Dengan suara serak-serak basahnya, yang menjadi khas dari Abah mulai terdengar. Bacaan basmalah diikuti salam membuat sebagian santri yang mengantuk terpaksa membuka matanya. Namun, tidak seperti Norman. Seorang santri yang dari tadi nampaknya selalu cuek dengan keadaan ini. Dia hanya memandang dengan mata yang kosong. Pandangan kosong itu ternyata tertuju pada senyum manis Halimah yang selalu berputar-putar di pikirannya.
Dia semakin terbawa dengan wajah Halimah. Semakin dalam dia memandang, semakin berfikir pula bagaimana cara dia untuk mendekati Halimah. Tapi, pandangannya kembali dangkal. Bahkan sampai mengenyahkan muka dari arah Halimah. Tiba-tiba wajah Gus Mif muncul dalam fikirannya, dan merusak semua bayangan indah sesosok wanita yang cantik rupawan, berhati mulia pula. Dia ingat beberapa waktu yang lalu, Gus Mif yang merupakan anak kesayangan Abah dan hafal qur’an pun ditolak lamarannya oleh Halimah. Apalagi dia, seorang Norman yang hanya sebatas santri biasa harus melawan anak Abah sendiri. Tekadnya mulai kendor.
“Norman!” Suara Abah yang kemudian membuyarkan lamunannya untuk yang kesekian kalinya.
“Eng . . . Enggeh, Bah?” Suaranya nampak gugup.
“Coba dijelaskan hadits nomor satu yang bawah pada halaman 115!” Abah menguji Norman karena dari tadi dia tidak memperhatikan beliau. Dengan gugup dia membolak-balik kitabnya mencari hadits yang dimaksud. Tak lama, Norman menemukan hadits tersebut, dan dia mulai mencoba untuk menerjemahkan hadits itu dengan cepat dan tanggap.
“Bagus, bagus. Kamu memang pintar.” Kata Abah sambil mengembangkan senyumnya.
Ngaji ndalem telah berlalu seiring berjalannya matahari, dan kali ini memang matahari sedikit lambat. Atau mungkin mendung yang memperlambat dia berjalan? Keduanya tak pernah protes akan hal itu. Kami pun sebagai manusia tak pernah lagi membicarakan entah siapa yang lebih berhak menang. Matahari atau mendung. Dan ketika mendung memilih untuk mengalah, matahari keluar sebagai pemenangnya. Siluet makhluk-makhluk ciptaan Tuhan pun menambah suasana romantic pagi ini. Insan nista pun ikut berbaur dengan sang pagi.
Norman yang dari pagi hingga sore ini, tak pernah menenggelamkan pikirannya. Masih stand by dengan baying-bayang wajah Halimah. Meskipun itu hanya samar-samar. Mereka menjalani pagi, bercengkerama dengan sang mentari yang masih setia untuk merengkuh mereka. Tak luput dengan kehidupan santri di pesantren tua ini. Beberapa pohon tak keberatan untuk selalu menemaninya, dan lebih setia dibanding matahari dan bulan. Pohon lebih setia.
***
Bintang tak lagi tampak malam ini. Entah teganya mereka meninggalkan bulan, kekasihnya. Hanya awan hitam yang terus mendobrak sepi dalam kelam. Arah panah jam dinding masjid pesantren masih tak bergerak di angka dua, namun kelopak mata Norman sangat sulit untuk tertutup. Bayangan langkah Halimah masih berjalan mengelilingi pikirannya, dan itupun membuat Norman semakin gelisah dan bingung akan perasaannya. Dia masih terus berpikir, bagaimana caranya untuk mendekati Halimah.
Ketegangan malam itu sedikit memberikan ide untuknya. Walaupun dia tahu, ide itu pun tak beda kejam utnuk dirinya sendiri. Sedikit kurang aman untuk ukuran pesantren seketat itu. Namun, itulah satu-satunya cara yang dianggapnya mudah. Dia tak membiarkan malam menghabiskan seluruh tenaganya. Hatinya sudah mulai cukup tenang, dan kakinya mulai terangkat. Tujuannya adalah kamar. Tidur.
