Engkau-ku

Malam itu tiba dengan sebegitu hitamnya 
Bebintangan mengumpat di balik awan yang keras 
Rembulan? Sinarnya sudah membutakan mata-mata kucing yang terbengkalai karena kecentilan ikan 

Alangkah murkanya jika bumi tahu seorang Aku 
Aku yang lapar dan selalu makan 
Memakan apa saja sampai hampir muntah 
Memuntahkan apa saja yang sudah aku makan 

Alangkah bencinya jika angin mengerti Aku 
Aku yang masih haus meski tak dahaga 
Dahaga tentang alam, alam yang mengembang di kambangan kubangan 
Kubangan tai kuda yang keras berkat sisiran angin 

Alangkah bersungutnya Tuhan jika aku selalu tamak 
Entahlah 
Aku tak peduli pun siapa yang selalu mencampa, membenci, dan mengutukku 

Siapa mereka? 
Haha. Bahkan Tuhan pun aku tantang! 
Aku balik murka padaNya jika aku Dia larang sedemikian 
Siapa bumi? Angin? Kau dengar? Tuhan pun aku tantang! 
Aku tamak itu untuk kebaikan mereka yang mencampa 
Pun dengan aku yang butuh 

Tuhan, 
Tuhan, 
Tuhan, 
Aku menyebut asmaMu, Tuhan! 
Tiga kali! 
Kemarilah, hampiri hambaMu dan laranglah aku 
Larang hambamu yang selalu haus, lapar, dan tamak ini 

. . . 
. . . 
. . . 

Tuhan, apa Kau masih di sana? 
Maaf jika aku lancang sebagai nama hambaMu 
Tapi aku tamak karena aku bukan pecundang 
Sekali lagi atas nama hambaMu aku berikrar 
Aku akan selalu tamak! 
Aku akan selalu lapar! 
Aku akan selalu haus! 
Jika semua berupa kenikmatan dan kesejukan jiwa yang pun itu lah Kau yang anjurkan 
Aku akan selalu tamak! 
Aku akan selalu lapar! 
Aku akan selalu haus! 
Jika semua berupa kasih sayang dan keselamatan menuju ridhoMu 

Seperti ini, Tuhan! 
Seperti ini! 
Ya, seperti ini 

Yogyakarta, 06 Maret 2015.

Misbahul Munir

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah mampir. Perlu penegasan, bahwa apapun yang tertulis di sini adalah pengolahan kata dan pengembangan pemikiran dari saya pribadi.

Jangan lupa sandalnya dibawa.