Entah kenapa semenjak beberapa waktu yang lalu,
Otong sedikit tidak bisa menikmati hidup. Bukan karena hidupnya selalu diganggu
oleh makhluk-makhluk Astra, apalagi makhluk-makhluk yang nggak jelas seperti
siluman harimau, serigala, dan lainnya. Otong yang sebagai tunawisma terhormat
merasa tidak lagi terhormat di mata emaknya, bagaimana tidak, setiap saat
emaknya selalu mengingatkan Otong tentang umurnya yang sudah lagi tak muda. Mungkin
tidak hanya emaknya Otong saja yang demikian, bagi ibu-ibu yang mempunyai anak
sebesar Otong dan hanya tunawisma alias pengangguran, siapa yang tidak marah
coba? Semua orang tua tentunya menginginkan anaknya untuk sukses, apalagi Otong
sebagai seorang lelaki yang harusnya kelak akan mengemban tugas yang lebih
berat saat sudah menikah. Untuk urusan menikah, emaknya entah kenapa tidak
sebegitu kritis seperti menanyakan pekerjaan ini. Mungkin Otong memang
ditakdirkan nge-jomblo seumur hidup? Tentunya tidak, emaknya selalu tidak ingin
demikian meskipun Otong anak yang bandel bin ndableg.
Percakapan itu dimulai saat keduanya saling
menonton berita di sebuah stasiun televisi swasta. Siang itu, hampir semua stasiun
televisi menayangkan hal yang sama, yaitu berita, entah ada koalisi apa dari
mereka, yang jelas bukan untuk merebut kursi nomor satu di ranah pertelevisian
Indonesia.
Otong mulanya sudah bosan dengan berita yang
ditayangkan setiap harinya yang hampir sama, bahkan cenderung waktu
penayangannya pun sama, entah juga apa yang mereka pikirkan saat menayangkan
berita. Yang jelas ini seperti adegan-adegan film yang begitu membosankannya,
dan yang jelas istilah membosankan itu disulap menjadi istilah yang sangat
menarik, bahkan cenderung ke-bule-bule-an. Apalah itu, mungkin de javu. Mungkin.
Emak si Otong yang dari dulu memang kritis sangat
takzim menikmati tayangan berita yang ada di layar televisinya. Tidak seperti
Otong yang mukanya didominasi oleh kecemberutan, bagaimana tidak, setiap hari
apa yang ditayangkan di televisi adalah hal yang sama? Wajar dong kalau Otong
cepat bosan, ya, meskipun dia adalah tunawisma yang kritis seperti emaknya,
tapi jika lama-kelamaan begini kan otaknya juga bisa ikut kritis juga?
Tapi kali ini beritanya sedikit berbeda, ya,
meskipun tidak bisa dikatakan berita baru, sih, tapi ini sedikit fresh, tidak
seperti kemarin yang hanya membahas masalah hewan saja, entah itu, cicak lah,
buaya lah, banteng lah, bahkan tikus pun ikut dibahas, siaran televisi kemarin
sudah seperti serial animals and adventures. Tapi sekarang sedikit beda, cuma
sedikit! Tidak usah banyak-banyak. Saat ini televisi sudah gencar-gencarnya
menayangkan besarnya gaji-gaji pengabdi negeri di ibu kota! Iya, Jakarte, mau
mana lagi?
“Wah, enak tuh kerja di Jakarte, gajinya banyak,
Tong!” komentar emak di sela-sela kesibukannya nonton berita. Kemudian kembali
takzim menonton saat pernyataannya hanya dijawab dengan anggukan Otong.
“Wuih, Jakarte kaya, yah? Masak pengabdi saja
dibayar sudah melebih gaji almarhum bapak lu selama dua puluh tahun, mungkin
juga lebih!” emaknya berkomentar lagi.
“Ya, bapak dulunya kan memang membela negeri ini,
Mak. Itu juga uang dulu, mata uangnya kan memang kecil,” komentar Otong
menengahi, mungkin sedikit usaha untuk menyumpal mulut emaknya.
Emak masih takzim menonton berita. Seperti tidak
menghiraukan apa yang dikatakan Otong. Otong asyik-asyik saja, mungkin itu
tandanya emak tidak akan komentar lagi.
“Wah, Lu harus kerja di sana, Tong! Sebulan saja
sudah kaya mendadak Lu!” tiba-tiba emaknya buka mulut Dean nada yang sangat
tinggi! Otong pun spontan kaget.
Otong mengelus-elus dada untuk menenangkan dirinya
sendiri, dia sedikit bingung mau bilang apa, dia hanya mendiamkan perkataan
emak yang begitu frontalnya tadi.
“Kok Lu nggak jawab? Itu saran emak yang terbaik,
lagian Lu kan sudah lulus kuliah. Besok berangkat, yah? Siapa tahu bisa jadi
tukang bersih-bersih kantor atau apalah, yang penting jangan jadi tikusnya,”
oceh emak dengan nada yang sangat cepat. Otong mulai meragukan tentang karier emaknya
yang katanya dulu seorang pesinden, mungkin dia rapper, mungkin juga kondektur
bus? Mungkin, sih, mungkin.
“Itu, sih, namanya nggak abdi negara, Mak! Masak pengabdi
kok minta bayaran?” jawab Otong singkat. Kemudian rasa nyess-nya terasa banget
di hati emak, dia mulai kritis, meragukan juga kesarjanaan Otong yang katanya
arsitektur, jangan-jangan Otong kuliah di tempatnya Pak Mario Tebu?

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terima kasih sudah mampir. Perlu penegasan, bahwa apapun yang tertulis di sini adalah pengolahan kata dan pengembangan pemikiran dari saya pribadi.
Jangan lupa sandalnya dibawa.