Pada jaman dahulu kala, di saat teknologi masih
menjadi barang langka, kepercayaan masih paling utama, dan semuanya patuh pada
raja. Di sebuah desa yang sangat menghormati rajanya, hidup menderita karena
merasa terisolir dari perhatian Sang Raja. Namun mereka masih tetap patuh pada
raja, karena menurutnya sebuah kewajiban mematuhi perintah meskipun ditiadakan
dari istana.
Desa itu biasa disebut Si Payah. Jika ada yang
menyebut bahwa nama adalah doa, dan nama adalah pencerminan dari sang empunya
nama, kali ini kata-kata itu tidak berlaku di desa Si Payah. Di desa itu,
semuanya hidup damai, bahkan semuanya merupakan orang-orang yang mempunyai
semangat hidup tinggi. Sampai saat ini, masih belum ada penjelasan kenapa desa
itu tidak dipandang seperti tetangga-tetangga desanya.
Di sebuah kawasan yang tak jauh dari sana, ada
sebuah desa yang berisikan orang-orang yang mapan, kaya, dan sangat
diperhatikan oleh raja. Nama desanya adalah Si Unggul. Seperti Sisi uang koin,
mereka ada dalam satu wilayah, namun mempunyai sisi gelap dan terang di maSing-maSing
Sisi. Di desa ini, semuanya terpenuhi, sampai-sampai salah satu warganya
menyalahkan kekuasaan rajanya dengan semakin bermalas-malasan menjalani hidup.
Namun itu hanya beberapa orang, beberapa orangnya lagi adalah orang-orang yang
semangat hidupnya ada yang lebih tinggi dibanding orang-orang desa Si Payah.
Kehidupan di dua desa itu sangat damai, tidak ada
perpecahan dan apapun yang menyulut perpecahan di antara mereka meskipun kedua Sisi
koin tersebut sangat berbeda bagaikan langit dengan bumi.
Bertahun-tahun mereka tetap saling sapa, meskipun
senyum mereka sangat berbeda. Si Payah dengan senyumnya yang sangat tulus,
sedangkan Si Unggul bersenyum layaknya anak raja, penuh dengan keSinisan.
Perbedaan mimik yang sangat kontras, tidak pernah membuat mereka saling ejek
bahkan sampai bertengkar. Mereka menjunjung tinggi nama persaudaraan,
menjunjung tinggi nama perbedaan, dan saling hidup dalam naungan raja yang
sama.
Tak bertahan lama sebelum cerita ini dibuat,
kerajaan dan lingkupnya didera paceklik yang sangat panjang. Berhari-hari
mereka menanti turunnya hujan dari awan-awan pembawa berkah, namun awan pun tak
mengindahkan penantian mereka. Panen-panen di sawah-sawah desa tersebut menjadi
gagal panen, semuanya mati kekeringan. Banyak para penduduk desa yang sudah
melaporkan kejadian ini ke kerajaan. Pantaslah mereka melaporkan, tembok
kerajaan sangat tebal, gerbangnya terbuat dari baja-baja pilihan yang dibekukan
oleh tenaga khusus, dan atmosfer kerajaan sangatlah berbeda, tidak seperti
desa-desa yang meskipun diperhatikannya tiap menahun seperti Si Unggul. Apalagi
Si Payah, mereka hanya bisa menerima walaupun hidup serba berkekurangan.
Suatu saat di saat paceklik hebat itu. Raja sudah
bingung karena banyaknya aduan yang berhasil menembus dinding istana. Sehingga
tidurnya pun tak selelap malam-malam yang lalu. Raja itu berunding bersama
beberapa penasihat kerajaan. Setelah melalui perundingan yang cukup alot, alhasil
raja itu membuat sayembara untuk Siapa saja, atau kelompok apa saja yang bisa
membuat inisiatif cemerlang bagi kehidupan kerajaan dan sekitarnya, dewan
kerajaan akan memberikan imbalan yang bahkan tak bisa dinyana oleh orang biasa.
Beribu-ribu undangan mereka sebar ke desa-desa
binaan kerajaan. Tentunya SI Unggul yang sangat berhak mendapat undangan itu.
