Aku, Kamu, Dia, Mereka. Musnah!

Ketika tangan mulai menelungkup, tak lagi merekah
Dada mulai besar ke depan, tak lagi mengempis
Kepala tertonggak ke atas, tak lagi tertunduk
Kaki menapaki perut bumi dengan angkuh, tak lagi bersimpuh

Ketika tangan tak lagi memapar
Satu jemari menunjuk dengan arogannya
Tubuh tertopang kaki yang kuat
Padahal RENTA

Ketika jemari menyusup dengan ibunya
Lidah tak pernah berhenti mengecap
Bibir tak lagi pernah kering
Dan mata sipit menjadi juling

Ketika itu bumi
Bergoyang dengan perawakannya
Langit tumpah dengan airnya
Angin tak tahu apa yang dia lihat
Petir hanya berjalan tanpa arah
Laut tak kuat menopang isinya
Gunung berloncatan bak batita
Dunia rancu, tumpah

Ketika merah, biru, hijau jadi pita
Semuanya semu
Tak ada titik di antara mereka

Ketika mereka mulai resah
Tangan yang mulanya mengepal
Merekahlah ia
Mata yang mulanya juling
Menyusutlah ia
Jemari yang mulanya mengujung
Menyerahlah ia
Hati mulanya membatu
Melunaklah ia

Ketika semuanya telah lemah
Dunia mulai merekah
Suara angin tak terbantah
Langit tertutup, dan membuka
Tiada apalah arti kita

Lamongan, 24 Jan 2014.

Misbahul Munir

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah mampir. Perlu penegasan, bahwa apapun yang tertulis di sini adalah pengolahan kata dan pengembangan pemikiran dari saya pribadi.

Jangan lupa sandalnya dibawa.