Keesokan harinya, dia berjalan ke kawasan putri. Setelah berbincang singkat dengan pengurus yang jaga di depan gerbang, salah satu pengurus tersebut masuk ke dalam pondok. Tak lama, pengurus yang masuk tadi keluar dengan membawa seorang perempuan yang cantik. Dia adalah Fatihah, adik sepupunya.
“Tumben, Kang. Ada apa ya?” Suara yang lirih itu meluapkan seluruh pikirannya.
“Boleh minta tolong nggak, Dik?” Norman memohon pada Fatihah.
“Apa, Kang? Insya Allah kalau Fatimah bisa, Fatimah bantu kok.” Ujar Fatihah. Tangan Norman mulai meraba saku jasnya dan mengeluarkan sesuatu dengan hati-hati.
“Aku mau titip ini untuk Mbak Halimah, kamu tahu dia kan?” Sambil menggenggamkan suratnya pada tangan Fatihah. Dia memang pintar dalam hal menyamar. Namun saat ini, tangannya masih kelihatan sedikit gemetar. Suasana memang mendukung, tapi mentalnya tidak. Dia masih takut dengan bayang-bayang cambuk takzir. Yang bisa saja setiap waktu menghantam tubuh payahnya saat sepucuk surat itu salah jatuhnya. Bukan ke tangan Halimah, yang selama ini dia harapkan untuk tahu dirinya.
“Mbak Halimah yang biasanya jadi guru badalnya Neng Lila itu, kan? Maaf, Kang. Sedikit berat saya untuk menyampaikan ini. Takut, Kang.” Fatihah enggan menerima dan malah mengembalikan kepada Norman.
“Sudahlah, Dik. Tolong disampaikan saja, yah!” Ujar Norman penuh permohonan.
“Maaf, Kang. Fatihah nggak berani.” Dua kali ini Fatihah mengembalikan amplop merah itu.
“Aku mohon, Dik. Tolong disampaikan. Nggak akan ketahuan kok sama pengurus.” Kata Norman meyakinkan Fatihah.
“Baiklah, Kang. Insya Allah nanti Fatihah sampaikan.” Ujar Fatihah pasrah. Seakan desakan dari Norman tak bisa dilimpahkan lagi.
“Ya sudah, Dik. Aku mau balik ke pesantren dulu. Terima kasih banyak ya, Fatihah.” Norman dengan senyum khasnya. Lalu meninggalkan tempat berdirinya dengan nada klompen yang cepat.
Mata Fatihah tak bisa lepas dari kaki Norman, dia gelisah dan merasa bersalah karena mau dititipi surat seperti ini. Nada klompen itu pun tak lagi ada. Mengilang dan muncul lagi. Tapi tepukan tangan pengurus. Sebuah isyarat untuk memerintah dan mengingatkan Fatihah, bahwa dia harus segera kembali ke kamar. Dalam langkahnya, dia masih mengingat kata-kata akangnya yang baru saja meninggalkannya.
***
Amplop itu tak pernah lepas dari genggaman Fatihah. Dia tidak ingin surat dari akangnya harus jatuh ke tangan yang salah. Tak menutup kemungkinan juga Fatihah akan terkena dampaknya jika itu terjadi. Bahkan ke kamar kecil pun amplop itu selalu dikantonginya.
Petang sudah datang. Pagi pun pergi sementara. Semacam merefleksikan dan mengisi ulang sinarnya untuk besok bekerja lagi. Menggantikan kekasihnya, malam. Ketika Fatihah dari kamar mandi, tanpa sengaja dia bertemu dengan yang dimaksud akangnya tadi. Tergesa-gesa Fatihah berjalan menuju langkah Halimah yang semakin cepat. Seberkas peralatan mandi pun masih di tangan. Gayuh dan sebagainya.
