Otong : “Kongres kok ke Bali, mau ngurus negara atau ngurus perutnya?”

@mizbach_munir
Entah dari mana rezeki itu datang, seperti orang yang mendapat durian super yang runtuh!
Otong kali ini diajak oleh temannya, Pak Pol, liburan ke Bali. Hebat, kan? Ini kali pertamanya Otong pergi dan mengelana dari tempat yang jauh dari emaknya. Sebenarnya, sih, sudah banyak tempat yang pernah dia kunjungi, namun, ya, begitulah, kerjaannya saja hanya tunawisma terhormat, mau ngapain lagi kalau tidak tidur? Ya, kadang-kadang juga hutang gorengan sama kopi di warung Bu Derpina.
Usut punya usut, ada beberapa hal yang membuat Pak Pol sebegitu baiknya kepada Otong kali ini. Ini memang benar-benar tulus, kata Pak Pol, sih, tapi entah bagaimana sejujurnya. Tapi ada berita di koran kemarin, Otong sempat melihat Pak Pol berita yang mungkin sengaja juga dijadikan kepala kabar di koran. Seperti itu lah beritanya, ya, apalagi kalau bukan tentang komandan besar Pak Pol, yang dulunya punya julukan Si Buaya berhasil lolos dari sidang pra-pengadilannya, Otong juga bingung, kok masih bisa? Toh dia juga katanya sudah mendapat beberapa pasal yang menjeratnya. Ya, tapi itu urusan Pak Pol dan komandannya lah, toh, kalau tidak lolos pra-peradilan, mungkin dia akan mengajukan pra-pra-peradilan lagi, atau malah pra-pra-pra-peradilan, entahlah, yah seperti partai yang membuntutinya itu, dulunya kan Partai Domba Impor, lah gara-gara ada oknum yang tidak terima, malah dikasih embel-embel Perjuangan yang jadinya Partai Domba Impor Perjuangan, ya sudahlah, diamkan saja, nanti kalau kita usut dan lebih diperhatikan lagi, pasti dikasih embel-embel lagi, entah itu Perjuangan, atau mungkin Penghancuran.
Ya, seperti itulah mungkin, tapi yang jelas, Otong tak terlalu memikirkan tentang asal-usul uang itu, husnudzon saja, kata ustad Cage.
“Nanti kita mau kemana, Pak?” tanya Otong. Setelah mengemban perjalanan yang lumayan jauh, akhirnya sampai di hotel yang memang sudah dipesan jauh-jauh hari oleh Pak Pol.
“Tenang, Tong. Gue sudah siapin semuanya buat Lu. Ya, itung-itung gue ngamal sedikit-dikit lah, yang penting kan niatnya.”
“Yaudah, deh, Pak, gue juga nurut saja, yang penting gue juga bisa refreshing.”
==
Mereka sudah puas dengan jalan-jalannya yang menyenangkan (mungkin). Perutnya pun sudah kenyang (mungkin). Tinggal melabuhkan diri mereka di kamar masing-masing, ya, sedikit menghilangkan capek mungkin.
==
Waktunya makan malam. Menit-menit yang sangat ditunggu-tunggu oleh Otong. Perutnya cepat sekali kosong, entah dia pun tidak tahu kok bisa sebegitu cepatnya isi di perutnya itu habis. Apa mungkin cacing di perutnya sudah menjadi naga? Ah, aneh-aneh saja.
Dia langsung menuju ke kamar Pak Pol yang kebetulan ada di sebelahnya. Pintunya diketuk dengan sebegitu kencangnya. Sepertinya Pak Pol lagi tidur, lama sekali bukanya.
Klik.
“Ayo, Pak!” tangannya langsung digelendeng oleh Otong. Biarkan dia berkreasi.
Mereka sudah tiba di lantai bawah yang memang disediakan khusus untuk jamuan makan. Mata Otong berbinar hebat, tak pernah dia melihat meja makan sepenuh ini. Padahal Pak Pol biasa saja, yah, wajarlah, namanya juga tunawisma, meskipun terhormat, sih.
Mulut Otong sudah penuh dengan makanan yang dia ambil, tapi masih saja menjejali dengan berbagai lauk yang dia ambil. Sedangkan Pak Pol santai, dia menikmati jamuan makan malam itu dengan klasik.
Otong sedang asyik-asyiknya mengunyah apa saja yang ada di dalam mulutnya, sampai keringatnya menetes ke sana-sini, dan tak dia hiraukan. Pak Pol juga tak sedemikian kaget dengan sikap Otong yang seperti itu, toh, dia tahu kehidupannya sehari-hari tak pernah seperti ini. Pak Pol merasa bangga.
Sedang asyik-asyiknya Otong, lah kok tiba-tiba pelayan hotel itu menyuruh Otong berhenti mengunyah makanan yang ada di mulutnya. Otong kaget! Dia bertanya-tanya tentang kenapa gue dilarang? Pak Pol juga demikian, dan seisi ruang makan pun demikian. Mereka bertanya-tanya dalam benak kecilnya. Belum ada penjelasan dari pihak hotel, ini membuat semua penghuni bingung dan geram, dan terpaksa menghentikan aktivitas makannya, termasuk Otong yang sedang asyik-asyiknya.
Semuanya berhenti, diam, dan tak bergerak. Seakan takzim dengan instruksi yang diberikan pelayan agar berhenti makan. Termasuk Pak Pol, dia takzim sembari meminum sisa-sisa air yang ada di gelasnya. Tapi tidak dengan Otong, dia memberanikan diri berdiri, dan berjalan menuju pelayan tersebut kemudian bertanya.
“Kenapa anda menyuruh semua orang berhenti? Ada bom? Atau hotelnya kebakaran?” tanya Otong dengan nada misterius.
“Ada tamu agung, Pak, dan diharap sekedar berhenti makan untuk memberi hormat,” jawab pelayan itu dengan nada yang standar.
Pelayan itu menunjuk ke arah pintu utama, dan memberi beberapa sambutan untuk menyambut – yang katanya tamu spesial – yang sebentar lagi akan memasuki ruangan.
Dan. Klik.
Rombongan itu memasuki ruangan dengan anggunnya, semuanya berdasi dan berkonde, rapi dan santun seperti halnya priyayi, semuanya pun bertepuk tangan sebegitu meriahnya. Otong pun demikian, dia belum melihat seluruhnya, dia hanya terbawa suasana tepuk tangan yang membuatnya juga ingin bertepuk tangan.
Ketika Otong sudah sadar siapa yang memimpin rombongan itu masuk.
“Eh, Jancuk! Lah kok mereka? Wah, menyesal aku ke Bali kalau ujung-ujungnya bertemu mereka,” celetuk Otong sambil menarik tangan Pak Pol.
“Loh, mau kemana, Tong?” tanya Pak Pol penasaran.
“Aku wes mblenger di Bali, Pak. Ayo bali wae.
“Loh, kenapa, Tong?”
“Orang itu, loh, kongres kok di Bali. Mereka mau mikirin negara atau perutnya? Bali dari Bali saja deh, Pak,” jawab Otong dengan bersungut-sungut.
Kemudian mereka pergi, meninggalkan sekelompok rampok yang memakai kostum a la super hero itu. Merah, kuning, biru, “asu”.

Misbahul Munir

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah mampir. Perlu penegasan, bahwa apapun yang tertulis di sini adalah pengolahan kata dan pengembangan pemikiran dari saya pribadi.

Jangan lupa sandalnya dibawa.