Ternyata Sang Raja tidak melupakan keberadaan desa-desa yang sebelumnya sangat
tidak diurusi oleh Sang Raja. Desa Si Payah mendapat undangan tersebut, mereka
sangat senang karena mendapat undangan itu, seperti halnya ditimpa durian
runtuh, mereka menganggapnya bahwa itu adalah rezeki yang sangat besar bagi
desa itu.
Dalam waktu yang ditentukan, beberapa desa yang
ada di kawasan kerajaan berpikir sekuat tenaga untuk bisa memenangkan sayembara
itu. Tak terlewati juga desa SI Unggul dan Si Payah. Mereka pun mengeluarkan
sekuat tenaganya untuk bisa menang. Rata-rata dari berbagai desa tersebut sudah
mempunyai rencana jika sudah menang dan ditanya apa yang akan dimintanya
sebagai imbalan. Semua desa membuat andaian-andaian yang sangat mereka
inginkan. Ada yang meminta setiap rumahnya diberi sepetak sawah yang sangat
luas, dan ada pula yang menginginkan untuk kerja di istana sebagai apa saja,
tentunya bayaran yang setimpal.
Di desa Si Unggul, persiapan sudah mencapai
tingkat 90% kematangan, padahal di desa-desa lainnya hanya baru sampai 70% -
80%. Di desa Si Payah, ternyata tidak dinyana, mereka juga sudah menyiapkannya
hampir 90% mendekati Si Unggul.
Akhirnya hari yang ditunggu-tunggu telah dimulai.
Semuanya menyambut dengan suka rela, tapi hanya dengan pesta kecil di wilayah
kerajaan. Kalian tahu, bukan? Sekarang paceklik yang hebat. Jadi, tidak banyak
yang bisa dilakukan oleh kerajaan untuk menyambut pestanya sendiri.
Beberapa rombongan sudah menyiapkan timnya
masing-masing, mulai dari desa Si Unggul sampai desa Si Payah. Semuanya tumpah
ruah dalam satu wadah pemersatu umat. Dan tidak ada sama sekali mimik kompetisi
dalam setiap individunya. Semua menganggap itu adalah pengabdian untuk Sang
Raja dan untuk dirinya sendiri. Beda lagi kalau masalah hadiah, tentunya hanya
itu yang menjadi hak individual dari para peserta.
Waktu yang dinantikan segera tiba. Dan sekarang
sudah ada beberapa desa yang sedang berpresentasi di hadapan raja, raja
tercengang melihat inovasi-inovasi yang bisa mereka berikan saat itu juga.
Dalam undian, Si Payah dan Si Unggul mendapat giliran yang beriringan, dan
hampir terakhir tapi tidak terakhir.
Si Unggul sudah memasuki panggung presentasi.
Semua orang kerajaan mendengarkannya dengan takzim dan khusyuk. Tidak ada satu
kata yang mereka tidak bersorak karena ketakjubannya. Hampir semua orang sudah
bisa menebak siapa yang akan mendapatkan juara di sayembara ini, padahal Si
Unggul adalah peserta yang jauh dari nomor terakhir. Sang Raja masih menikmati
presentasi itu dengan sangat takzim, dan setelah presentasi tersebut selesai, Sang
Raja giliran memberi tanggapan serta pertanyaan untuk dijawab oleh Si Unggul.
Semua pertanyaan yang diajukan oleh raja penuh
dengan jawaban yang valid dan menjanjikan. Pun dengan tanggapan Sang Raja untuk
presentasi itu sendiri. Sang Raja sudah menaruh hati untuk desa Si Unggul. Para
penasihat sudah mengusulkan untuk menghentikan presentasi ini karena sudah dianggap
mendapatkan hasil yang mereka inginkan. Namun, raja kali ini tidak mendengarkan
nasihat itu dan masih melanjutkan presentasi dari semua desa untuk tetap
berlanjut. Dia tidak puas dengan satu jawaban.
