Kenapa Bahteraku Kandas

Masih ingat dengan Nur Kholilatul Fahmi (Ila)? Orang yang selalu mengisi berlaik-larik syair da puisiku? Beberapa bulan yang lalu, tepatnya Jum’at, 17 Juni 2015, di bawah naungan rembulan yg indah, aku memutuskan untuk mengakhiri hubunganku dengannya. Bukan tanpa alasan yang jelas. Itu sangat jelas sekali. Tapi kejelasan itu hanya untuk satu pihak. Yakni hanya dalam pihakku, Ila tak tahu sama sekali tentang alasan-alasan itu. Aku berpikir, dengan dianya tidak tahu, dia akan tenang untuk melepasku, karena mungkin dia akan berpikir bahwa aku sudah bosan, dan dia membosankan. Ini sangat lumrah untuk hubungan di usia remaja seperti ini. Tapi sebenarnya tidak itu alasanku. Ada beberapa alasan yang, mungkin bisa dibilang terlalu dewasa untuk terpikirkan oleh remaja sepertiku.

Dalam pemutusan hubungan itu, jujur, aku memang sangat egois. Bagaimana mungkin, dua hati yang dulunya pernah berjuang satu sama lain harus berpisah tanpa hati yang lainnya tahu? Apa yang bisa melebihi keegoisan menyoal ini? Aku memang sungguh gila dengan pemikiran yang menurutku labil dan dewasa menyampur jadi satu.
Theres no other way, then to say GoodBye
Baiklah. Alasanku sewaktu itu adalah, aku tidak percaya dengan kekuatan sebuah ‘cinta’ (meskipun sampai sekarang, aku tak pernah tahu lebih lengkap tentang kata itu).

Aku terlalu banyak makan pandangan orang-orang yang hanya menjalin hubungan murni dengan cinta. Dan pandanganku sewaktu itu, hubungan tersebut sering tidak berjalan dengan mulus. Pasti ada saja persoalan, dan salah satunya adalah keadaan materi yang kurang mumpuni.

Aku juga bingung, kenapa aku bisa berpikir sedewasa itu. Dan semunafik itu pula! Tapi bukan tanpa alasan pula. Kakakku sendiri yang membuktikannya. Dan aku menafsirkannya.

Dengan modal hanya seutas cinta, dia menjalin hubungan sampai ke puncak status tertinggi dalam percintaan. Pernikahan. Tanpa bekal (materi) yang cukup, dia (kakak) nekad untuk mempersunting istrinya. Dia pun mungkin sadar dengan keadaannya waktu itu, di usia yang sudah mumpuni dan umur berpacarannya yang sudah layak untuk diikat dalam tali pernikahan yang sah.

Saat tulisan ini aku tulis, hampir satu tahun usia pernikahannya, dan sekarang sudah dikaruniai anak laki-laki yang super tangguh.

Kembali lagi ke persoalan kakak yang menikah tanpa materi yang sah, di perjalanan awal pernikahannya, aku memang melihat cercah kebahagiaan yang tertoreh di wajah keduanya. Namanya juga pasangan yang baru saja menikah, tapi di belakang itu, aku berpikir, ibu selalu mengomentari tentang pernikahan kakak tersebut dengan dalih, “Ah, nikah itu gampang, tapi kalau belum punya kerja, masa’ mau bergantung terus dengan orang tua?”, pun jelasnya dengan bahasa yang begitu menyirat, dan alasan-alasan lain yang cukup membuat telingaku gatal. Keadannya sewaktu itu memang keluarga baru kakakku masih menumpang tinggal di rumah orang tua. Aku tidak mau jika suatu saat aku menikah, aku akan seperti itu. Setidaknya aku punya sumbangsih yang cukup baik jika harus berjuang hidup seatap bersama mertua pun orang tua. Dan kakakku sewaktu itu tidak punya! Dia pengangguran yang terhormat, artinya meskipun menganggur, tapi tidak seperti orang menganggur. Entah, kantongnya sendiri pun tak pernah kosong. Tapi aku tetap tidak mau jika harus menikah tanpa sumber penghasilan yang jelas. Aku mengambil kesimpulan, menikah butuh modal yang tak hanya cinta. Lalu aku mengaca dengan diriku sendiri, aku berpikir tentang studiku yang keteteran dan bahkan masih berantakan. Tentang biaya hidupku juga yang masih terlalu bergantung terhadap orang tua. Aku pesimis untuk bisa membuat Ila bahagia.