“Mbak, Mbak Halimah, Mbak Halimah, tunggu, Mbak.” Halimah yang mendengar suara itu semakin melambatkan jalannya. Berdiam sejenak. Dan menolehkan wajah manisnya itu sebagai jawaban atas panggilan Fatihah.
“Mbak Halimah, tunggu saya, Mbak.” Fatihah mencoba berlari secepatnya dengan handuk panjang yang sedikit ditarik ke atas. Halimah baru tahu bahwa dia dipanggil oleh Fatihah. Langkahnya dihentikan dan memutuskan untuk menunggu Fatihah yang sepertinya ada hal penting yang akan disampaikan kepadanya.
“Mbak, bisa minta waktunya sebentar?” Ucap Fatihah dengan wajah memohon. Dia lelah, napas yang ngos-ngosan tak bisa ditutupinya. Halimah segera menyeka keringat Fatihah dan senyum hangatnya pun tak lupa teruraikan.
“Ya, Dik. Ada apa?” Tanya Halimah dengan penuh antusias.
“Sebelumnya maaf, Mbak. Saya hanya menyampaikan amanat saja.” Ujar Fatihah dengan menunduk tak berani. “Jangan disini yah, Mbak! Ke kamar saya saja.” Pintanya setengah memaksa. Tak baik memang jika harus berbincang-bincang di tengah jalan. Apalagi Fatihah yang masih berbalutkan handuk panjang.
Halimah pun menurutinya. Dia masih diselimuti rasa penasaran yang dibangun Fatihah tanpa perijinan. Dia dan Fatihah berjalan menyusuri lorong. Ke kamar Fatihah.
Kamarnya sepi, tak ada santri lain seperti biasanya. Memang jam sore seperti ini, para santri disibukkan dengan antrian panjang di kamar mandi.
“Ini, Mbak. Ada titipan amplop dari Kang Norman. Santri putra.” Fatihah sedikit berbisik sambil mengeluarkan amplop merah dari saku jubahnya. Dengan gemetar Fatihah berhasil menyampaikan amanatnya.
“Subhanallah! Ini apa, Dik?” Tanya Halimah penasaran.
“Saya nggak tahu isinya, Mbak. Saya nggak berani buka. Tidak sopan. Ini dari Kang Norman, Mbak. Sepupu saya yang sekarang sedang mondok di sini juga.” Dengan lugunya Fatihah menjawab pertanyaan Halimah dengan nada sedikit kawatir dengan keadaan dirinya selanjutnya. Dia pun masih menunduk. Takut dianggap tak sopan dengan perbuatannya ini.
“Ya sudah, Dik. Nanti Mbak akan buka di kamar. Semoga isinya nggak bom. Hehehe.” Senyumnya mengembang lagi. Kemudian pudar saat orangnya pun hilang di balik daun pintu itu. Sementara Fatihah masih merunduk. Kemudian langsung ambruk seketika. Dia lega telah terbebas dari ini, dia pun sedikit lega karena bisa menyampaikan amanat dari akangnya.
***
Jama'ah sholat isya' telah selesai. Para santri berbondong-bondong untuk masuk ke kamar. Takror menjadi kebiasaan wajib santri di sana. Kakak-kakak pengurus langsung memberikan aba-aba kepada adik-adiknya untuk segera berkumpul di ruang lapang. Ruang tengah pondok mereka.
Tidak lama bel untuk tidur berdering merusak telinga. Kakak-kakak pengurus yang mulanya memerintah untuk berkumpul di ruang tengah, kali ini berganti tugas untuk mengusir adik-adik. Mereka digiring menuju kamarnya masing-masing. Satu-dua santri masih berkelitaran sana-sini. Kamar kecil menjadi tujuan mereka sebelum waktu tidur benar-benar datang. Setelah tugasnya selesai, Halimah pun segera kembali ke kamarnya. Ketika akan berbaring, Halimah teringat sesuatu yang belum dia lakukan. Cepat-cepat dia mencari benda tersebut, benda yang dia selipkan di tumpukan kitab. Setelah beberapa menit mencari benda tersebut akhirnya dia menemukan benda tersebut. Sebuah amplop kecil berwarna merah bertuliskan huruf arab gundul yang bertuliskan nama Halimah. Di balik amplop itu ada nama pengirimnya. "Norman". Pikiran Halimah sudah sedikit menerka. Mungkin santri yang kemarin selalu mencuri-curi pandang di ndalemnya Abah. Lalu cepat-cepat dia membuka selembar kertas yang dilipat rapi dengan penuh perasaan. Dibacanya isi surat itu.