Sampai akhirnya, giliran desa Si Payah. Kata demi kata
yang diucapkan tidak disambut hangat oleh pendengar, mereka malah ada yang
lebih sibuk dengan pekerjaannya sendiri. Lebih banyak mengacuhkan dari pada
mendengarkan. Tapi itu tidak membuat desa Si Payah merasa pesimis dan tidak mau
meneruskan presentasinya. Sang Raja masih takzim dengan apa yang diucapkan oleh
Si Payah. Dia masih berusaha mencerna kata-kata yang mungkin tidak sepenuhnya
orang-orang kerajaan bisa mengartikannya. Dia masih takzim sampai akhirnya Si
Payah mengakhiri presentasinya. Akhirnya sangat tidak mengenakkan, mungkin
karena namanya sudah Si Payah, sehingga semua orang mengecap bahwa mereka
memang payah, dan mungkin juga memang mereka tidak mengerti apa yang
diungkapkan oleh mereka. Tak dinyana-nyana, saat semua membungkam mulutnya, menali
tangannya, dan menyumbat telinganya, Sang Raja dengan gagahnya berdiri sembari
bertepuk tangan. Semua orang tidak mengerti dengan tindakan raja, tapi akhirnya
mereka ikut bertepuk tangan setelah raja memberi sedikit ulasan untuk apa yang
Si Payah tadi presentasikan.
Sang Raja tinggal memberikan beberapa
pertanyaan-pertanyaan untuk segera dijawab. Tapi sangat mengecewakan sekali,
mereka tidak hanya menyimpan jawaban dan akan diselesaikan di akhir. Entah ini
sebuah strategi atau memang kecepatan berpikirnya yang sangat jauh di atas
rata-rata. Sang Raja hanya memberi pertanyaan.
Tak dinyana! Sang pionir dari Si Payah maju dan
memberikan pernyataan yang tidak dinyana semua orang, bahkan anggotanya sendiri
tidak semua bisa membaca apa yang akan dinyatakan oleh Si Payah. Dia memohon
maaf dan meminta izin untuk tidak menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diberikan
raja. Ini merupakan suatu tindakan yang sangat tidak mengenakkan dan sebuah
hinaan bagi raja. Namun raja hanya meng-iya-kan, dan mempersilahkan apa yang
ingin dilakukan oleh Si Payah.
Si Payah membawa beberapa alat untuk ke atas
panggung. Dia ingin membuktikannya! Setelah semua inovasinya tercurahkan oleh
apa yang dipraktekkan oleh Si Payah. Entah, apa yang menyerang semua penduduk
istana. Mereka semua berdiri sembari menggeleng-gelengkan kepala, tidak untuk
karena itu tidak menarik dan membosankan, melainkan karena itulah yang mereka
semua cari! Bukti yang nyata, tidak hanya omongan dan teori. Tak ayal pun, raja
ikut berdiri dengan gagahnya sembari bertepuk tangan, kemudian semuanya ikut
bertepuk tangan dengan apa yang yang dilakukan oleh Si Payah.
Setelah perhelatan itu sudah sampai di puncak dan
akhir dari acara juga. Sang Raja langsung mengumumkan siapa yang menjadi
pemenang akan sayembara ini. Para peserta optimis dengan apa yang mereka bisa.
Si Unggul pun demikian, dia punya kadar optimis yang sangat tinggi. Sehingga
dia yakin bisa memenangkan sayembara ini. Memang presentasi tersebut tidak
terbuka untuk umum, melainkan hanya pihak kerajaan saja yang menilainya, ini
bertujuan untuk tidak menggoyahkan pendirian para juri dari kerajaan, serta
raja sendiri. Jadi, semua bisa merasakan keoptimisan dari apa yang para desa
tersebut paparkan di hadapan raja.
Melalui podium yang sangat megah, dan
hiasan-hiasan yang seolah-olah hidup sembari menyambut datangnya raja,
burung-burung yang seolah-olah bersorak demi kemenangan desa, dan pepohonan
yang ikut menari demi apa yang akan menimpa mereka. Semuanya bertumpah ruah
dalam satu wadah kebijaksanaan dan kegembiraan yang mungkin selamanya akan
mereka kenang.
Semuanya diam, tidak ada sepatah kata pun yang
loncat dari bibir masing-masing saat Sang Raja memulai untuk berpidato.