Selanjutnya tentang kehidupan sosial yang melanda aku dengan Ila. Tak bisa dipungkiri memang, meskipun kita berbeda kota, namun kita tetaplah orang desa. Dan asalkan kalian tahu, orang desa selalu punya penafsiran sendiri tentang ‘menikah yang tepat’, kebanyakan juga, orang desa selalu menikahkan anak perempuannya yang jika studinya sudah selesai. Dan ini yang menurutku sangat menyiksa!

Aku dengannya adalah pasangan yang tertanggal satu tahun lebih tua Ila daripada aku. Kami berdua kuliah, dan otomatis lulusnya pun lebih dulu Ila. Kalian tahu, kan? Ila memang aku jamin tak akan menagihku untuk segera menikahinya sewaktu dia lulus. Tapi sekali lagi, orang desa sangat memegang teguh kebiasaannya. Dan andai kata bapaknya menuntut aku untuk memberi kejelasan? Aku bisa bicara apa di posisiku saat itu yang belum lulus? Kembali lagi ke kakakku, dia cepat-cepat menikahi istrinya juga gegara alasan klasik yang seperti itu. Aku bisa apa jika itu terjadi? Dan itu sangat mengganggu hubungan yang usia wanitanya lebih tua.
Dan kami sempat bersama :)

Ada alasan memang daripada status sosial untuk pantas takut meneruskan hubunganku dengannya. Kembali lagi ke contoh kakakku sewaktu ingin menikahi istrinya. Aslinya dia belum siap, tentu dengan nafkah lahir yang sudah aku jelaskan di atas. Sewaktu pacaran, kakak selalu punya cerita tentang desakan keluarga pacarnya agar segera menikahinya. Memang gampang jika hanya urusan ijab dan qobul, tapi mentallah yang membuat itu semuanya berantakan. Saat kakak bermain di rumah pacarnya, sering sekali disuguhi dengan pertanyaan-pertanyaan tentang, “kapan nikah, Nak?”. Kakakku sempat bingung, bingung dan bingung. Dengan mental yang kunilai sangat lelaki pun masih bingung dengan pertanyaan bakal mertua yang seperti itu, apalagi aku yang sekarang pun masih mahasiswa, masih bocah yang baru saja menjenjang dewasa.

Dengan kata lain, aku menyimpulkan bahwa menjalin sebuah hubungan tidaklah sebuah main-main. Apalagi di usia mahasiswa yang harusnya hubungan sedikit lebih maju dan naik tingkat dibanding sewaktu SMA dulu. Aku sewaktu itu sempat berpikir bahwa aku tak akan lagi berhubungan yang menengah serius saat masih menjadi mahasiswa. Aku harus mapan dulu, dan cintaku akan semapan keadaanku. Tekadku sewaktu sangat kuat, dan terbilanglah Aku tak mau berpacaran. Dan apakah itu ngenes? Tidak, bahagia tak selalu dengan pacar, bahkan teman-teman seperjuanganku siap menggantikan peran pacar dalam membuatku bahagia. Lalu apa harus menjarak dengan mantan? Tidak, mantan tidak semenjijikkan itu. Dia juga manusia, yang pernah kita perjuangkan sampai akhirnya menyerah. Mau tidak mau, dia pernah bahagia bersama kita.

Aslinya masih banyak sekali alasan-alasan logis untuk menghentikan hubungan ini. Namun entahlah, aku bingung menuliskannya. Selamat malam.

Misbahul Munir

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah mampir. Perlu penegasan, bahwa apapun yang tertulis di sini adalah pengolahan kata dan pengembangan pemikiran dari saya pribadi.

Jangan lupa sandalnya dibawa.