Korban Ganteng-Ganteng Segawon

Malam yang larut. Bebungaan malam semakin menyerbakkan wanginya melalui angin, sedangkan kuncup-kuncupnya seakan tercumbui oleh kumbang tak sengaja lewat.
Lain ladang lain ikan. Lain tempat lain suasana. Tak ada bunga sesemerbak bebungaan malam, bahkan parfum a la Paris bunga desa pun kala jauh dengan harum alami dari Sang Pencipta Alam. Otong tak berselera bergaul dengan emaknya di rumah, sudah jelas tidak ada yang bisa dilakukannya, entah itu kegiatan atau menggiatkan. Rumah sudah sepenuhnya dikuasai oleh emaknya, tinggal malam-malam di rumah pun sama saja dengan menunggu zebra kecil memangsa singa  induk. Sangat tidak berguna dan membosankan sekali. Seratus persen kehidupan malamnya lebih memburuk dibandingkan dengan kehidupan paginya yang memang selalu buruk. Cuma gara-gara remot televisi, rumah bisa gaduh segaduh-gaduhnya, bagaimana tidak, meskipun emaknya orang yang menularkan bakat kekritisan kepada Otong, masih saja serial sinetron yang tidak bermutu-lah yang ditonton. Perbedaan yang sangat mencolok sekali memang, di luar negeri, hewan-hewan meniru gaya orang untuk menjadi artis, lah, kok di Endonesah malah orang-orang meniru hewan untuk jadi artis. Sebenarnya ini siapa yang hewan sesungguhnya? Men-njancuk-isasi sekali, bukan?
Entah nasib seperti apa yang akan Otong dapatkan saat meniru kumbang yang mencumbui bunga. Setelah keluar selangkah dari pintu rumahnya, dia sudah memutuskan untuk mencumbui Pos Ronda yang sudah lama tak berpenghuni. Setidaknya Otong punya niatan, cukup hatinya saja yang tak berpenghuni, bukan Pos Rondanya.
Setelah sampai di Pos Ronda, Otong mencoba untuk merebahkan sedikit bebannya ke gelaran bambu yang mewangi. Matanya mengatup, bukan untuk dicumbui oleh kumbang, mungkin lelap yang akan bercumbu mesra dengan semilir angin malam.
Entah juga, apa langkah ini juga yang akan membuat Otong tidak tidur di rumah. Pos  Ronda sudah cukup nyaman untuk sekedar bersandiwara dengan tawa.
Satu jam – dua jam, kehidupan Otong  sangat sejahtera. Angin menimang-nimangnya dengan baik nan elok.
Berbeda jauh sekali saat Joko datang dengan sarung melingkar di pundak. Sepertinya masalah kembali terjadi.
Tok tok tok tok . . .
“Maling! Maling! Jancuk!!” refleks buruk seorang Otong.
“Haha . . .” sedangkan Joko hanya memegangi perutnya yang sudah hampir kering karena tertawa.
“Segawon Lu, Jok!”
Joko semakin erat memegangi perutnya. Nafasnya tersenggal-senggal karena tertawa.
“Lu kenapa ke sini?” tanya Otong kalem, merasa cukup berdamai dengan Joko. Setidaknya tidak membuat dirinya kesepian di Pos Ronda, entah untuk semalam penuh atau cuma mampir tertawa.
“Biasa, lah, Tong. Bini gue, ngambek gara-gara remotnya gue sembunyiin,” jawab Joko dengan nada lempeng. Air mukanya seperti mengeja bungkus susu yang sudah basi.
“Waduh, gereget Bener, Lu, Jok! Kenapa Lu sembunyiin tuh remot?” tanya Otong dengan muka penasaran. Sudah seperti menebak Ki Joko Kumprong meramal skor liga dunia.
“Biasa, lah. Gue, kan, manusia, Tong! Masa’ dari kemarin bahkan dulu tontonannya cuma Animals Planet doang!”
“Maksud Lu, Jok? Kan Animals Planet udah nggak ada,” Otong semakin tak mengerti, entah iya atau tidak, bahkan dia tak punya prediksi iya bahkan tidak.
“Ah, nggak peka banget Lu, Tong! Itu, loh, Ganteng-Ganteng Segawon, Pitu Wong Dinogelem, sama teman-temannya itu, loh,”
“Owalah, Jok, nasib kita sama ternyata,”
Keduanya pun sama-sama menepuk jidat, anehnya, bukan jidatnya sendiri yang ditepuk.

Misbahul Munir

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah mampir. Perlu penegasan, bahwa apapun yang tertulis di sini adalah pengolahan kata dan pengembangan pemikiran dari saya pribadi.

Jangan lupa sandalnya dibawa.