Saat aku hadir dalam ringai senyummu
Apa yang akan kau lakukan, Kasih?
Dengan tubuhku yang tak layak peluk
Dengan bibirku yang tak layak kecup
Aku merelakan segala kegaduhan yang meronta dalam dasar kerah
Entah darah mana lagi yang akan membuka matamu tentang ketakjuban rasaku
Sama sekali tak ada yang bisa kupertontonkan ke khalayak
Bahwa sebenarnya aku memang tidak layak
Memakai kopyah hitam di saat bahagiamu kelak
Entah dera mana lagi yang harus kuperbudak
Dera mendera sedera hati tersandera
Kau tahu maksudku, Kasih?
Tidak usah kau berlagak bodoh dengan menderama
Bahkan kau tahu apa dan siapa yang menjadi sebab aku tersandera
Apalagi yang harus kau tanyakan tentang tubuhku yang hampir roboh?
Apa tanyaku tentang bagaimana langit tidak roboh?
Atau pintamu agar hatiku tetap kokoh?
Haha, bodoh!
Aku sama sepertimu, kasih!
Bahkan tulangku hilang menjelma dirimu
Bagaimana kau bisa menuntut aku sekokoh itu?
Kau terlalu banyak mencerna drama
Sehingga priamu ini kau tularkan penyakitnya
Pikirkan sekali lagi tentang camar yang selalu indah
Atau tentang anggrek yang mekar di lembah-lembah gersang kesunyian
Apalagi yang kau tuntut kepada aku yang tak seindah camar?
Bahkan hidupku tak seindah anggrek meskipun gelapku tak gersang
Kau, Cinta
Kau, Sayang
Kau, Kasih
Aku bahkan sebodoh engkau saat kuucap dan kau dengar kata cinta
Haha, bodoh!
Apa yang ku tahu tentang cinta yang bahkan aku tak kuasa mengenyamnya
Mungkin kau bisa bayangkan aku sedang telanjang sembari menafsirkan kata cinta
Dengan tangan yang mengacung tegas menunjuk kau sebagai terpuja cinta
Sungguh bodoh jika kau percaya akan kegilaan itu
Aku tidak gila, Cinta
Aku tidak gila!
Jika kau temukan kegilaan dalam jiwa ini
Mungkin kau sebodoh bayangmu tentangku jika kau tak mengerti sebabku
Sayang dan Kasih?
Haha, iya!
Bodoh jika aku tak mengerti
Yang tiap suapnya kau makan enyam
Dengan kunyahan lembut kau leburkan rerasa itu
Bajingan kau, Kasih!
Bajingan benar jika kau tak mengerti maksudku
Apa kau lebih bodoh dariku yang hanya mengingat namamu di samping Tuhan dan Nabiku?
Ayolah, Kasih!
Kau tak sebodoh itu jika kau tahu
Kau tak se-bajingan itu jika kau mau
Saat aku hadir dalam ringai senyummu
Apa yang akan kau lakukan, Kasih?
Yogyakarta, 20 Februari 2015.
Apa yang akan kau lakukan, Kasih?
Dengan tubuhku yang tak layak peluk
Dengan bibirku yang tak layak kecup
Aku merelakan segala kegaduhan yang meronta dalam dasar kerah
Entah darah mana lagi yang akan membuka matamu tentang ketakjuban rasaku
Sama sekali tak ada yang bisa kupertontonkan ke khalayak
Bahwa sebenarnya aku memang tidak layak
Memakai kopyah hitam di saat bahagiamu kelak
Entah dera mana lagi yang harus kuperbudak
Dera mendera sedera hati tersandera
Kau tahu maksudku, Kasih?
Tidak usah kau berlagak bodoh dengan menderama
Bahkan kau tahu apa dan siapa yang menjadi sebab aku tersandera
Apalagi yang harus kau tanyakan tentang tubuhku yang hampir roboh?
Apa tanyaku tentang bagaimana langit tidak roboh?
Atau pintamu agar hatiku tetap kokoh?
Haha, bodoh!
Aku sama sepertimu, kasih!
Bahkan tulangku hilang menjelma dirimu
Bagaimana kau bisa menuntut aku sekokoh itu?
Kau terlalu banyak mencerna drama
Sehingga priamu ini kau tularkan penyakitnya
Pikirkan sekali lagi tentang camar yang selalu indah
Atau tentang anggrek yang mekar di lembah-lembah gersang kesunyian
Apalagi yang kau tuntut kepada aku yang tak seindah camar?
Bahkan hidupku tak seindah anggrek meskipun gelapku tak gersang
Kau, Cinta
Kau, Sayang
Kau, Kasih
Aku bahkan sebodoh engkau saat kuucap dan kau dengar kata cinta
Haha, bodoh!
Apa yang ku tahu tentang cinta yang bahkan aku tak kuasa mengenyamnya
Mungkin kau bisa bayangkan aku sedang telanjang sembari menafsirkan kata cinta
Dengan tangan yang mengacung tegas menunjuk kau sebagai terpuja cinta
Sungguh bodoh jika kau percaya akan kegilaan itu
Aku tidak gila, Cinta
Aku tidak gila!
Jika kau temukan kegilaan dalam jiwa ini
Mungkin kau sebodoh bayangmu tentangku jika kau tak mengerti sebabku
Sayang dan Kasih?
Haha, iya!
Bodoh jika aku tak mengerti
Yang tiap suapnya kau makan enyam
Dengan kunyahan lembut kau leburkan rerasa itu
Bajingan kau, Kasih!
Bajingan benar jika kau tak mengerti maksudku
Apa kau lebih bodoh dariku yang hanya mengingat namamu di samping Tuhan dan Nabiku?
Ayolah, Kasih!
Kau tak sebodoh itu jika kau tahu
Kau tak se-bajingan itu jika kau mau
Saat aku hadir dalam ringai senyummu
Apa yang akan kau lakukan, Kasih?
Yogyakarta, 20 Februari 2015.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terima kasih sudah mampir. Perlu penegasan, bahwa apapun yang tertulis di sini adalah pengolahan kata dan pengembangan pemikiran dari saya pribadi.
Jangan lupa sandalnya dibawa.