Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Salam sejahtera, Teman-teman!
Jumpa lagi bersama saya yang mungkin sudah
tidak asing lagi bagi para pembaca tetap saya. Seorang penulis yang tentunya
tidak punya kebiasaan baik kecuali bangun subuh. Mungkin.
Sudah tahu, kan, kalau saya adalah mahasiswa
di salah satu kampus di Yogyakarta? Anggap saja sudah tahu biar tidak terlalu
panjang untuk menjelaskannya.
Nah, kalau penulis seperti saya, semuanya
bisa dijadikan bahan untuk menulis. Dan contohnya, ya, ini. Tulisan ini terinspirasi
saat saya melihat-lihat lagi catatan saya di Facebook. Dan ternyata saya
menemukan suatu puisi yang mungkin bisa menjadi salah satu bahan postingan di
blog ini. Ini tentang seputar kehidupan saya di Yogyakarta. Namanya juga anak
baru, pasti selalu punya angan-angan untuk menyelaksa kasih bak bidadari
menjemput rezeki.
Langsung saja tanpa banyak bicara. Silahkan
dinikmati :
Selamat malam, Yogya
Seyogyanya kota sebesar Yogya
Angan ber-thawaf bersama kaki selalu ada
Menjamah maskot kota ini dengan gaya manis seperti
turis
Langkah demi langkah berjalan dari atas kotak
bergerak
Angan masih meminta ruang dalam otak yang kian
terhimpit koper
Terimakasih, Lamongan
Semestinya tak aku tinggalkan kau menderu dengan debu jalanan
Aku mau tidur
Fit lebih baik daripada harus begadang menunggu kunang-kunang berhenti
bersinar
Tangan masih menjadi sahabat pantat
Menjaga dompet yang membuat aku nampak sehat
Bagaimana? Menarik? Semoga saja.
Dan. Salam sejahtera.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.
Lamongan, 23 Januari 2015.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terima kasih sudah mampir. Perlu penegasan, bahwa apapun yang tertulis di sini adalah pengolahan kata dan pengembangan pemikiran dari saya pribadi.
Jangan lupa sandalnya dibawa.