Semuanya takzim dan khusyuk mendengarkan. Sampai akhirnya, detik-detik menuju
pengumuman kemenangan akan segera didendangkan oleh Sang Raja. Semuanya takzim
mendengarkan sembari berkomat-kamit membaca mantra apa saja agar bisa menang.
“Dan pemenangnya adalah . . .” suara raja
menggantung.
Entah ada beberapa menit suara itu digantungkan.
Seperti nasib mereka yang menantikan.
“Si Payah!”
Semuanya kaget. Tak bisa dipungkiri bahwa Si Payah
pun kaget dengan keputusan itu. Dan sampai akhirnya raja memaparkan, bahwa apa
yang kerajaan dan rakyat butuhkan adalah bukti, bukan janji ataupun teori. Sang
Raja juga sangat menyanjung pemaparan Si Unggul dengan baik. Dia menyebut bahwa
mereka adalah seorang yang ahli akan teori, dan mungkin tidak bisa dikalahkan
oleh apapun. Mereka beliau sebut dengan ‘orator ulung’, dan Si Payah beliau
sebut dengan ‘pembuktian ulung’.
Apapun sebutannya dan pemenangnya, semua ikut
merayakan. Ini merupakan suatu keberhasilan dari berbagai lapisan masyarakat
untuk bisa menolak kepaceklikan itu dengan hal yang nyata dan tidak hanya
sekedar teori.
Ini giliran Si Payah melontarkan keinginannya
kepada Sang Raja. Dan ini diwakili oleh si pembukti yang tadi sudah membawa
keberhasilan bagi Si Payah.
“Kau mau apa, Wahai Sang Pembukti?” tanya raja
penasaran. Beliau siap untuk memberikan segala apa yang diinginkan oleh Sang
Pionir tersebut.
Dia menimbang-nimbang perkataannya, merangkainya
dengan kemantapan jiwa, tertegun setengah hati saat ditanya lagi oleh Sang Raja.
“Katakan, Rakyatku! Saya sesungguhnya akan bersiap
untuk apa yang kau minta,” ujar Sang Raja untuk memantapkan pemuda itu.
“Saya tidak ingin apa-apa, Wahai Rajaku . . .”
Semuanya tertegun, kata-kata yang menggantung itu
sangat jelas sekali bahwa kata itu memang belum sempat dirampungkan.
Sang Raja mempersilahkannya untuk segera
melanjutkan dan tidak membuat Sang Raja sendiri penasaran.
“Saya hanya ingin, saya, desa saya, atau desa
kami, yang biasa disebut desa Si Payah mendapatkan hak yang cukup adil. Mendapat
perlakuan yang adil pula dari engkau dan pihak kerajaan.”
Sang Raja hanya diam dalam kegundahannya. Dia menelan
beberapa ludah yang hampir keluar.
“Ampun, Rajaku. Bukan saya bermaksud untuk
lancang!” susul pemuda dari desa Si Payah itu.
Dia kemudian mengutuk dirinya sendiri. Dengan segala
apa yang dia lakukan sampai membuat rajanya hanya diam. Dia mengutuk dirinya
benar-benar.
“Permintaanmu kami kabulkan!”
Sungguh pernyataan yang memuaskan sekaligus
mengejutkan bagi desa Si Payah. Hal-hal dan mimpi yang begitu indahnya akhirnya
bisa merubah kualitas hidup mereka.
Dan akhirnya. Tak ada panggilan atau sekat antar
desa di sana. Si Payah yang semula selalu dianggap tidak ada, sekarang menjadi
desa yang sangat dihormati baik untuk siapapun. Entah raja ataupun desa
lainnya. Dan Si Unggul sadar, mereka bukan hanya desa yang hebat di dunia ini. Masih
banyak yang lebih pintar dan patut untuk disegani selain mereka. Dan yang
mereka tancapkan dalam hati mereka dalam-dalam adalah, bahwa “Bukti lebih
penting dari Teori ataupun Janji”.
Lamongan, 17 Januari 2015.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terima kasih sudah mampir. Perlu penegasan, bahwa apapun yang tertulis di sini adalah pengolahan kata dan pengembangan pemikiran dari saya pribadi.
Jangan lupa sandalnya dibawa.