Pagi yang cerah. Ya, pagi ini sangat cerah. Tak ada lagi yang bisa
menyangkalnya, lihatlah sang Raja Pagi di timur sana, dia nampak gagah dengan
sinarnya. Tak hanya itu, lihatlah kaca-kaca spion pengendara motor itu,
silaunya membelalakkan mataku. Lihat juga penjual gorengan itu, dia sangat
bersemangat sekali berteriak-teriak sembari menjajakan jualannya di samping
tiang listrik itu. Lihat juga sepasang remaja yang di sana, yang cowok memakai
kaos singlet berwarna hijau dan cewek memakai kaos lengan panjang berwarna
oranye itu, mereka menikmati sekali pagi ini. Sesekali yang cowok mengambil
sapu tangannya yang mulanya diselempangkan di pundaknya, kemudian mengusapkan
ke muka pasangannya, sembari tersenyum pasangannya itu membalas dengan pukulan
ringan di pundak di cowok. Aku di buatnya cemburu di dalam sini, langsung saja
aku tutup korden mobil, aku mulai muak dengan tingkah sepasang muda – mudi itu
yang berseringai ria di balik kaca kelam mobil ini.
Anak-anak lainnya masih tertidur lelap. Mungkin mereka kecapekan, karena
tadi malam kami berpesta ria di mobil, sambil menyanyikan beberapa lagu mulai
dari jaman nenek moyang sampai jaman serba canggih. Dan semuanya terbalut dalam
kemesraan malam yang begitu indah. Setelah berputar-putar di kota gudeg
kemarin, tujuan terakhir kami adalah daerah selatan pulau Jawa. Di sana
mendeskripsikan betapa indahnya ciptaan Tuhan, memanjakan mata seluruh abdinya
dengan hamparan pasir putih yang luas dan dingin, aku pribadi tak sabar untuk
melihat gerombolan ombak yang saling menggulung satu sama lain, tak sabar
menyentuh dinginnya pasir putih, dan tak sabar pula dengan belaian angin pantai
yang begitu sejuknya. Aku sangat bersemangat dengan ini.
Raja Pagi berpindah tempat begitu cepatnya, sekarang sudah hampir tepat di
atas kami. Dan mereka belum bangun, entah mati atau apalah mereka. Jam 3 kami
tidur, dan sekarang hampir jam 11, mereka belum bangun juga?! Oh god! Santi
juga masih tertidur pulas di sampingku
sambil tangannya di rangkulkan ke leherku. Aku tak tega membangunkannya, dia
tadi malam berkata sangat capek sekali. Padahal dari kemarin, dia lebih banyak
kugendong daripada berjalan sendiri. Dasar anak manja!
“Sudah sampai, Nak.” Suara Pak Kastari dari depan. Aku hampir tak
terdengar, suara dari luar menyelinap di sela-sela kaca jendela. Pak Kastari
mengulangi kata-katanya beberapa kali, sampai akhirnya aku dengar, bahkan
sangat dengar, bahkan semua orang terbangun dan terjingkat. Dia pakai pengeras
suara yang ada di sebelahnya. Terlihat air muka Pak Kastari begitu kusamnya.
Maklum, dia lah yang dari kemarin menjadi sopir kami. Mulai dari Jakarta,
sampai sekarang di tujuan terakhir kami, Parangtritis. Aku merasakan, dia
sangat capek sekali. Bahkan hampir saja menabrak mobil truk di depan kami. Itu
saat malam sekali, bahkan kami semuanya sudah banyak yang tidur, kecuali Pak
Kastari yang masih terjaga dengan setir bundarnya. Tapi untunglah, Pak Kastari
adalah sopir terbaik keluargaku.
Penginapannya cukup besar untuk 6 orang, 3 kamar mandi, dan 3 kamar. Tak
lama kami di penginapan itu, entah badan ini seperti terbuat dari besi, dan
hamparan pantai itu adalah magnetnya. Pantai itu berhasil menarik kami, bahkan
di siang yang terik ini. Kami berenam berbondong-bondong meluncur ke pantai.
Dan, oh tidak! Ini memang benar-benar surga dunia! Semuanya indah dari dekat,
sama sekali tak sama dengan gambar-gambar yang beredaran di internet, 100%
lebih indah dari dekat. Kami masih membatu di tengah-tengah pantai, masih
takjub dengan surga dunia ini.
