Maaf sebelumnya, untuk beberapa orang yang
merasa tersindir. Ini nyata!
Sebut saja namanya Mawar. Dia bukan seperti yang
pada umumnya, dia bukan cabe-cabean, dia gadis yang baik. Dia punya banyak
sekali kelebihan, mulai dari masalah otak yang terlalu lebih, hingga badan yang
sangat berlebih. Dia sekelas denganku, mulai dari kelas XI sampai XII. Jurusan
Bahasa di salah satu sekolah yang, menurutku sangat ‘menjunjung tinggi’ jurusan
Bahasa sampai tidak terlihat. Tidak ada.
Dan dia, sebut saja namanya Otong. Dia bukan salah
satu anggota geng motor, dia bukan terong-terongan, dia lelaki yang cukup baik.
Dia punya beberapa perbedaan dari yang lain, mulai dari perbedaan cara
berpikir, hingga perbedaan dari caranya memulai pikirannya. Mungkin dia memang
tidak pernah berpikir. Dia berbeda kelas denganku, mulai dari kelas XI sampai
XII. Jurusan sosial. Ilmu Pengetahuan Sosial.
Kenapa saya bercerita seperti di atas? Tentu saja
ada hubungannya dengan judul. Saya sudah matang-matang untuk mempublikasikan
artikel ini, tulisan yang lebih condong ke mengkritik kinerja pemerintah ini
saya ketik dengan sangat berhati-hati. Semoga adik-adik saya tidak
terlarut-larut karena dampak yang akan ditimbulkan dari salah satu program
pemerintah ini.
Saya alumni dari salah satu sekolah bertajuk
islami di salah satu kota kecil. Lamongan. Saya lulusan tahun 2014, dan
sekarang sedang meneruskan studi di salah satu kampus swasta di daerah
Yogyakarta.
Mawar adalah gadis cukup pintar. Pintarnya
selektif, dan lebih menonjol ke pelajaran Bahasa Jepang. Dia menjadi bintang
kelas saat pelajaran Bahasa Jepang, terutama karena sensei (guru dalam Bahasa
Jepang) juga mengagumi Mawar.
Dalam empat semester, nilai Bahasa Jepangnya
sangat memuaskan, terutama bagi saya yang notabene tidak mahir dalam pelajaran
ini. Ini tidak bisa menyalahkan siapa-siapa jika dia waktu kelas XII dan dalam
detik-detik kelulusan, dia menambatkan pilihan studi lanjutnya dengan memilih
jurusan Bahasa Jepang di tempat yang bagus pula. Dia sangat mendambakan itu.
Saya tahu tekadnya untuk kuliah di sana sangat besar, dan itu sudah terbukti
dengan nilainya dalam empat semester di kelas XI dan XII.
Pasca Ujian Nasional. Siapa yang tidak puas dengan
usahanya dalam tiga tahun dan dibalas dalam ujian masa depan hanya dengan tiga
hari? Dan setelah itu, semua siswa tentunya akan bersuka-cita dan menambatkan
kesyukuran dalam dirinya masing-masing. Setidaknya, sudah satu langkah awal
telah selesai.
Sebelum ujian, semua siswa kelas XII sudah mengisi
angket tentang salah satu program pemerintah yang ‘katanya’ bisa mempermudah
bagi siswa yang berprestasi untuk melanjutkan kuliah dengan pendaftaran gratis
dan keringanan finansial saat kuliah. Siapa yang tidak senang dengan berita
ini? Saya pun sangat senang, menyambut datangnya hari dengan gembira,
suka-cita, dan doa-doa dilantunkan penuh harap untuk bisa lolos dalam seleksi
ini.
Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri
atau yang lebih sering kita sebut dengan SNMPTN. Adalah salah satu program yang
dicanangkan pemerintah untuk memperindah bunga-bunga pendidikan bertingkat
tinggi di Indonesia. Dengan iming-iming pendaftaran gratis dan keringanan
finansial, membuat program ini disambut bak angin segar bagi para siswa
semester akhir. Doa-doa selalu dipanjatkan dan menghiasi langit-langit biru,
berubah menjadi atmosfer harap atas kelolosan dalam SNMPTN. Berbagai cara
dilakukan oleh para siswa, hingga tidak ada lagi yang tersisa untuk tidak
dilakukan olehnya.
Bagaimana rasanya, jika kita sudah mati-matian
untuk memperjuangkan sesuatu yang sangat berharga, dan akhirnya tidak berhasil
meskipun ada cara lain yang tak kalah mudah? Tentunya kalian yang belum
merasakan akan biasa-biasa saja menghadapinya, tapi tak terbesitkah di pikiran
kalian kepada kami yang sudah menelan habis-habis asam-garamnya hidup? Tak
hanya Mawar, saya juga sangat mengharapkan untuk lolos dalam seleksi itu,
apalagi masuk kampus negeri yang kita inginkan. Siapa orang yang tidak bangga
jika melihat anaknya bangga?