Dear Halimah . . .Tak terasa air mata Halimah terus mengalir membasahi pipinya. Tak pernah dia menyangka jika perasaan itu ada dalam diri orang yang dekat dengan Abah. Kertas itu masih tergenggam di tangannya yang basah. Kemudian dalam tangisnya dia ingin menenangkan hatinya dengan tidur.
Assalamu'alaikum yaa ukhtii, kaifa haaluk?
Berharap siratan senyuman yang telah ditakdirkan berada dalam manis wajahmu itu tak akan pernah termakan usia. Maaf aku tidak bisa menyapa langsung di depanmu. Mungkin hanya beberapa larik isi hati yang ku untai menjadi sebuah puisi sederhana di atas, bisa mewakili perasaanku dan membuatmu tersenyum.
Entah bagaimana lagi harus aku utarakan rasa ini kepadamu, sekian lama aku memendam rasa yang mendesak di hati, mungkin sekarang saatnya yang tepat untuk berutara. Aku pun bingung sejak kapan aku mulai terus memikirkanmu, yang aku ingat rasa ini mulai datang dengan sendirinya. Setelah hujan kemarin itu, nampaknya perasaan kagum kepadamu ikut terjatuh bersama tetesan air hujan. Jika Abah pernah bilang, jika hujan adalah berkah. Maka beliau benar, suatu berkah kepadaku untuk kemarin sampai sekarang.
Aku mengagumimu untuk yang kesekian kalinya, bukan karena parasmu yang cantik nan rupawan. Aku tahu kamu adalah wanita yang baik dan sholehah, dan itulah salah satu alasan mengapa aku selalu mengagumimu. Jujur setelah aku pertama kali melihatmu, tak jarang kamu berputar-putar di pikiranku. Jika mata ini selalu melamun kosong, namun saat pertama kali aku melihatmu kala ngaji Abah di ndalem beliau, mata ini selalu ada dirimu. Tak pernah mungkin sekali saja saat aku nglamun atau nganggur, di kelopak mata ini tidak ada dirimu. Rasa ini sungguh menyiksa, Ukhti. Memang bukan tempatku jika saat ini aku mengagumimu, tapi minimal bisa lega jika aku sedikit menunjukkan rasa kagumku kepadamu.
Maaf, Ukhti. Jika sepucuk surat pertama ini membuatmu berfikir dan khawatir. Tapi inilah rasaku dari kemarin hingga saat ini. Semoga Allah mengijinkan aku untuk selalu mengabari dan curhat lewat selembar kertas putih ini. Semoga pula Allah selalu memberimu kerdihoan dan keselamatan yang tiada kira-kira.
Wassalamu'alaikum, Ukhti.
Yang selalu mengagumimu
Norman
***
Matahari belum sempat mengeluarkan sinarnya. Gemuruh dan awan pekat telah mendominasi langit pagi ini. Musim hujan memang telah datang sejak satu minggu yang lalu, hingga bumi ini terlihat karam seperti hati Norman. Dia terus memikirkan surat yang dari kemarin belum ada tanda-tanda pembalasan dari Halimah. Sudah satu minggu ini, belum juga ada jawaban dari Halimah. Melakukan apapun dia tak tenang, dia berpikir cara yang ini telah gagal. Dia terus berpikir apa yang selanjutnya akan dia lakukan. Apakah memang dia sesibuk ini sampai tidak merenspon hal-hal seperti ini. Mungkin memang Halimah tidak menyukai Norman, sampai-sampai usaha Norman yang sebegitu nekadnya tidak digubris olehnya.