Ombak itu pribadi menarik perhatianku. Sudah lama sekali tak melihat
rombongan ombak yang saling mengejar satu sama lain. Aku mengajak Santi mendekati ombak itu, aku ingin berenang.
Dan hanya berdua dengan Santi. Dia hanya malu untuk memulainya, padahal Santi
lah yang kelihatannya sangat tertarik dengan ombak itu. Kami berdua berjalan
mendekati gulungan ombak-ombak kecil itu, meninggalkan keempat lainnya, kami
membiarkan mereka bersatu dengan alam. Dan kami berdua beriringan dan membuat
matahari cemburu. Sekarang, kedua makhluk yang paling indah sudah
mengelilingiku. Panorama pantai yang berhasil menghipnotisku dan menjadikan aku
budak wisatanya, Santi yang berhasil menghanyutkanku dengan sesungging senyum
manisnya. Santi mulai asik dengan suasananya, siluet setengah sore membumbui
kemesraan kami. Kami menepi untuk istirahat sejenak, setelah berjam-jam
merendamkan tubuh kami ke dalam air. Kami berbaring menatap mentari, sesekali
aku memalingkan pandanganku dari matahari, dan berubah arah ke wajah Santi.
Berulang kali aku melakukan itu, dan aku tahu, keduanya sama-sama indah.
Bermenit-menit kami hanya berbaring memandangi langit yang sudah sedikit
menguning, matahari sudah hampir meninggalkan pantai. Aku mencium keningnya,
kemudian aku membantunya untuk beridiri. Penjaga pantai sudah melambaikan
tangannya ke arah kami, kemudian menariknya kembali, dan melambaikan lagi. Aku
tahu, itu instruksi untuk menyuruh kami kembali ke penginapan. Aku mengacungkan
telunjukku ke atas, “Sebentar lagi, untuk matahari terbenam” dan penjaga itu
membalas kami dengan mengacungkan jempolnya, itu tandanya dia menyetujuinya.
Kedua atraksi matahari kurasakan dengan atraktifnya, dan di sampingku masih ada
matahari yang tak bisa terbit. Dia selalu menjadi matahari saat pagi, dan
menjadi rembulan saat malam. Santi.
Kami berdua pulang ke penginapan. Keempat yang lainnya sudah pulang setelah
penjaga pantai melambai-lambaikan tangannya ke arah kami tadi. Sayang sekali,
mereka tak sabar untuk menanti matahari terbenam.
Malam menggelayuti Yogyakarta. Suara sendu rombongan jangkrik terdengar
jelas sekali malam ini. Lampion alam pun ikut menerangi malam ini dengan sinar
kecilnya, kunang-kunang itu sangat banyak sekali. Langit sama sekali tak
bermendung, semua bintang terlihat jelas. Dan, anginnya pun bersahabat, hanya
sering terlampau dingin untuk kulit kami. Santi lupa tidak membawa jaketnya,
dan aku menawarkan diri untuk memeluknya, dan dia mau. Aslinya tidak hanya aku
saja yang memeluk Santi, tapi Doni, dan Angga pun berpelukan dengan pasangannya
masing-masing. Doni dengan Dita, dan Angga dengan Rina.
Dingin berhasil kami tepis dengan kemesraan. Malam pun semakin menghitam
seperti kekelaman kecap manis. Kepekatan dan kepadatannya membuat kami semakin
merangsuk dalam ranjang yang semakin melambai-lambai untuk segera ditiduri. Aku
pun mengiyakan, aku mendekat dan terbuai dalam belaian lembut bantal dan
guling. Santi sekarang tidur denganku, dia takut kepada hujan. Rintikannya
selalu cemburu dengan pasangan manusia, dia menyerbu kami dalam bungkusan atap
penginapan yang sama sekali tak ada kebocoran. Sampai-sampai cahaya dari luar
pun tak bisa masuk.
Santi terlelap lebih dulu. Aku tak berani mengganggunya, dia selalu capek.
Terlihat sekali air mukanya dari saat kami berada dalam naungan mega. Air
mukanya mengalir seperti ombak pantai itu, berdebur lamban dan penuh kecapekan,
sama seperti mimik Santi. Aku terjaga beberapa saat, sampai jarum panjang dan
pendek mendekat. Kemudian berpelukan di angka 12, dan membunyikan bunyi-bunyian
yang berhasil memecah lamunanku di tengah malam ini. Deraian air mata langit
semakin deras, entah siapa yang membuat langit menangis sebegitu kencangnya.
