Seyogyanya Yogya (1)

Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Salam sejahtera, Teman-teman!
Jumpa lagi bersama saya yang mungkin sudah tidak asing lagi bagi para pembaca tetap saya. Seorang penulis yang tentunya tidak punya kebiasaan baik kecuali bangun subuh. Mungkin.
Sudah tahu, kan, kalau saya adalah mahasiswa di salah satu kampus di Yogyakarta? Anggap saja sudah tahu biar tidak terlalu panjang untuk menjelaskannya.
Nah, kalau penulis seperti saya, semuanya bisa dijadikan bahan untuk menulis. Dan contohnya, ya, ini. Tulisan ini terinspirasi saat saya melihat-lihat lagi catatan saya di Facebook. Dan ternyata saya menemukan suatu puisi yang mungkin bisa menjadi salah satu bahan postingan di blog ini. Ini tentang seputar kehidupan saya di Yogyakarta. Namanya juga anak baru, pasti selalu punya angan-angan untuk menyelaksa kasih bak bidadari menjemput rezeki.
Langsung saja tanpa banyak bicara. Silahkan dinikmati :
Selamat malam, Yogya
Seyogyanya kota sebesar Yogya
Angan ber-thawaf bersama kaki selalu ada
Menjamah maskot kota ini dengan gaya manis seperti turis
Langkah demi langkah berjalan dari atas kotak bergerak
Angan masih meminta ruang dalam otak yang kian terhimpit koper
Terimakasih, Lamongan
Semestinya tak aku tinggalkan kau menderu dengan debu jalanan
Aku mau tidur
Fit lebih baik daripada harus begadang menunggu kunang-kunang berhenti bersinar
Tangan masih menjadi sahabat pantat
Menjaga dompet yang membuat aku nampak sehat

Bagaimana? Menarik? Semoga saja.
Dan. Salam sejahtera.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.


Lamongan, 23 Januari 2015.

Misbahul Munir

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah mampir. Perlu penegasan, bahwa apapun yang tertulis di sini adalah pengolahan kata dan pengembangan pemikiran dari saya pribadi.

Jangan lupa sandalnya dibawa.