Kehidupan mengenai manusia selalu mempunyai
beberapa cermin yang kita seolah-olah diwajibkan untuk mengaca kepadanya. Entah
itu hal yang sangat jelek sekali pun, atau sampai hal yang sangat sepele dan
bahkan yang menurut kita tidak berguna sama sekali.
Dalam hal mengaca tentang kehidupan manusia, ada
baiknya kita mengikuti jalan filusuf seekor ayam yang memang, pada artikel kali
ini sangat besar sekali kontribusinya dalam kehidupan kita. Itupun jika kita
ingin benar-benar menirunya.
Tapi, rasanya kok kenes banget membandingkan
manusia dengan seekor ayam. Apalagi, mengenai status kehidupannya, tentu
manusia lebih segalanya dibanding seekor ayam yang notabene, manusia adalah
pemimpin sekaligus pemelihara di bumi Tuhan ini.
Saya ingat sebuah kalimat, entah ini hadist atau
hanya peribahasa bahasa Arab, tapi saya kira ini sangat membantu dalam
memotivasi diri kita masing-masing agar tidak merendahkan apapun yang pada
dasarnya lebih rendah dari kita, termasuk seekor ayam yang akan kita jadikan
guru ini. Mengenai entah hadist atau peribahasa itu, adalah seperti ini :
“Khudzil
hikmah walaw minaz zabalah” yang mempunyai arti Ambillah hikmah meski itu dari air got. Tentu
kita semua tahu, got begitu kenes lagi jika dibanding dengan seekor ayam. Tapi
intinya, memang kita tak perlu tahu untuk mengambil sebuah hikmah tersebut dari
mana datangnya, karena memang dari mana pun datangnya, jika sebuah hikmah itu
bagus untuk pribadi kita masing-masing, kita tak boleh untuk menyi-nyiakannya.
Kembali lagi ke topik ayam. Seberapa saktinya ayam
kok sampai kita disuruh berguru ke kehidupannya, begini ceritanya.
Di suatu saat, anggap saja ada seorang peternak
hewan yang mempunyai bermacam-macam hewan ternak. Di sebuah peternakan itu,
terdapat beberapa macam hewan ternak seperti kambing, sapi, kerbau, dan tak
lupa ayam. Suatu saat, sapi melahirkan seekor anak sapi yang gemuk, kambing pun
demikian, kerbau lebih gemuk lagi, anak-anak ternak itu lahir dengan kondisi
yang sangat normal bahkan cenderung lebih normal lagi dibanding hewan-hewan
ternak lainnya. Mereka menangis selayaknya hewan yang makhluk yang baru saja
dilahirkan. Kambing menangis selayaknya kambing, sapi begitupun sapi, kerbau
pun demikian.
Sebuah peternakan itu ramai dengan tangisan
bayi-bayi hewan yang menggelora. Peternak hewan itu pun sangat senang dengan
hasil yang di dapatnya itu. Dia mengucap syukur yang sebegitu banyak ke hadirat
Tuhan yang Maha Kuasa.
Tapi ada yang aneh di sebuah peternakan tersebut.
Ya! Seekor ayam yang bingung. Ia bertanya-tanya ke lubuk hatinya, ia bertanya
terhadap takdir yang ia pikir tidak adil. Anaknya tidak menangis! Dia sadar
bahwa yang dikeluarkannya lewat pintu rahimnya adalah tidak seperti ibunya.
Sang ayam melihat anak dari seekor kerbau, dia mempunyai hidung yang mirip
dengan ibunya, juga melihat seekor kambing, dia punya suara yang sama dengan
keluarganya, pun dengan anak sapi yang punya kaki dan ekor yang sama dengan
ayahnya. Sang ayam semakin bersedih, ia berpikir, ‘kenapa anakku tidak mirip
denganku? Kenapa anakku hanya bulat lonjong dan putih?’
Sang ayam pada hari itu sangat sedih. Dirinya
bingung dan stres. Dia berpikir, berpikir, dan berpikir. Tak luputnya dengan
berdzikir ke Tuhan untuk membantunya menemukan jalan keluar. Tidak mungkin
seorang anak tidak mirip dengan ibunya, sang ayam kali itu benar-benar berpikir
dan berdzikir. Sampai dia menemukan sebuah cara yang dia semogakan agar
berhasil.
Dia putuskan untuk bertapa mulai saat itu. Dia
bertapa, bersendapa di atas telurnya. Dia memuasai dirinya, kehidupannya, dan
keluarganya. Dia meninggalkan hal-hal yang berbau dunia dan terus menjaga
simbol dari vitalitas kehidupan keluarganya.
Setelah beberapa hari dan menghitung bulan, Tuhan
tidak tidur! Benda bulat lonjong itu kemudian berubah menjadi apa yang
diinginkan sang induk ayam. Perlahan kepala kecilnya keluar, muncul dari
bungkus cangkang yang sempat menggetarkan niat induk ayam. Perlahan kaki
kecilnya keluar, kemudian menangis. Pecahlah tangisan dari anak ayam tersebut.
Anak yang benar-benar anak. Anak yang mirip dengan induknya, berparuh sama,
berkaki sama, dan bersuara yang sama. Sang induk ayam tak lupa untuk mensyukuri
kelahiran buah hatinya itu dengan kokokan tajam dan penjagaan yang ketat untuk
sang buah hatinya. Dan kemudian, sang ayam pun mengetahui tentang makna dari
sebuah penantian, dan kesabaran yang membuahkan hasil. Dan hasil tak akan
pernah menghianati kesungguhan.
Nah, begitulah perjuangan seekor ayam demi
menuntut kemiripan terhadap induknya. Dengan sifat keayamannya, sifat
hewaninya, seekor ayam melakukan apapun demi pencapaian itu tercapai. Meskipun
dengan bertapa sekali pun, dengan berpikir dan berdzikir keras. Dengan kerja
keras.
Terkadang mentalitas kemanusiaan kita lebih buruk
dibanding dengan ayam. Banyak kita temukan, bahkan sering sekali media-media
menayangkan yang seharusnya tidak manusia lakukan. Belakangan ini terdapat
kasus pembunuhan yang sebegitu sadisnya, dan itu dilakukan kepada anak-anak
yang bahkan tak mengerti apa-apa. Tapi lihatlah ayam tersebut, coba kita
bandingkan dengan pengorbanan untuk anaknya, dia rela menunggu, bertapa,
sekaligus mengerami telur itu hingga beberapa hari, minggu, sampai bulan.
Mentalnya kuat, bahwa Tuhan akan selalu membantunya dan tak akan pernah luput
dari penglihatan-Nya. Sedangkan manusia tidak seperti itu! Pikirannya lebih
picik jika menembus batas kehewanannya.
Dan sekarang dapat disimpulkan, bahwa segala yang
kita inginkan, tingkat keberhasilannya berbanding lurus dengan sampai mana
usaha kita untuk mendapatkan sesuatu yang kita inginkan tersebut. Dan satu kata
lagi yang harus diingat. Usaha tak pernah berbohong.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terima kasih sudah mampir. Perlu penegasan, bahwa apapun yang tertulis di sini adalah pengolahan kata dan pengembangan pemikiran dari saya pribadi.
Jangan lupa sandalnya dibawa.