Jangan Hanya Menjadi 'Sarjana Pesantren!'




“Nak, kalau kamu tidak bisa nyantri, usahakan keluargamu ada yang nyantri, dan jika tidak ada juga, usahakan tetanggamu atau di desamu ada yang nyantri, pokoknya jangan sampai putus ikatan antara santri dan kiai.”

- K. H. Abdullah Faqih Langitan.

Itulah salah satu wasiat dari kiai sekaligus pengasuh pondok pesantren Langitan yang masih saya ingat. Dengan bahasanya yang mudah dan mengena, sesimpel hidup ini yang hanya numpang minum. Namun sayang, kiai berkharisma tinggi seperti beliau sudah dipanggil oleh Tuhan untuk didudukkan di sisi-Nya.

Peristiwa nyantri sendiri sudah mendarah daging di sebagian wilayah di Indonesia. Apalagi Jawa Timur yang mencetak pendakwah-pendakwah hebat, juga dengan kiai-kiainya yang mempunyai kharisma tinggi. Tidak diragukan lagi, sistem pendidikan pesantren adalah yang terbaik dari yang terbaik. Bukan karena saya lulusan pesantren, tapi ini merupakan salah satu keobyektifan saya dalam memandang sebuah pesantren. Di jenjang sekolah umum bahkan perkuliahan pun, tidak ada yang menganut paham berpendidikannya pesantren. Dengan sistemnya yang dalam istilah adalah “Nggodok ning Kawah Condrodimuko” membuat lulusannya menjadi manusia pilihan, baik di masyarakat umum maupun di kelompoknya.

Nyantri sendiri adalah sebutan bagi peristiwa seseorang yang menetap di sebuah pondok pesantren, entah itu dalam kiasan mencari ilmu atau hanya sekedar mencari barokah dari seorang kiai. Banyak sekali yang mendeskripsikan tentang nyantri dalam segi yang berbeda-beda. Namun menurut saya, nyantri itu yang terpenting hanya untuk mencari barokah dari kiai, mengenai ilmu yang kita dapat, itu hanya sebuah bonus yang sebenarnya tidak begitu mutlak untuk saya terima.

Lalu, apa hubungannya dengan judul di atas? “Jangan hanya menjadi Sarjana Pesantren!”. Apa hubungannya? Bukannya dalam sebauh pesantren tidak mengenal gelar bahkan sarjana? Mari kita bahas sedikit lebih mendalam tentang istilah Sarjana Pesantren.

Artikel ini memang sudah sangat lama sekali ingin saya buat, namun karena keterbatasan waktu yang menyekat antara pikiran dengan tindakan, baru muncullah keinginan untuk menuangkan pemikiran di balik Sarjana Pesantren.

Tidak etis memang jika seorang lulusan pesantren harus diberi gelar Sarjana. Itu hanya sebatas ‘hanya’ dari bagian yang lebih. Mengingat pesantren adalah salah satu sistem pendidikan gagasan manusia yang menurut saya sangat lengkap.

Seorang santri seharusnya bergelar Maha Sarjana, karena santri sendiri dalam konteks umumnya adalah Maha Mahasiswa.

Tapi tidak untuk akhir-akhir ini, seorang lulusan pesantren sendiri lah yang merusak jati diri santrinya. Tidak ada unsur ekstrinsik yang membuat kehidupan santri semakin merepotkan bahkan mengenaskan.

Banyak sekali sekarang orang yang mengaku lulusan sebuah pesantren hebat yang tidak berbanding lurus dengan tindakannya sebagai salah seorang santri yang terhormat. Kalian bisa melirik atau bahkan menengok ke belakang, tentang seberapa banyak santri yang tersangkut kasus hukum. Saya tidak mempermasalahkan tentang santri itu tersangkut, tapi mbok yah jangan ngaku santri kalau niatnya sudah ingin menyangkut-nyangkut kasus hukum. Tidak hanya mereka yang santri juga semestinya, pun demikian dengan koruptor-koruptor yang bersembunyi di balik kopyah hitam dengan dua tanda yang ‘katanya’ bekas sujud, atau dengan tangisan tasbih dan hijab yang melingkar di kepala. Sama sekali perilaku tersebut tidak membuat Tuhan mengiba dengan semua itu, mungkin Dia malah tertawa terbahak-bahak karena tingkah lucunya, mungkin, mereka mengira Tuhan sedang ‘bermain catur’ sehingga tidak memerhatikannya.

Dan dalam benak para pengamat akan timbul sebuah statement, ‘ah, orang Islam kok gitu, koruptor semua, teroris semua’, loh, kan? Siapa yang salah? Apa Islam marah dengan semua statement itu? Tidak! Mungkin yang marah adalaha para pembelanya, sedangkan Islam pun tidak meminta untuk dibela. Lah, yang punya Islam itu maha segalanya kok. Lantas mereka membela siapa? Ya, kalian bisa tanyakan di balik ‘bekas sujudnya’ itu.

