Lebih Baik Indonesia Lahir dari Rahim Pertiwi yang Miskin!

@mizbach_munir
“Orang bilang tanah kita Tanah Surga, tongkat kayu, dan batu jadi tanaman . . .”
Pernah dengar cuplikan lagu di atas? Atau bahkan hafal semua lagunya? Wah, keren! Yang bilang tidak tahu, perlu diragukan kenasionalisannya.
Yah, itu adalah lirik dari salah satu lagu Koes Plus yang pernah meledak di negeri tercinta ini. Apalagi pernah dijadikan drama satire oleh salah seorang sutradara kawakan di salah satu film yang harusnya bisa menggugah hati seseorang yang tidur. Yah, Herwin Novianto pernah mengangkat lagu ini dan dijadikan soundtrack di film “Tanah Surga, Katanya”. Saya tidak akan meragukan jika ada orang yang belum menonton film ini, karena sudah tahu, bukan, generasi muda kita lebih mendewakan film Bollywood (Produksi film India). Tidak usah menyangkal, memang adanya begitu.
Kali ini, saya akan beropini sedikit – banyak tentang Indonesia. Terutama sedikit menyinggung tentang keberadaan lagu di atas.
Semua orang tahu memang, jika tanah Indonesia ini luar biasa suburnya, sampai digambarkan oleh Koes Plus bahkan tongkat kayu dan batu pun bisa hidup di tanah kita ini. Tentunya itu tidak gambaran kosong dari sebuah grup musik ternama di kala itu, itu memang nyata. Siapa yang bisa menyangkal keistimewaan Indonesia yang mempunyai tanah serba guna ini. Bahkan pernah di tahun yang lalu, Indonesia pernah dijadikan oleh organisasi kesehatan dunia sebagai salah satu jantung dunia terbesar, di Kalimantan tentunya.
Jika dibandingkan dengan negara yang saat ini menyandang gelar negara maju seperti Amerika Serikat, Inggris, dan berbagai negara bagian di Eropa sana. Indonesia masih terlalu unggul jika dibandingkan dalam segi kesuburan tanahnya, dan berbagai kekayaan alam yang dimiliki oleh Indonesia.
Amerika punya apa? Bahkan sampai ada orang yang menyebut bahwa di salah satu negara bagian di Amerika adalah negara tanpa rumput. Sangat mengenaskan sekali, bukan? Inggris apalagi, Rusia? Sama saja. Tidak ada udara segar kecuali sumber polusi. Langitnya menghitam, udaranya kotor, bahkan airnya pun sedemikian. Jepang apalagi, pasca terkena bom Amerika Serikat sepeninggalan perang dunia kedua yang meluluhlantakkan kota-kota besar di sana membuat tanah di sana sampai sekarang masih terkontaminasi oleh zat yang ditimbulkan oleh bom atom tersebut, alhasil, otomatis tanah di sana masih kalah jauh dibanding Indonesia. Mana lagi negara yang bisa sekaya dan semakmur tanah di negeri kita?
Sedemikian besar kekayaan di negeri ini, sampai mengundang para parasit itu datang dan memerkosa kita. Belanda dengan berabad-abadnya, Jepang dengan otoriternya, belum lagi bangsa Portugis, Inggris, dan sekarang negeri bagian timur sana masih saja diperkosa oleh Amerika Serikat dengan mengeruk emasnya. Negara mana lagi yang lebih kuat dibanding Indonesia? Masyarakatnya pun apatis, tidak peduli dengan pemerkosaan itu, bahkan menikmatinya, sampai dibuat pedoman hidup bahwa hidup itu seperti diperkosa, kalian mau diperkosa? Saya, sih, tidak. Kurang kuat apalagi negeri ini?
Bangga, bukan? Bahkan kita masih bisa tertawa dengan semua itu.
Tapi sejak kapan Indonesia dianugerahi negara terkorup di dunia? Seks bebas dimana-mana? Hukum terbegal di berbagai jalan! Negara dengan populasi kemiskinan yang me-masya Allah-kan! Gizi buruk di berbagai keluarga! Krisis identitas yang malah bangga! Revolusi mental yang hanya modal kerja! Mahasiswa yang di pikirannya hanya IPK tinggi, kerja di bank, atau beasiswa ke luar negeri! Anak kecil yang sudah ciuman dan diumbar di sosial media dengan hashtag #ILoveYouMama! Mana lagi yang harus kalian banggakan dengan kekayaan Indonesia yang semewah ini?
Saya sekarang malah lebih suka beranggapan bahwa Indonesia lebih baik lahir dari rahim Pertiwi yang miskin dan melarat.
Hei kau tidak nasionalis! Kau tidak bangga dengan negerimu sendiri! Negeri ini tanah surga! Kau bodoh! Kau akan kupenjarakan akibat menghina negerimu sendiri!
