Seperti biasa, apalagi pekerjaan sehari-hari Otong
kalau bukan ngopi di warung Bu Derpina sembari membaca koran pagi. Yah,
aslinya, sih, Bu Derpina tak pernah senang Otong ngopi di sini, bagaimana
tidak, tunawisma seperti Otong mau punya uang dari mana? Ngerti sendiri, kan,
jika Otong ngopi di warung Bu Derpina, sudah jelas-jelas dia ngutang.
Pagi itu sepertinya sangat tidak menarik bagi
Otong, bagaimana tidak, berita di koran, ya, cuma itu-itu saja. Dari kemarin
tidak pernah berubah, mulai dari polemik harga cabe mahal tapi harga
cabe-cabean merangkak naik, kontroversi hubungan percintaan dan kehidupan si
seleb yang lagi naik daun yaitu Cita Cita-citanya, pertarungan sengit antara
cicak lawan buaya, sosok ketua RT yang baru saja lengser dan sangat dirindukan,
sampai-sampai berita jatuhnya pesawat kertas anak Pak Tono yang malah semakin
seru dan menjadi trending topic di mana pun. Otong hanya membolak-balik
halaman per halaman koran pagi itu, setiap kepala berita dibacanya tak sampai
tuntas. Kemalasan Otong berbuntut panjang, sampai-sampai koran itu di lemparnya
ke jalan. Beeeh, tentunya Bu Derpina bersungut-sungut akan itu, gerakan
bibirnya sangat seksi saat mengomeli Otong, Otong tidak marah, bahkan dia
takzim memerhatikan bibir itu yang bergerak-gerak lincah di depan mukanya.
Melihat tingkah Otong yang kurang ajar bin genit
itu, Bu Derpina tentu tidak tinggal diam. Dia mengepalkan tangan kanannya dan
langsung meninju pipi kiri Otong sampai Otong kewalahan, tentu Otong tidak
siap-siap menerima tinjuan itu, lah, dari tadi Otong mengsam-mengsem lihat
bibir Bu Derpina yang bergoyang-goyang merah. Saat Otong baru saja mau bangun
dari jatuhnya, tiba-tiba tendangan kaki kanan Bu Derpina pun mendarat manis di selangkangan
Otong. Otong tidak bisa berkutik lagi, kemudian dia berlalu sambil tangan
memegangi selangkangannya, touch down! Otong kalah telak oleh Bu
Derpina.
Pos Ronda sudah bersiap-siap untuk menampung Otong
bersama kesakitannya. Dia merenung, merenungi nasib yang belum juga membaik. Pandangannya
menelusur tinggi ke langit-langit atap, kemudian menembusnya lagi ke langit
yang sesungguhnya, sungguh biru, sejuk seperti hidup Otong. Dulu. Bukan
sekarang.
Otong sudah asyik memejamkan matanya, tenteram,
atau lebih tepatnya menenteramkan diri. Tiba-tiba Joko datang dengan bingungnya
pula, entah Pos Ronda ini mungkin dibuat oleh tangan yang salah dan untuk
tangan yang salah. Pos Ronda sudah jelas-jelas gunanya untuk jaga malam atau
yang lainnya, bukan untuk tempat galau seperti yang dilakukan Otong dan Joko.
Mungkin kalau Pos Ronda ini bisa bicara, beeeeeh, sudah diomeli mungkin Otong
dan Joko olehnya. Syukurlah, Tuhan hanya menciptakan Pos Ronda tanpa mulut.
Joko datang dengan bingungnya, sambil memegang
koran di tangan kanannya. Bingung. Dia hanya duduk di samping Otong, dan dengan
niatan jailnya, dia mengagetkan Otong yang sedang tenteram dengan lelapnya
dengan memukulkan koran tepat di kepala Otong. Tanpa ada aba-aba dari komandan
jangkrik, Otong langsung berjingkrak kaget! Dia gelagapan, tidak tahu menahu
apa yang sebenarnya menimpa dirinya, pasalnya, dia sudah bermimpi dengan Bu
Derpina, lah, kok, mimpinya tiba-tiba berubah menjadi mimpi buruk bin hancur.
Otong menduga bahwa kejadian ini adalah kejadian nyata dari Bu Derpina yang
tiba-tiba berubah menjadi rubah ekor sembilan.
“Jancuk, Lu, Jok!” bentak Otong saat sadar bahwa
itu adalah pekerjaan Joko.
“Haha, Lu sudah baca berita terbaru, nggak?”
jawab Joko usil, sambil menyodorkan koran yang tadi dipegangnya.
“Ah, palingan berita itu-itu saja, males, Jok!
Udah basi, apalagi drama yang dilakukan kembaran Lu di rumah dinas, itu
menyebalkan banget!” Otong menjawabnya dengan nada tinggi, tepatnya nada yang
terlewat tinggi.
“Eh, bukan! Ini dari ketua RT sebelah!”
“Coba mana lihat?” jawab Otong.
Joko menyodorkan koran itu, langsung tepat di
halaman yang Joko maksud.
“Ini, sih, tentang Ivan Gunawan, Eh, Budi Gunawan
yang gagal kawin, Jok!” reaksi Otong yang tahu bahwa halaman yang disodorkan
Joko adalah salah. “Jancuk, Lu, Jok!”
“Haha, salah-salah, Tong. Maaf,” kemudian Joko
membenarkan halaman yang dia maksud.
Kepala berita itu tertera, Otong membacanya dengan
hati-hati. “KETUA RT GREGET, DIA MENYOPIR SENDIRI MOBIL DEREK UNTUK MENGGUSUR
ORGANISASI ‘ONGKEP’, MASYARAKAT KAGUM”
“Hahancuk! Ini kan temannya Pak Prabu yang kemarin
gagal jadi ketua RT! Wah, harusnya ketua RT di sini juga Pak Prabu, Jok.
Ngapain juga kembaran Lu yang jadi ketua RT, kan, nggak gereget!” reaksi
Otong setelah membaca kepala berita itu.
“Enak aja, Lu, Tong! Gue nggak mau lah
punya kembaran kayak gitu, untung juga cuma nama yang kembar. Ampun, deh, kalau
nasib dan mentalnya yang kembar,” reaksi Joko juga saat mendengar reaksi Otong.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terima kasih sudah mampir. Perlu penegasan, bahwa apapun yang tertulis di sini adalah pengolahan kata dan pengembangan pemikiran dari saya pribadi.
Jangan lupa sandalnya dibawa.