Aku tak pernah bisa lagi melihat
Sesuatu yang bisa membuatku sekarat
Seperti saat ayahku tertimpa alat berat
Atau ibuku yang menginjak besi berkarat
--
Mentari membuatku sangat buta
Dari apa saja yang dulunya indah
Seperti mencuri semangka Pak Kasim di sawah
Atau sengaja mengambil ikan Pak Kosim satu – dua
Mentari membuatku sangat tulis
Bahkan lelukaku sama sekali tak perih
Rambut Bu Marni yang sama sekali tak memutih
Atau melihat Pak Kamto yang sama sekali tak letih
Mentari membuatku sangat bisu
Dengan pepohonan yang seharusnya meng-aduh
Atau Doni yang seharusnya harus minum susu
Dan daun yang seharusnya selalu runtuh
--
Kenapa mentari harus datang ke kota?
Tapi rembulan tak pernah lekang dari desa?
Kenapa mentari selalu menawarkan kebakaran?
Sedangkan di desa selalu menerima kebanjiran?
--
Tuhanmu tak lagi mesra
Seperti Tono dan Tini yang seharusnya menikah
Bukan hamil dan kini saling menyalah
Salah siapa saat Pak Kasim tak lagi menanam semangka?
Sedangkan Pak Kasim sendiri tak lagi menanamnya
Dia hanya mementingkan harta tanpa harus kerja
Menyewakan tanahnya untuk saudagar seberang desa
Daripada memberi anak-anak lapangan tawa
Yang bisa dipanennya nanti kelak di Surga
Salah siapa saat tanggul Pak Kosim sudah kering tanpa air?
Sedangkan Pak Kosim tak pernah sedikit pun berpikir
Tentang nasib anak-anak yang tak bisa lagi mangkir
Yang mungkin bisa menjadi juru selamat di hari akhir
Salah siapa saat tak ada lagi yang pernah jatuh?
Apa lagi meng-aduh sampai menggaduh
Padahal dulu,
Pak Kasim dan Pak Kosim saling beraduh untuk menjatuhkan musuh
Dan sekarang mereka menutup anaknya untuk itu
Sehingga kelak jatuh adalah hal yang sangat baru
Salah siapa saat Bu Marni rambutnya tak lagi putih?
Padahal wajahnya sudah sama sekali tak asri
Apa salah saudagar seberang desa lagi?
Yang terlalu pamer gusi
Sehingga membuat iri hingga Bu Marni menurutinya menyemir rambut dengan air mani
Salah siapa saat Doni jika tak lagi minum susu?
Ketuban pun dia minum jika harus dibelenggu
Anak sekecil itu,
Yang membedakan tahi dan roti pun tak mampu
Salah siapa saat Bu Marni terlalu meniru?
Sehingga saudagar seberang desa mendapat jatah dua buah susu
Lalu bagaimana dengan kabar sang daun?
Yang selalu tangguh dan tak akan jatuh
Apa lagi runtuh seperti murka-murka ibu
Lalu siapa yang akan dibanggakan dengan itu?
Huh!
Mereka berebut jika ingin dieluh-eluh
Padahal apa yang harus dieluh?
Apa lagi yang harus jatuh jika akar pun didadar?
Apa lagi yang harus runtuh jika kayu pun dibelenggu?
Apa lagi yang harus riuh jika buah pun tak ada?
Salahkan Pak Kasim yang tak pernah lagi menanam semangka
Sehingga tak ada lagi yang dapat menolong di Dunia, Surga, bahkan Neraka
Salahkan Pak Kosim yang tak lagi menabur ikan
Sehingga dikuburnya, pasti kesepian
Salahkan Bu Marni yang menyemir rambut
Sehingga dia tak akan bahagia saat dicabut
Salahkan Saudagar Seberang Desa
Karena ulahnya,
Semuanya tak ada yang bahagia
Bahkan Doni yang selalu harus mengalah dan menyusu di penis ayah
--
Sampaikan salamku untuk mentari
Salam yang selalu mesra meskipun tak berhati
Sampaikan salamku untuk rembulan
Rindu ini tak akan sampai jika dia belum datang
Biarlah mereka berputar seperti tugasnya
Bujuklah mentari agar menegur desa
Rayulah rembulan agar menyambang kota
Kotaku perlu air untuk diminum
Meskipun sang daun tak butuh karena sang pohon pun membisu
Desaku perlu api untuk dijaga
Meskipun desa tak lagi butuh karena wadah pun tak ada
Meratalah mereka seperti doa-doa dan murka-murka
Entah itu dari Sang Anak, Ibu, atau Ayah
Bersatulah mereka seperti mereka
Yang menanam semangka, menabur ikan, dan menyemir rambutnya
Usirlah dia
Yang hanya tamu tapi bertingkah bak raja
Peluklah dia
Yang sepertinya babu tapi raja sejatinya
--
Aku akan mencoba lagi melihat
Sesuatu yang akan menumbuhkan semangat
Seperti yang ayahku pegang erat
Atau pun itu yang ibuku ruwat

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terima kasih sudah mampir. Perlu penegasan, bahwa apapun yang tertulis di sini adalah pengolahan kata dan pengembangan pemikiran dari saya pribadi.
Jangan lupa sandalnya dibawa.