Tapi begitulah sesuatu yang dibuat oleh kaki-tangan
manusia. Selalu ada kesalahan dan kejanggalan di dalamnya.
Mawar. Apa yang kalian tahu tentang dia
selanjutnya?
Dia tidak lolos dalam seleksi tersebut. Dengan
nilai dan bakat yang mengagumkan.
Otong. Apa yang kalian tahu tentang dia selanjutnya?
Dia juga memilih jurusan yang sama dengan apa yang
dipilih Mawar. Dan kalian tahu? Dia lolos dalam seleksi itu! Siapa yang tidak
kaget? Saya yang sebagai teman kedua orang itu pun merasa ada yang salah dengan
sistem seleksi itu. Jujur, saya juga tidak lolos dalam seleksi itu, tapi saya
tidak sakit hati akan hal itu. Yang lebih membuat saya sakit hati adalah,
kenapa Mawar, teman yang sudah jelas-jelas saya tahu bakatnya dan berharap amat
besar dengan Jurusan Bahasa Jepang tidak lolos, dan Otong yang lebih ke
‘main-main’ dengan Bahasa Jepang karena suka anime malah diterima dan lolos
dalam seleksi tersebut.
Saya mulai kritis tentang itu. Yang lebih
mengganggu pikiran saat itu adalah, Apa yang menjadi bahan seleksi tingkat
Nasional itu? Tentunya jika hanya sekedar nilai, saya pun berhak untuk
lolos dalam seleksi itu, meskipun nilai saya tidak sebagus saingan-saingan
saya, tapi setidaknya saya punya beberapa persen kesempatan untuk lolos, dengan
bantuan beberapa piagam yang saya peroleh tentunya.
Otong menjadi saksi kenapa saya meragukan program
pemerintah yang satu ini. Saya tahu benar kemampuan Otong tentang Bahasa
Jepang, saya pernah mencoba mengetesnya saat saya tahu bahwa dia lolos dalam
seleksi itu. Sungguh menggetarkan hati saya untuk men-Jancuk-kan
pemerintah untuk hasil yang saya dapat. Nol besar! Dia hanya tahu huruf
Hiragana, buta dengan aksara Katakana atau pun Kanji yang seharusnya sangat
dikuasai oleh ‘Mahasiswa’ jurusan Bahasa Jepang. Sedangkan Mawar? Tentunya dia
sangat jauh di atas Otong, apalagi notabene adalah seorang siswa dengan nilai
Bahasa Jepang yang tak pernah turun, beberapa piagam penghargaan, dan bakat
yang menakjubkan. Siapa yang tidak sakit hati dengan ini?
Beberapa sumber menyatakan tentang beberapa aspek
yang dinilai panitia SNMPTN untuk meloloskan pesertanya, antara lain adalah 1)
Nilai Rapor, 2) Nilai Akhir Ujian Nasional, dan 3) Lampiran Piagam Penghargaan
sebagai pendukung untuk masuk. Mawar. Teman saya memilik semuanya yang
dijadikan aspek penilaian panitia, tapi hasilnya adalah Mawar tidak lolos dalam
seleksi itu. Sedangkan Otong. Teman saya juga, tidak punya satu pun dari ketiga
aspek terpenting itu. Dia hanya modal suka anime, dan dia lolos dalam seleksi
itu. Mencengangkan, bukan?
Jadi, hanya omong kosong tentang aspek-aspek
penilaian yang digembor-gemborkan oleh panitia SNMPTN. Entah apa yang
sebenarnya panitia-panitia itu lakukan saat penilaian. Entah apakah itu tidur,
atau sedang bermalas-malasan, yang jelas, jika kedua dugaan saya itu benar.
Mungkin sebaiknya pemerintah mulai berbenah tentang badannya. Ini tentang masa
depan bangsa, masa depan pemimpin bangsa nantinya. Tentunya pendidikan adalah
salah satu aspek tersentral dalam kemajuan bangsa itu sendiri, dan ini malah
tidak mempersiapkannya dengan begitu matang? Dimana otak para pejabat
pemerintahan kita? Sehingga membiarkan panitia mengantuk dan malas untuk
memasukkan orang-orang yang tidak kompeten di bidangnya membangun jembatan
untuk para generasi bangsa?
Saya kira. Mawar dan Otong hanya contoh kecil di
antara jutaan siswa yang mengharap kesantunan dan mukjizat dari pemerintah.
Tentunya, di luar sana, semua siswa memimpikan atmosfer baru bagi dunia
pendidikan di Indonesia.
Para pemimpin sibuk menuntut pemuda
Tapi mereka hanya duduk dan diam di istana
Itulah kita, Indonesia
Yogyakarta, 10 Januari 2015.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terima kasih sudah mampir. Perlu penegasan, bahwa apapun yang tertulis di sini adalah pengolahan kata dan pengembangan pemikiran dari saya pribadi.
Jangan lupa sandalnya dibawa.