“Mak! Otong pengen punya pesta ulang tahun.”
Tidak ada intro apapun saat itu, angin berhembus
semestinya, panas pun memancar sewajarnya, tapi otak Otong yang seakan tidak
berputar semestinya, atau memang sudah tidak bisa berputar?
Semuanya bermula semenjak Otong punya kambing
baru. Sudah tidak baru lagi memang, kira-kira sudah sekitar tiga bulan kambing
itu menghuni kandang sederhana Otong. Setiap paginya, Otong selalu merawat
kambing itu seperti merawat pacar sendiri. Maklum, lelaki sebesar Otong belum
juga dikaruniai kecintaan batin terhadap lawan jenis, jadi Otong merekayasa
takdir dengan mengaruniakan dirinya sendiri kecintaan batin terhadap lawan
jenis. Alias lawannya manusia (hewan).
Tiga bulan merawat, Otong tidak punya pemikiran
apa-apa, semuanya jernih seperti semula.
Alkisah, Otong lagi bersantai ria setelah
mencarikan rumput-rumput untuk kambing-kambingnya. Sebagai seseorang yang
normal, Otong tentunya butuh istirahat. Secangkir kopi hitam dan koran pagi
sudah siap menemaninya di pagi yang begitu buta. Otong menyeruput seruputan
pertama itu dengan pelan, menikmatinya di setiap inci kenikmatan terhadap kopi
hitam. Kepala-kepala berita dibacanya dengan takzim, tapi pers masa kini,
seperti de javu, berita kemarin yang sudah menjamur di otak
masing-masing pembaca diolah kembali dengan bahasa yang berbeda, sehingga
menimbulkan kesan berita baru padahal basi, bodohnya lagi, masih ada yang
membaca berita itu tanpa mencerna lagi. Mengesankan sekali pers ini.
Di sebuah halaman, tidak tahu tepatnya halaman
berapa, namun sangat jelas sekali kepala berita itu. Sebuah kepala berita yang
bisa membuat Otong sedikit tercengang. Bukan karena hebat atau bagaimana, tapi
sepertinya menurut Otong tidak pantas lah jika berita ini sampai dimuat di
media massa setenar koran yang Otong baca. Bagaimana tidak, siapa yang ingin
tahu ada sepasang anjing yang ingin menikah. “UNIK, SEPASANG ANJING INI
DINIKAHKAN OLEH PEMILIKNYA”, siapa yang ingin menonton pernikahan sepasang
anjing? Beda lagi kalau ada pernikahan seekor anjing dengan seorang manusia,
ini baru berita gila! Bukan gila beritanya, lebih tepatnya lagi sang pembuat
berita yang gila! Ini sudah dapat dipastikan lagi, bahwa planet kita tercinta ini,
lebih tepatnya Endonesah sudah terinvasi oleh hewan-hewan peliharaan kita
sendiri yang mungkin sudah bosan hidup begitu-begitu saja, sudah bosan minum
susu dari wadah, dan mungkin lebih menginginkan minum susu dari susu
majikannya. *hewan menang banyak, Bro*
“Lu ini kenapa, Tong? Apa Lu pas cari makan
kambingmu tadi nemu batu meteor?” emak geleng-geleng dengan pembicaraan Otong
yang selalu ngawur di tiap harinya.
Otong menggeleng pelan.
“Lah, Lu kenapa terusan? Boro-boro ulang tahun,
Tong, Tong, gue bisa beliin Lu kambing aja untung-untungan,” curhat emaknya
sambil menepok jidat tiga sampai empat kali.
Otong hanya terdiam, membisu.
Emaknya lupa dimana tombol berhenti untuk
mengoceh, Otong hanya meringkuk bosan, dengan tangan menempel erat-erat di
telinga, Otong sudah kebal, setidaknya bisa menganggap ocehan emaknya lebih
seperti lagu nggak jelas yang sering didengarnya di radio-radio tetangga. Otong mah apa jatuh.
“Lu abis kesambet apa, Tong?”
“Bukan buat saya, kok, Mak,” jawab Otong dengan
wajah memelas. Kasihan sekali.
“Lah, terus buat siapa? Kambing Lu? Kayak di
koran-koran?”
Otong diam sejenak, menyiapkan amunisi yang
manjur, entah itu bantahan atau sangkaan. Semenit berlalu.
“Lu masih hidup, kan, Tong?” tanya emaknya
penasaran, seperti sudah tidak ada tanda-tanda kehidupan lagi di dalam diri
Otong.
“Hehe . . .”
jawabnya sambil nyengir, kurang lebih dia tidak menemukan jawaban yang
tepat. “Emak kok tahu, sih?”
“Karena Lu telah, meng-kambing-kan emakmu!” jawab
emak dengan nada slengek’an, rancu sekali.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terima kasih sudah mampir. Perlu penegasan, bahwa apapun yang tertulis di sini adalah pengolahan kata dan pengembangan pemikiran dari saya pribadi.
Jangan lupa sandalnya dibawa.