Aku Masih Bangga Menjadi Indonesia ; Film



Entah sudah berapa lama saya berhenti menulis. Yang jelas, beberapa bulan terakhir ini, rasa-rasanya jemari sulit sekali digerakkan, dan masalah utamanya adalah kurangnya koordinasi antara hati, pikiran, dan tindakan. Sehingga semuanya akan terasa sulit jika ketiga hal tersebut tidak berjalan dan saling beriringan dengan baik.
Tidak menulis saja yang akan terganggu akibat dari ketidak teraturan proses koordinasi antara tiga hal tersebut. Melainkan mulai dari hal yang paling kecil seperti mandi, dan yang paling besar seperti mandiri.
Poster Battle of Surabaya
Kemarin malam, saya sudah geram dengan suasana hati dan pikiran yang sumpek. Mencari beberapa alasan kenapa saya harus tetap bangga menjadi Indonesia. Bukan hanya menjadi warganya saja, tidak rakyatnya saja, namun bagaimana agar saya tetap bangga menjadi Indonesia. Indonesianya, karena yang disebut Indonesia adalah kesatuan, bukan terpetak-petak menjadi atasan dan bawahan, dan pemimpin dan rakyat. Ada pun demikian, mungkin yang lebih tepat adalah ‘Negara’, bukan ‘Indonesia’nya.
Telinga saya juga sudah gatal, sejak mata terbuka, tertutup dan akhirnya terbuka kembali. Di sebuah stasiun televisi, akun media sosial, dan di mana saja, selalu membangga-banggakan tentang kekayaan baik dalam hal alam dan manusianya. Contohnya seperti mobil listrik yang ditolak kemudian lari ke negeri jiran, pulau yang baru terpedulikan setelah hampir lepas ke negeri jiran pula. Lantas kenapa tidak dari dulu, apa pun itu, kenapa tidak dari dulu kita jaga? Kenapa harus ada teguran dari luar?
Mungkin sedikit mempunyai korelasi dengan tulisan saya yang sebelumnya. Tentang mungkinkah akan lebih baik jika Indonesia ini lahir dari rahim pertiwi yang miskin. Kalian bisa menilainya sendiri, entah dari apa pun itu, baik dari rasa bersyukur sampai rasa berkufur.
Dalam tulisan kali ini, saya akan sedikit membelitkan kalian dalam ruang berpikir saya yang amburadul. Mengerucut dari itu, lebih tepatnya ke tindakan pemerintah, yang bisa dibilang ingkar dari ucapannya sendiri. Dalam kampanyenya di beberapa waktu yang lalu, dia selalu mengoar-koarkan bahwa akan lebih membatasi pegawai negara asing yang masuk ke tanah air. Namun buktinya? Kalian bisa lihat sendiri!
Tapi, apakah saya hanya bisa menyalahkan pemerintah? Tentunya tidak. Sangat munafik jika saya melakukan itu.
Beberapa waktu yang lalu, sebuah kampus swasta di Yogyakarta telah berhasil merilis film dengan kwalitas dunia, yang bahkan menarik hati Walt Disney. Ialah “Battle of Surabaya”, yang trailernya pun sudah mendapat penghargaan di kelas Internasional. Dengan grafis yang mumpuni, skenario yang menarik, dan sempat menggemparkan media mana pun di tanah air sebelum perilisannya ini tak mendapat sambutan yang hangat di khalayak ramai. Di dua puluh Agustus lalu, pihak MSV Picture telah secara resmi merilis film besutan anak bangsa itu. Namun apa reaksi dari masyarakat? Bahkan pihak MSV Picture sendiri mengaku sedikit kecewa dengan penjualan tiket yang didapatkan, sama sekali belum mencapai targer minimum penjualan.
Dan itu salah siapa? Sementara di luar sana, Walt Disney sangat mengapresiasi karya anak bangsa yang satu ini. Dan di negeri sendiri? Hampir tidak dihiraukan sekali.