Ngaji Abah pada pagi ini terlihat tenang dalam rintik-rintik hujan yang menambah suasana sejuk. Seluruh santri terlihat cerah dan bahagia dengan ikhlas menerima seluruh pelajaran pada pagi itu. Kebetulan ngaji pagi itu, Abah membahas tentang cinta terhadap makhluk ciptaan Allah.
“Remaja saat ini telah banyak yang terjerumus dalam kesesatan. Jadi, untuk sampean harus berhati-hati dalam melangkah ke depan. Apalagi sekarang ini yang namanya pacaran itu. Astaghfirullahal ‘adzim, na'udzubillah ya Allah untuk santri-santriku.” Ujar Abah dalam menerangkah ngaji pagi itu.
“Aamiin.” Serentak seluruh santri baik putra maupun putri berdoa.
“Pacaran itu sudah benar-benar haram. Dalam al-qur'an telah dijelaskan dalam surat Al-Isra' ayat 32 yang berbunyi 'walaa taqrobuzzinaa inaahuu kaana faahisyah, wasaa'a sabillaa.” Lanjut Abah. Tak lama seorang santri mengangkat tangannya.
“Bah, misalnya kita sangat mencintai dia, terus tidak kita ungkapkan nanti keburu dimiliki orang lain, Bah.” Ujar salah satu santri. Diikuti dengan tawa santri yang menambah gairah mengaji pagi ini. Semakin ramai.
“Kalau bisa, ya langsung menikah saja. Ajak dia menikah.” Jawab Abah ringan-ringan saja.
Ngaji pun kembali kondusif. Seluruh barisan santri sedang asyik dan khusyuk mendengarkan apa yang disampaikan Abah. Tidak seperti Norman yang hatinya selalu gusar disebabkan oleh tingkahnya sendiri terhadap Halimah. Norman tiba-tiba berdiri dan menghadap pada tirai yang membatasi santri putri, perlakuannya tersebut membuat semua orang kaget. Termasuk Abah yang saat itu sedang serius menyampaikan sedikit-banyak tausiyah. Sejenak ruangan itu ramai dengan bisik-bisik tetangga.
“Kenapa kamu beridiri?” Tanya Abah heran. Namun Norman tak menghiraukan pertanyaan Abah. Dia berteriak kepada seseorang.
“Saya mohon yang namanya Halimah berdiri. Halimah, aku mohon.” Permohonan itu membuat seluruh mata tercengang. Karena takut akhirnya Halimah beridiri.
“Emm . . . siapa kamu?” Halimah berpura-pura tidak mengenal Norman untuk menjaga perbuatannya. Menjaga nama baik Norman juga.
“Aku Norman. Kenapa surat yang telah aku berikan tidak kamu balas? Aku butuh kejelasan tentang rasamu. Aku sayang kamu, aku cinta kamu, Ukhti. Tolong beri jawaban sekarang, aku rela dihukum demi cintaku kepadamu.” Pernyataan ini membuat semua orang diam, dan Abah segera bertindak.
“Norman, hentikan! Apa yang kamu lakukan?” Bentak Abah sambil berdiri dengan mata menuju Norman. Kemudian Halimah terlihat segera meninggalkan tempat itu dan berlari ke pondok putri dengan membiarkan air matanya terurai. Sementara Norman diseret oleh dua pengurus keamanan putra yang kemudian membawanya ke ruang hitam dan menginterogasinya.
