk kau impikan
Pertama,
Maafkan aku yang sama sekali tak pernah mengerti tentang hatimu yang misteri
Kau selalu menanyakan kemana arah hatiku saat hatimu sedang ke kanan
Kau selalu menyalahkan kemana arah hatiku saat hatimu sedang ke kiri
Kedua,
Maafkan aku yang sama sekali tak pernah membuatmu tersenyum tulus
Aku tak bermaksud menukar senyummu dengan senyum wanita lain
Aku tak bermaksud mengganti senyumku dengan senyum lelaki lain
Ketiga,
Maafkan aku yang sama sekali tak pernah berada untuk mendekapmu
Aku tak bermaksud meninggalkanmu dalam tangan orang lain
Aku tak bermaksud menyediakan tanganku untuk mendekap orang lain
Keempat,
Maafkan aku yang sama sekali tak pernah membesarkan hatimu
Aku tak bermaksud mempunyai hati lain
Aku tak bermaksud menggembangkan senyum di hati orang lain
Kelima,
Maafkan aku yang tak pernah menyanjung dan meninggikanmu seperti dulu
Bukan karena aku punya junjungan lain
Bukan karena aku punya peninggi lain
Keenam,
Maaf,
Maaf karena mungkin puisi ini terlalu panjang
Tak seperti puisi pepagi lainnya yang hanya menampang di ambang jendela kamar
Tak seperti puisi pepagi lainnya yang meninggalkan bekas hitam di tiap sudut cangkir
Tak seperti puisi pepagi lainnya yang menggoyangkan penanya untuk bercumbu dengan kertas
Tak seperti puisi pepagi lainnya yang bercericit berisik burung gereja yang singgah di atas awan
Tak seperti puisi pepagi lainnya yang membentuk deburan air yang mengombak ke selatan
Tak seperti puisi pepagi lainnya yang menggiring anak domba ke lembah kehijauan
Ketujuh,
Aku tak lagi mengawalinya dengan rindu
Karena harusnya kau sudah muak dengan ke-rindu-an yang sedari memang telah meluap
Tentunya kau ingin cepat-cepat bersua dan menyulam ini menjadi temu
Seperti lagu yang kau kirimkan lewat penyentara elektronik tempo lalu
Aku tahu semuanya bisa mengucapkan rindu dengan lidah yang pongah
Tapi aku yakin dan tahu jika mereka hanya memerahkan bibir lawan jenisnya dengan sedikit rayuan
Tanpa ada kemerahan hati yang membuat lawan jenisnya tersipu karena kecupan temu
Ini tak seperti pepagi yang lalu, Suying
Malam sudah gagah di atas sana
Mempecundangi matahari yang terbirit menuju barat
Dengan kotoran merahnya yang masih menyercak di langit yang sama
Aku tahu temaram ini tak mempersulitkanmu untuk mengeja wajahku di jengkal kepekatan
Aku yakin matamu punya lentera tersendiri yang selalu menyala di wajah yang tepat
Aku yakin otakmu punya sensor tersendiri untuk mengingat semua yang perlu diingat
Aku yakin hatimu punya prosesor tersendiri yang selalu menghitung berapa yang kerap melintas
Aku yakin ragamu punya ruang tersendiri untuk memikirkan orang yang selalu memikirkanmu
Aku yakin kamu
Aku yakin kamu punya rasa tersendiri untuk menentukan bahwa semua yang ku yakin adalah aku
Yogyakarta, 24 November 2014.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terima kasih sudah mampir. Perlu penegasan, bahwa apapun yang tertulis di sini adalah pengolahan kata dan pengembangan pemikiran dari saya pribadi.
Jangan lupa sandalnya dibawa.