Berbicara seperti ini pun bukan karena tanpa alasan. Kebetulan saya punya teman, yang sekarang dia sudah berhasil menjadi sarjana muda jurusan Ilmu Hukum di sebuah universitas negeri di Yogyakarta. Saya sempat bertanya, “Mas, tidak nonton Battle of Surabaya? Nonton yuk!”, dan kalian tahu apa jawabannya? “Ah, tidak ah, Bah, males nonton film Indonesia, mending nonton film animasi luar seperti Upin – Ipin.” Dan saya hanya bisa bilang. “WOW”. Bagaimana mungkin orang seperti ini bisa hidup di tanah yang bahkan dia buang kotoran pun di sini? Saya sempat beradu argumen dengannya, sempat pula membujuknya denegan beranggapan, dia akan mau. Tapi apa yang di dapat? Dia mahasiswa, hukum pula, harusnya tahu bagaimana cara menghargai karya anak bangsa, bangsanya sendiri. Lantas bagaimana dia bisa berkoar tentang, “Aku cinta Indonesia”? lalu bagaimana cara membuktikan kata-kata tersebut?
Baiklah, saya tidak terlalu munafik jika dalam urusan movie. Karena saya juga tidak begitu mengapresiasi karya anak bangsa dalam bidang per-film-an. Tapi jangan main tebang rata, bukan berarti saya tidak mengapresiasi semua film yang diproduksi oleh anak bangsa. Jika filmnya horor semi telanjang, yang di tiap scene-nya terdapat adegan ranjang, pamer paha dan dada, lantas apa yang mau dibanggakan? Jika dalam sebuah iklan salah satu produk berbicara, “Cintailah produk-produk Indonesia,” saya setuju, dan sangat setuju. Lantas apa dulu produknya? Kami tidak bodoh, pun saya tidak bodoh, jika saya belajar dan memulai mencintai seorang wanita, pun saya akan mencari wanita yang baik dari segi mana pun, jika hanya adegan ranjang berkedok horor, lantas siapa yang mencintai wanita tuna susila?
Ini tidak hanya dialami oleh Battle of Surabaya saja, dan masih banyak sekali film berkelas yang hanya menjadi bahan tungguan. Bukan menunggu mengantre tiket bioskop, namun menunggu file unduhannya di internet. Lantas bagaimana cara membuktikan omongan mereka, tentang “Aku cinta Indonesia?”
Saya melalui tulisan ini, mengajak pembaca agar sadar. Setidaknya mempunyai sifat pancasilais meskipun hanya menghargai sebuah film. Dan menyetop pembajakan terkhususnya film dalam negeri sendiri. Lantas bagaimana kita menghargai orang lain, bangsa lain, jika insan kreatif negeri sendiri saja masih tercampakkan haknya?
Lalu lagi. Lantas siapa yang salah jika tiket di bioskop mahal, tak terjangkau, dan lebih memilih untuk menunggu file unduhannya? Tentunya birokrasi, dan mengenai birokrasi, siapa lagi yang disalahkan kalau bukan pemerintah? Sudah banyak, dan tidak sedikit orang yang muak dengan birokrasi ini.
Kemudian, apa saya munafik sekali lagi? Semoga tidak. Setidaknya saya selalu antri dalam mendapatkan apa yang menjadi hak saya untuk dapatkan. Dan setidaknya, sumbangsih saya memang belum cukup untuk menjadikan negeri ini kaya berkat seorang saya. Namun, apapun yang kita lakukan, sekecil apa pun itu, bahkan jika hanya tidak menyerobot antrean, berhenti di belakang zebra cross, itu bisa mengubah hal yang besar seperti birokrasi. Dan perubahan itu tidak melulu langsung besar. Tidak ada! Rubahlah dari diri sendiri, membunuh rasa malas, memupuk kedisiplinan diri sendiri.
Dan poin dalam tulisan kali ini adalah, “Berbahagialah menjadi diri sendiri.”

Misbahul Munir

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah mampir. Perlu penegasan, bahwa apapun yang tertulis di sini adalah pengolahan kata dan pengembangan pemikiran dari saya pribadi.

Jangan lupa sandalnya dibawa.