Sampai di ruangan itu, Norman di dudukkan di atas kursi kayu yang dingin berdebu. Dengan wajah yang layu dia mencoba menguatkan diri agar tak terlihat lemah. Kedua pengurus itu bergantian menginterogasi Norman. Satu bertanya, satu mencambuk. Begitu berjalan terus menerus. Sebenarnya Norman sudah merasa sakit yang begitu pedih. Namun, karena jawaban-jawabannya tidak dipercayai oleh kedua pengurus tersebut. Dia diseret paksa ke lapangan utama untuk diberi hukuman yang lebih sadis. Dia rela diperlakukan seperti itu karena kesalahannya sendiri. Berani berbicara dengan santri putri, bahkan mengirimkan surat cinta. Dia rela demi cintanya kepada Halimah. Setelah telanjang dada, dia dicambuk sambil berjalan ke lapangan utama untuk disaksikan. Perlahan air matanya mulai menetes, punggungnya sedikit demi sedikit mengeluarkan darah dari luka cambukan. Sesampai di lapangan utama, Gus Mif telah siap dengan guntingya untuk mencukur rambut lebat Norman. Sungguh tak manusiawi hukuman itu. Namun, itulah akibat dari perbuatan nekad Norman. Dia harus menerima segala konsekwensinya.
Kerumunan santri putra maupun putri mulai bertambah banyak, bisikan sampai cercaan terdengar di atara kerumunan itu. Norman mulai menitikan tetesan harga dirinya. Setelah dicambuk sedemikian sakitnya, hatinya dimaki oleh siapa saja yang melihat. Halimah yang dari tadi menangis di kamar, setelah mendengar ramai-ramai di lapangan dia ikut keluar. Setiap kamar telah sepi penghuninya, mereka telah menuju lapangan. Halimah berlari kecil, hingga dia sampai di sela-sela kerumunan santri itu. Dia tertunduk jatuh setelah meilhat keadaan Norman. Ketika salah satu pengurus hendak menyiramkan air dari selokan, Halimah berlari menghampiri dan menghentikan hal tersebut.
“Tidak, hentikan!” Teriak Halimah dengan merebut ember berisi air comberan tadi.
“Plaakk!” Tanpa sengaja tangan salah satu pengurus tersebut menyakiti pipi lembut Halimah. Norman sudah tak bisa bergerak lagi. Dia hanya bisa menjerit dalam hatinya.
“Diam kamu!” Caci pengurus tadi kepada Halimah yang menangis tak tega melihat keadaan Norman.
“Halimah, kamu mundur dari sini, jangan halang-halangi hukuman ini. Ini bukan urusan kamu.” Ujar Gus Mif lembut.
“Ini salah saya, karena saya tidak membalas surat darinya. Dia tak akan seperti ini jika aku menghiraukannya. Aku sebenarnya juga mencintai dia.” Bantah Halimah. Kepala Norman yang menunduk kini menengadah mendengar perkataan Halimah. Semua kepala pun diam. Tak ada suara kecuali tangis kecil Halimah. Dia masih menangis.
“Apa? Ya sudah, Halimah. Lebih baik kamu keluar dari pondok ini.” Dengan kecemburuan, Gus Mif mengeluarkan Halimah yang telah di pujanya sampai saat ini.
Halimah kaget setelah mendengar perkataan Gus Mif. Halimah tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Halimah dan Norman memang salah, Halimah hanya pasrah dengan keputusan tersebut. Mata Halimah yang awalnya sudah basah, saat ini bagai air laut yang bermuara. Halimah tidak bisa membendung air matanya, dia kemudian berlari menuju kamar untuk segera meringkasi segala barang-barangnya yang ada di sana. Hati Halimah hancur saat ini, cinta pada pandangan pertama ini sangat menyiksa keduanya. Mungkin itu adalah keputusan yang terbaik buat mereka, Allah sudah menakdirkan keduanya seperti ini.
“Baik, Gus. Aku dan Halimah akan pergi dari pondok ini, asalkan semua tahu wahai kawan santri. Sesungguhnya aku hanya mengutarakan perasaan manusiawi ini ke pasangannya. Aku selalu mencintai santri di sini. Maafkan aku Abah, aku telah membuat Abah kecewa untuk yang kesekian kalinya. Dan ini yang terakhir kalinya. Namun, rasa ini memang sudah tidak bisa dibendung lagi. Terima kasih untuk Abah, Ibu, guru-guru, dan teman-teman yang selalu menemaniku beberapa tahun ini. Maaf aku telah mengecewakan kalian.” Pesan singkat itu menutup hari Norman dan Halimah di pesantren ini. Itu akan menjadi perpisahan yang pedih di antara mereka, dan juga seluruh kawan santri.