Apapun alasannya, aku tak pernah membuatnya menangis, mungkin saat ini dia
hanya menyimpan kecemburuan kepada anak-cucu Adam yang saling bergandengan satu
sama lainnya.
Aku akhirnya menyerah dari malam. Aku terpaksa menyerah, bukan berarti aku
kalah. Mata ini butuh istirahat untuk menyusur indahnya pagi esok. Hidupku
tidak untuk malam ini saja.
***
Aku masih terbalut dalam malam. Dia merengkuhnya sebegitu eratnya sampai-sampai
aku terbawa dalam suasana mencekam. Aku mimpi buruk. Saat itu, aku sedang
berdiri di tengah-tengah ombak yang menggila. Ombak itu menggilas apa dan siapa
saja yang ada di sampingnya, dan anehnya, aku bisa berdiri tegak di atasnya.
Saat itu, aku seperti manusia super, aku bisa jalan di atas ombak yang begitu
dahsyatnya dan tak tergoyahkan akan apapun. Aku melihat detik demi detik apa
saja yang berada di sampingku terenggut oleh ombak, dan aku hanya melihat.
Ketika aku ingin menyelamatkan sesuatu itu, aku tak dapar menyentuhnya, itu
seperti aku melihat kiamat diriku sendiri. Untung saja tak ada seseorang yang
tak ku kenal, semua orang di sana terasa asing, kecuali orang berperawakan
tegap yang melambaikan tangan di pantai untuk menginstruksikan aku agar segera
meninggalkan pantai senja lalu. Dia
memekik minta tolong, dengan suara yang benar-benar memekik. Dan tak lama
kemudian, ombak itu menjadi lautan manusia, manusia-manusia asing yang
berombak-ombak. Mungkin tujuan mereka adalah mengalahkan ombak air yang
menggila itu. Tapi mereka hanya membuang-buang tenaganya, mereka masih saja
tersapu akan gilanya ombak, dan aku? Aku hanya bisa melihat mereka menangis
kesakitan. Sampai saat ini, aku masih sedikit lega. Karena aku belum melihat
ombakan manusia-manusia dekatku, aku tak melihat kedua orang tuaku,
guru-guruku, Sinta, Angga, dan yang lain-lain. Semoga mereka masih tertidur
dalam penginapan.
“Tirta . . . , tolong kami, Nak!” Suara itu tak asing di telingaku. Tapi
aku tak melihat siapa yang memanggilku, suara itu seketika lenyap, enyah dari
pendengaranku. Aku masih penasaran, aku masih menyusuri lautan manusia itu
dengan kedua mataku. Aku kesulitan tentang ini, karena mereka membuka mulutnya
semua, dan seperti memanggil-manggil namaku. Kegaduhan itu semakin menggaduhkan
jiwa, hati, dan pikiranku. Aku semakin sesak, dan kemudian buliran-buliran air
tumpah dari mataku.
Ombak yang menggilas dan menyeret semua manusia itu semakin menggila,
nampak lautan itu terdiri dari banyak manusia, mungkin manusia dari seluruh
penjuru dunia tumbah jadi satu di sini. Aku hanya bisa melihat kiamat dari
dekat, sekarang orang-orang terdekatku juga nampak. Aku tak kuasa menikmati
kiamatku sendiri, aku menyelipkan duka dalam deburan-deburan ombak kecil.
Semoga ombak-ombak itu menyampaikan dukaku ke orang-orang terdekatku. Aku tak
kuasa menahan air mata ini, bendungannya semakin menipis, dan kemudian tumpah
dan ikut bergumul dalam lautan manusia ini. Tangisanku sama sekali tak membantu
untuk menyurutkan manusia-manusia ini. Kemudian tangisku terseka dengan
sendirinya, bahkan aku kaget bukan kepalang. Sesosok makhluk berperawakan
tinggi dan besar, rambut yang menghitam, dan jenggot yang memutih. Dia
tersenyum kepadaku, tapi aku tidak membalasnya, hati ini masih rancu seperti
lautan manusia yang mengombak-mengombak dari bawah ke atas.
