Jangan Menjadi Mahasiswa Labil!

“. . . beri aku sepuluh pemuda, maka aku akan cabut gunung dari akarnya . . .”
-          Ir. Soekarno

Siapa yang tidak kenal dengan slogan dari Sang Bapak Revolusi itu? Salah satu dari sekian banyak pidatonya yang tiap tahun, tiap bulan, bahkan tiap ada acara yang menyangkut pautkan pemuda di dalamnya, selalu terpakai. Dengan suaranya yang khas, dan kewibawaannya yang tinggi, kata-kata itu cukup untuk membuat para negara asing takut bahkan kocar-kacir mendengarnya.
Lalu bagaimana dengan pelengseran beliau sendiri, yang malah dilengserkan oleh para pemuda sendiri? Mungkin begitulah memang ramalan dari seorang Ir. Soekarno. Beliau menganggap dirinya sendiri seperti sebuah gunung yang akarnya menancap kuat di hati masyarakat, kemudian tercabutlah akar itu berkat penuturannya sendiri. Oleh kumpulan pemuda yang bersatu. Bahkan di penggalan lainnya beliau berucap bahwa “Tapi cukup berilah aku satu saja pemuda yang cinta terhadap negerinya, maka aku akan guncangkan dunia ini”. Dan tiba-tiba beliau benar, Indonesia kala itu terguncang oleh kumpulan pemuda yang menuntut beliau lengser dari kursi jabatan kepresidenan.
Lalu bagaimana dengan peristiwa tahun 1998 yang terkenal itu? Tentunya kalian tidak akan lupa dengan pelengseran presiden kedua kita yaitu Soeharto. Siapa lagi yang tidak kenal beliau? Salah satu pemegang dan pembangun rezim baru dalam pemerintahan di Indonesia selama lebih dari 30 tahun. Dan dengan slogannya yaitu PELITA (Pembangunan Lima Tahun) menggadang-gadang dan mengorbitkan nama beliau menjadi Bapak Pembangunan di Indonesia. Padahal, menurut salah satu mahasiswa di kota Malang, Abdur (finalis SUCI 4), yang berasal dari Indonesia bagian timur menganggapnya sama saja. Bagaimana tidak sama saja, menurut pandangan saya yang meskipun belum cukup pantas untuk memandang, ya, memang sama saja. Memang sejak kapan masyarakat dan kehidupan di Indonesia timur bisa sesejahtera pulau Jawa yang kata orang sebegitu sejahteranya? Sudah gonta-ganti dari presiden sampai ke presiden-presidenan, masih sama saja, bukan? Dan pemuda kembali lagi menunjukkan aksinya sebagai salah satu tokoh dalam perubahan kebudayaan di Indonesia. Yakni dengan menurun paksakan kekuasaan rezim Soeharto dengan sebegitu dramatisnya, meskipun harus ditandai dengan pertumpahan darah muda yang sebegitu berharga, namun pemuda tak pernah menyerah saat itu. Ketika semuanya diam dalam keterpurukan dan ketakutan, pemudalah yang membebaskan mereka, mereka yang tertindih, tertindih akan kekuasaan yang sangat tidak manusiawi.
Mengesankan, bukan? Begitulah pemuda jika sudah bangun dari tidurnya. Semuanya akan tunduk di atas kaki kebenarannya.
Dalam opini saya yang sebelumnya, saya sudah membahas tentang bagaimana peran pemuda dalam kemajuan peradaban di dunia, khususnya di Indonesia. Dan sekarang, saya ingin membahas dan beropini tentang sikap pemuda Indonesia di jaman sekarang, yang saya garis bawahi dan lingkar merahi bahwa pemuda di sini mengerucut dalam ruang lingkup yang lebih kecil, yaitu mahasiswa.
Setiap tahun, di setiap sudut kota selalu ada gemuruh riuh suara mahasiswa baru dan lama menggemakan lagu yang sudah menjadi tradisi. Yakni darah juang, sebuah lagu yang berisikan tentang bagaimana kebangkitan mahasiswa, tentang bagaimana mahasiswa menjadi salah satu tokoh yang aktif dalam perubahan kehidupan dan kebudayaan di Indonesia. Setiap tahunnya, mahasiswa baru selalu dijejali ideologi bahwa mahasiswa bukan hanya sekedar pemuda yang berilmu, namun juga sebagai salah satu agen pendewasaan negara terkhususnya sekarang yang semakin ke-kanak-kanak-an ini.
