Tertelan dari beberapa lapisan semesta
Ketika badan yang tak sengaja payah
Reruntuhan pepuingan jiwa yang nyata
Ketika hasta ini seketika goyah
Awak yang tak pernah tumbuh dari bawah
Terhempas ke palung lautan fana
Ketika jiwa tak percaya apa itu cinta
Tiba-tiba dia berada
Membawa apa yang tak pernah kupercaya
Menyandang apa yang tak pernah kuterka
Menyeret harap yang sama sekali tak ada
Dia adalah seorang wanita
Wanita yang lebih dari indah
Kumbang pun berfikir dia bunga
Tapi dia bukan bunga
Sesosok wanita berluhur mulia
Jiwanya yang begitu mempesona
Memaksaku, seorang yang nyata
Harus bermuram durja karenanya
Apakah dia benar-benar nyata?
Dia membawakan secawan madu
Menghiasinya dengan seringai nan merdu
Seketika mata ini beradu
Tuhan
Bidadari mana yang Engkau kirimkan?
Aku tak pernah memesan secuil surga
Malah engkau menurunkan sepetak surga
Tuhan
Demi Engkau dia adalah titik
Titik-titik yang menuntunku menjadi garis
Tuhan
Apa aku berhak memilikinya?
Bahkan aku tidak sekaya nabi Sulaiman
Tapi aku merasa kaya, milikinya
Tuhan
Berapa cuil Engkau titahkan kecantikan Aisyah kepadanya
Berapa tetes darah Maryam Kau alirkan padanya
Berapa titik keceriaan bayi Kau usapkan padanya
Seringai itu
Tangis itu
25 Januari yang lalu
Memori indah yang takkan layu
Lamongan, 26 Januari 2014.
Ketika badan yang tak sengaja payah
Reruntuhan pepuingan jiwa yang nyata
Ketika hasta ini seketika goyah
Awak yang tak pernah tumbuh dari bawah
Terhempas ke palung lautan fana
Ketika jiwa tak percaya apa itu cinta
Tiba-tiba dia berada
Membawa apa yang tak pernah kupercaya
Menyandang apa yang tak pernah kuterka
Menyeret harap yang sama sekali tak ada
Dia adalah seorang wanita
Wanita yang lebih dari indah
Kumbang pun berfikir dia bunga
Tapi dia bukan bunga
Sesosok wanita berluhur mulia
Jiwanya yang begitu mempesona
Memaksaku, seorang yang nyata
Harus bermuram durja karenanya
Apakah dia benar-benar nyata?
Dia membawakan secawan madu
Menghiasinya dengan seringai nan merdu
Seketika mata ini beradu
Tuhan
Bidadari mana yang Engkau kirimkan?
Aku tak pernah memesan secuil surga
Malah engkau menurunkan sepetak surga
Tuhan
Demi Engkau dia adalah titik
Titik-titik yang menuntunku menjadi garis
Tuhan
Apa aku berhak memilikinya?
Bahkan aku tidak sekaya nabi Sulaiman
Tapi aku merasa kaya, milikinya
Tuhan
Berapa cuil Engkau titahkan kecantikan Aisyah kepadanya
Berapa tetes darah Maryam Kau alirkan padanya
Berapa titik keceriaan bayi Kau usapkan padanya
Seringai itu
Tangis itu
25 Januari yang lalu
Memori indah yang takkan layu
Lamongan, 26 Januari 2014.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terima kasih sudah mampir. Perlu penegasan, bahwa apapun yang tertulis di sini adalah pengolahan kata dan pengembangan pemikiran dari saya pribadi.
Jangan lupa sandalnya dibawa.