Mungkin seperti itu ungkapan orang-orang yang katanya nasionalis padahal hanya materialis dan hedonis. Bagaimana saya tidak sering beranggapan demikian, apa kalian buta mata hati? Atau memang kalian tidak terlahir dengan hati? Saya juga berpikir, bahwa memang Indonesia ini adalah tempat pertama yang manusianya menyanggupi janji Tuhan untuk menjadi kholifatu fil ‘ardh dulu. Bagaimana tidak, alam ini terlalu subur untuk manusia seperti pemimpin-pemimpin kita, bahkan untuk kita sekali pun. Ketika manusia pertama menyanggupi tawaran Tuhan untuk menjadi pemimpin bumi kala itu, dengan kesombongan seorang manusia, dengan lantangnya beliau menyanggupi bahwa “Saya bersedia, Gusti!”. Lalu kemudian di turunkanlah beliau di tanah yang sebegitu suburnya ini, yang lebih menyerupai Surga. Tuhan Maha Baik, Dia menurunkan Sang Kholifah turun ke Indonesia karena memang agar beliau tidak sawanen dengan suasana yang sebegitu kontrasnya Surga dengan dunia. Maka dari itu, Tuhan menurunkan beliau ke tanah yang mirip Surga agar beliau lebih mudah untuk bersosialiasi.
Karena memang seperti itulah manusia, dengan kebodohan dan kesombongannya. Hingga sampai sekarang, mental tersebut menurun ke anak-cucunya di Indonesia, dengan kebodohannya, hanya menyombongkan Indonesia yang sebegitu kayanya. Indonesia sudah kaya! Lah, tanah Surga, kok. Indonesia tidak bisa miskin! Lah, tanah Surga kok.
Mungkin seperti itu pemikiran beliau sampai anak-cucunya sekarang, sampai akhirnya, sikap itu membodohi kita, bodoh akan Indonesia yang kaya dan tanah surga, sampai tidak hirau dengan Freeport yang membabi-buta di Papua, investor yang menggila dan menjadi reklamator di Bali, Yogya yang disulapnya semula Malioboro menjadi Mall Yok, Bro!
Dan apakah kita masih menginginkan Indonesia kaya jika hanya menutup mata?
Lalu apakah saya hanya menulis dan mengkritik tentang Indonesia tanpa berbuat apa-apa?
Tunggu dulu, jangan gegabah! Apa yang bisa diandalkan oleh generasi muda yang krisis identitas? Sehingga diiming-imingi oleh beasiswa ke luar negeri sangat bangga dan terlena oleh bangsa lain? Kita urek-urek dulu tubuh kita, raga kita, jiwa kita, apa masih pantas menjadi kholifatu fil ‘ardh di ‘ardh yang selayak Surga ini.
Apalah saya yang hanya mahasiswa semester dua dengan indeks prestasi yang kurang maksimal, lalu harus menjadi salah seorang kholifatu fil ‘ardhillah. Lalu apa saya harus tidur dengan bayang-bayang indeks prestasi yang kurang maksimal? Tidak! Saya tidak akan pernah tidur dan bermimpi dengan itu, saya sadar, bahkan sungguh sadar untuk orang yang saat ini sedang tidur bersama rembulan dan pangkuan bintang. Saya sadar, saya sadar bahwa tanah saya subur, kaya, dan indah. Saya sadar jika alam bisa menghidupi saya jika saya bisa menghidupinya. Sungguh mubazir jika alam yang segemintang ini harus dikeruk habis oleh para bajingan di saat kita berkedip. Sungguh mubazir jika negeri yang indah nan luas ini harus tercongkeli oleh para musuh di saat kita sedang kencing. Sungguh mubazir, Teman. Mubazir! Ingatlah, Teman. Bagaimana guru kita mendoktrin bahwa Indonesia segemintang ini dengan alamnya, melalui keindahannya, alamnya yang asri, tanahnya yang subur, dan panoramanya yang kaya, nenek moyang kita tidak ingin kita hanya terlena dengan kekayaan itu. Mereka ingin kita memanfaatkannya, mengolahnya untuk berdiri di atas kaki kita sendiri, berenang di dalam laut kita sendiri tanpa harus takut dengan menteri yang suka menghancurkan kapal, kita bisa tenang dengan hutan kita, pepohonan kita tanpa harus takut dengan aparat yang sukanya hanya memenjarakan orang kecil. Ini tanah kita, Kawan. Negeri ini sempalan dari Surga yang memang sengaja diturunkan oleh Tuhan untuk menghibur nabi Adam.
Apa memang Indonesia lebih baik terlahir dari rahim seorang Pertiwi yang miskin? Bahkan Amerika Serikat lahir dari sesosok Paman Sam yang miskin, mereka bisa membangun pabrik kopi dalam kemasan bahkan mereka tidak punya tanamannya? Apa kita akan kalah yang bahkan kopi pun tinggal ambil dari belakang rumah kita? Lalu apa mesranya lagu yang dibuat oleh Koes Plus jika hanya kita dengarkan dan bayangkan tanpa kita lakukan?
Inilah, Kawan. Memang sudah terlambat jika kita mengharap Indonesia makmur dengan sumber daya alamnya. Tapi tidak ada kata terlambat untuk merampok ulang, merampas kembali apa yang seharusnya memang menjadi milik kita. Apapun yang bisa kita lakukan sekarang, lakukanlah.
Seperti biasa, jika ada kata dan kalimat yang kurang asyik. Silahkan bubuhkan di kolom komentar. Saya menulis di sini bukan menjadi guru bagi kalian yang memang sudah maha guru. Kita belajar bersama, dan sekarang memang giliran saya yang berdiri di depan kalian. Mungkin lain kali akan sebaliknya.
Tanah Kita Tanah Surga!
Terima kasih.

Misbahul Munir

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah mampir. Perlu penegasan, bahwa apapun yang tertulis di sini adalah pengolahan kata dan pengembangan pemikiran dari saya pribadi.

Jangan lupa sandalnya dibawa.