Menjadi mahasiswa pada dasarnya adalah selangkah lebih tinggi dibanding siswa. Atau kenaikan tingkat yang lebih mulia selama menjadi siswa, karena sudah menyandang gelar ‘maha’ yang bermakna agung. Seorang siswa yang agung tentunya harus memiliki sifat-sifat pendewasaan dalam pemikirannya.
Lalu apa korelasinya pendewasaan sifat dengan sikap labil bagi seorang mahasiswa? Apakah itu masalah? Lalu, bagaimana dengan anggapan bahwa mahasiswa adalah salah satu rangkaian kehidupan di mana pelakunya memang sedang menggebu-gebunya dalam pencarian jati diri sebelum masuk ke kehidupan yang lebih kompleks lagi yaitu bermasyarakat dengan berbagai tipe masyarakat yang lain?
Tak bisa dipungkiri juga anggapan yang mengatakan bahwa mahasiswa memang salah satu dari sekian proses untuk mencari jati diri. Toh, memang di umur yang masih belia setengah dewasa ini, pikiran kita (saya menyebut ‘kita’ karena saya juga seorang mahasiswa) masih sedang asyik-asyiknya bertransformasi dari satu hal ke hal yang lain.
Tapi tidak pula diartikan dengan tindakan yang hipokrit atau pemunafikan. Jika pentransformasian pikiran itu masih berada dalam ruang lingkup yang wajar, tentunya tidak masalah, contohnya salah satu ketertarikan kita terhadap sesuatu di hari ini bisa berbeda lagi dengan hari-hari yang lain.
Tapi jika sudah dalam tahapan pentransformasian ideologi, ini salah satu sikap yang perlu di garis bawahi memang sudah menjadi garis bawah yang serius. Contohnya suatu hari kita berhasil menelurkan sebuah ideologi yang menurut kita sangat benar, dan dalam hari yang lain ideologi itu kita sangkal sendiri, sangkal dalam artian yang lebih ekstrem lagi, sangkal dalam artian kita mengafirkan apa yang sudah kita telurkan sendiri. Atau lebih ringannya kita selalu berpendapat dan menelurkan ideologi lain yang bahkan bisa dikatakan berseberangan dalam ideologi yang berhasil kita telurkan sebelumnya.
Kali ini saya akan beropini untuk masalah yang ringan-ringan saja, tentang Mahasiswa tak se-labil itu, Teman! Memang tak se-labil itu!
Mari kita lihat salah satu potret layar yang memang sedari kemarin saya sudah gemas untuk memuatnya dalam opini ini.
Akun media sosial (medsos) ini adalah akun yang dimiliki oleh salah satu mahasiswa baru Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta. Kita bisa melihat dan menyimpulkan secara gampang bagaimana bangganya dia bisa diterima di kampus yang memang digila-gilai oleh para penggila ilmu itu. Kata-katanya yang simpel dan langsung ke dalam inti permasalahan membuat setiap orang yang membacanya langsung mengerti tentang bagaimana perasaannya saat pertama kali diterima di salah satu kampus terbaik itu.
Sengaja dia saya jadikan objek untuk opini kali ini bukan karena saya ingin menggurui dia. Sama sekali tidak! Apalah saya yang hanya manusia biasa. Saya hanya ingin beropini tentang cara berkicaunya di dalam medsos. Ini seperti aji mumpung, nah, yang kali ini, kan, mumpung ada orang yang menurut saya pantas untuk dijadikan objek. Bukan berarti saya mengolok bahkan merendahkan dia, sama sekali tidak. Dia sebenarnya juga mahasiswa yang cerdas, mana ada seseorang yang tidak cerdas bisa masuk kampus favorit semua orang?
Lalu bagaimana dengan ini?
Mengesankan, bukan?

