Buku biru telah kotor
Bercak-bercak asa berteteran kemana pun
Pun sampulnya terkusam kerana waktu
Buku biru telah rusuh
Kesengsaraan tangan mengemban rindu
Tumpah sekali pun darah bertetes hitam
Mata berkeringat pun berlinang pilu
Buku biru telah ternoda
Rentetan titik bersemayam menjelma garis
Garis berkerumunan jadi huruf
Huruf mendahan jadi kata
Kata pun membunga kalimat-kalimat
Pun kalimat indah penuh resapan
Suka . . .
Duka . . .
Tawa . . .
Air mata . . .
Buku biru telah usang
Termakan waktu dalam detik menghitung temu
Tersurat kenangan indah berkali terulah
Tertambat matamu nan sayu kupandang bergiliran
Hilir-mudik rindu pun telah ku rindu
pun sampai kini masih layu ku menunggu
Buku biru mulai bersenandung
Hanya tetesan-tetesan kasmaran nan indah, berbaris-baris
Pun bak pasukan pengibar bendera tujuh belasan
Menawan anggun bak jejeran angsa di kolam kenangan
Titik kecil menambat elok di akhir kata
Ooh, sungguh senandung buku biru nan merdu
Buku biru membisu sekarang
Membuat gundah pujangga nista
Hanya termangu dalam satu titik
Coba harap cemas kekuatan sulap kan datang
Pun menerka apa yang terjadi
Menyulap usang buku biru menjelma sinar
Meng-abrakadabra-kan kotor buku biru mengindah
Meng-komatkamit-kan buku biru membuka sampulnya
Mengharap buku biru bersenandung
Mengarap pengaharapan yang semoga tak harap sia-sia
Lamongan, 08 Mei 2014.
Bercak-bercak asa berteteran kemana pun
Pun sampulnya terkusam kerana waktu
Buku biru telah rusuh
Kesengsaraan tangan mengemban rindu
Tumpah sekali pun darah bertetes hitam
Mata berkeringat pun berlinang pilu
Buku biru telah ternoda
Rentetan titik bersemayam menjelma garis
Garis berkerumunan jadi huruf
Huruf mendahan jadi kata
Kata pun membunga kalimat-kalimat
Pun kalimat indah penuh resapan
Suka . . .
Duka . . .
Tawa . . .
Air mata . . .
Buku biru telah usang
Termakan waktu dalam detik menghitung temu
Tersurat kenangan indah berkali terulah
Tertambat matamu nan sayu kupandang bergiliran
Hilir-mudik rindu pun telah ku rindu
pun sampai kini masih layu ku menunggu
Buku biru mulai bersenandung
Hanya tetesan-tetesan kasmaran nan indah, berbaris-baris
Pun bak pasukan pengibar bendera tujuh belasan
Menawan anggun bak jejeran angsa di kolam kenangan
Titik kecil menambat elok di akhir kata
Ooh, sungguh senandung buku biru nan merdu
Buku biru membisu sekarang
Membuat gundah pujangga nista
Hanya termangu dalam satu titik
Coba harap cemas kekuatan sulap kan datang
Pun menerka apa yang terjadi
Menyulap usang buku biru menjelma sinar
Meng-abrakadabra-kan kotor buku biru mengindah
Meng-komatkamit-kan buku biru membuka sampulnya
Mengharap buku biru bersenandung
Mengarap pengaharapan yang semoga tak harap sia-sia
Lamongan, 08 Mei 2014.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terima kasih sudah mampir. Perlu penegasan, bahwa apapun yang tertulis di sini adalah pengolahan kata dan pengembangan pemikiran dari saya pribadi.
Jangan lupa sandalnya dibawa.