Semua santri yang awalnya mencaci Norman kini mulai meneteskan air mata. Ratusan santri tiba-tiba membuat lautan air mata dalam sekejap. Abah pun tersentuh hatinya akibat pesan singkat Norman. Tak dengan Gus Mif yang masih muram karena kecemburuannya kepada Norman. Gus tak menghiraukan orang-orang di sampingnya yang meneteskan air mata haru untuk Norman, dia segera menyeret Norman ke kamarnya dan menyuruhnya untuk menringkasi seluruh pakaian dan barang-barangnya.
“Mif, berhenti!” Suara Abah yang lantang berhasil menghentikan langkah angkuh Gus Mif.
“Ada apa, Bah? Saya mau mengantarkan dia ke kamarnya untuk meringkasi semua pakaian dan barang-barangnya.” Jawab Gus Mif dengan menoleh ke Abah.
“Tidak usah kamu melakukan itu.” Ujar Abah kepada Gus Mif. Gus Mif pun bingung dengan keputusan Abah yang melarang dirinya mengantarkan Norman ke kamarnya.
“Loh? Ada apa, Bah?” Tanya Gus Mif penasaran dengan keputusan Abah.
“Tidak usah! Saya mentolelir apa yang dilakukan Norman tadi pagi, saya menghargai perasaan sesama manusia yang saat ini dirasakan oleh Norman dan Halimah. Tapi dengan satu syarat.” Jelas Abah, mengapa beliau melarang anaknya untuk mengantarkan Norman ke kamarnya. Gus Mif hanya bisa diam saja mendengar pernyataan itu, tetapi berbeda dengan Norman yang wajahnya nampak sedikit bersinar karena senyuman yang mengembang dari bibirnya.
“Terima kasih, Abah. Kalau boleh saya tahu, apa syarat yang harus saya penuhi?” Tanya Norman penasaran.
“Ingat yang tadi Abah terangkan? Jika ada manusia yang mencintai seseorang, dan dia takut yang dicintainya itu diambil orang. Maka, ajaklah orang yang dicintai itu untuk menikah, karena itu membuat pernikahan menjadi kewajiban diantara mereka. Jadi, tidak apa-apa jika Nak Norman masih ingin berada di pesantren ini, tapi ajaklah Halimah menikah.” Terang Abah kepada Norman yang disaksikan oleh seluruh santri, Gus Mif pun ada di sana dengan kecemburuan yang semakin membara.
Suasana menjadi seperti sinetron telenovela. Semuanya akan berwarna merah muda jika harus digambarkan. Suasana yang kelam, penuh tangis, haru, berubah seketika menjadi lebih berwarna. Semua bahagia, tak ada orang pun yang merasa terkecualikan. Bahkan Gus Mif yang dari tadi masih memendam rasa cemburu yang amat besar bagi Norman dan Halimah.
“Baiklah, Abah. Jika itu yang terbaik untuk kami, Insya Allah dengan Izin-Nya saya akan menikahi Halimah!” Jawab Norman dengan penuh kegembiraan di hatinya, dia hanya bisa merealisasikan kebahagian tersebut dengan senyum kecil di bawah hidungnya.
Gus Mif hanya bisa diam dengan keputusan beliau. Dia sekarang harus mengikhlaskan apa yang diidam-idamkan dari dulu, dan harus mengikhlaskan dengan seikhlas-ikhlasnya Halimah untuk Norman.
“Halimah!” Panggil Norman dari kejauhan, Halimah yang awalnya menangis mulai ingin meninggalkan gerbang pesantren dengan tas dan koper di samping tubuhnya.
“Mau kemana kamu, Halimah?” Panggil Abah.
“Mau pulang, Bah. Sesungguhnya saya sangat tidak rela untuk meninggalkan tempat yang sudah menjadikan saya dewasa ini, tapi ini sudah keputusan dari pengurus akibat kesalahan saya dan Norman, Bah.” Terang Halimah kepada Abah yang tadi memanggilnya. Air mata itu pun masih keluar deras di pipi lembut Halimah.