Terlihat sekali betapa bangganya dia masuk fakultas filsafat di UGM. Gaya berpikirnya jempolan. Memang sedikit wajar dengan cara berpikir yang seperti itu, yaitu membanggakan apa saja yang menurutnya baru, apalagi permasalahan baru itu adalah sesuatu yang memang sangat diidam-idamkan oleh orang banyak. Tak salah memang, filsafat memang induk dari segala ilmu, dan seseorang yang mampu mendalami bahkan menjadi ahli di bidangnya, maka secara tidak langsung mereka sudah bisa menjalankan penalaran tentang semua ilmu yang bersangkutan.
Fase-fase ini untuk mahasiswa baru sangatlah lumrah, bahkan sangat banyak sekali. Tidak lain tidak bukan, ada beberapa faktor yang menyebabkan ini, yakni di antaranya adalah sikap bangga yang memang pilihan itu adalah pilihannya sendiri, sikap bangga karena mendapat banyak doktrin dari kakak atasannya untuk mencintai bahkan merangkul mesra jurusan yang dienyamnya, dan yang terakhir sikap bangga karena terpaksa, terpaksa untuk ‘ah, kalau tidak bangga, kan, mubazir tenaga dan usaha kita’. Faktor yang terakhir ini biasanya dialami oleh mahasiswa yang tidak bisa mencapai target yang mereka inginkan, entah apapun itu faktornya.
Tapi kalau sang objek itu, saya kira bisa masuk faktor yang kedua, penjelasannya akan saya jelaskan nanti, karena dalam gambar tersebut terdapat sebuah alasan kenapa saya beropini tentang ini.
Lalu, bagaimana jika kalian melihat gambar yang satu ini?
Pasti kalian akan bertanya-tanya, ‘Kenapa seseorang yang begitu membanggakan jurusannya ingin mengulang di tahun berikutnya dan bilang kalau dia salah jurusan?’ kalau iya, berarti kita sama.
Saya juga demikian, bertanya-tanya tentang hal yang seperti itu. Bagaimana tidak, saya sebagai salah seorang temannya di medsos merasa tidak percaya dengan statusnya yang sedemikian. Kita bisa lihat di status-statusnya yang saya potret layar di atas. Tentang betapa kebahagiaannya, tentang sebagaimana kebanggaannya tentang masuk di fakultas filsafat UGM. Lalu tiba-tiba dia posting status yang secara tidak langsung berisi tentang pencabutan sebuah paku yang sudah erat tertancap.
Ternyata salah satu hal yang membuatnya demikian hanya karena indeks prestasinya (IP) di semester satu tidak sesuai dengan apa yang dia inginkan! Betapa labilnya dia. Bagaimana tidak, dia orang yang cerdas, terlihat dari caranya berstatus, berpendapat, berargumen di media sosial, bangga dengan fakultas filsafat UGM, lho, kok tiba-tiba menciut hanya gara-gara IP tidak maksimal. Ini, kan, sama saja kalau kita sudah menancapkan paku kebanggaan di sebuah balok kayu bernama kepercayaan, lho, kok tiba-tiba hanya gara-gara haus akan IP tinggi, dia ingin mencabut paku yang sudah lama dia tancapkan di balok kayu tersebut. Tidak salah memang, tapi, lalu bagaimana pendapat seseorang yang memaku di atas balok yang sama di sampingnya? Yang hanya memaku itu karena terpaksa, yang hanya memaku itu karena tuntutan, tidak peduli bagaimana dia haus, lapar, pun penuh dengan kekurangan?
Saya juga bisa bilang kalau objek ini adalah manusia yang mengingkari kesyukuran dirinya sendiri, atau lebih ke kedinian cara berpikir dan menentukan pendapat.
Saya memaklumi memang, sangat memaklumi cara berpikir seperti ini untuk mahasiswa yang memang notabene baru saja ke jenjang pencarian jati diri. Tapi tidak sebegitu sempitnya sampai ingin pindah jurusan, menyatakan ‘salah jurusan’ setelah sekian lama jurusannya dibangga-banggakan di awal dan dijatuh hempaskan di akhir. Apa kalian tidak bisa mengetahui betapa sakit hatinya sebuah jurusan jika hanya dijadikan pelampiasan? Untuk apapun itu masalah jurusan, khususnya untuk mahasiswa yang memang benar-benar ‘salah jurusan’ seperti saya. Hey, Tuhanmu tidak tidur, Kawan! Dia tidak menempatkanmu di jurusan yang salah, Dia hanya ingin kau tidak sebegitu egoisnya dengan keinginan duniawimu. Dia ingin menunjukkan kepadamu, ‘Ini, lho, jurusan yang seharusnya pantas denganmu,’ lalu bagaimana bisa kalian mengingkari pilihan Tuhan kalian sendiri setelah kalian meminta kepada-Nya?
Kemudian saya semakin gemas dengan gambar ini.