Kembali lagi ke Sarjana Pesantren. Sekarang bukan mempersalahkan statusisasi dalam hal penyandangan Sarjana untuk lulusan pesantren. Tapi terlebih ke sikap dalam bermasyarakat dan berpikiran formal. Seorang santri yang baik, menurut saya yang tidak hanya hafal ribuan bait Alfiyah ibn-Malik bolak-balik, mengkhatamkan Al-Qur’an beserta maknanya setiap hari, atau bahkan yang setiap jamnya mengkhatamkan kitab Ihya’ Ulumuddin. Saya tidak mengatakan bahwa itu tidak baik, itu sangat baik, bahkan lebih baik dari apapun. Tapi, jika hanya sekedar menghafal tapi pemikiran terlalu statis dalam konteks agama, tidak bisa berpikir jernih tentang permasalahan, tidak bisa open-minded, lalu apa gunanya kalian melakukan itu semua? Toh, saat kalian disuruh mengajar santri-santri TPQ, kalian tidak membutuhkan ribuan bait Alfiyah ibn-Malik yang kalian hafal untuk mengajar, kan? Atau saat kalian diamanahi untuk menjadi pendakwah di sebuah daerah yang belum terjamah Islam sekali pun, apa kitab-kitab kuning itu bermanfaat dalam segi pengajaran? Toh yang dibutuhkan itu etika, berpikir yang bisa menghargai orang lain, strategi cara menarik agar mereka-mereka yang masih terbutakan itu agar segera melek tentang kebenaran, bukannya malah dijadikan semakin buta sampai mereka taqlid buta. Buat apa bertahun-tahun nyantri jika tidak mendapat barokah dari ilmunya kiai? Lalu buat apa lagi jika nyantrimu sedemikian jika hanya bisa mengafirkan orang lain yang bahkan kalian lupa akan kekafiranmu sendiri? Salah satu yang terpenting dari kehidupan pesantren yang harus ditularkan ialah tentang bagaimana caranya santri itu bersosialisasi dengan cara berbaur.

Santri yang baik itu yang punya pemikiran bebas. Tidak bergantung kepada kitab satu – kitab dua, tapi yang bisa memanggil inti dari segala kitab yang dimana di situ Islam sangat luas. Tidak hanya hadist tentang mengharamkan Tahlilan saja yang diingat, tapi wajib untuk menghafal Tahlilan agar tau apa yang ada dibalik Tahlilan. Bukan hanya mengkafirkan Injil saja yang dipelajari, tapi juga perdalam Injil agar bisa melihat Tuhan dari sana.

Santri yang baik juga santri yang berani mendobrak pintu tanpa harus merusaknya. Dengan kata lain, berani berpikiran out of the box tanpa harus keluar lebih jauh lagi. Santri juga wajib punya kiai lebih dari satu, untuk sekedar perbandingan pemikiran dan tentunya pertambahan berkah. Dan santri juga harus berani memperjuangkan pemikirannya sampai ke garda depan. Santri harus cerdas, dan harus berani melawan arus tanpa harus tersungkur.

Tidak seperti santri sekarang yang lebih berkiblat ke Google, Bing, atau Fanspage ustadz-ustadz instan yang bahkan tidak jelas sudah khatam kitab berapa dan bergurunya dimana. Yang tiap ada yang beda dari pemikirannya, mengharamkan bahkan harus segera membunuh bila perlu. Apa gunanya rohmatan lil alamin yang sudah jauh hari diajarkan oleh Tuhan sendiri dari kitab suci yang selalu kalian baca? Lalu apa gunanya ayat afalaa ta’qilun jika kalian selalu menelan mentah-mentah opini yang pertama kali kalian dengar? Saya juga sangat menyayangkan jika kalian menelan mentah-mentah artikel ini. Bahkan saya sangat berkeinginan sekali mendapat bantahan dari kalian, karena saya juga sadar, inilah oleh-oleh saya dari nyantri enam tahun di dua atmosfer yang berbeda. Dan inilah kerusakan otak saya dalam berpikir.

Saya bahkan tidak memerintah saudara santri sekalian untuk mengikuti opini saya, karena saya ingin santri itu, yah, seperti definisinya. Yakni satria, dan seorang satria bukan sekedar pengekor bahkan taqlid buta. Di samping hafal ribuan bait Nadhom Alfiyah ibn-Malik, alangkah indahnya jika bisa berpikir jernih tanpa menyinggung yang lain?

Misbahul Munir

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah mampir. Perlu penegasan, bahwa apapun yang tertulis di sini adalah pengolahan kata dan pengembangan pemikiran dari saya pribadi.

Jangan lupa sandalnya dibawa.