Menyenja Dengan Hujan

Masih di pukul empat
Ku dekati angin yang menyapa hadirku
Tak disambut banyak
Hanya sehembus angin yang selalu menyejahtera

Masih semestinya
Mentari memerah dari sisi barat
Harusnya bosan senormal aku menikmati waktu dan suasana yang sama
Namun selalu sama jawabku
'Betah'

Sepersekian detik menjauh dari angka 12
Cuma cenderung bosan dengan tatapan mata yang sama
Padahal aku tak pernah tahu dimana letak mata yang selalu aku pandang
Sementara dia tak pernah melemparkan sedikit senyum indahnya

Duh
Aku menamainya senja
Bagaimana aku menjamah indah di permukaan lembutmu?
Kau tak menjawab
Bahkan sepersekian tahun aku menanti mulutmu terbuka
Menyia aku dengan sisa sepersenggal nafasku

Jelaga masih diam menunggui di ujung kacamata
Tak pernah ku hapus dia adalah saksi penantian
Mungkin sesuatu bisa menghapusnya tanpa sentuhan tangan suciku

Dan . . .
Tik . . Tik . . Tik . .
Terimakasih, Tuhan
Jelagaku tengah musnah
Senjaku telah basah
Aku ingin berteduh
Menghangat dengan coklat mendidih di kuali mini

Lamongan, 11 Agustus 2014.

Misbahul Munir

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah mampir. Perlu penegasan, bahwa apapun yang tertulis di sini adalah pengolahan kata dan pengembangan pemikiran dari saya pribadi.

Jangan lupa sandalnya dibawa.