Hadeh, mahasiswa tak selabil itu, Kawan.

Hanya untuk pemikiran dalam pembuatan status saja tidak berpikir dengan sebegitu matang, mata statusmu juga yang akan mematangkanmu untuk berpikir lagi. Saya tidak sebegitu jahatnya hanya untuk mencela objek dalam pembuatan sebuah status. Tidak juga saya menggurui kalian semua hanya untuk masalah sepele. Tapi, saya setidaknya hanya mengingatkan, dalam media sosial, kekonsistenanmu diuji oleh teman di seluruh dunia maya.
Untuk memegang status sendiri saja sebegitu sulitnya, apalagi untuk memegang tanggung jawab kita sebagai manusia yang arif? Bahkan dalam penentuan nama kelak saat di surat undangan pun sebegitu sulitnya.
Ini tidak hanya menyangkut ruang lingkup yang sebegitu sempitnya dalam masalah nama di sebuah surat undangan, tapi menyangkut tentang cara berpikir kita dan menepati sebuah perkataan. Dalam satu gambar, kita mencela, bahkan lebih ke ‘buat apa sebuah gelar?’, dalam gambar yang satunya lagi malah kita mencela diri kita sendiri dengan ‘ini, lho, gelar yang saya inginkan’, sebegitu banyaknya, kah?
Saya tekankan lagi, tidak hanya untuk masalah sebuah nama di dalam surat undangan, tapi mengenai permasalahan kita yang begitu kompleks. Dan dalam contoh kali ini, kita mengambil salah satu sampel yang lebih kecil dari sebuah masalah besar.
Imbuh saya, segala permasalahan yang besar tentunya akan diawali dengan permasalahan yang mendasar. Seperti halnya di atas, bukan permasalahan di ataslah yang saya ingin sampaikan. Yang di atas hanya sebuah contoh, dalam kehidupan lainnya, kita selalu mendapati masalah yang menurut kita sepele padahal bisa mengakibatkan masalah yang ke sepuluh. Tergantung bagaimana cara kita pula untuk menghadapi sesuatu tersebut.
Saya kira hanya itu saja yang bisa saya sampaikan dalam opini kali ini, saya juga minta maaf untuk objek yang sudah saya jadikan sampel sebelum saya meminta izin sebelumnya. Ini hanya untuk pembelajaran, kita belajar bersama-sama, jika sebuah kata membuat anda atau bahkan kalian tidak mengenakkan, bubuhkan sebuah unek-unek di kolom komentar.
Hidup mahasiswa!
Terima kasih.


Misbahul Munir

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah mampir. Perlu penegasan, bahwa apapun yang tertulis di sini adalah pengolahan kata dan pengembangan pemikiran dari saya pribadi.

Jangan lupa sandalnya dibawa.