Pucuk-pucuk cemara Gajah Mada
Mengacung tinggi sepenggapaian raksasa
Pinus di sebelahnya tertawa
Haha. Cemara payah
Cungkup-cungkup mawar berpuasa
Menguncup seperti kecubung terhisap sisa
Melati di sebelahnya tertawa
Haha. Mawar payah
Dedaunan jatuh menimpa air selokan
Mengumpul jenuh seperti terbunuh dengan pedang
Pedang apa yang tega membunuh air?
Bahkan daun pun tak pernah menerima kecaman pedang
Bercak tanah melingkar
Seperti gajah termakan kawanan kumbang
Kumbang mana yang memusuh gajah?
Bahkan bunga pun rindu dengan kecupan sang kumbang
Bising motor lirih mengalir di tiap atap tetangga
Telinganya sumpal dengan bisikan 'kurang ajar' atau 'minta hajar?'
Matanya ringkih dengan pandangan 'asu' atau bahkan 'makmu!'
Hidungnya peluh dengan bau 'tak bacok!' sampai 'jancok!'
Sedangkan tangannya menggumam
Gumaman terkepal memukul terjal bebatuan jalanan jalang
Sialmu, Kawan
Kawan tanpa sepengenalan
Tubuhmu sumpal dengan celotehan wanita bersayap macan
Rantingmu ringkih dengan goresan panah bertengger bacan
Akarmu peluh dengan hawa panas bermahkota nisan
Kasihan, sepenggalan tanpa sepengenalan
Sepenggal kisah tanpa penghapusan
Air mata hilang tanpa pengusapan
Yogyakarta, 4 Maret 2015.
Mengacung tinggi sepenggapaian raksasa
Pinus di sebelahnya tertawa
Haha. Cemara payah
Cungkup-cungkup mawar berpuasa
Menguncup seperti kecubung terhisap sisa
Melati di sebelahnya tertawa
Haha. Mawar payah
Dedaunan jatuh menimpa air selokan
Mengumpul jenuh seperti terbunuh dengan pedang
Pedang apa yang tega membunuh air?
Bahkan daun pun tak pernah menerima kecaman pedang
Bercak tanah melingkar
Seperti gajah termakan kawanan kumbang
Kumbang mana yang memusuh gajah?
Bahkan bunga pun rindu dengan kecupan sang kumbang
Bising motor lirih mengalir di tiap atap tetangga
Telinganya sumpal dengan bisikan 'kurang ajar' atau 'minta hajar?'
Matanya ringkih dengan pandangan 'asu' atau bahkan 'makmu!'
Hidungnya peluh dengan bau 'tak bacok!' sampai 'jancok!'
Sedangkan tangannya menggumam
Gumaman terkepal memukul terjal bebatuan jalanan jalang
Sialmu, Kawan
Kawan tanpa sepengenalan
Tubuhmu sumpal dengan celotehan wanita bersayap macan
Rantingmu ringkih dengan goresan panah bertengger bacan
Akarmu peluh dengan hawa panas bermahkota nisan
Kasihan, sepenggalan tanpa sepengenalan
Sepenggal kisah tanpa penghapusan
Air mata hilang tanpa pengusapan
Yogyakarta, 4 Maret 2015.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terima kasih sudah mampir. Perlu penegasan, bahwa apapun yang tertulis di sini adalah pengolahan kata dan pengembangan pemikiran dari saya pribadi.
Jangan lupa sandalnya dibawa.