“Tidakkah kau sedih dengan semua ini, Nak? Ini adalah kemurkaan dunia jika
tergambarkan.” Suaranya membuka penbicaraan kali ini, aku pun menanggapinya,
“Maksudmu apa, Pak Tua?” sedemikian itu lah jawabanku. Singkat dan penuh
pertanyaan. Orang itu melangkah selangkah lebih dekat, dia membentakku!
“Tidakkah kau lihat dan sadari? Dunia ini sudah capek melihat
makhluk-makhluk dusta sepertimu, Wahai Manusia! Inilah kemurkaan dunia, suatu
saat kau tak lagi melihat orang-orang terdekatmu tertawa lebar. Kau akan
melihat mereka sedikit demi sedikit meringkih kesakitan dan hilang dari
hidupmu.” Tukasnya.
“Ah, kau, Pak Tua. Itu hanya bualanmu saja, ini pun hanya mimpi.” Bantahku
dengan angkuhnya.
Kemudian dia mengambil segenggam orang dari ombak-ombak itu, dan dia pilih
satu persatu sampai meninggalkan Santi, Santi yang ada disana. Aku memekik,
“Santi . . .!” tangisku menyusul, merambat dari tepian dinding air mata yang
sudah lumpuh dari tadi. Kemudian dia menginstruksikan Santi untuk bicara,
perkataannya terbata-bata, tersendat oleh tangisannya yang tak kunjung
berhenti. Aku sama sekali tak mendengarnya, hujan air mata membanjiri pipi kami
masing-masing. Hanya suara senggukan kecil yang dapat ku dengar dari mulut Santi.
Aku tak bisa membaca gerakan bibir Santi, dia terus menangis dengan bicara. Aku
tak tega melihatnya.
“Apa yang kau inginkan, Pak Tua?” Kecamku langsung kepadanya. Dia hanya
tertawa kecil, dan meneruskan ketawanya dengan omongan.
“Aku tak menginginkan apa-apa darimu, Nak. Sesungguhnya Tuhanmu adalah dzat
yang kaya dan tak membutuhkan apapun dari ciptaan-Nya. Bertobatlah kau, Nak!
Ajak semua teman-temanmu untuk meringkuh dan menangisi seluruh kesalahannya di
Masjid. Bersujudlah meminta pengampunan-Nya, dan orang tuamu sudah cukup kaya
untuk berhaji. Perintahlah mereka untuk pergi ke Mekah untuk berhaji.
Tegakkanlah rukun-rukun Islam. Insya Allah, dengan izin-Nya kau dan
teman-temanmu akan selamat, dan tak pernah melihat pemandangan yang kau lihat
saat ini.” Jelasnya dengan suara lirih, dia tak lagi membentak seperti
awal-awalnya. Dia berubah menjadi sesosok makhluk yang sangat sopan.
“Apakah benar apa yang engkau katakan, Pak Tua?” Kutanyakan sekali lagi,
aku masih ragu. Mungkin dia hanya iri dengan kesenangan duniaku.
“Terserah kau mau percaya atau tidak, aku hanya menyampaikan amanat.” Dia
hanya melemparkan senyuman. Kemudian dia hilang saat aku merunduk untuk menyeka
mataku dengan pucuk bajuku. Oh, Tuhan. . .
***
Kemudian aku terbangun dari mimpi itu. Matahari selalu ikut andil setiap
pagiku, aku masih terngiang-ngiang ucapan Pak Tua itu. Aku melihat sekitarku.
Dimana Santi? Aku seketika bangkit dari pembaringan, aku keluar dari kamar. Aku
berteriak-teriak memanggil nama semua temanku. Tapi mereka tak menyahut, aku
teringat perkataan Pak Tua itu. Apakah itu benar-benar terjadi? Aku meringkuh
di balik kesedihan.
“Sayang? Ada apa?” Sahut Santi dari balik pintu. Aku langsung mendekapnya.
Oh, Tuhan! Ini belum terjadi. Aku tak mau semua yang ada di mimpiku kemarin
terjadi. Oh, Tuhan! Aku masih bersujud di atas bumi-Mu, ampuni aku!
Lamongan, 09 Agustus 2014.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terima kasih sudah mampir. Perlu penegasan, bahwa apapun yang tertulis di sini adalah pengolahan kata dan pengembangan pemikiran dari saya pribadi.
Jangan lupa sandalnya dibawa.