Mereka yang tak akan sama lagi
Seperti sebuah cincin emas
Yang dikalungkan dalam jemari manis pesta perkawinan
Dengan hasrat bahagia bersama sampai akhirat
Dan menjamah bibir surga dengan kaki kanan mereka
Mereka yang tak akan sama lagi
Seperti sebuah jagung bakar
Yang menghitam sebab pertikaiannya dengan api yang menyala – padam
Dan jilatannya terhadap para mulut yang mengulumnya dengan hasrat ingin
kenyang
Dengan bibir yang menyala, dan lidah yang bersandiwara
Mereka yang tak akan sama lagi
Seperti bapak itu misalnya
Menyapu bersih tiap dedaunan yang gugur dalam tempo yang sama
Tak mengiba seperti anak yang mgnggoyahkan kaleng di sebelah sana
Dia masih kuat lahir – batin dengan hasrat tak perlu disanjung
Sampai tak berpikir apakah pusaranya akan sedemikian dengan bersihnya niat
dan tindakannya
Mereka yang tak akan sama lagi
Seperti bapak-bapak penjual keringat itu misalnya
Dia lakukan dengan ganjaran hal uchrawi
Tanpa terbesit hasrat tentang ‘bagaimana nasibku nanti’
Apakah menjadi seperti seorang wali, atau hanya terbaring seperti rakyat
mati termakan lidah priyayi
Yogyakarta, 11 Maret 2015.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terima kasih sudah mampir. Perlu penegasan, bahwa apapun yang tertulis di sini adalah pengolahan kata dan pengembangan pemikiran dari saya pribadi.
Jangan lupa sandalnya dibawa.