“Kamu jangan kemana-kemana, saya sudah membatalkan keputusan untuk mengusirmu dari pesantren ini.” Tutur Abah.
“Maksud Abah apa? Saya sedikit tidak faham dengan apa yang Abah bicarakan!” Halimah masih belum bisa menerka maksud Abah. Kemudian sedikit demi sedikit air mata itu mengikis berkat usapan tangannya.
“Maksud Abah adalah, Abah merestui hubungan kalian dengan Norman. Asalkan kalian mau menikah dan tinggal di pesantren ini. Kalian adalah santri kesayangan dan kebanggan pihak keluarga ndalem.” Tutur beliau yang lembut itu membuat Halimah cengengesan sendiri dan membuat seluruh santri di sana tertawa besar.
“Apakah njenengan tidak bercanda, Bah? Sesungguhnya ini suatu penghormatan bagi saya pribadi, Bah. Entah apa yang harus saya lakukan untuk membalas segala budi Abah ke saya. Tapi saya sekali lagi mohon maaf atas kesalahanku dan Norman kemarin, Bah.” Jawab Halimah dengan senyuman manis yang khas dari dirinya.
“Iya, semuanya sudah berlalu, Nduk. Semua punya pengalaman masing-masing dalam menempuh jalannya. Mungkin ini pengalaman kalian yang mulanya pahit, tapi berbuah manis, kan? Abah memaklumi itu. Abah beserta keluarga ndalem memaafkan kesalahan yang kemarin. Tentunya itu suatu hal yang wajar bagi anak muda seusia kalian. Tentunya rasa suka antar manusia akan segera muncul, baik itu dalam waktu dekat maupun lama. Dan untuk kalian, kebetulan Allah menumbuhkan cinta itu sekarang. Dan itu tidak salah, tapi tolong jangan permainkan rasa cinta yang telah diamanahkan Allah kepada kalian ini.” Tutur Abah kepada Norman dan Halimah.
“Lalu bagaimana dengan Gus Mif, Bah?” Tanya Halimah yang merasa kasihan dengan dia.
“Biarkan dia lebih dewasa lagi. Dia masih menyikapi segala hal dengan cara mendahulukan egois. Dan ini merupakan pelajaran bagi dirinya apa itu arti cinta sejati". Jawab Abah ke Halimah, sekaligus menjadi petuah bagi Gus Mif, dan umumnya santri yang lain. Gus Mif hanya tersenyum kecil. Dia malu dengan keputusannya tadi yang tanpa sadar dia mengabaikan orang tuanya sendiri. Dan lebih mementingkan sikap ke-egois-annya.
***
Hujan seketika reda di jum’at ini. Mentari masih siap untuk menyinari beberapa pasang pasangan lagi. Tanpa ada sedikit raut muka lelah di sana. Mentari selalu cerah.
Jum’at ini juga. Pesantren menggelar acara yang besar, acara yang semua orang tidak mengiranya, ini adalah pernikahan antara Norman dengan Halimah. Dan mereka kelihatannya menjadi orang yang paling bahagia dan spesial di hari yang bahagia itu. Secara langsung, Abah menjadi penghulu dalam acara pernikahan tersebut dan Gus Mif menjadi saksi di sana. Semua bahagia di hari itu, dengan membawa kesan santri nan islami acara itu sukses dilaksanakan.
Dan Norman dan Halimah pun hidup bahagia, mereka mendapat hadiah dari Abah suatu rumah sederhana untuk mereka tempati di pesantren. Dan mereka menjadi keluarga pesantren yang bahagia.
Duet dengan Ahsanun Nisa'. Lamongan, 09 Maret 2014.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terima kasih sudah mampir. Perlu penegasan, bahwa apapun yang tertulis di sini adalah pengolahan kata dan pengembangan pemikiran dari saya pribadi.
Jangan lupa sandalnya dibawa.